
Aku yang masuk segera memarkirkan motor ku di garasi. Kulihat beberapa mobil sawit belum ada yang pulang satupun, begitu juga dengan motor karyawan, masih utuh jumlahnya
Sambil mengucap salam dan melepas sepatu, aku masuk.
"Hei sayang..." sapa Adi yang begitu mendengar suara istrinya buru-buru menghapus pesan di aplikasi WhatsApp.
Aku mendekati suamiku mencium punggung tangannya lalu merebahkan diri duduk di sebelahnya
"Hei, tangan kamu kenapa?" tanya Andi sambil menarik lembut tangan istrinya yang tertempel plester
"Oh, ada teman aku yang kecelakaan semalam, kena begal, terus butuh darah"
"Kamu donorkan darah kamu?"
Aku mengangguk sambil merebahkan kepalaku ke sandaran kursi
"Astaghfirullah sayang, ini bahaya untuk kesehatan kamu, kalau setelah ini kamu anemia, gimana?"
Aku terkekeh.
"Pihak rumah sakit nggak sembarangan ayah ngambil darah orang, tadi pas pemeriksaan kondisi aku sehat, begitu juga dengan tensi darahku"
Adi menatap serius wajah istrinya
"Jikapun nanti aku anemia, tinggal makan kambing, selesaikan?" lanjutku sambil kembali terkekeh
Adi tersenyum sambil mengusap kepala istrinya
"Aku naik ya Yah, mau mandi dulu, oh iya, lauk kita masih ada nggak?"
"Kayanya habis deh sayang, habisnya masakan kamu enak sih, jadi seharian ini ayah makan melulu kerjanya"
Aku tersenyum mendengar ucapan suamiku, dia memang sangat menyukai seluruh masakanku
"Ya udah, nanti selesai mandi aku masakin lagi, ya?"
"Nggak lesu?"
Aku menggeleng
"I'm wonder woman, you know?" jawabku sambil mengepalkan tanganku yang membuat suamiku terkekeh
Sambil meraih tas, aku segera naik ke kamarku. Sementara Adi yang melihat istrinya berjalan menjauh hanya menatap sendu
"Entah apa yang merasuki ku hingga aku tega mengkhianati istri sesempurna Dinda" batinnya
...----------------...
Hari ini hari Sabtu, dan itu artinya jam kantor tutup. Sejak beberapa bulan ini, tiap Sabtu Minggu aku manfaatkan untuk ke toko, bahkan tak jarang aku ke kolam, mengecek bagaimana kolam, bagaimana ikan, kapan panennya, dan yang paling penting aku mengecek stok pakan
Pagi buta aku telah bangun, menyiapkan sarapan, dan juga menu makan siang, jam tujuh jadwal mengantarkan kedua anakku ke sekolah, lalu selanjutnya aku membersihkan rumah, menyapu, mengepel, bahkan memutar pakaian. Rutinitas harianku
Jika biasanya jam delapan kurang aku sudah berada di kantor, maka khusus Sabtu Minggu jam segitu aku sudah ada di toko
Aku bahkan belajar pada Siska atau Reni cara mengoperasikan mesin kasir, jadi ketika mereka istirahat, bagian kasir menjadi tugasku
Adi sejak semua usahanya dikontrol oleh Dinda, makin tak bisa leluasa lagi
Bahkan jatah bulanan Yesa sudah dua bulan ini berkurang jauh nominalnya.
Dan selama dua bulan ini juga Adi belum mengunjungi istri keduanya itu. Hanya melalui video call saat Dinda di kantor yang dapat dilakukannya untuk melepas kangen dengan anak dan istrinya itu
Dan Yesa akhir-akhir ini selalu uring-uringan karena uang bulanannya selalu tak cukup. Dan Adi harus memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa mengirimi Yesa uang
Untuk minta uang sama Reni dan Siska seperti yang selama ini dilakukannya sudah tak bisa. Kedua kasir tersebut tidak berani lagi memberinya uang dengan alasan jika ketahuan Dinda maka mereka akan di pecat. Dan parahnya lagi, cctv di toko hanya Dinda yang bisa menguasainya
Jadi sekecil apapun tindak tanduk Adi, bakal mudah terdeteksi oleh Dinda
Aku melirik jam di tembok toko, sudah jam 11.00 lewat tapi suamiku belum ada tanda-tanda akan muncul ke toko. Iseng aku mengecek cctv toko satunya, ternyata suamiku juga tak ada di sana.
Lalu aku mengecek cctv rumah, sama juga. Suamiku tak ada di rumah.
__ADS_1
"Kemana dia, heemmm..." batinku
Lalu aku mendial nomor suamiku, tersambung tapi tak diangkat, aku tak heran, karena jika suamiku tak berada dimanapun, lalu aku menelponnya maka pasti tak akan diangkatnya
"Ah, bodoh amat ah, terserah" putusku kembali fokus ke toko
Tapi rasa penasaran menyelimuti hatiku, kembali aku mendial nomor suamiku, dan lagi-lagi berdering
"Ya sayang?"
"Dimana? kok nggak nyusul?"
"Oh, ini sayang, maaf ayah lagi loading bibit sawit, anak buah satunya nggak berangkat, jadi ayah yang turun"
"Tumben turun langsung?"
"Iya, ayah sih cuma ngitung-ngitung jumlahnya saja buk, nggak ngangkat-ngangkat kok"
Terdengar suara suamiku terkekeh
"Cuma ikut loading aja kan?"
"Kayanya nggak deh sayang, ayah ikut nganter juga, boleh ya?"
Aku diam
"Kan sudah lama ayah nggak keluar ikut nganter bibit, pingin ketemu tauke lain sayang, nambah kenalan dan pengalaman" bujuk Adi masih sambil berusaha merayu
"Ketemu tauke apa ketemu tauke?"
"Seriusan sayang, ayah nggak bohong, kalau nggak percaya tanya nih sama mas Toro"
Aku mendecak
"Padahal besok aku ingin ngajak ayah jalan-jalan"
Adi diam mendengar nada suara istrinya yang sepertinya merajuk
"Ayah janji sayang, kita jalannya minggu depan, oke?"
"Ya udahlah terserah, yang penting kalau pergi, hati-hati di jalan, jangan lupa istirahat dan makanya jangan telat"
"Siap bos"
"besok udah pulangkan?"
Adi diam, jika besok dia belum pulang, sedangkan rombongan mas Toro sudah pulang, bisa kacau ini urusannya.
Tapi jika dia cuma sehari setoran sama Yesa, mana cukup...
"Iya pokoknya malam besok ayah usahain sudah di rumah"
"Ya udah"
Lalu aku meletakkan hp, tanpa sedikitpun curiga pada suamiku
Sementara mas Toro yang selalu di kambing hitamkan dengan majikannya hanya bisa menarik nafas dalam
"Hati-hati mas, sepintar-pintarnya tupai melompat, bakal jatuh juga ketanah"
Adi mencibir mendengar ucapan mas Toro
"Jika sampai istriku tahu, berarti diantara kalian ada yang membocorkan"
Mas Toro dan temannya hanya bisa menggelengkan kepala
......................
Suasana syahdu di kota sejuk malam ini mengalahkan suasana panas dikamar Yesa
Dimana dia dan suaminya sedang bercumbu mereguk manisnya surga dunia
__ADS_1
Berkali-kali Yesa menjerit tertahan dan berkali-kali pula Adi menggumam tak jelas
Semakin larut permainan mereka semakin panas. Sejak sore kedatangan Adi tadi, sudah tak terhitung berapa kali mereka bermain
Ketahanan dan kekuatan Yesa inilah yang mampu membuat Adi bertekuk lutut di depannya.
Sepertinya daya tahan tubuh wanita ini tak ada habisnya, benar-benar unstopable, Adi sampai kewalahan menghadapi keganasan dan ketangguhannya di ranjang
Begitupun dengan Yesa, dia sangat lihai dalam memuaskan hasrat suaminya, hingga service yang diberikannya akan selalu membuat suaminya datang lagi dan lagi padanya
Hingga larut malam dan udara semakin dingin, mampu mengantarkan keduanya sampai di puncak yang sejak tadi mereka daki, hingga keduanya terkulai lemas tak berdaya dan tidur dalam keadaan polos
Minggu paginya, kembali permainan panas semalam mereka ulangi, hingga nyaris dua jam barulah mereka sama-sama menjerit tertahan dan kembali menjatuhkan diri mereka masing-masing
Senyum merekah di bibir Adi, dia sangat terpuaskan. Dahaga berbulan-bulan yang dipendamnya untuk bercinta dengan istri keduanya ini terbayar lunas sudah
"Apa Dinda tidak bisa memuaskan mu Pa?"
Adi menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka
"Bisa, tapi dia tidak se hot mama" jawab Adi sambil menarik kecil hidung Yesa
"Jika begitu, kapan papa meninggalkannya?"
Adi diam seperti berpikir. Sedikitpun tak ada niat di dalam hatinya untuk meninggalkan Dinda, karena dia mencintai dan membutuhkan wanita itu, tapi dia juga tak sanggup meninggalkan Yesa, karena Yesa bisa membuatnya menyalurkan fantasi liarnya
"Kalau itu papa belum bisa jawab, yang penting kita nikmati saja waktu kita yang sempit ini"
Yesa tersenyum dan segera membalikkan badannya, memeluk tubuh polos suaminya
...----------------...
Karena planning jalannya berantakan, aku jadi kembali di toko hari ini. Tapi itu cuma sebentar karena mendadak bestie rempong ku ngajak ketemuan dan hang out
Jadilah tengah hari aku sudah kembali ke rumah, menemui kedua anakku, mengajak mereka jalan
"Kemana buk?" tanya Arik saat kami sudah di dalam mobil
"Nggak tahu, ini teman-teman ibuk ngajaknya ketemuan di resto yang dekat sungai itu"
"Wah, bisa sekalian berenang di sungai nanti kita dek" teriak Naya antusias
Aku hanya tersenyum melihat kebahagiaan kedua anakku
Handphoneku berdering
Nanda
Segera aku memasangkan headset bluetooth ke telingaku
"Ya? kalian dimana?"
"Masuk aja jeng, kita udah nunggu nih"
"Oh, okey"
Aku kembali melajukan mobil dan tak lama telah masuk kedalam kawasan ecoresto yang menawarkan resto dengan konsep alam
Lambaian tangan dari sahabatku memudahkan ku menemukan mereka
Begitu sampai kami langsung saling cipika cipiki. Ternyata kami semua membawa anak, dan dengan cepat anak kami langsung akrab dan bermain di wahana anak yang telah disediakan pihak ecoresto
"Makan Din, kita telah siapkan loh makanan khusus untuk kamu"
Aku segera menunduk kearah meja, dan sedikit heran karena makanan yang tersaji adalah makanan kesukaanku
Nasi bakar, seafood saus padang, iga bakar, sup buntut, dan jus alpukat lengkap dengan desert sticky toffe pudding, semuanya kesukaanku
"Bagaimana kalian tahu semua ini?" tanyaku masih bernada heran yang langsung segera duduk
"Dari kakak..."
__ADS_1
Aku segera menoleh ke sumber suara, dimana telah berdiri Tomi yang tersenyum manis ke arahku
Seketika degup jantungku kembali berdetak tak normal, mulutku langsung terkunci, mataku seakan tak bisa berkedip menatap Tomi yang berjalan perlahan kearah kami