Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Tertangkap


__ADS_3

Julistiar, suami Mila yang baru saja sampai di rumah segera masuk kedalam kamar mandi dan setelah itu bergegas mengganti baju


"Pap mau pergi lagi?, tanya anak tertuanya


"Iya sayang, ada kasus yang harus papa selidiki"


"Mama tadi juga pergi, sekarang papa" kembali anak kembarnya protes


"Maaf sayang ya....."


Ketiga anak Mila hanya mengangguk dan mencoba memahami profesi kedua orang tuanya


Julistiar sambil masuk kedalam mobil telah menempelkan hp ke telinganya


"Ke tkp sekarang, ada kejadian penusukan di jalan Bangka, saya sekarang sudah on the way, kita ketemuan di lokasi"


Setelah berkata begitu, Julistiar langsung mengegas mobilnya menuju rumah Dinda


Hampir satu jam berikutnya barulah dia sampai di rumah Dinda, dimana teman yang diteleponnya tadi sudah mengecek lokasi, bahkan juga sudah mengecek cctv yang ada di rumah Dinda


Julistiar tampak serius melihat rekaman cctv, kemudian dia memanggil mbak Sri yang dilihatnya paling sering terekam oleh cctv


Mbak Sri yang ketakutan menjawab dengan gemetar saat diinterogasi oleh Julistiar


"Mbak tidak usah takut, kami hanya ingin memastikan apa yang terjadi di rumah ini saja"


Mbak Sri hanya bisa mengangguk cepat


"Coba mbak ceritakan dari awal ketika Adi sampai di rumah ini"


Mbak Sri langsung bercerita bagaimana awal mula Adi tiba di rumah ini, sampai dengan dia makan bahkan sampai dengan Adi yang naik ke kamar Dinda yang memicu kemarahan Dinda dengan memintanya membawa kedua anaknya ke rumahnya


"Mbak kenal sama tiga orang ini?" tunjuk Julistiar pada tiga pekerja yang sedang memuat sawit kedalam truk


"Iya pak, kenal, mereka kerja disini"


"Apa mereka ada di sini?"


"Tidak pak, mereka nganter sawit keluar propinsi"


Julistiar mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali diamatinya cctv, terlihat jelas bagaimana Dinda mengacungkan pisau kearah Adi yang berusaha menangkapnya


"Sepertinya dari atas telah terjadi percekcokan antara mereka berdua" gumam Julistiar


"Aman barang buktinya!" ucap Julistiar


"Siap komandan!"


Pisau yang masih berlumuran darah segera diambil oleh polisi menggunakan tissue, kemudian dimasukkannya kedalam kantong plastik khusus untuk barang bukti


"Sementara itu dulu mbak yang kami tanyakan, dan jika kami butuh keterangan lagi, mbak akan kami panggil kembali"


Kemudian Julistiar memanggil Reni dan Siska yang tadi mengatakan jika bercak darah yang berceceran di lantai sebelum mereka bersihkan sempat mereka foto


"Kirimkan fotonya pada saya!" ucap Julistiar


Dengan cepat Reni membuka hpnya lalu mengirimnya ke hp Julistiar


"Kita cepat bergerak, kita cari pelakunya sampai dapat"


Tiga orang temannya mengangguk cepat, lalu keempatnya bergegas keluar dari rumah Dinda

__ADS_1


Saat akan keluar, Julistiar berhenti ketika melihat kedua anak Dinda


Julistiar berjongkok, mengusap kepala keduanya dengan sayang


"Doakan yang terbaik untuk ibu kalian, ya?"


Keduanya dengan mata sembab hanya bisa mengangguk.


Lalu Julistiar segera masuk kedalam mobilnya setelah sebelumnya mendapatkan informasi dari warga yang ikut mengejar Adi


"Aku harus menghubungi Mila" ucapnya sambil segera menempelkan headset bluetooth ke telinganya


"Ya pa?"


"Ada yang tahu rumah Adi di kota sejuk?"


"Aku tahu pa, apa perlu aku ikut?"


"Kalau mama ikut, siapa yang jagain Dinda di rumah sakit?"


Mila tampak bingung dan menoleh panik kearah Tomi


"Kenapa?" tanya Tomi


"Mas Julistiar nanya siapa yang tahu rumah Adi di Kota Sejuk, sepertinya mereka akan kesana deh"


"Aku tahu, tapi siapa yang nungguin Dinda"


"Sebentar aku telepon rombongan pak Endro, mereka pernah kesana, siapa tahu mereka bersedia diajak kesana"


Mila mengangguk. Dengan cepat Tomi menghubungi salah satu teman pak Endro yang tampak kaget mendengar kabar dari Tomi


...----------------...


Perjalanan yang seharusnya dua jam sampai di kota sejuk, Julistiar dan teman-temannya tempuh hanya dalam waktu tak lebih dari satu jam


Bergegas mereka menuju rumah Adi, keempatnya mengepung rumah tersebut, sedangkan pak Endro dan temannya yang lain mengetuk rumah Adi


Tidak ada sahutan, berkali-kali di ketuk barulah lampu di ruang depan rumah tersebut menyala


Yesa setengah menggerutu ketika membukakan pintu. Dan langsung terbelalak ketika dilihatnya yang mengetuk pintu bukan suaminya, melainkan lima orang yang dulu pernah ke rumah ini dengan marah-marah


"Bapak-bapak semua, tengah malam begini kesini, mau apa ya?" tanya Yesa khawatir


"Maafkan kami mbak jika kedatangan kami mengganggu waktu istirahat mbak, tapi kami dari kepolisian" ucap Julistiar yang begitu pintu terbuka langsung berjalan kearah ke teras


"Polisi?, ada apa pak?" suara Yesa mulai terdengar panik


"Kami mencari pak Adi, apa beliau ada di dalam?"


Yesa menggeleng cepat


"Suami saya katanya ke kota sebelah, ada urusan dengan mantan istrinya"


Julistiar menoleh kearah lima pria paruh baya yang berdiri di sampingnya


"Maaf mbak, rumah ini harus kami periksa" ucap Julistiar lagi sambil melambaikan tangannya kearah seorang temannya yang telah bersiaga


Keduanya langsung masuk kedalam rumah, dan duanya lagi berjaga diluar


Dan Yesa semakin gugup ketika dua polisi yang masuk mengacungkan senjata api mereka keatas

__ADS_1


Julistiar menendang pintu kamar, mengacungkan pistolnya ke depan, tapi ruangan itu kosong, hingga ke kolong juga kosong


Lalu kedua polisi tersebut pindah keruang sebelah, dan sama seperti tadi, ruangan tersebut juga kosong


Hingga seluruh rumah ini digeledah tapi Adi tidak juga mereka temukan


"Segera beritahu kami jika suami mbak pulang, tolong kerja sama yang baik pada pihak kepolisian" ucap Julistiar sambil memasukkan pistolnya kembali


"Memang apa salah suami saya sampai polisi mencarinya?" tanya Yesa dengan suara gemetar


"Suami mbak, mas Adi, telah melakukan penusukan pada mbak Dinda, dan sekarang keadaan mbak Dinda kritis"


Yesa refleks menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya


"Ya Tuhan, papa...." ucapnya shock


Kemudian Julistiar berpamitan pada Yesa, lalu mereka mampir kekantor polisi area Kota Sejuk meminta bantuan mereka untuk mencari Adi


Kepolisian Kota Sejuk merespon cepat permintaan Julistiar, mereka segera bergerak dini hari itulah mencari keberadaan Adi, bahkan mereka sampai masuk ke kebun-kebun warga, hingga masuk hutan, siapa tahu Adi bersembunyi di sana


Hingga siang, pencarian tak juga membuahkan hasil, akhirnya Julistiar beserta temannya dan juga pihak kepolisian setempat bergerak turun kembali ke pemukiman warga


Saat mereka menuruni bukit, disaat itulah mereka melihat ada gerakan di dalam semak


Segera mereka bersiaga dan langsung menyergap semak-semak tersebut


"Keluar atau kami tembak!!!!" teriak Julistiar


Hening, tak ada yang bersuara tapi semak-semak tadi masih terlihat bergerak


Dengan cepat Julistiar masuk kedalam semak-semak dan terdengarlah suara bedebak bedebuk di dalam semak-semak tersebut


Dan anggota yang lain segera bertindak cepat, bahkan ketiga teman Julistiar dan beberapa pihak kepolisian kota sejuk turut masuk juga kedalam semak-semak tersebut


Dan tak lama mereka telah keluar dengan membawa Adi yang tampak sangat kusut dan ada beberapa luka di tangan dan wajahnya


Dengan cepat pihak kepolisian langsung memborgol kedua tangannya dan dengan pasrah akhirnya Adi berjalan turun dengan bahunya yang didorong-dorong oleh polisi karena mereka kesal dengan perbuatan Adi


"Merepotkan orang saja!" bentak mereka


Adi makin tertunduk dalam ketika sampai di depan kelima orang yang siang kemarin bertemu dengannya di ruko


"Kami tidak menyangka jika anda tega melakukan ini mas Adi" ucap bapak-bapak yang biasa menjadi penengah setiap berurusan dengan Adi


"Uhhhh kamuuu...." ucap pak Endro emosi sambil menarik kerah baju Adi dan tangannya yang telah siap melayang langsung ditangkap oleh bapak berwibawa tadi


"Sudahlah, jangan menambah masalah, kamu mau dipenjara juga seperti Adi?" ucap bapak-bapak tadi


Dengan kesal pak Endro melepas dengan kasar kerah baju Adi lalu dia mendengus


"Cepat kita naikkan ke dalam mobil" ucap teman Julistiar sambil kembali mendorong badan Adi


Sebelum masuk kedalam mobil, Julistiar menjabat hangat anggota kepolisian sektor Kota Sejuk yang telah membantunya


"Terima kasih banyak atas bantuannya pak"


Lima anggota polisi itu mengangguk dan saling sama-sama memberi hormat


Setelah itu barulah Julistiar masuk kedalam mobil, duduk di sebelah temannya yang mengemudikan mobil, dan di belakang mobil mereka mengiring mobil Pak Endro cs


Dan Adi yang kini duduk diapit dua polisi hanya mampu menunduk dan wajahnya terlihat semakin kusut

__ADS_1


__ADS_2