
Mengetahui jika Dinda telah sadar dari komanya, ibunya Tomi langsung meminta pada Aldi adik bungsunya Tomi untuk mengantarkannya ke rumah sakit
Sampai di sana, ternyata ruangan itu masih penuh dengan yang membesuk. rupanya mereka adalah para tetangganya Dinda
Aku hanya mendengarkan cerita tetanggaku bagaimana saat kejadian, dan aku menoleh penuh haru pada Tomi begitu mengetahui dari tetangga dan orang tuaku, jika Tomi adalah orang yang paling panik dan histeris ketika aku tak sadarkan diri
Lalu kami semua segera menoleh kearah pintu ketika mendengar suara salam
"Buk....?" lirihku ketika kulihat ibunya Tomi masuk bersama Aldi
Aku berusaha memasang senyumku pada wanita paruh baya yang langsung mendekapku sambil terisak
"Syukurlah nak kamu selamat....." ucapnya di sela isak tangisnya
Kembali aku memasang senyum, lalu Tomi mendekat kearah ibunya, membungkuk mencium punggung tangan wanita tersebut
"Pulang nggak kak hari ini?" tanya Aldi ketika mencium punggung tangan saudara tertuanya itu
"Nantilah, sampai Dinda benar-benar sehat baru kakak pulang"
Kembali aku menatap penuh haru pada Tomi
"Pakaian kotornya nanti dibawa ya buk" ucap Tomi
"Lah emang kak Tomi nggak pernah pulang?" tanyaku
Aldi menggeleng
"Sehari saja dia nggak pulang mbak, sudah hampir dua minggu kak Tomi di rumah sakit sejak mbak dirawat"
Aku menoleh kearah Tomi yang terkekeh kearah Aldi
Lalu ibunya Kak Tomi bergabung dengan yang membesukku, mencari informasi kebenaran kejadian yang menimpaku
Sedangkan Tomi kembali duduk di sebelah tempat tidurku dengan menggenggam erat tanganku
"Ibu bawakan makanan kesukaan kamu Din, Sana Tom suapin Dinda" ucap ibunya kak Tomi sambil membuka rantang yang tadi dibawanya
Tomi turun dari ranjang lalu berjalan kearah ibunya yang saat ini membuka rantang
"Sedikit saja" ucapku ketika Tomi menyuapiku
Hingga akhirnya jam besuk berakhir, seluruh tetangga dan ibunya Tomi berpamitan padaku
Dan sekarang kembali hanya tinggal aku dan Tomi berdua di ruang ini.
Tangan Tomi yang mengarahkan sendok ke mulutku langsung aku hentikan
"Benar kakak nggak pernah pulang?" tanyaku menatap penuh pada matanya
Tomi tersenyum kemudian meletakkan sendok lalu membenarkan anak rambutku
"Kak....?" tuntutku
__ADS_1
Tomi mengangguk, mataku langsung berkaca-kaca
"Hei, kok malah mau nangis?" ucap Tomi cepat sambil meletakkan piring di meja lalu mengambil tissue
Di usapnya wajahku yang telah basah lalu aku kembali menghentikan gerakan tangannya
Aku langsung memeluk erat pinggangnya kemudian terisak
"Maafin aku ya kak...."
Kurasakan Tomi mengusap kepalaku lalu dia duduk di sebelahku, dan aku kembali memeluknya dengan erat
"Kakak sangat takut ketika kamu tidak sadar-sadar kemarin Din, kakak sangat takut kehilangan kamu"
Aku kian terisak dan menenggelamkan wajahku di dadanya
"Berjanjilah jangan buat kakak khawatir lagi, kakak nggak sanggup hidup jika tanpa kamu"
Aku tidak menjawab melainkan terus saja memeluknya dengan tak berhenti terisak
"Oopss, maaf....." ucap Mila yang masuk dan dengan cepat memutar badannya ketika dilihatnya Dinda sedang berpelukan dengan Tomi
Aku segera mengusap kasar wajahku lalu memanggil Mila
"Kamu mau kemana?, sini masuk!"
Mila kembali memutar badannya kearah kami dimana Tomi telah turun dan berdiri di sebelahku
"Aku datang disaat yang tidak tepat ya?" ucap Mila sambil berjalan kearah kami
"Gimana? udah baikan?"
Aku mengangguk
"Jelas baikan lah, orang selama di rumah sakit ini ditungguin kak Tomi..." kembali Mila menggodaku yang membuatku kembali berusaha memukul tangannya
"Benar Mil kemarin aku sempat mati?" tanyaku
Mila berdiri diam, memandang dalam pada wajahku
"Iya, dan asal kamu tahu, gara-gara kamu aku sampai nangis"
Aku langsung tersenyum dan mendekapnya dengan sayang
"Terima kasih yang tak terhingga ya Mil..." lirihku sambil terus mendekapnya
"Jangan sama aku aja, tuh sama kak Tomi yang rela donorkan darahnya untuk kamu"
Aku melepas dekapanku pada Mila lalu menoleh kearah kak Tomi
"Jadi impas, dulu darah kamu yang nyelamatin kak Tomi, sekarang darah kak Tomi juga yang nyelamatin kamu, itu artinya di dalam diri kalian masing-masing ada darah kalian berdua, ahhhh so sweet nyaaaa....." kembali Mila menggoda kami yang harus membuat ku merasakan panas pada wajahku
"Udah ah, aku mau keluar, takut ganggu lagi" ucap Mila yang langsung berjalan cepat ketika aku mendecak kesal kearahnya
__ADS_1
"Pintunya gue tutup ya...biar nggak ada yang iri saat lihat kalian mesra-mesraan" ucap Mila cukup kencang yang kembali membuatku harus merasakan panas di wajahku
Sepeninggal Mila aku kembali menatap kak Tomi
"Benar kak yang Mila ucapkan tadi?"
Tomi mendekat lalu mendekapku yang mana air mataku telah mengalir kembali
"Jangankan darah, nyawa rela kakak berikan asalkan kamu selamat"
Aku kian terisak dan mengeratkan dekapanku pada Tomi yang dengan sayang mengusap kepalaku
Esoknya teman sekantorku semuanya membesukku dengan bergantian masuk saking banyaknya jumlah mereka
Dan semuanya tampak kaget ketika melihat Tomi ada bersamaku, tapi tidak dengan pak Burlian dan pak Kusno, karena mereka berdua telah mengetahui hubungan kami, terlebih pak Burlian yang sepupunya kak Tomi
Bu Halimah dan Nadia mendekapku sambil menangis, sedangkan pak Kusno mengusap kepalaku layaknya mengusap kepala anaknya sendiri
"Cepatlah sembuh Din, kantor sepi nggak ada kamu" ucap pak Kusno sambil menatap wajahku dengan teduh
"Iya mbak, nggak ada yang traktir kami sejak mbak dirawat" seloroh Redho yang membuat satu ruangan tergelak
"Gimana?, sudah ini langsung ke pelaminan? bisik pak Burlian di telinga Tomi yang membuat pemuda itu terkekeh
...----------------...
Tepat satu minggu setelah aku dipindahkan keruang perawatan, dokter rumah sakit dan Mila menyetujuiku untuk pulang
"Gue tiap tiga hari sekali akan check kondisi lu di rumah" ucap Mila ketika membantu mendorong kursi roda kearah mobilnya Tomi yang menuggu di depan
Dengan sangat hati-hati, Tomi membawaku masuk kedalam mobil
"Hadehhhh udah kaya megang porselen buatan China aja deh kak megang Dinda" ledek Mila
"Syirik lu" jawabku sambil menjulurkan lidahku yang dibalas Mila dengan terpingkal
Kemudian aku melambaikan tangan kearah Mila yang juga melambaikan tangan ke arahku
Sepanjang jalan kak Tomi memegang tanganku, walau aku sudah memintanya fokus memegang stir tapi dia tetap bersikukuh ingin memegang tanganku
"Kalo sudah di rumah kakak sudah nggak bisa pegang tangan kamu lagi" jawabnya yang mampu membuatku terkekeh
Sampai di rumah, ternyata di dalam rumahku telah penuh dengan keluarga besarku dan juga para tetangga
Sehingga begitu kak Tomi membukakan pintu mobil, kakakku langsung berjalan cepat kearah mobil lalu menggendongku
"Aku bisa jalan kok kak" ucapku sambil menatap wajahnya dengan haru
Sampai di dalam rumah, mbak Sri langsung menghambur memelukku dengan berurai air mata, begitu juga dengan kedua anakku
Aku hanya melirik sekali-sekali kearah kak Tomi yang saat ini mengobrol dengan keluarga besarku
"Ini Tomi mantan tunangannya Dinda dulu?" tanya salah seorang pamanku yang mampu membuatku menelan ludah dengan susah payah
__ADS_1
Kulihat kak Tomi tersenyum kaku sambil menganggukkan kepalanya, sementara aku terus berusaha mendengarkan cerita para tetanggaku tentang usaha mereka mengejar mas Adi pada malam kejadian itu
"Kabarnya dia digebukin di dalam penjara" ucap seorang emak-emak yang membuat mataku melotot kaget