
Rencana awal jika kami akan pindah malam ini terpaksa cancel karena persiapan kami belum matang
Sebenarnya kami tinggal masuk saja ke rumah itu, karena semuanya sudah tersedia. Yang jadi masalah adalah rumah lama kami ini belum ada yang menempati. Dan itu harus kami bicarakan serius malam ini
"Bagaimana kalau mbak Sri saja sayang yang nunggu rumah ini?"
Aku tertegun mendengar ide suamiku. Kemudian aku menoleh kearah Naya
"Bagaimana nak?"
"Iya buk, boleh. Aku setuju, kasihan loh bude Sri. Kan dia ngontrak.Terus pakde nya kan kerja di kolam kita. Mana anak bude belum tamat sekolah semua, pasti pengeluaran mereka besar"
Aku tertegun mendengar ucapan Naya. Tidak menyangka jika dia akan sepeka ini
"Ya sudah ibuk telpon bude Sri dulu" ucapku pada Naya yang menganggukkan kepalanya
Tak butuh waktu lama mbak Sri dan suaminya tiba di rumah kami. Aku dan suamiku langsung mengutarakan niat kami pada mereka
Mbak Sri langsung menangis terharu ketika kami memberitahunya
"Pokoknya rawat rumah ini seperti rumah mbak sendiri. Dan seluruh isi rumah ini tidak ada yang aku angkut kecuali foto"
Kembali mbak Sri menangis sehingga aku harus memeluknya sambil ikut mengusap-usap punggungnya
"Kalau kangen sama Arik, bude tinggal jemput Arik ke sekolah"
Mbak Sri mengangguk sambil mengusap kasar wajahnya mendengar ucapan Arik
"Hari sabtu nanti rencananya kami pindah. Dan mulailah mbak bersiap, bilang sama yang punya kontrakan, pamit"
Mbak Sri dan suaminya mengangguk mendengar ucapan Tomi
Setelah cukup arahan dari kami yang menjelaskan jika rumah ini akan tetap menjadi tempat operasi para pekerja pengantaran bibit sawit, mbak Sri dan suaminya pulang
...----------------...
Seluruh keluarga besar dan para sahabatku ikut mengantarkan kami pindah rumah hari ini
Tak ketinggalan pula pak Kusno dan bu Halimah serta Nadia dan Redho ikut mengantar pula
Saat kami tengah sibuk mengangkuti pakaian kami ke kamar, suara nyaring klakson membuat kami menoleh
"Tidak butuh bantuan kakak?"
Aku dan Tomi menoleh kearah pak Burlian yang masuk bersama istrinya. Sontak saja aku beserta teman satu ruanganku langsung menjabat hangat tangan istri pak Burlian
Pak Burlian tampak kaget ketika melihat para teman satu ruanganku.
"Loh, kok kalian bisa disini?" tanyanya
"Solidaritas pak" jawab Redho yang mengundang senyum kami
Hingga akhirnya kami kembali melanjutkan beres-beres kami sampai semuanya selesai
"Ini benar dream list kamu deh Din" ucap Rohaya ketika naik ke kamar kami
Aku tersenyum mendengar ucapannya
__ADS_1
"Kami doakan setelah ini kamu mlendung, biar lengkap kebahagiaan kamu" ucap Putri yang diaminkan sahabat ku yang lain
Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapannya
"Sudah lebih 35 bestie, aku takut resiko tinggi" jawabku
"Hey.... Kamu lupa jika punya teman seorang dokter?"
Kami kompak tertawa mendengar ucapan Mila
"Bukannya lupa, tapi kan kamu bukan dokter kandungan. Kamu dokter umum" jawabku
"Teman aku banyak. Jadi kamu tenang aja"
Aku hanya menganggukkan kepalaku saja mendengar kelanjutan ucapan Mila, tidak mau berdebat dengannya, karena aku akan kalah jika berdebat dengannya
"Sayang, orang catering sudah selesai menyusun makan siangnya, yuk turun"
Kami semua yang sedang asyik duduk di atas ranjang berukuran besar menoleh kearah pintu, dimana Tomi telah berdiri sambil tersenyum manis ke arahku
"Ya ampun, sekarang nggak malu lagi ya manggil sayang depan kita" protes Nanda
Kembali kami terkekeh dan turun dari ranjang. Aku segera meraih tangan Tomi yang terulur ke arahku, kemudian kami sama-sama berjalan menuruni tangga
"Yang anaknya kapolda yang mana?" tanya pak Burlian ketika kami semua makan
Mila langsung mengangkat kepalanya
"Saya Pak, kenapa ya?"
Pak Burlian segera meraih gelas, lalu minum sebentar
Mila menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sedangkan aku dan para sahabatku saling toleh dan menaikkan alis kami berkali-kali
"Wah, pantesan anda setuju kemarin pas kami ajak nge prank Dinda, ternyata bekingan anda orang hebat"
Sontak Mila tertawa mendengar ucapan pak Burlian
"Bukan masalah bekingan sih pak. Tapi lebih kerasa sayang aku sama Dinda. Aku tahu Dinda itu sayang sama kak Tomi, cuma gengsinya aja yang gede-gedean"
Aku yang mendengar jawaban Mila langsung memonyongkan bibirku kearahnya yang disambutnya dengan terkekeh
"Sabuk hitam?"
Kembali Mila mengangguk
"Benar-benar orang hebat" kembali pak Burlian memuji Mila
"Kalau nggak hebat, mana mungkin dia bisa mematahkan tulang orang pak" Rohaya nyeletuk yang membuat aku dan Mila langsung mendelik kan mata kami karena keceplosan nya Rohaya
Pak Burlian tersenyum dan menoleh ke arahku yang tersenyum kecut kearah beliau
Menjelang sore, barulah pak Burlian dan sang istri beserta para sahabatku pulang, tapi tidak dengan keluarga besar kami dan mbak Sri
Aku meminta pada mereka untuk malam ini menginap di rumah kami
"Aku tidur sama ibuk dua-duanya, boleh?" izinku pada suamiku
__ADS_1
Tomi mengangguk sambil mengusap kepalaku
"Boleh, apa sih yang tidak untuk kamu"
Aku tersenyum lebar atas izin yang diberikan suamiku, sehingga malam ini, untuk pertama kalinya ibuku dan ibunya Tomi tidur satu ranjang bertiga dengan aku
Aku hanya tersenyum saja mendengar keduanya bercerita, terlebih ketika mendengar ibu mertuaku yang bercerita tentang mendiang bapak mertua ku yang sangat beliau cintai
...----------------...
Setelah pindah rumah, otomatis aku membawa kendaraan sendiri ke kantor. Kasihan kalau Tomi harus antar jemput aku terus padahal aku sudah diberinya sebuah mobil
Dan untuk urusan mengantarkan anak ke sekolah masih menjadi tugasnya. Karena jika pagi terkadang aku belum siap
Dan seperti pagi ini, aku berangkat sendiri ke kantor setelah suami dan kedua anakku berangkat lebih dulu
Ketika sampai di parkiran kantor aku sangat terkejut ketika ada sebuah suara memanggilku dari luar pagar kantor
"Yesa....?" gumamku tak percaya ketika aku benar-benar melihat Yesa berjalan ke arahku dengan menggandeng tangan anak perempuannya
Aku berusaha bersikap biasa saja ketika Yesa semakin dekat denganku. Dan aku menoleh kearah dalam kantor melihat kira-kira ada siapa saja di kantor sepagi ini
"Apa kabar kamu Din?" tanya Yesa setelah berdiri di depanku sambil mengulurkan tangannya
Aku menerima uluran tangannya sejenak lalu kembali memasang wajah datar
"Aku sejak kemarin di kota ini" ucap Yesa lagi
"Oh, di tempat siapa?" tanyaku berusaha merespon ucapannya
"Keluarga. Dan sengaja aku kesini karena ingin menemui kamu"
Aku yang masih bersikap dingin sejak tadi segera menoleh dan menatap dalam wajah Yesa
"Ada perlu apa?"
Yesa diam mendengar suaraku yang terkesan dingin
Sementara anak kecil yang saat ini masih digenggam erat tangannya oleh Yesa mendongakkan wajahnya ke arahku
"Saya butuh bantuan kamu Din....." lirih Yesa
Aku menghembus nafas panjang mendengar suara lirih Yesa, terlebih ketika wajahnya yang berubah mendung
"Bantu apa?, cepat ngomong, nggak usah bertele-tele. Aku juga mau masuk ke kantor"
Kulihat Yesa tampak gugup dan berusaha menghindari tatapanku
"Cepat ngomong, kalau nggak mau ngomong aku masuk sekarang"
"Anu Din, hmmm..... aku boleh tidak nitip anak aku sama kamu??!"
"Hah???!" aku terpekik tertahan saking kagetnya aku dengan permintaan yang diucapkan oleh Yesa barusan
Kemudian aku kembali melirik kearah anak kecil yang masih saja mendongak ke arahku
"Aku nggak bisa menghidupi anak aku Din. Dan aku yakin dia akan baik-baik saja dan akan terjamin masa depannya jika dia tinggal bersama kamu"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali sambil tersenyum seperti orang linglung
"Nggak, nggak, nggak. Jangan gila kamu Yes. Aku nggak bisa" jawabku sambil mengangkat tanganku ketika Yesa akan meraih tanganku