
Tomi masuk kembali kedalam ruangan, dan mendapati jika Dinda masih tampak pulas. Tak bosan-bosan rasanya Tomi memandangi wajah damai istrinya itu. Senyum simpul terkadang tampil di wajah Tomi ketika dia menatap dalam wajah istrinya
“Secinta inikah aku sama kamu Dinda…” lirih Tomi sambil kembali meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat
Sementara saat ini anaknya sudah dipindahkan ke ruangan khusus bayi, ibu dan ibu mertuanya sejak tadi selalu ngintil kemanapun dokter dan perawat membawa cucu mereka pergi, sepertinya mereka takut jika cucu mereka akan tertukar. Seperti dua nenek itu korban sinetron
Pagi yang semula gelap mulai beranjak terang, dan Dinda yang memang sangat lelah akibat melahirkan masih tampak pulas, hal tersebut juga memancing kantuk di mata Tomi yang sejak tadi duduk di sebelahnya. Dan Tomi akhirnya meletakkan kepalanya di sebelah tubuh Dinda, dan tertidur dalam posisi duduk
Perawat yang masuk kedalam ruangan tersebut, yang berniat hendak memindahkan Dinda keruang perawatan terpaksa tak jadi karena melihat dua orang suami istri itu masih tampak pulas.
Jam Sembilan pagi, sesuai dengan yang tadi dikatakannya, Mila benar-benar telah sampai kembali di rumah sakit tempatnya berdinas. Wanita tangguh itu sepertinya memang tidak mengenal lelah dan ngantuk. Padahal dia juga semalaman tidak tidur ketika menunggui sahabatnya tidur
“Mereka masih tidur dok” ucap perawat ketika melihat Mila berjalan kearah ruangan Dinda bersalin semalam
“Oh ya?” tanya nya tak yakin yang terus saja melajukan langkah kakinya. Dengan pelan dibukanya pintu kamar, dan benar yang tadi diucapkan oleh perawat yang ada di depan, Dinda masih sangat tampak pulas. Mila mendekat, dan memeriksa selang infus, lalu mengusap kening Dinda sambil tersenyum
Kemudian dia beralih memeriksa bagian tubuh Dinda yang lain sehingga membuat sahabatnya itu membuka mata
“Mil..?”
Mila tersenyum, dengan stetoskop yang ditempelkannya di dadaku.
“Kalau masih ngantuk tidur lagi saja” jawabnya
Aku menggerakkan tanganku ketika aku merasakan menyentuh rambut seseorang
“Kak….?”
Tomi bergerak dan membuka matanya. Kemudian dia mengusap wajahnya dan membetulkan posisi duduknya
“Loh, Mil? Kapan kamu kesini?”
Mila melepa stetoskop dari telinganya dan tersenyum
“Barusan sih. Niatnya Cuma mau meriksa Dinda. Eh, malah kalian bangun”
Aku kembali menguap dan mencari-cari anakku
“Di bawa keruangan khusus bayi, ada ibuk yang nungguin” jawab Tomi yang seperti faham dengan maksudku
“Nggak merasa banyak darah yang keluar kan?” tanya Mila sambil menarik kursi dan duduk di dekatku
Aku menggeleng
“Bagus deh. Dan iya, aku tadi bawa sarapan untuk kamu. Kamu makan, ya?” ucapnya sambil membuka sebuah box dan langsung menyendok isinya
“Cuma satu Mil?” tanya Tomi
Mila terkekeh
__ADS_1
“Maaf kak, sedikit egois. Yang aku ingat cuma Dinda. Ibuk aja lupa” jawabnya sambil terkekeh
Aku ikut terkekeh dan membuka mulutku ketika Mila menyuapkan bubur ayam padaku. Sementara Tomi bersungut-sungut karena jawaban Mila yang membuat kami berdua kompak tertawa
“Ya sudah, kakak keluar dulu ya sayang, cari sarapan. Dokter rumah sakit disini, hanya memprioritaskan pasien, keluarga pasien tidak dianggap” ucap Tomi menyindir Mila yang kembali membuat kami berdua terbahak
“Bestieeee…….!!!!”
Tomi yang semula berniat hendak berdiri dari duduknya, terpaksa duduk kembali karena kaget dengan teriakan kelima sahabatku yang lain
Dan aku yang tadi disuapin Mila tak urung ikut kaget, sampai Mila mengumpat-umpat dengan marah karena dia juga kaget
“Security rumah sakit ini mana ya?” geram Mila kesal karena kelima sahabat kami terus nyelonong dengan terus berteriak heboh
Tomi yang memang sudah faham dengan kelakukan para sahabatku, segera menyingkir dengan cepat. Bahkan yang parahnya lagi, Rohaya sampai menarik tubuh Mila untuk menjauh karena mereka hendak menuju ke tempatku duduk
“Ya ampun Rohayaaa ….!!!” teriak Mila tertahan karena tubuhnya sampai ambruk di lantai akibat tarikan keras Rohaya yang kemudian langsung melepasnya dengan cepat
Sontak saja kami yang saling cipika cipiki menghentikan tawa bahagia kami dan sama-sama menoleh ke lantai dimana terlihat Mila jatuh terjengkang. Bukannya menolong Mila yang jatuh, kelima sahabatku yang barusan datang malah makin terbahak sehingga membuat Tomi yang akhirnya mengulurkan tangan dan membantu Mila berdiri
“Kamu yaaa……” geram Mila dengan langsung memukul lengan Rohaya dengan membabi buta
Rohaya yang dipukuli Mila hanya berusaha mengelak dengan mengangakt kedua tangannya
“Bisa tenang tidak ya? Jika tidak bisa, Ibu-ibu sekalian silahkan pergi dari rumah sakit ini!. Keributan yang ibu-ibu lakukan itu mengganggu pasien lain”
Tangan Mila yang sejak tadi terayun langsung terhenti, begitu juga dengan tawa kami. Mila langsung membenarkan jas dokternya, dan menoleh kearah perawat laki-laki yang tadi membentak kami
Mila tersenyum kecut kearah perawat itu.
“Maafkan kami mas, kami memang tidak seharusnya rebut di rumah sakit ini”
Aku dan kelima sahabatku terdiam melihat Mila tampak sangat tak enak hati ketika dia berbicara pada perawat yang masih memandangnya dengan raut wajah tegang. Sementara Tomi yang sejak tadi berjalan kearah perawat tadi, meminta maaf pada perawat tadi tentang kelakuan kami
“Kamu sih…” sikut Putri pada Rohaya
Rohaya mendelikkan matanya, sementara yang lain ikut meminta maaf juga. Tetapi perawat yang awalnya tadi berkata kasar pada kami, terus saja berwajah tegang sambil melihat takut-takut kearah Mila
“Mas jangan tegang gitu. Ini semua salah saya. Mas sudah melakukan tugas mas dengan baik” kembali Mila bersuara yang membuat pria muda itu tersenyum kecut
“Kalau begitu saya permisi dokter, maaf kan kelakuan saya tadi” ucapnya sopan sambil berlalu dari hadapan kami
Mila langsung membalikkan badannya ketika perawat tersebut menutup pintu. Wajahnya berubah sangar ketika memandang kami semua. Rohaya tersenyum kecut, begitu juga kami
“Dasar udik!!” geram Mila sambil meneyeng kepala Rohaya
Bukannya marah, Rohaya malah memeluk erat Mila diiikuti yang lainnya. Sehingga wajah marah Mila tadi dengan cepat berubah sumringah lagi
“Maaf…..” ucap Rohaya dengan nada manja kearah Mila yang berwajah masam ketika menatapnya
__ADS_1
“Kamu itu Roh, hampir saja menjatuhkan reputasi aku. Jika bukan sahabat kamu saja, sudah aku kasih kick kamu” ucap Mila masih dengan nada geram
Kembali Rohaya memeluknya dan membuat wajah Mila kembali manis
“Jangan heboh, ini rumah sakit. Bukan rumah Dinda!” Mila memperingatkan ketika para sahabatku sibuk bertanya bagaimana aku melahirkan
Karena mereka tak ingin kembali ditegur oleh pihak rumah sakit, akhirnya kami mengobrol dengan suara normal, walaupun cekikikan sewajarnya saja. Walaupun rasanya kurang plong
Dan Tomi yang sekarang telah makan sarapan yang dibawakan oleh pra sahabatku tidak memperdulikan bagaimana kami bercerita heboh. Bahkan dia juga cuek ketika Mila bercerita bagaimana Tomi menangis sesenggukan ketika aku akhirnya berhasil mengeluarkan anaknya
“Seriusan kakak menangis sebegitu hebohnya?” tanya Nanda tak yakin
Tomi tersenyum dan menganggukkan kepalanya
“Saking terharunya….” Belaku sambil menatap Tomi dengan sayang
“Cieeeee……..” timpal yang lain, tapi kemudian mereka semua kompak menutup mulut mereka karena kembali suara mereka tidak terkontrol
“By the way, anak lu mana bestie?, kita kesini itu mau lihat anak lu, bukan lihat lu aja” ucap Putri
“Di ruang khusus bayi sama ibuk kami” jawab Tomi
Dan kembali aku harus geleng-geleng kepala melihat kelakuan heboh sahabatku yang berebutan berlari keluar
“Biarkan saja, mereka kan nggak tahu ruangan bayi yang baru lahir itu dimana” ucap Mila santai yang membuatku terkikik
Ternyata benar yang dikatakan Mila, sampai diluar, kelimanya kebingungan kemana arah dan tujuan mereka, sampai akhirnya Lisa bertanya pada perawat minta ditunjukkan dimana tempat khusus bayi yang baru dilahirkan
Setelah mendapatkan arah yang ditunjukkan oleh seorang perawat, dengan cepat kembali kelimanya berjalan kearah ruangan khusus tersebut. Dan kelimanya kembali berebutan mengintip anakku
“Maa Syaa Alloh, alangkah besarnya” ucap mereka takjub ketika melihat anakku pulas tertidur di dalam box bayi
“4,6 kilo” jawab ibuku yang kembali membuat mereka berdecak kagum
“Pantesan kita kira kemabr kemarin ya bestie, ternyata bayinya sebesar itu” ucap Vita yang dijawab anggukan kepala dari yang lain
Siang harinya, bergantian saudaraku dan juga adik-adiknya Tomi yang muncul, dan mereka sama hebohnya dengan para sahabatku ketika melihat anak kami
“Wah kalau ini memang kakak tertua….” Ucap Aldi ketika dia menggendong anak kami
Secara bergantian, ketiganya menggendong anak kami
“Siapa namanya kak…..?” tanya adik kedua Tomi ke arahku dan Tomi
Kami daim dan menggeleng
“Loh…. Kok belum punya ide nama sih?, anak pertama loh ini”
“Kakak saja kalau begitu yang memberinya nama”
__ADS_1
Kami semua langsung menoleh kearah pintu dimana muncul pak Burlian bersama istrinya yang tersenyum hangat kearah kami