Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Menemani Para Pemborong


__ADS_3

Aku terus menangis tak berhenti. Sakit hatiku dan luka yang kurasakan kian mendalam


Handphoneku sejak tadi terus berdering, dan kulihat itu panggilan dari Adi. Dengan kesal aku segera memblokir nomornya agar dia tak bisa lagi menghubungiku


Jam di tembok kian mendekati angka 8. Dan aku yang masih terisak mau tak mau segera masuk ke kamar mandi dan dengan cepat keluar dari sana, berganti baju dan segera turun kebawah


Memakai sepatu dan membuka pintu. Adi yang mendengar suara kunci dibuka langsung berdiri.


Aku kembali langsung mengunci rumah dan seolah tak melihat Adi yang berdiri di belakangku


"Buk?"


Aku segara menarik bahuku yang dipegangnya


"Buk, tolong buk, jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik"


Aku mendorong tubuhnya yang menghalangi jalanku, memencet remote mobil dan membuka pintu mobil


Adi segera menahan pintu mobil ketika aku akan menutupnya


"Buk?, tolong..."


"Lepas!!! bentak ku


Adi masih terus mempertahankan pintu mobil dengan tangannya. Dengan kesal aku segera mengambil parfum yang ada di dalam tasku, dan menyemprotkannya ke wajah Adi yang membuat mata Adi perih dan refleks melepaskan pintu mobil


Dengan cepat aku menarik pintu mobil dan segera menutupnya, dan langsung memundurkan mobil, ngegas dan langsung pergi meninggalkannya yang terus berteriak memanggilku sambil mengucek-ucek matanya


Ketika aku sampai di depan gapura kantor, semua pegawai telah berbaris. Aku segera menghentikan mobil diluar kantor dengan gugup dan segera turun lalu setengah berlari aku ikut berbaris di belakang


"Tumben telat" bisik bu Halimah


Aku hanya bisa nyengir kearahnya. Aku lalu menatap ke depan dimana pak Sekcam sedang memberi arahan


Hanya sebentar aku berbaris, karena setelahnya barisan langsung bubar dan aku dengan perasaan tak enak segera keluar, mengambil mobil dan memarkirkannya


"Tumben telat Din" ucap Pak Kusno ketika aku masuk keruangan


"Maaf pak" jawabku


"Jangan ulangi lagi jika tidak mau kena SP" jawab pak Kusno sambil tertawa


Aku nyengir kearah beliau yang bercanda


"Panggil pak Bos kamu Din" ucap Bu Halimah yang baru masuk


"Waduh, ada apa ya buk?" tanyaku gugup


"Tuh apa bapak bilang, jangan-jangan kamu kena SP" jawab pak Kusno masih sambil tertawa


"Ihh bapak bercanda mulu deh, aku gugup nih"


Bu Halimah dan empat pegawai lain yang ada di ruangan ini termasuk pak Kusno terkekeh


"Sudah sana cepat" ucap bu Halimah yang membuatku harus kembali berdiri dari kursi yang baru ku duduki


Dengan gugup aku berjalan kearah ruangan pak Burlian yang kudengar ada suara bercakap-cakap dari dalam


Aku mengetuk pintu ruangan tersebut dengan ragu lalu mendorongnya


"Masuk Din!" ucap pak Burlian ketika melihatku mendorong pintu


"Sini, duduk gabung sini" ucap beliau


Kulihat di kursi khusus tamu yang ada di ruangan beliau ada tiga orang pria yang salah satunya adalah Tomi


Dengan memasang senyum kaku, aku berjalan kearah mereka dan duduk.


"Begini Din, ketiga bapak pemborong ini hari ini akan cek lapangan. Nah, kamu dan pak Kusno yang bapak tugaskan untuk mengantarkan dan menunjukkan pada mereka wilayahnya"

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum kaku kearah pak Burlian


"Kenapa harus aku sih?" rutukku dalam hati


"Nggak apa-apa kan Din?"


"Ah, iya nggak apa-apa pak, nggak apa-apa, its okey" jawabku gugup


"Okey, jam sepuluh nanti kita berangkat" jawab pria yang sudah agak berumur tapi tetap terlihat tampan ke arahku


"Baik, nanti saya dan pak Kusno akan mengantarkan bapak semua" jawabku pasrah


"Sudah kan pak?" ucapku sambil menoleh kearah pak Burlian yang mengangguk


"Kalau begitu saya permisi kembali keruangan saya, mari..." ucapku lagi sambil berdiri dan segera keluar dari dalam ruangan


Tuing


Tomi langsung mengeluarkan hp yang ada dalam kantong celananya ketika mendengar ada notifikasi pesan masuk


Kak Burlian: Kedip woy!!🤣🤣


Tomi langsung mengerlingkan matanya dan tersenyum dikulum kearah pak Burlian yang pura-pura tak melihat dengan terus mengobrol pada dua tamunya yang lain


"Gimana Din?" tanya pak Kusno begitu aku masuk


"Nanti jam sepuluh kita disuruh pak Bos nemenin para tender cek lokasi" jawabku


"Kita??"


Aku menahan tawa mendengar pertanyaan pak Kusno


"Iya pak, kita. Aku sama bapak" jawabku


"Cie cie cieee...." goda teman kami yang lain yang akhirnya memancing tawa kami seruangan


"Pak, bagi-bagi ya kalau cair" celetuk Redho


Tawa kami yang berderai langsung terhenti ketika Tomi mengetuk pintu. Aku langsung duduk di kursiku tak menoleh sedikitpun padanya yang berjalan kearah mejaku


"Minta dokumen kemaren dek" ucapnya begitu duduk di depanku


"Yang mana?"


"Desa A"


Aku menganggukkan kepalaku dan segera menyalakan laptop, mencari dokumen yang dimintanya


"Kirim lewat file atau cetak?" tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku pada layar laptop yang menyala


"Cetak lah dek, bukan untuk kakak, tapi untuk kepala tender" jawabnya


Aku mengangkat kepalaku, menatap kearahnya


"Panggil Dinda saja seperti yang lain" protes ku yang merasa canggung dipanggilnya adek di depan teman sekantorku


"Nggak mau!"


Aku mendecak kesal mendengar jawabannya.


"Mas Redho, kertasnya sudah terpasang kan?" tanyaku pada Redho yang duduk dekat printer


"Sebentar mbak, A4 apa F4?"


Aku lalu menatap kearah Tomi yang sejak tadi terus menatapku


"A4 apa F4 pak Tomi?" tanyaku


"A4 saja"

__ADS_1


"A4 Dho"


Redho segera berdiri dan langsung meletakkan kertas sesuai permintaanku, tak lama dia telah berjalan kearah kami sambil memberikan berkas yang telah tercetak


"Apa perlu saya jilid kan pak?"


Aku menoleh kearah Tomi yang mengangguk. Dengan segera Redho menjilidkan berkas yang ada di tangannya dan memberikannya pada Tomi begitu telah selesai


"Terima kasih" ucap Tomi sambil tersenyum pada Redho


Setelah menerima berkas yang dibutuhkan Tomi segera berpamitan padaku lalu mendekati pak Kusno


Berbasa-basi sebentar lalu tak lama kemudian keluar


"Kamu kenal sama pak Tomi tadi Din?" tanya pak Kusno


Aku menggigit bibirku sedetik untuk menutupi kekagetan atas pertanyaannya


"Iya pak, pak Tomi itu kakak kelas saya waktu SMA"


Pak Kusno tampak menganggukkan kepalanya lalu beliau kembali sibuk seperti tadi


...----------------...


Mbak pakan kita habis


Aku terhenyak membaca pesan dari salah satu karyawan kolam


*Kamu temui mbak di kantor, ambil uang sama mbak untuk beli pakan


Baik mbak*


Aku menarik nafas panjang dan semangatku untuk bekerja langsung hilang.


Aku memutar-mutar hp bahkan sesekali menggigit ujungnya menahan kesal dan sedih yang kembali hadir


Tak lama hpku berdering


"Mbak, aku sudah di depan"


"Ya sudah tunggu sebentar, mbak kesana sekarang"


Lalu aku keluar dari ruanganku dan berjalan kearah parkiran


Tomi yang melihat Dinda keluar hanya bisa menatapnya dari jauh.


Begitu aku sampai di parkiran aku segera memberikan uang kepada pekerja kolam


"Beli dua karung dulu, nanti sore tauke pakannya akan ke rumah mbak"


"Oh, jadi pak Bara sudah nemuin mbak?"


Aku mengangguk


"Yang sabar ya mbak"


Aku tersenyum kecut kearah pekerja kami yang masih muda itu yang tak lama setelahnya pergi


Dengan menarik nafas panjang aku kembali masuk ke dalam kantor. Tetapi langkahku langsung terhenti ketika kulihat Tomi dan rombongannya telah berjalan bersama pak Kusno


"Ayo!" ucap pak Kusno


"Sebentar pak aku ambil tas dulu" jawabku sambil berjalan cepat masuk keruangan dan langsung menyambar tas


"Aku pamit ya, assalamu'alaikum" teriakku


"Waalaikumussalam" jawab temanku yang lain yang menggelengkan kepala mereka melihatku berlari keluar ruangan


"Kita satu mobil saja!" ucap bapak paruh baya yang ternyata adalah kepala tender ketika melihatku akan membuka pintu mobilku

__ADS_1


Aku mengangguk gugup. Langsung semuanya bergegas masuk di bagian tengah dan dengan terpaksa aku membuka pintu bagian depan dan duduk di sebelah Tomi yang menyetir


__ADS_2