
Aku langsung memeluk erat Tomi dan menenggelamkan wajahku di dadanya kemudian aku langsung terisak.
"Sayang kenapa menangis?, jangan nangis dong. Harusnya kamu tuh senang karena cinta kakak tuh nggak pernah berubah sama kamu. Dari dulu sampai detik ini masih sama, tak berkurang satu derajat pun" ucap Tomi sambil mengusap-usap kepalaku.
Dan aku tidak menghiraukan Bagaimana Tomi membujukku. Aku terus saja menangis terisak dalam dekapannya.
"Tau nggak sih Sayang, niat Kakak itu bawa kamu ke sini itu ingin menunjukan bahwa kamu itu dari dulu ada di dalam hati Kakak. Bukannya ingin melihat kamu menangis seperti ini. Kalau kakak tahu kamu bakal nangis, mendingan kita di rumah saja. Nggak usah ke rumah ibuk".
Aku cepat mengangkat kepalaku dari dada Tomi, kemudian mengusap kasar wajahku. Lalu menatapnya dengan cemberut.
"Aku tuh terharu tahu....., aku tuh nggak nyangka kalau kakak tuh benar-benar cinta sama aku. Bukannya kenapa-napa...." jawabku dengan nada manja yang membuat Tomi segera menoel hidungku.
"Iya sayang kakak tahu kamu itu terharu. Makanya Kakak itu nggak mau kalau kamu sedih. Jangan nangis lagi ya?" ucap Tomi dengan lembut sambil kembali mengusap-usap kepalaku.
Aku mengangguk, kemudian aku berjalan ke arah tembok. Melihat satu persatu fotoku dan foto kami berdua.
Dan Tomi rupanya membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan beberapa buah album foto.
Aku segera berjalan ke arah Tomi. Lalu kami berdua sama-sama duduk di atas ranjang, membuka lembar demi lembar album foto kenangan kami dulu.
Dan aku tampak tersenyum malu ketika melihat foto pertunangan kami.
"Andaikan waktu itu kita langsung menikah, Kakak yakin anak kita pasti sudah di atas Naya.
Aku lalu meletakkan kepalaku di bahu Tomi dan mengusap-usap wajahnya.
"Tuhan itu mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum mempertemukan kita dengan orang yang tepat" ucapku sambil tersenyum ke arah Tomi .
Tomi menoleh ke arahku dan langsung melahap bibirku.
Dan album foto yang ada di pangkuan kami langsung jatuh, karena kami langsung bergulingan di atas ranjang.
Dan seperti biasanya nafas Tomi kurasakan sangat memburu dan bergejolak. Dan aku tahu apa yang dia mau.
Saat Tomi mulai bergerilya di atas tubuhku, aku sekuat tenaga menahan jangan sampai keluar lenguhan dari Mulutku. Aku hanya bisa membekap kuat-kuat mulutku agar suaraku tidak didengar sampai keluar.
"Aman sayang, kamar ibuk dan kamar anak-anak cukup jauh dari kamar kita"
Tapi aku menggeleng ke arah Tomi, karena aku malu jika sampai suaraku didengar oleh ibu mertuaku.
Dan Tomi sepertinya paham, jika aku malu dan dia hanya terkekeh melihatku menggeleng kuat.
"Kakak jangan berisik, jangan buat aku malu" bisikku ketika Tomi mulai bersiap-siap beraksi.
Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah, aku kembali terguncang di bawah kungkungan Tomi yang bergerak bebas di atasku.
__ADS_1
Dan aku seperti yang kulakukan tadi berusaha sekuat tenaga menahan lenguhan suaraku agar tidak keluar lantang.
Hingga akhirnya, permainan panas kami berakhir dan kami sama-sama tidur di dalam satu selimut.
Suara Adzan Subuh membangunkan ku yang tengah tidur pulas dalam dekapan suamiku.
Dan aku langsung menggerak-gerakkan badan Tomi. Tomi membuka sedikit matanya kemudian menatap arahku
"Ada apa sayang?"
"Bangun, ayo kita mandi ini sudah subuh. Jangan sampai kita bangun didahului Ibuk. Aku malu jika aku mandi keramas di sini"
Tomi bukannya bangun tapi menggeliat dan menarik ku kembali ke dalam pelukannya.
"Ya Allah Sayang, ayo bangun kita mandi. Ini sudah subuh" ucapku sambil berusaha melepaskan tangan Tomi yang terus mendekap ku dengan erat.
"Tapi Kakak mau lagi" lirih Tomi yang segera membalikkan badanku sehingga aku kembali berada di bawah.
Aku menggeleng kuat berusaha untuk menolak ajakan Tomi. Tapi sepertinya aku tidak mampu, karena Tomi sudah mulai beraksi liar di dadaku dan tangannya pun sudah bergerilya ke bagian bawah.
Dan aku kembali mengerang tak karuan ketika Tomi mulai berpacu di atas tubuhku kembali.
Dan sepertinya kami memang tidak memikirkan bagaimana sekali lagi subuh ini harus terlewatkan dengan kami. Entah bulan madu ini kapan akan berakhir, karena sepertinya baik Tomi maupun Aku tidak pernah ada bosannya dalam bercinta
Dan setelah permainan kedua kami berakhir, dengan nafas memburu dan terengah-engah aku kembali harus menarik selimut untuk menutupi tubuh polos ku.
Aku langsung memiringkan tubuhku menghadap ke arah Tomi yang tampak matanya akan terpejam kembali.
"Sayang ayo bangun, itu Ibu sudah ngaji" ucapku sambil sekali lagi menggerakkan tangan Tomi.
"Sayang, kamu tinggal ke kamar mandi yang ada di belakang. Kan kamu tahu letaknya, ya?" bujuk Tomi karena dia tampak kembali mengantuk.
Dan aku kembali dilanda kegelisahan karena sepertinya kali ini aku tidak bisa membujuk Tomi.
Karena Tomi sudah kembali terpejam, mau tidak mau aku segera turun dari atas ranjang.
Aku segera mengambil handuk yang ada di belakang pintu dan melilitkannya ke tubuhku.
Setelah itu dengan pelan aku membuka gerendel pintu dan berjalan berjingkat-jingkat menuju ruang belakang.
"Samponya kalau yang di kamar mandi habis, itu ada juga sampo yang ibu letakkan di dekat meja kompor ya Din" ucap ibu mertuaku yang membuatku otomatis menghentikan langkah kakiku.
Seketika aku langsung menggigit bibirku dengan kuat dan langsung memejamkan mataku karena menahan malu yang tiba-tiba menyergap seluruh tubuhku saat ini.
"Iya Buk, nanti aku ambil" hanya itu jawabanku karena setelah itu aku langsung ambil langkah seribu dengan berlari langsung menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar mandi aku langsung menggerutu, menggeram kesal kepada Tomi yang mengapa kembali mengajak main. Seandainya saja Tomi tidak mengajak ronde kedua, sudah pasti ibunya Tomi tidak akan memergoki ku dalam keadaan begini .
"Din.... samponya masih ada Nak?" suara ketukan Ibu mertuaku di depan kamar mandi mampu membuatku langsung menutup mulutku.
Dan aku langsung meraih botol shampo dan mengguncangnya sebentar.
"Masih ada kok Buk" jawabku cepat
Dan setelah itu terdengar jawaban ibu mertuaku yang sepertinya berjalan menjauh dari depan kamar mandi.
Aku segera menarik nafas lega ketika ibu Mertuaku sudah pergi dari depan pintu kamar mandi. Dan dengan cepat aku langsung menyiramkan air ke seluruh tubuhku. Keramas dengan cepat dan menggosok tubuhku juga dengan cepat. Setelah itu kembali menyiramkan air ke seluruh tubuhku lalu segera menyambar handuk. Dan dengan kembali berjalan cepat, aku segera keluar dari kamar mandi berlari menuju kamar tempatku dan Tomi.
Aku kembali harus menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala ketika kulihat Tomi masih tampak pulas.
"Ya ampun orang ini, tidak tahu ya dia Bagaimana nasib istrinya yang kepergok Ibu mertuanya pagi-pagi karena mau keramas" geram ku sambil meletakkan rambutku yang basah ke wajah Tomi.
Dan Tomi yang merasa ada tetesan air di wajahnya langsung membuka matanya.
"Sudah mandinya Sayang?" tanya Tomi sambil mengusap wajahnya
Dan aku segera menarik rambutku yang tadi berjuntai di atas wajah Tomi, kemudian kembali mengeringkannya dengan handuk.
Lalu aku mulai menceritakan semua kejadian pagi ini kepada Tomi. Bagaimana aku kepergok Ibunya dan bagaimana aku sangat malu kepada ibunya.
Dan Tomi, bukannya kasihan karena aku kepergok ibunya dia malah tertawa terkekeh.
"Ih jahat ya. Bukannya bantuin istrinya, ini malah ngetawain" rajuk ku.
"Tidak apa-apa sayang, setidaknya ini menjadi ujian mental untuk kamu ketika di rumah Ibuk. Jadi anggap sajalah kamu sedang ujian".
Aku segera memanyunkan bibirku mendengar jawaban santai dari Tomi.
Dan Tomi segera mengambil handuk yang melilit di tubuhku sehingga membuatku terpekik kaget.
"Tom?, kamu apakan Dinda? kenapa dia berteriak seperti itu?"
Aku yang semula hendak merebut handuk yang dililitkan Tomi ke pinggangnya menghentikan gerakan tanganku ketika mendengar ibu mertuaku berteriak. Dan dengan terburu, aku membekap mulutku.
"Nggak Buk, aku nggak apa-apa" jawabku cepat.
"Bilang sama ibuk kalau Tomi nyakitin kamu Din, biar Ibu pukul kepalanya" teriak ibu mertuaku lagi.
Dan aku harus tersenyum kaku mendengar teriakan ibu mertuaku itu
Sementara Tomi, bukannya segara keluar dari kamar dan segera mandi. Tetapi dia malah sibuk mengambil dan melilitkan selimut ke tubuhku yang polos.
__ADS_1
"Jika tidak segera ditutupi seperti ini, Kakak khawatir Kakak akan khilaf dan kembali membuatmu harus keramas untuk kedua kalinya" ucap Tomi yang membuatku refleks memukul lengannya.