
Kehamilanku sama seperti aku hamil sebelumnya. Tidak mabuk semuanya masuk kedalam perut. Berat badanku otomatis naik drastic. Jika dianjurkan setidaknya berat badan naik lima belas kilo, maka aku naik nyaris dua kali lipatnya
Sehingga badanku menjadi sangat gemuk, dan pakaian dinasku yang memang khusus untuk aku hamil kembali aku keluarkan dari dalam lemari. Awalnya aku tidak percaya diri dengan berat badanku yang kian bertambah
Aku takut Tomi malu karena aku tidak seperti dulu lagi. Tapi ternyata Tomi malah semakin sayang sama aku.
“Tidak perduli mau seberat apa badan kamu, aku tetap mencintai dan menyayangi kamu….” ucap Tomi suatu malam ketika kami sedang rebahan di kamar
Aku yang sudah masuk hampir ke trimester ketiga semakin merasa kesusahan saat berjalan. Hamilku saat ini sangat besar, atau mungkin hanya perasaan ku saja. Tapi teman sekantor dan para sahabatku juga bilang jika kehamilan ketiga ku kali ini memang sangat besar
“Jangan-jangan kembar Din…..” komentar Putri yang membuatku mendecak
“USG satu kok” jawabku
“Ya kan itu alat manusia yang buat Din, kalau Tuhan berkehendak?” tambah Lisa lagi
“Heh, please ya…. Aku sebagai dokter merasa kaya jadi orang bego deh dengar komentar kalian berdua”
Kami menahan tawa karena jawaban Mila.
“Tahu nih si Putri” jawabku
“Ya kan siapa tahu” bela Putri
“Terakhir usg kapan?” tanya Mila
“Bulan kemarin”
“Satu?” tanya nya lagi
Aku mengangguk
“Berarti emang satu. Alat usg sekarang sudah canggih, In Syaa Alloh nggak salah. Lagian kalau kehamilan Dinda lagi ini besar memangnya kenapa? Toh masih dibatas normal kok”
Aku mengangguk menyetujui ucapan Mila. Sedangkan sahabatku yang lain ikut menganggukkan kepala mereka juga
“Dinda itu hamil nya persis kaya ibu dulu pas hamil Tomi”
Kami langsung menoleh kearah ibu mertuaku yang muncul sambil membawa nampan. Entah apalagi yang dibuat oleh ibu mertuaku hari ini
Vita, yang notabene adalah tetangga mertuaku, langsung berdiri dan mengambil nampan yang dibawa ibu mertuaku, dan Rohaya yang juga berdiri, saat ini membimbing tangan beliau untuk duduk di kursi, bergabung sama kami
“Emang dulu ibuk pas hamil kak Tomi besar juga kaya gini?” tanyaku
__ADS_1
Ibu mertuaku mengangguk
“Tomi itu lahir berat badannya empat kilo setengah”
“Hah????!” jawab kami kompak dengan kaget
Ibu mertuaku tertawa, begitu juga dengan kami. Kami ikut tertawa karena menyadari kekompakan rasa kaget kami
Lalu ibu mertuaku bercerita bagaimana beliau normal melahirkan Tomi dengan berat badan yang sangat besar
“Kemungkinan Dinda hamil sama seperti ibuk hamil Tomi dulu. Mungkin gen Tomi lebih dominan sama anak kalian, itulah makanya perut kamu sangat besar”
Aku tersenyum kaku mendengar ucapan ibu mertuaku. Jujur ada rasa takut juga dalam diri aku jika aku benar-benar hamil bayi sumo.
“Tenang, rumah sakit buka 24 jam kok. Jam berapapun nanti kamu melahirkan, kamu telpon aku, aku akan menemani kamu di rumah sakit. Bahkan aku akan masuk di ruang bersalin kamu nanti” ucap Mila yang sepertinya bisa membaca kekhawatiran di wajahku
“Iya Din, kita juga siap kok nemenin kamu” jawab yang lain
Aku sudah berjalan dengan sangat kesusahan. Padahal cutiku masih sebulan lagi. Jadilah akhirnya Tomi yang mengantarkan ku sampai ke ruangan. Dan mengurusi semua yang ku butuhkan, bahkan di rumah juga semuanya Tomi. Aku sudah tidak bisa menunduk lagi, bahkan hanya untuk melihat jempol kaki ku sendiri
Dan tiap berganti pakaian, Tomi yang akan turun tangan. Aku tidak pernah menyangka jika dia akan sangat telaten mengurusi ku
“Maafkan aku ya kak, harusnya aku yang ngurusin kamu, ini malah kamu yang ngurusin aku”
Tomi akan tersenyum tiap aku meminta maaf padanya karena telah merepotkannya. Jawabannya selalu sama
Maka aku akan sangat bahagia ketika Tomi mengatakan kalimat tersebut. Rasanya dia benar-benar sangat menyayangiku
Dan sore ini adalah jadwal aku periksa ke dokter. Dan Tomi yang sudah tahu bahwa ini adalah jadwalku, sebelum jam empat dia sudah menjemputku di kantor. Sehingga begitu jam kantor bubar, Tomi langsung membimbingku keluar dari ruangan ku
“Cuti kamu kapan Din?” tanya pak Burlian yang tiba-tiba muncul di belakang kami
“Bulan depan pak”
Pak Burlian mengangguk dan menepuk bahu Tomi
“Harus jadi suami siaga, ingat Dinda itu kemarin cantik, langsing, tapi sejak dia mengandung anak kamu dia menjadi langsung”
Aku terkekeh mendengar candaan pak Burlian, begitu juga dengan Tomi yang ikut tertawa pula
“Kalau itu kakak jangan khawatir. Kakak tahulah bagaimana aku dulu, bukan sehari aku menunggu Dinda, tapi nyaris dua belas tahun. Dan ketika sekarang dia hamil anak aku, mana mungkin aku akan menyia-nyiakannya kak…”
Pak Burlian kembali menepuk bahu Tomi kemudian tersenyum ke arahku. Setelah itu secara bersamaan kami berjalan kearah parkiran. Dan pak Burlian terus berdiri sampai mobil kami berjalan meninggalkan halaman kantor
__ADS_1
“Kak Burlian memang seperti itu dek orangnya. Dia sangat perhatian sama seluruh saudara sepupunya. Mungkin karena dia cucu tertua di keluarga besar kami, makanya dia merasa bertanggung jawab pada seluruh adiknya”
Aku mengangguk dan tersenyum bangga. Aku juga tahu bagaimana baiknya pak Burlian, terlepas sekarang aku adik iparnya, sejak dulu memang beliau baik pada seluruh bawahannya, itulah sebabnya kami semua segan kepada beliau
Tomi menjalankan mobil dengan pelan, sesekali dia mengelus perutku, dan itu membuatku nyaman. Tetapi tidak dengan anaknya yang ada di dalam perutku. Sejak tadi dia terus bergerak hingga membuatku sesekali meringis
Tomi kembali mengelus perutku dan mengucapkan kalimat sayang kepada anaknya yang membuatku tersenyum geli. Karena perjalanan kami menuju rumah lumayan agak jauh, aku meminta Tomi untuk memutar lagu.
Sebuah lagu yang sedang viral dan hits yang mengalun. Dari intro musiknya saja membuatku baper apalagi liriknya
Aku ikut bersenandung lirih sambil mengusap kepala Tomi yang membuat Tomi tersenyum dan menoleh ke arahku. Ditatapnya mataku dengan penuh cinta
Berjanjilah kasih….. setia bersamaku……. Ucapku menirukan lirik lagu tersebut sambil terus mengusap kepala Tomi
Tomi kembali menoleh dan meraih tanganku, lalu menciumi jemariku yang sudah mirip jempol semua saking bengkaknya. Dan ketika sampai di rumah, kasih sayang yang ditunjukkan Tomi padaku tetap berlanjut. Dengan sayang dituntunnya aku berjalan. Dan kedua anakku yang melihatku pulang segera berlari dari dalam rumah
Naya yang sudah beranjak remaja tak malu untuk menciumi perutku, dan memanggil adiknya
“Adek….. cepat keluar yaaaa…..” ucapnya yang membuatku tertawa
Arik tak mau ketinggalan, dia ikut berjongkok dan berkata di perut besarku, kalimat yang sama seperti yang kakaknya ucapkan
Satu bulan kemudian
Aku sudah cuti, seluruh pekerjaanku di handle oleh Nadia dan Redho. Aku berpamitan pad seluruh rekan sekantorku dan meminta doa selamat pada mereka semua
Seluruh teman sekantorku memeluk dan mendoakan keselamatanku, dan mereka berjanji jika ketika aku lahiran mereka akan datang.
Sekarang, tepat tengah malam, aku merasakan perutku melilit. Aku yang sudah faham jika ini tanda mau melahirkan mulai menggerakkan tubuh Tomi yang berbaring di sebelahku
“Kak…. Kak….” Lirihku menahan sakit
Tomi hanya berdehem dan bergerak sesaat. Aku kembali menggerakkan bahunya dan sekarang dengan gerakan yang lebih kencang lagi
“Kak….” Rintihku
Tomi langsung membuka matanya, dan langsung terduduk ketika melihatku bergerak gelisah
“Sakit…..” lirihku
Tomi langsung mengelus perutku dan aku kian mengerang kesakitan.
“Ke rumah sakit sekarang, ya?” ucapnya dengan nada panic
__ADS_1
Aku tidak menjawab, melainkan menarik tangan Tomi minta bantuannya untuk duduk. Setelah aku duduk, Tomi segera turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar. Tak lama muncul ibu mertuaku, kulihat wajah beliau tampak tegang dan panik
“Kamu cepat siapkan mobil!” ucap beliau pada Tomi yang tampak kebingungan