Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Donor


__ADS_3

Mobil berhenti di halaman parkir rumah sakit, dengan cepat aku dan pak Burlian turun.


Aku berjalan di sebelah pak Burlian yang sibuk berbicara di telpon, menanyakan di ruangan mana tempat Tomi di rawat


Kami naik tangga lalu berbelok, lurus lagi. Lumayan pegal kakiku mengikuti langkah panjang pak Burlian.


Hingga akhirnya kami sampai di sebuah ruangan dimana di dalamnya telah ada ibu Tomi dan adik-adiknya.


Langkahku melambat ketika menatap ibunya Tomi yang langsung berdiri begitu melihatku


"Dinda..." lirihnya yang langsung merangkulku dan terisak


Aku membalas merangkul wanita paruh baya yang dulu sangat akrab denganku, yang dulu sangat menyayangiku dan selalu sabar mengajariku masak


"Terima kasih kamu mau datang"


Aku hanya bisa mengangguk karena saat itu aku juga terisak. Lalu kami saling melepas rangkulan, dan aku mengulurkan tanganku menyalami ketiga adik lelaki Tomi yang sejak tadi menatapku


"Mbak..." sapa mereka yang ku balas dengan senyuman


Lalu aku menoleh kearah brankar dimana Tomi terbaring lemah yang saat ini terlihat bercakap-cakap dengan pak Burlian


Mata Tomi beralih menatapku, melihatku dengan dalam. Ingin sekali rasanya aku berlari memeluk dan menangis di dadanya melihat keadaannya yang sangat lemah. Wajahnya sangat pucat, sementara ada kantong darah mengalir di sebelah infus


"Dekkk..."


Aku memaksakan sebuah senyuman mendengarnya memanggilku. Lalu aku berjalan pelan kearahnya, berdiri di sampingnya


Tomi menggerakkan tangannya seolah ingin menjabat tanganku, dengan cepat aku menangkap tangannya dan menggenggamnya.


Hanya sebentar, karena selanjutnya aku terburu menarik tanganku karena sadar ada pak Burlian di depanku


"Kakak keluar dulu ya Tom, mau menemui bagian yang akan mengambil darah Dinda" ucap pak Burlian


Tomi kembali menoleh ke arahku


"Kamu dek yang akan donorkan darah kamu untuk kakak?"


Aku tersenyum kaku. Pak Burlian mengusap kepala Tomi lalu beliau keluar diikuti oleh kedua adik Tomi


Tinggallah sekarang aku dan adik bungsu serta ibunya Tomi yang ada di dalam ruangan


"Buk, aku beli nasi dulu ya. Kan kita belum makan, cuma sarapan saja tadi"


Aku menoleh kearah Aldi, adik bungsu Tomi


Tampak ibunya Tomi mengangguk dan dengan cepat Aldi keluar dari ruangan.


"Din, tolong jagain Tomi sebentar ya, ibu mau keluar sebentar, mau menghirup udara bersih di balkon"


Aku menganggukkan kepalaku. Mengapa aku seperti merasa jika mereka semua sengaja pergi ya?


Kini hanya tinggal aku dan Tomi. Aku segera menarik kursi lalu kembali duduk di sebelah Tomi


Aku diam, bingung harus bicara apa. Tomi terus menatap Dinda dengan dalam. Aku memaksa senyum di wajahku


"Benar adek yang mau donorkan darah untuk kakak?"

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang sambil mengangguk.


"Terima kasih ya dek"


Kembali aku tersenyum


"Dek...?"


Aku mendekat, mengambil tangan Tomi yang kembali diulurkannya.


"Kamu mau apa, Tom?, mau minum?"


Tomi menggeleng


"Sejenak kakak berfikir jika kakak akan mati, pisau itu berulang kali ditusukkan ke perut kakak..."


Aku menggenggam erat tangannya


"Kamu nggak boleh mati Tom, nggak boleh" ucapku tanpa sadar dengan meletakkan tangannya di pipiku. Aku lalu menangis


"Aku akan mendonor darahku untuk kamu, kamu akan selamat. Tolong jangan ngomong gitu, aku nggak mau kamu tinggalin..." isak ku


Tomi tersenyum mendengar ucapan Dinda. Ucapan yang dulu pernah dikatakannya ketika dia dirawat akibat jatuh dari motor


"Darah kita sama, jadi kamu jangan khawatir, ya...?"


"Kamu dari dulu masih bandel, dibilangin jangan sering pulang malam, bahaya bawa motor sendirian, masih aja ngeyel"


"Lah kakak pulang cepat untuk apa?, istri nggak punya, anak nggak ada. Di rumah ngapain kalau nggak ngelayap?"


Aku menepis kasar tangan Tomi yang sejak tadi aku pegang. Refleks Tomi merintih ketika tangannya yang dipasang selang infus ditepis kasar dengan Dinda


Tomi tersenyum, ingin sekali rasanya dia mencubit pipi Dinda yang cemberut


"Adek tahu dari siapa kakak di rawat ?"


"Pak Burlian"


"Oh, kakak sepupuku satu itu memang baik sekali. Dia tahu obat mujarab untukku"


Aku mencubit pinggang Tomi dengan kesal yang kembali membuatnya merintih kesakitan


Refleks aku langsung berdiri dan membuka bajunya sedikit, melihat perban yang menutupi bekas luka tusukannya


"Sakit?,.maaf ya...?"


Tomi memejamkan matanya sebentar, luka tusukan di perutnya kembali dirasakannya perih


Dengan panik aku menoleh kanan kiri berharap ada yang datang


"Tom?,.Tomi?, please Tom kamu jangan buat aku khawatir..."


Tomi masih memejamkan matanya, dan menekuk kakinya. Kembali wajahnya memucat


Aku segera memegangi wajah piasnya, dengan terus memanggil-manggil namanya


Tomi diam tak bergerak yang membuatku mengguncangkan bahunya

__ADS_1


"Tom?, Tom bangun Tom, ya Alloh.. Tom...?"


Disaat aku panik pak Burlian masuk dengan dokter dan perawat


"Tolong dokter, sepertinya Tomi pingsan, tolong selamatkan dia dokter.. "


Pak Burlian mendekat, dilihatnya bibir Indah bergetar saat mengucapkan kalimat itu


Dokter dan perawat segera mendekat, memeriksa Tomi dan suster segera mengganti infus lalu memasang infus baru


Aku terus menggigit bibirku dengan khawatir melihat Tomi yang belum juga membuka matanya.


"Mungkin obat bius saat kami menjahit lukanya telah habis, itulah sebabnya pasien merasakan kesakitan yang amat sangat sehingga membuatnya pingsan"


Dapat kulihat kening Tomi mengeluarkan keringat sebesar biji jagung, padahal ruangan ini full AC.


"Mbak yang akan mendonorkan darah?" tanya dokter


Aku mengangguk


"Sus, ajak mbak ini kebagian PMI, periksa dulu kesehatannya, kalau sehat dan memenuhi syarat bisa kita ambil darahnya"


"Siap dokter"


Lalu suster itu mengajakku keluar, aku menoleh kearah pak Burlian sebelum mengikuti langkah suster itu


"Nanti bapak akan menyusul kamu"


Aku menganggukkan kepalaku. Lalu menoleh kearah Tomi yang masih terpejam


...----------------...


"Serius kamu bisa pulang sendiri?" tanya pak Burlian saat aku bersikukuh ingin pulang ke rumah memakai motorku yang masih terparkir di parkiran kantor


"Saya nggak papa kok pak, sehat"


"Tapi kan tadi kamu habis mendonorkan darah Din, takutnya kamu lemas"


Aku terkekeh


"Saya itu orangnya kuat pak, nggak papa kok"


Wajah Pak Burlian masih menyiratkan kekhawatiran


"Ya sudah, bapak ikutin kamu dari belakang, ya?"


Aku mengangguk


Jadilah aku mengendarai motor dengan pelan dengan diikuti mobil pak Burlian dari belakang.


Ketika sampai di tikungan arah rumahku, aku menghentikan motorku, lalu turun menghampiri pak Burlian dan membuka kaca helm


"Mampir pak"


"Terima kasih Din, bapak langsung saja. Sepertinya malam ini bapak ke rumah sakit lagi, nungguin Tomi"


Aku tersenyum lalu mengangguk hormat pada beliau dan kembali naik keatas motor

__ADS_1


Pak Burlian terus memperhatikan Dinda sampai perempuan itu masuk kedalam pagar barulah dia kembali melajukan mobilnya


"Entah apa yang ada di dalam diri perempuan itu, hingga sampai detik ini Tomi masih terus menunggu jandanya" lirihnya sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya


__ADS_2