
Kartika tersenyum kaku mendengar ucapanku, kemudian dia mengangguk pelan dan berdiri
“Aku pamit Din. Maaf karena sudah ganggu waktu istirahat kamu”
Aku bergeming, aku tidak menoleh kearahnya yang berdiri dan berbicara padaku. Sampai akhirnya Kartika mengulurkan tangannya padaku, barulah aku menyambut tangannya dan itupun tanpa menoleh kearahnya
Ketika Kartika keluar dari dalam pagar dan terus berjalan kearah luar aku segera masuk. Aku tidak ingin mencari tahu dengan siapa dia datang, terserah. Karena itu bukan urusanku. Setidaknya aku sudah mengatakan kebenaran padanya
“Siapa buk?” tanya Naya ketika aku bergabung bersama mereka
“Orang nanya alamat” bohongku
Naya ber O panjang, kemudian aku ikut tengkurap, memegang kaki Yusuf yang duduk sambil menggigit mainan. Matanya tak lepas melihat layar tv yang menyala, sesekali mulutnya bergumam yang membuatku ikut bergumam menirukan suaranya
Ketika Yusuf mulai merengek barulah aku meminta Naya dan Arik untuk tidur. Segeralah kami berempat masuk ke kamar kami masing-masing. Aku naik ke kamar atas, Naya dan Arik ke kamar mereka dulu. Sekarang aku tidak mempunyai beban apa-apa lagi, persidangan ku sudah berjalan dan aku juga sudah kembali ke rumahku sendiri. Sekarang aku harus memulai hidupku seperti biasanya. Toh aku juga tidak akan kekurangan financial. Toko, pengiriman bibit dan kolam masih berjalan lancar, jadi aku yakin jika aku tidak akan kekurangan dalam membiayai hidup kami berempat
Sambil memberi asi Yusuf, aku iseng membuka hp. Ada pesan dari nomor baru
Din, ini aku Lisa. Kenapa kamu blokir nomor aku. apa salah aku sama kamu?
Aku menelan ludah begitu membaca pesan yang dikirimkan oleh Lisa. Sepertinya dia memakai hp anaknya, terlihat dari nama profilnya.
Nggak ada yang salah Lis. Justru yang salah disini itu aku. Makanya aku nggak mau makin bersalah sama kalian makanya aku blokir semua nomor kalian
Tak perlu menunggu waktu lama hp ku langsung berdering, dan itu dari nomor yang Lisa pakai untuk mengirimiku pesan tadi
Aku merasa bimbang ketika ada panggilan masuk, antara menerimanya atau menolaknya. Dengan ragu akhirnya panggilan tersebut aku terima juga
“Ya Lis?”
“Besok kamu ada di rumah?”
Aku diam sebentar, besok itu rencananya aku mau ke kolam sebentar setelah itu ke toko
“Kayanya nggak Lis. Aku mau ke toko setelah ke kolam”
“Aku temui kamu di toko kalau begitu. Sekitar jam sebelas atau dua belas lah aku kesana. Oke?”
“He em…..” jawabku singkat
“Ya sudah, karena sudah malam jadi aku nggak banyak tanya. See you tomorrow Din”
“See you too” jawabku.
Kemudian aku mematikan data, lalu meletakkan hp di bawah ranjang, selanjutnya aku berbaring di sebelah Yusuf yang sudah nyenyak
**
Tenangnya otakku ketika sampai di kolam yang cukup luas dengan ikan yang bergerak bergerombol ketika di beri pakan. Yusuf sampai hendak merosot dari gendonganku ketika melihat mbak Sri melempar pelet ikan ke dalam kolam
Aku segera berjongkok dan mendekatkan kaki Yusuf kedalam kolam, memainkan kakinya seolah-olah akan menyentuh air. Suara tawa berderai dari mulut Yusuf membuat kami yang ada di kolam ikut tertawa senang. Sampai seluruh pekerja kolam berebutan hendak menggendong Yusuf
Karena aku juga ingin memberi makan ikan, maka Yusuf aku berikan pada pekerja kolam, biar mereka yang menggendong Yusuf dan membawanya bermain di sekitar kolam. Cukup lama aku di kolam, sekitar satu jam. Memberi makan ikan yang belum diberi makan, kemudian mengobrol sebentar dengan para pekerja.
Barulah setelah itu aku berangkat ke toko. Ketika sampai di toko kedua, aku segera turun dan menarik nafas lega ketika menatap ruko tersebut dari bawah sampai atas
“Alhamdulillah, akhirnya ruko ini kembali menjadi milikku” batinku sambil tersenyum menatap ruko tersebut
__ADS_1
Karyawan toko yang melihat aku datang segera mendekat dan mencium punggung tanganku. Tak lupa aku juga tersenyum kearah para pembeli yang menoleh ketika aku datang. Para karyawan toko bergantian menciumi pipi Yusuf, bahkan ada sebagian yang saking gemasnya mereka saling pukul sendiri karena tidak mungkin untuk mereka memukul Yusuf
“Mbak duduk saja di sana. Aku mau langsung kerja” ucapku sambil memberikan tas berisi susu formula dan pakaian Yusuf pada mbak Sri
Setelah itu aku langsung mengambil catatan di tangan salah satu karyawanku, dan terjun langsung mengambil pesanan para pembeli
Dan seperti biasa, jam dua belas ruko tutup karena kami akan istirahat. Karena tadi aku meminta salah satu karyawan membeli nasi padang, jadilah sekarang kami semua duduk melingkar di lantai, makan bersama
Saat makan, hp ku yang ada di dalam tas berdering. Mbak Sri langsung berdiri dan mengambil hp ku. Kemudian memberikan padaku. Aku melihat jika di layar tampil nomor yang Lisa gunakan semalam
“Aku sudah di depan toko kamu, tolong bukain dong”
Aku segera mengiyakan, dan langsung berdiri
“Biar aku saja buk” cegah salah satu karyawanku yang laki-laki ketika melihatku akan mendorong rolling. Aku menggeleng sambil tersenyum kearahnya dan memintanya untuk melanjutkan makan siangnya. Begitu rolling terbuka sedikit yang bisa meloloskan tubuhku aku segera keluar
Begitu aku keluar, tampak olehku Lisa dan Nanda. Segera keduanya merangkulku dengan erat. Lama sekali mereka merangkulku, sampai aku mendengar jika keduanya terisak yang tak urung membuatku juga terisak
“Kamu kenapa?” protes keduanya ketika kami melepas dekapan kami
Air mataku kembali mengalir deras ketika memandang wajah keduanya. Kemudian Lisa kembali mendekap ku
“Kami sengaja menunggu sekian hari untuk tahu penyebabnya. Dan apa kamu tahu Din, itu sangat menyakitkan untuk kami”
Nanda mengangguk setuju, dan itu semakin membuatku merasa bersalah pada mereka
“Kita akan terus disini?” tanya Lisa sambil mengusap wajahnya
Aku terpaksa tersenyum dan membawa keduanya masuk. Melihatku masuk dengan kedua sahabatku, para karyawanku yang sedang makan segera menganggukkan kepala mereka kearah Lisa dan Nanda
Nanda langsung mengambil Yusuf yang ada di pangkuan mbak Sri. Menciumi pipinya dengan gemas. Lisa juga tak mau kalah, dia juga menciumi pipi Yusuf dan mencubit pipinya dengan gemas
“Sis, nanti beli es ya. Untuk kita semua. Yang ibuk sama kawan ibuk bawa ke atas. Sama beli kue dan buah juga” ucapku menambahkan
“Eh nggak usah kalau kue dan buah. Kami sudah bawa” jawab Nanda dengan memberikan kantong kresek besar kearah Siska yang langsung menerimanya
“Nanti bawa keatas” ucapku sambil kembali mengajak kedua sahabatku naik
Sampai di atas kami bertiga diam, hanya suara Yusuf yang ada di dalam pangkuan Nanda saja yang terdengar
“Kamu bisa jelasin sekarang sama kami” ucap Lisa sambil menatap ke arahku
“Aku mau jelasin apa?” tanyaku sambil menarik nafas panjang
“Semuanya” jawab mereka kompak
Kembali aku menarik nafas panjang
“Kenapa kalian tidak tanya yang lain?”
Keduanya saling toleh, dan menggeser duduk mereka sehingga makin mendekat ke arahku
“Sudah, tapi mereka nggak ada yang jawab. Mereka semuanya ngelak” jawab Lisa
“Putri jadi lawyernya Tomi, dan sidang perdana kemarin mereka berempat datang, aku pikir mereka datang karena mau support aku, tapi ternyata aku salah, mereka datang ternyata mau support Tomi. Dan jujur itu membuat aku kecewa Lis, Nda. Aku memang tidak memberitahu kalian jika aku sidang, karena aku tahu kalian pasti punya kesibukan masing-masing. Tapi apa ya harus dengan Putri menjadi lawyer Tomi? Padahal sebelumnya aku sendiri yang meminta dia buat jadi lawyer aku. Tapi memang saat itu Putri nggak kasih kejelasan mau atau nggak, sampai akhirnya aku mencari lawyer lain”
“Terus yang lain?” kejar Nanda
__ADS_1
Aku menggeleng
“Aku waktu itu datang bersama Yesa. Apa karena aku dengan Yesa atau memang mereka sudah dari awal memang pengen support Tomi aku nggak tahu”
“Terus?” tanya Nanda lagi
“Ya terusnya aku nangis, aku kecewa dong sama mereka. Wajar kan?” tanyaku sambil menatap serius kearah keduanya
Keduanya menarik nafas panjang dan sama-sama menganggukkan kepala mereka
“Terus kok kami berdua kamu libatkan dalam kekecewaan kamu sama mereka, mengapa?”
Aku tersenyum getir
“Aku pikir kalian berdua juga sama seperti mereka” lirihku
Lisa dan Nanda langsung cemberut, bahkan Lisa yang duduk paling dekat denganku sampai memukul bahuku dengan keras
“Kamu nggak ada niat gitu buat nanya sama anak-anak mengapa mereka begini sama kamu?” tanya Lisa lagi
Aku menggeleng
“Buat apa?. Aku nggak butuh penjelasan mereka Lis. Bagiku, jika mereka tidak mau berteman lagi denganku, buat apa aku datang sama mereka?. Kalau orang sudah benci, aku harus menjauhkan diri aku kan agar mereka tidak semakin benci. jika orang sudah tak menengok wajah kita, maka kita tak perlu menampakkan wajah kita di hadapan mereka”
“Ya minimal kamu tanyalah Din apa alasan mereka” jawab Nanda kesal
“Nggak ada gunanya Nda. Buat apa?. Toh aku juga pasti cerai kok dengan Tomi. Kalau mereka mau benci sama aku karena aku memutuskan bercerai dengan Tomi, terserah. Ini hidup aku, aku yang jalani, bukan mereka. Toh yang jadi janda aku, bukan mereka. Yang menghidupi tiga anak juga aku, nggak minta bantu sama mereka. Aku kecewa sama mereka, harusnya mereka bilang terus terang dengan aku apa alasan mereka marah dan lebih mendukung Tomi”
Lisa dan Nanda menarik nafas dalam, dan menatap sedih ke arahku yang tersulut emosi ketika aku teringat dengan kekecewaanku pada keempat sahabatku yang lain
“Terutama Putri. Nggak bisa apa dia nolak jadi lawyernya Tomi. Toh, permintaan aku saja ditolaknya kenapa permintaan Tomi, nggak?. Apa kurang bayaran aku sampai dia lebih memilih menjadi lawyer Tomi. Andai kalian jadi aku, bagaimana perasaan kalian?. Aku manusia Lisa, Nanda. Aku bukan robot, aku sakit hati. Karena itulah aku lebih memilih memutuskan semuanya dari kalian. Dan sampai sekarang aku belum memutuskan kapan aku akan berdamai dengan hati aku atas kesakitan ini”
“Tapi kan kami berdua nggak tahu apa-apa Din, jangan libatkan kami dong” sergah Nanda cepat yang membuatku tersenyum kecut dan meminta maaf sama mereka
**
“Tumben kalian berdua sampai nekad gini ngajak kita kumpul” ucap Mila ketika mereka berkumpul di café tempat mereka biasa kumpul. Padahal saat itu sudah malam
Nanda dan Lisa menarik nafas panjang, kemudian tanpa diminta Nanda mengeluarkan hp nya, dan mulailah tangannya bergerak di atas layar hp kemudian meletakkan hp nya di atas meja. Wajah keempat sahabatnya langsung terkesiap ketika mendengar suara Dinda
“Aku sengaja merekam ucapan Dinda tanpa sepengetahuannya. Agar kalian nggak bisa ngelak lagi, apa sebenarnya yang terjadi pada hari itu”
Keempatnya diam dan saling lirik
“Kamu Mil. Biasanya vocal itu ada di kamu, kok diem?”
Mila melirik tajam kearah Lisa yang menyindirnya. Kemudian Lisa menatap kearah Putri
“Kamu Put yang paling membuat Dinda kecewa. Apa yang terjadi sama kamu, hah?”
Masih tak ada suara. Sampai akhirnya Nanda meraih gelas minumannya dan menyeruput isinya
“Kita tahu bagaimana Dinda. Diantara kita bertujuh, Cuma dia sendiri yang selalu gagal dalam berumah tangga. Harusnya kalian berempati lah dengan dia, bukannya malah menyudutkan dirinya dengan lebih memihak Tomi. Apa sih yang Tomi kasih sama kalian sampai kalian membelot kaya gini?”
“Jaga mulut kamu ya Lis. Hati-hati kalau ngomong!” bentak Mila
“Lah, emang aku salah. Kalau nggak iming-iming besar, nggak mungkinkan kalian tega mengkhianati Dinda?”
__ADS_1
“Lisa. Kurang ajar kamu!!!!” kembali Mila membentak dengan langsung menunjuk marah ke wajah Lisa