
Selesai makan siang Tomi langsung bergegas keluar setelah sebelumnya dia bilang padaku jika dia akan keruangan pak Burlian
Sepeninggal Tomi, bu Halimah dan Nadia kembali memberondong ku dengan banyak pertanyaan
"Perhatian sekali dia sama kamu Din, nggak mungkin jika diantara kalian nggak ada apa-apa"
Aku hanya tersenyum mendengar beliau yang semakin penasaran
"Bisa tidak jika kalian tidak kepo urusan orang?"
Kami bertiga langsung menoleh kearah pak Kusno dan langsung terbahak
"Tuh dengerin, kepala suku sudah memberi ultimatum" ucapku merasa menang karena dibela pak Kusno
Bu Halimah dan Nadia mencibir mendengar jawabanku. Sementara Tomi yang masuk ke ruangan pak Burlian segera disambut dengan tawa mengejek
"Jangan gitu lah kak..."
Pak Burlian masih tertawa melihat Tomi yang duduk di sofa dengan cueknya
"Kakak nggak nyangka jika kamu akan nekat meninggalkan proyek dan datang kesini"
Tomi mendecak mendengar omongan pak Burlian, segera diambilnya sebatang rokok, lalu menyalakannya dan menyesapnya dengan dalam
"Kakak tahulah bagaimana khawatirnya aku sama Dinda, dan kakak juga tahu Dinda itu belum sembuh total, malah ngeyel sudah ngantor"
Kembali pak Burlian terkekeh
"Terus proyek mu bagaimana?"
"Ada pak Arsen dan pak Bagaskoro, dan mereka faham begitu aku bilang jika aku kesini menemui Dinda"
"Mereka tidak protes?"
"Protes juga percuma kak, aku nggak akan dengarkan"
Kembali pak Burlian terkekeh mendengar jawaban Tomi
"Aku boleh kan kak tiap hari kesini menggantikan tugas Dinda?"
Pak Burlian diam dan menatap wajah Tomi yang masih santai menghisap rokok
"Biarkan Dinda bekerja sendiri, toh ada Redho dan Nadia yang sudah kakak mintain bantuan"
Tomi mematikan rokoknya lalu menatap wajah pak Burlian dengan seksama
"Bukan aku tidak yakin dengan mereka berdua kak, tapi siapa yang akan memperhatikan Dinda selama dia di kantor ini, bagaimana makannya, siapa yang akan mengantar jemputnya, siapa yang akan membantu dia berjalan"
Pak Burlian menggeleng-gelengkan kepalanya, heran mendengar alasan Tomi
"Segitu khawatirnya kamu Tom?"
"Come on kak, jangan meledek"
Kembali pak Burlian terkekeh karena kali ini Tomi terlihat kesal
"Bisa kamu bicara baik-baik sama Dinda?"
__ADS_1
"Maksudnya kak?"
"Tanyakan kapan dia siap buat kamu lamar"
Selesai mengatakan kalimat tersebut, meledak lah tawa pak Burlian, dan Tomi hanya ikut tertawa basi
"Pengen aku sih segera kak, tapi sepertinya Dinda masih belum membuka hati sepenuhnya padaku"
"Semangat, kejar terus, jangan sampe lolos lagi"
Tomi mengangguk pasti. Hingga jam satu lewat dia masih berada di ruangan pak Burlian, ngobrol ringan dan sesekali meminta nasihat tentang bagaimana caranya untuk meyakinkan hati Dinda
Sedangkan di ruanganku, aku segera melanjutkan pekerjaan yang belum diselesaikan oleh Tomi, begitu pula dengan teman-temanku yang lain, mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka
"Kok kamu yang ngerjain sih dek?"
Aku segera mengangkat kepalaku ketika dari arah pintu masuk kembali Tomi
Dengan cepat dia duduk di sebelahku, mengarahkan komputer kearahnya dan mulai mengambil pekerjaanku
Dan aku membantunya dengan memberi arahan agar pekerjaannya tidak salah
Hingga setengah jam sebelum jam kantor bubar, pekerjaan kami telah selesai, dan aku segera mengambil hp ku
"Mbak bentar lagi jemput aku ya...."
Tomi dengan cepat menoleh ke arahku dan menggelengkan kepalanya
"Nggak usah mbak, Dinda pulangnya aku yang antar"
Aku hanya bisa bergeming saat hp ku direbut Tomi dan dia berbicara pada mbak Sri
Sampai di luar, Tomi segera berjalan cepat kearah mobilnya, Bu Halimah dan Nadia segera membawaku kearah mobil Tomi
"Terima kasih ya buk...." ucapku dan Tomi berbarengan. Segera Tomi memasangkan seat belt begitu aku duduk di sebelahnya
Dan aku langsung menahan nafas ketika wajah Tomi sangat dekat ke wajahku, aroma minyak rambutnya langsung menusuk hidungku karena rambut Tomi mengenai wajahku
Tomi seperti sengaja menghentikan gerakannya dan dia melirik ketika Dinda memejamkan matanya
"Din.....?" lirihnya
"Jangan noleh, ini masih di kantor!" jawabku cepat
Tomi segera menarik kepalanya kemudian dia terkekeh, dan aku langsung membuka mataku dan menarik nafas lega
"Berarti kalau sudah jauh dari kantor, boleh?"
Refleks aku segera memukul pundaknya yang membuat Tomi makin terkekeh
...----------------...
Di lain tempat, Yesa yang sudah diberitahu oleh pihak kepolisian jika suaminya ditahan akibat kasus penusukan hanya bisa menahan amarah di dalam dadanya
"Di suruh jual toko malah nusuk Dinda, dasar laki-laki tak berguna" gerutunya
Berita tentang penusukan Dinda sampai pula di telinga Yesa, bahkan ketika dia membesuk Adi yang masih menjadi tahanan polsek segera memberondong Adi dengan banyak pertanyaan, mengapa Adi sampai bisa menusuk Dinda
__ADS_1
Dan wajah Yesa berubah kesal ketika mendengar jawaban Adi
"Jadi papa masih nafsu sama Dinda?" tanyanya dengan wajah masam
Adi diam dan hanya bisa menggaruk kepalanya saja
"Terus kenapa papa bisa babak belur begini?"
Adi kembali hanya bisa menelan ludahnya
"Mama masih ingat Mila kan?"
Seketika wajah Yesa menegang
"Yesa yang melakukan ini"
Mulut Yesa membulat mendengar jawaban Adi
"Kok bisa?" tanya Yesa tercekat
"Ya bisalah, seluruh polisi disini takut sama dia"
Yesa kembali mendecak kesal mengetahui perbuatan wanita bar-bar itu
"Papinya kapolda" sambung Adi lagi yang kembali membuat wajah Yesa terkesiap dan memucat
"Pantesan dia arogan...." gumam Yesa
Adi kembali menarik nafasnya.
"Ma, mama tolong temui Dinda, bilang sama Dinda untuk ngasih uang hasil penjualan toko sama mama"
"Iya kalau bisa, kalau nggak?"
"Mama bicara sama pak Endro atau pak Bara untuk membantu"
"Minta sama pak Endro dan kawan-kawan untuk menjual toko diatas hutang papa, biar uangnya bisa mama pakai untuk mengeluarkan papa dari sini"
Yesa diam dan kembali menekuk wajahnya. Setelah mempertimbangkan perkataan suaminya, hari itu juga Yesa menelepon pak Bara
Dan pak Bara bukannya membantunya malah mengejeknya
"Kata kamu, kamu tidak mengenal saya, kenapa ini malah minta bantuan pada saya?"
Yesa hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban pak Bara
"Iya saya minta maaf pak untuk kejadian kemarin, tidak mungkin kan pak saya mengakui di depan suami saya jika memang benar saya yang bapak-bapak booking dulu"
Kembali terdengar tawa mengejek dari pak Bara
"Sekarang giliran susah baru kamu mengaku mengenal saya"
"Sekali lagi saya minta maaf pak, saya benar-benar khilaf, bapak bisa kan bantu saya?"
Pak Bara diam tak menjawab pertanyaan Yesa
"Tenang saja pak, apapun permintaan bapak akan saya turuti"
__ADS_1
Lalu keluarlah jurus rayuan maut dari Yesa untuk menggoda pak Bara yang akhirnya membuat lelaki paruh baya itu mengabulkan permintaan Yesa