Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Nasihat Untuk Tomi


__ADS_3

“Jadi ibuk juga keguguran aunty?”


Mila mengangguk mendengar pertanyaan Naya dengan suara tak percaya


“Ya Alloh ibuk……” lirih gadis yang akan beranjak remaja tersebut sambil membekap mulutnya. Matanya kembali berkaca-kaca dan dia menoleh kearah ruang ICU yang akan ditinggalkannya, kemudian Mila merengkuh bahunya, mengajaknya berjalan dan mengusap-usap bahunya


“She’s fine, she stronger more than we know” lanjut Mila sambil membawa Naya berjalan


Dibelakang mereka mengiring Tomi dan ibunya yang sejak tadi menggendong Yusuf yang tampaknya mulai pulas. Sepertinya balita itu sudah tenang ketika ibunya sudah berada di dalam ruang ICU


Mila yang tadi telah menyuruh perawat untuk menyiapkan ruangannya yang akan dijadikan tempat istirahat Tomi dan anak-anaknya serta ibunya, sekarang membuka lebar daun pintu dan mempersilahkan semuanya masuk


“Ibu sama Yusuf tidur di kasur yang ada di bawah saja, Naya sama Arik di atas sofa” ucap Mila ketika mereka semua sudah masuk


Segera ibunya Tomi meletakkan Yusuf dengan perlahan,, tapi baru saja di letakkan, Yusuf mulai merengek. Dan Naya yang semula sudah membaringkan tubuhnya di sofa kembali duduk


“Mungkin adik haus” ucapnya


Mila langsung menempelkan hp ke telinganya dan meminta salah satu perawat untuk membuatkan susu formula untuk Yusuf setelah sebelumnya bertanya apa susu tambahan yang biasa Yusuf minum


Sepuluh menit kemudian masukkan seorang perawat dengan membawa botol dot di tangannya lengkap dengan termos kecil dan juga sekotak susu yang tadi juga diminta oleh Mila. Begitu botol dot di tangannya, Yusuf langsung meminum susu tersebut hingga tandas dan kembali pulas


Selesai itu semua, Mila dan Tomi keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ruang ICU tanpa sepatah kata jua keluar dari mulut mereka. Begitu sampai di depan ruang ICU, Tomi langsung mengintip Dinda dari balik jendela dan tampak sekali murung di wajahnya. Dan Mila hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh Tomi


Mila bergerak sebentar merogoh saku bajunya ketika hp nya berdering. Jam di hp nya menunjukkan angka 03:48 dan itu panggilan masuk dari suaminya


“Ya Pa?” jawab Mila

__ADS_1


“Sudah hampir subuh kok nggak pulang ma. Memangnya siapa yang sakit sampai mama dari setelah Isya sampai sekarang nggak pulang?”


“Dinda. Dia kritis. Dan sekarang di ICU. Ini aku sama kak Tomi di depan ICU, nungguin nya”


Terdengar tarikan nafas panjang dari seberang. Julistiar sudah tidak berani protes pada istrinya jika ini menyangkut sahabatnya. Julistiar sangat faham bagaimana care dan royalnya istrinya tersebut pada para sahabatnya. Jadi percuma jika dia memaksa istrinya untuk pulang sekarang, karena itu tidak akan digubris oleh Mila


“Besok aku pasti pulang. Bilang sama abang dan kembar, besok aku pasti pulang. Mereka jangan drama. Toh sudah biasa aku tinggal dinas mendadak”


Julistiar tersenyum kecut mendengar kelanjutan ucapan istrinya, kemudian dia mengiyakan dan meminta pada istrinya untuk beristirahat. Dan Tomi yang mendengar pembicaraan Mila hanya bisa menarik nafas panjang


Mila hanya menoleh sekilas ketika Tomi duduk tak jauh darinya. Dirinya masih tampak tak mau berkomentar atau menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, walau tentu saja begitu banyak pertanyaan di benaknya yang menuntut jawaban. Tapi dia masih berusaha bersabar, dia tak ingin masuk dalam urusan pribadi sahabatnya itu. Tapi melihat kondisi sahabatnya yang kembali kolaps dan keguguran, dan malam kemarin sahabatnya itu periksa tanpa didampingi suaminya, tentulah kecurigaannya semakin besar


“Kalau kamu ngantuk, kamu bisa istirahat Mil. Biar Dinda kakak yang jaga”


Mila menarik nafas dalam mendengar ucapan Tomi, sedikitpun dia tak menoleh atau merespon ucapan suami sahabatnya itu


Mila cepat menoleh, amarah yang sejak tadi ditahannya sudah siap untuk dia keluarkan. Ditatapnya wajah Tomi dengan tatapan benci yang menggunung


“Harusnya yang bertanya itu aku. Kakak apakan Dinda sampai dia begini keadaannya?”


Tomi menarik nafas panjang, berusaha membuang wajahnya lalu mengusap kasar wajahnya dan kembali menarik nafas panjang kemudian menempelkan kepalanya ke tembok


“Dinda sama ibuk aku salah faham”


Mila langsung memutar tubuhnya mengarah kearah Tomi dan menatap Tomi dengan menuntut penjelasan secara rinci


“Kemarin sore Adi nelepon, terus ibuk aku salah faham hingga terjadilah pertengkaran kecil antara ibuk aku dengan Dinda. Setelah itu Yusuf nangis terus sampai dibawa ke rumah sakit oleh Dinda”

__ADS_1


“Iya aku tahu itu, karena aku menyusul Dinda ke klinik. Tapi yang buat aku heran, kakak sama sekali tidak menyusul padahal kakak tahu kondisi Dinda sedang hamil”


Kembali Tomi menarik nafas berat.


“Tapi Dinda sedikitpun tidak bilang jika dia ribut sama kakak atau ibuk kakak. Yang Dinda bilang adalah kakak masih kerja hingga kakak nggak nemenin dia ke dokter, dan ibu kakak nggak enak badan itulah mengapa hanya Dinda dan anak-anak saja yang ke dokter. Tapi Dinda lupa bahwa dia itu tidak bisa bohong, hingga tanpa sadar Dinda sendirilah yang bilang jika kakak ada di rumah” selesai berkata demikian Mila tersenyum getir


“Terus apa yang ibuk kakak bilang sampai Dinda shock, hem?. Aku yakin ibuk kakak pasti nuduh dia yang nggak-nggak, kan?” kembali Mila tertawa sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya


“Jujur ya kak, aku kecewa sama kakak karena cara kakak seperti itu. Maaf, Naya bilang semuanya sama aku, begitu juga dengan Arik. Bahkan tanpa sepengetahuan kakak, ucapan kakak yang mengatakan jika Naya itu bukan anak kakak dan kakak tidak peduli jika dia merajuk, sempat di rekam oleh Arik. Dan itu sangat menyakitkan untuk aku dan juga kedua anak Dinda”


Wajah Tomi membeku, rasanya nafasnya terhenti saat itu juga. Dia sangat tidak menyangka jika ucapannya yang hanya untuk menyenangkan hati ibunya itu didengar oleh kedua anaknya, dan sangat melukai hati kedua anak sambungnya


“Ya saya tahu, Arik sama Naya memang bukan anak kakak. Jadi wajar jika kakak tidak menganggap mereka. Tapi Dinda, bukankah Dinda adalah perempuan yang sangat kakak cinta sampai kakak rela puluhan tahun menunggu jandanya, ternyata kakak tega menganggap bahwa Dinda itu tidak berarti apa-apa untuk hidup kakak. Sahabatku yang malang. Dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan anak lelaki yang sama sekali tidak menghargainya”


“Dokter senior benar, Dinda itu punya nyawa yang banyak. Tentulah kakak ingat, bahwa Dinda juga pernah mati dan hidup kembali seperti sekarang. Dan aku berjanji, di kehidupan ketiganya kali ini aku tidak akan pernah membiarkan satu orang pun menyakiti hatinya. Termasuk kakak, Kakak cam kan itu” lanjut Mila dengan suara penuh penekanan


“Kakak jangan khawatir, ketika nanti Dinda sadar, aku tidak akan memberitahu semua kebusukan kakak padanya. Tapi Dinda sadar itu entah kapan. Karena kami sebagai dokter tidak bisa memprediksi kapan pasien itu sadar dari komanya, tapi aku yakin, Dinda akan secepatnya sadar, karena Dinda wanita kuat. Dinda wanita tangguh”


“Tapi yakinlah kak, bangkai yang disimpan itu suatu hari akan tercium juga. Begitu juga dengan kebaikan kakak yang pura-pura sama Dinda dan anak-anaknya, suatu hari akan terbongkar juga. Aku pernah membaca sebuah quotes yang bunyinya seperti ini anda akan kehilangan bulan ketika anda sibuk menghitung bintang”


Tomi hanya bisa menelan ludahnya mendengar ucapan Mila. Sedikitpun dia tidak berani membantah setiap ucapan dokter cantik tersebut. Karena dia menyadari semua kesalahan yang telah dilakukannya pada Dinda


“Dan untuk masalah Adi, bukankah kakak tahu sendiri, sedikitpun Dinda itu tidak pernah berhubungan lagi dengan mantan brengseknya itu. Terlebih karena dia telah menikah dengan kakak. Tapi aku heran, kok kakak bisa terpengaruh dengan ucapan ibu kakak. Padahal kakak mengerti Dinda. Apa dugaan aku salah? Apa kakak memang tidak pernah mengerti tentang Dinda sehingga kakak juga berfikir buruk tentangnya?”


Kembali Mila tertawa sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


“Benar kata orang, butuh ribuan tahun untuk meluluhkan hati seseorang. Tapi hanya butuh sedetik untuk menghancurkannya. Dan aku berharap Dinda tidak down dan meminta mundur dari kehidupan kakak. Jikapun akhirnya Dinda mundur dari kehidupan kakak, kakak harus siap. Karena ini semua tidak lepas dari kurangnya ketegasan kakak pada ibu kakak. Sayang sama ibu itu memang wajib, tapi menjaga perasaan dan menghargai istri itu harus”

__ADS_1


__ADS_2