
Jam empat sore saatnya toko tutup. Sebelum tutup, aku kembali mengumpulkan kedelapan karyawanku
"Ibu minta maaf karena akhirnya toko ini tidak lagi menjadi milik ibu, tapi semoga saja orang yang membeli ruko ini nanti mau menyewakan ruko ini untuk kita, biar kita bisa sama-sama usaha lagi"
"Aamiin" jawab semua karyawanku
"Terima kasih untuk hari ini, semoga kita bisa ketemu lagi besok" ucapku sambil mendahului mereka berdiri
Setelah aku berdiri, yang lain ikut berdiri pula, lalu kami sama-sama pulang
"Perlu laporan nggak buk?" tanya Siska saat aku mengambil kunci motor di atas meja
"Nggak usah, ibu tadi sudah periksa" jawabku sambil memasukkan uang yang telah ku susun tadi kedalam kantong kresek hitam kemudian memasukkannya kedalam tas
Secara bersama kami keluar, dan yang laki-laki segera menutup rolling dan salah satu dari mereka memasukkannya kedalam saku celana jeansnya. Karena memang dia yang ku percaya memegang kunci ruko
Saat di perjalanan aku melihat ada yang menjual rujak, iseng aku segera menghentikan motorku
"Pesan empat bungkus pak" ucapku sambil turun dari motor
Sambil menunggu mamang rujaknya meracik rujak yang ku pesan, aku kembali duduk di atas motor
Dan aku segera menoleh ketika ada suara klakson mobil tepat di sebelah motorku
"Tomi......?" gumamku ketika kulihat jika mobil yang tadi mengklakson ku dan sekarang berhenti di depan agak kepinggir adalah mobilnya Tomi
Dan benar saja, Tomi segera turun dari dalam mobil
"Hai dek..." sapanya yang ku balas dengan tersenyum
"Beli rujak?"
Aku mengangguk
"Dari mana?" tanyanya lagi yang sekarang berdiri tepat di depanku
"Toko"
Mulut Tomi tampak membulat mengucapkan kata O, kemudian dia menoleh ke mamang rujaknya
"Sudah mang?"
"Sebentar lagi pak"
"Beli berapa dek?"
"Empat" jawabku singkat
"Satu lagi pak, buat saya, tapi jangan terlalu pedas"
"Tumben mau" ucapku
"Ya setidaknya ngikutin kamu lah dek, masa adek makan kakak bengong"
"Lah emang kamu mau kemana?, aku mau pulang loh" ucapku lagi
"Ya ngapelin kamu lah dek, ini kan malam minggu"
Aku mendecak kesal sambil menonjok lengannya
"Nggak usah ngarang" jawabku kesal sambil turun dari motor begitu kulihat pesananku telah selesai
"Tunggu dek!" ucap Tomi ketika aku telah duduk kembali di atas motor
"Ya ampun aku mau pulang Tom"
"Kan kakak tadi bilang kakak mau ngapelin kamu"
Aku mendelik kan mataku kearah Tomi yang terkekeh
__ADS_1
"Malam nanti kakak telpon ya?"
Aku tak menjawab pertanyaannya, melainkan segera menghidupkan mesin motor kemudian tersenyum kearah Tomi lalu melajukan motorku meninggalkannya yang terus terkekeh
Aku melajukan motor dengan pelan, dan masih melihat kearah spion, dimana Tomi masih melihat ke arahku
Aku tersenyum sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalaku kemudian segera berbelok dan akhirnya Tomi tak terlihat lagi olehku
Ketika motorku berbelok ke halaman, Naya dan Arik segera berlari ke arahku
"Ibu....." teriak keduanya yang membuatku harus menghindari mereka dengan membelokkan motor kemudian segera mematikan motor lalu turun
Dan menangkap keduanya yang telah berdiri di depanku sambil melompat-lompat
Segera ku gendong Arik walau dengan sedikit keberatan karena badannya yang berisi
"Buk, di dalam ada ayah" ucapnya yang mampu membuat langkahku terhenti
"Ayah?"
"Iya buk, sekarang ayah di kamar ibu, kayanya sedang tidur"
Aku segera menurunkan Arik lalu berjalan cepat masuk kedalam rumah
"Naya ajak adik main dulu ya, ibu mau ngomong sama ayah"
Naya menarik tanganku kemudian menggeleng
"Nggak kok nak...." ucapku melunak untuk meyakinkan Naya jika tidak akan terjadi keributan
"Mbak Sri....?" panggilku
Mbak Sri keluar dari dalam
"Kenapa nggak bilang jika mas Adi ada di rumah?"
"Ajak Naya sama Arik ke rumah mbak dulu"
"Baik bu" jawab mbak Sri mengangguk ke arahku, lalu segera menggandeng tangan Arik, dan Naya mengikut di sampingnya
Dengan menarik nafas panjang aku segera naik keatas, dan segera mendorong pintu
Emosiku langsung ke ubun-ubun ketika kulihat Adi tidur dengan santai di atas ranjang
"Bangun mas, bangun!" ucapku berusaha menahan emosiku
Tak ada sahutan, lalu aku kembali mengulangi bahkan dengan nada sedikit keras
Masih tak ada juga sahutan, lalu dengan kasar aku tarik kaki Adi hingga dia nyaris terjatuh
Adi membuka matanya dan mengerjap-ngerjap ke arahku
"Bangun, dan silahkan pergi dari rumah ini!"
Adi duduk, memandangku dan kembali mengerjap-ngerjap kan matanya
"Maaf mas, bukan aku ngusir tapi kita nggak punya hubungan apa-apa lagi, jadi silahkan mas pergi dari rumah ini"
Adi berdiri tepat di depanku dan tanpa kuduga, dia segera memegang pundakku dan refleks aku segera menghentak pundakku dan menjauh darinya
"Jangan kurang ajar ya mas, jangan mentang-mentang aku baik jadi kamu menganggap aku masih ada rasa sama kamu"
"Come on Dinda, aku tahu kamu kesepian, ayolah..., aku ada disini"
Dadaku langsung naik turun mendengar ucapannya yang melecehkan ku
"Jaga mulut kamu Adi, sekali lagi kamu bicara seperti itu, ku yakinkan jika kamu akan menyesal"
Adi tertawa menyeringai dan kian menatapku dengan nanar
__ADS_1
"Kita bercerai sudah sekian bulan, dan sebelum kita bercerai aku juga sudah tidak di sini lagi, aku yakin kamu pasti kesepian, dan aku juga yakin kamu pasti memendam kebutuhanmu"
PLAAAKKK....
Tamparan keras dari tanganku langsung melayang ke wajahnya
"Pergi kamu dari sini atau aku akan teriak jika kamu kurang ajar padaku!" teriakku
Adi terlihat memegang pipinya bekas ku tampar tadi dan matanya berubah kalap
"Kamu semakin berani sama aku ya Din...." ucapnya emosi
Melihatnya berjalan ke arahku, aku segera berlari keluar dari kamar, dan aku setengah berlari ketika menuruni tangga
"Dinda awas kamu" kejar Adi di belakangku
Aku yang takut melihatnya kalap segera berlari ke dapur
"Mau kemana kamu hah?" ucapnya sambil berjalan pelan ke arahku yang saat itu telah memegang pisau
Dengan gemetar aku mengambil hp dalam kantong jaketku
"Awas kalau kamu berani mendekat" ancam ku sambil mengarahkan pisau kearahnya
"Kamu mau menghubungi siapa, hah?" ucap Adi menyeringai
"Mas Julistiar, kamu tahukan dia polisi" ucapku
Adi masih tertawa menyeringai dan makin mendekat ke arahku
"Selangkah lagi kamu mendekat, buyar isi perutmu" ancam ku
Aku kembali berkelit ketika Adi akan menangkap ku
"Ya Tuhan mas Julistiar angkat dong...." gumamku makin khawatir
Aku segera berlari ke depan saat Adi akan kembali menangkap ku, dengan cepat aku membuka pintu dan langsung berlari ke halaman
"Toloongg....!!!" teriakku
Adi dengan cepat berhasil menangkap ku dan menyeret ku masuk kedalam rumah lagi
"Lepas, bajingan kamu Adi.....!!!" teriakku
Pisau yang ada di tanganku segera kupakai untuk melukai tangannya yang sedang menyeret ku
Begitu terlepas aku kembali berlari keluar, tapi pintu yang ditutup Adi menyulitkan ku untuk menarik pintu
Kembali sambil mengelak dari kejarannya aku membuka hp
"Tom, tolong aku!!!!" teriakku begitu panggilan tersambung
"Aahhhhhh..." kembali aku berteriak ketika Adi berhasil menarik rambutku
Hp di tanganku terlepas karena aku menahan tangan Adi yang menarik rambutku
Dengan susah payah tanganku menarik pintu hingga pintu terbuka dan Adi makin kalap ketika aku bisa membuka pintu
Aku kembali terjatuh karena Adi menyeret ku. Dan ketika aku terjatuh aku kembali menemukan pisau yang tadi aku pakai untuk melukai Adi
Dengan cepat aku mengambil pisau tersebut dan kembali melukai tangan Adi
Dan Adi yang tangannya luka olehku segera berlari ke arahku, merebut dengan kasar pisau yang ada di tanganku
Sekuat tenaga aku mempertahankan pisau tersebut sampai akhirnya kurasakan pisau tersebut menghujam perutku
"Dindaaaaa.....!!!!!"
Teriakan Tomi lamat-lamat terdengar di telingaku setelah itu aku ambruk dan hanya mendengar Tomi yang terus berteriak
__ADS_1