Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Rumahku


__ADS_3

"Ayo Ada apa....., Kok sebut-sebut nama kakak??"


Refleks kami yang duduk di ruang tamu langsung menoleh ke arah pintu yang ternyata suamiku sudah pulang dan sekarang tengah membuka sepatu


Kami secara kompak langsung nyengir ke arah Kak Tomi yang masuk dan langsung berjalan menuju ke arahku


Dan Tomi tanpa malu dan sungkan langsung mengacak-acak rambutku yang membuatku langsung mendongakkan wajahku ke arahnya dan tersenyum


"Kakak pulang kok nggak denger suara mobilnya?" tanyaku


"Saking seriusnya kalian ngobrol, makanya nggak dengar suara mobil kakak" jawab Tomi yang membuat kami tersenyum


"Kalian sudah dari tadi ?" tanya Tomi yang dijawab anggukan cepat dari para sahabat-sahabatku


"Terima kasih ya karena telah mengunjungi istri kakak, dia itu kangen banget sama kalian"


"Oh ya?" tanya Mila tidak yakin


"Serius. Bahkan ketika kami honeymoon kemarin, Dinda terus kepikiran sama kalian berenam. Dia bilang Andaikan saja bisa ngajak kalian ke Pink Beach, seru-seruan sama kalian, hangout sama kalian, belanja bareng sama kalian, surfing dan diving sama kalian, pasti seru banget. Pokoknya sepanjang honeymoon Dinda selalu menyebut kalian berenam"


"Aaaahhhhh...." reflek keenam sahabatku langsung menatapku dengan sendu


Dan aku hanya bisa tersenyum penuh rasa sayang ke arah mereka


"Dan akhirnya itu memunculkan ide di hati kakak, untuk mengajak kalian Tahun baruan di Pink Beach nanti" jawab Tomi yang langsung mendapat teriakan heboh dari keenam sahabatku


"Eh sebentar sebentar sebentar sebentar, kalau gue sama Vita, Kita kan hanya ibu rumah tangga ya Cin. Jadi kita itu bebas. Nah kalian berempat, kalian lo bekerja semua. Terutama lu tuh Mil. Elu dokter, Lu mana bisa libur, ya kan??"


"Kalo tiba-tiba ada pasien yang kolaps, lu nggak ada, Gimana?? Hayo???!!" ucap Rohaya yang membuat Mila langsung memasang wajah murka


"Elu itu memang perusak suasana Ya Roh !! geram Mila yang segera bangkit dari kursinya dan langsung menubruk tubuh Rohaya


Jadilah mereka berdua saling pukul sambil tertawa terbahak-bahak


"Pantesan istri kakak nggak bisa ngelupain kalian.... rupanya seperti ini persahabatan kalian" puji Tomi ke arah kami semua


Keenam sahabatku langsung tersenyum sumringah


"Saking kita itu nggak mau dipisahkan, tempat dinas saja kita milihnya di sini" ucap Lisa


Sekarang giliran Tomi yang tersenyum mendengar jawaban Lisa


"Ya sudah, kalian silakan lanjutkan obrolannya. Kakak mau naik ke atas sebentar"


Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan suamiku. Lalu sama seperti tadi, sebelum berdiri Tomi mengacak-ngacak dulu rambutku.


"Masalah liburan yang tadi dikatakan oleh kak Tomi, kita bicarakan nanti ya" ucap Mila tak lama setelah Tomi menghilang


"Kan tadi sudah gue bilang kalau lu...." ucap Rohaya yang langsung dipotong oleh Mila dengan mengangkat tangannya


"Lu diem Ya Roh, Lu nggak usah macam-macam. Itu Rumah Sakit adalah Rumah Sakit pribadinya Papi gue, ngerti lu??!"

__ADS_1


Sontak kami berenam langsung melongo kaget dan saling tatap


"Ya ampunnn... kalian kok serius banget sih"


Kami berenam kembali memasang wajah lesu mendengar jawaban tak bermutu dari Mila yang kami kira tadi serius


"Ya nggak mungkinlah itu rumah sakit milik papi gue, kalo klinik pribadi gue, nah itu baru milik papi gue"


"Ohhhh......" kami sontak ber O panjang faham kemana maksud omongan Mila


"Buk, papa sudah pulang?"


Aku segera menoleh kearah Naya dan mengangguk


"Sekarang papa mana?"


Baru saja aku mau menjawab, dari tangga terdengar suara Tomi menyahut


"Papa ayo, katanya kita ke rumah nenek"


Keenam sahabatku langsung menatap ke arahku


"Lu mau ke rumah mertua lu?" tanya Putri


Aku nyengir mendengar pertanyaannya


"Ya ampun bestieee.... kenapa lu nggak bilang, kan kalau kita tahu, kita tahu diri" tambah yang lain yang membuatku tertawa


Vita mengangguk setuju


"Lu apaan sih Vit, kita disini sudah hampir tiga jam tahu, dan ini juga sudah mau maghrib. Dan Dinda mau pergi ke rumah mertuanya, lu malah masih anteng"


Vita nyengir mendengar Rohaya mengomelinya


"Vita bareng kami aja"


Aku cepat menoleh kearah kak Tomi yang sedang menggandeng Arik yang telah rapih


"Usul yang bagus kak, jadi aku nggak perlu repot jauh-jauh nganter dia" jawab Lisa


"Kurang ajar lu, jadi lu nggak ikhlas jemput gue?!"


Kami tertawa mendengar Vita marah akibat jawaban Lisa. Dan Lisa bukannya tersinggung malah dia ikut tertawa juga


"Ya benar kan say maksud aku, nggak salah kann??!" bela Lisa


Vita bersungut-sungut mendengar jawaban Lisa, tapi Lisa malah mendekap bahunya sambil terus tertawa


...----------------...


Vita melambaikan tangannya ke arahku sekeluarga ketika kami mengantarnya sampe depan halaman rumahnya

__ADS_1


Lalu mobil Tomi melaju sekitar sepuluh meter menuju rumah mertuaku


Karena sudah diberitahu jika kami akan datang, rumah ibu mertuaku kembali ramai dengan adik-adik iparku beserta istri mereka


"Jangan iri yaaa..." canda ku pada ipar ku yang lain ketika ibu mertua kami duduk di sebelahku sambil tak hentinya menggenggam erat tanganku


"Nggak lah mbak, kami tahu kok bagaimana ibuk begitu berharap mbak jadi menantunya" jawab ipar keduaku, yang juga dulu berteman denganku


"Dinda ini mengingatkan ibuk pada almarhum ayah kalian. Ayah kalian dulu sangat sayang sama Dinda. Dan beliau dulu sangat berharap Dinda menjadi menantunya. Bahkan dulu ketika Dinda dan Tomi berpisah, ayah kalian yang paling terpukul. Nggak tahu kenapa, almarhum ayah kalian dulu sangat sayang sama Dinda. Dan dia menganggap Dinda itu seperti anaknya sendiri, bukan calon menantunya"


"Bener itu buk, ingat nggak dulu. Kita dimarahi habis-habisan sama ayah, dan aku sampai diusir sama ayah, yang bisa nenangin ayah cuma mbak Dinda" jawab Aldi adik bungsu kami


"Kamu wajar diusir ayah, nakal, nggak naik kelas, wajar jika ayah sampai ngusir kamu" jawab Tomi yang membuat kami semua tertawa


"Mbak Dinda pakai pelet kali buk makanya ayah dulu sayang banget sama dia" jawab adik iparku, istri adik Tomi yang ketiga


Deg!!!!


Aku tahu dia bercanda, tidak serius. Tapi ucapannya mampu membuat aku kaget


"Ayah sayang sama Dinda, karena kami berempat laki-laki semua. Dan Dinda adalah perempuan pertama yang kakak bawa ke rumah ini, dan langsung klop di hati ayah. Apalagi saat itu Dinda cepat nyambung ngomong sama Ayah, makanya ayah sayang sama Dinda" bela Tomi yang membuatku tersenyum


"Sama satu lagi, ayah kalian sangat suka dengan sifat Dinda. Manja namun mandiri, dan karakternya itu sangat kuat, kalau kata ayah kalian dulu"


Wajahku makin bersemu ketika ibu mertuaku memujiku. Padahal mereka tidak tahu, bagaimana aku akan berubah menjadi perempuan bar-bar ketika sudah bergabung dengan keenam sahabatku, sifatku akan berubah 360 derajat ketika aku sudah dengan para sahabatku, nggak akan kalem lagi, langsung liar


"Andai ayah kalian masih ada...." tiba-tiba suara ibu mertuaku berubah parau


Aku dengan cepat mendekap beliau, sambil mengusap-usap punggung beliau dengan sayang


"Ayah sudah tenang disisi Alloh buk..." hibur ku


Beliau mengangguk sambil menyeka matanya


Hingga akhirnya kami mengobrol sampai malam sampai adik-adik kami berpamitan semua untuk pulang


Sebelum mereka pulang Tomi juga membahas jika besok kami akan pindah ke rumah baru kami


"Terus rumah lama mbak Dinda?" tanya adik ketiga Tomi


Aku dan Tomi diam. Karena kami memang belum punya planning tentang bagaimana rumah ku itu


"Belum ada rencana sih" jawabku


"Bagaimana kalau disewakan saja mbak?" usulnya


Aku diam


"Karyawan pembibitan Dinda masih beroperasi di sana, truk-truk juga masih di sana semua, kalau disewakan bagaimana dengan usaha pembibitan itu?"


Diam semua

__ADS_1


"Rumahnya kasih sama ayah saja kenapa buk?"


__ADS_2