
Aku menghembus nafas panjang lalu membalik badanku menghadap kearah Adi yang memandang ke arahku dengan wajah sedih
"Yang lain sudah pulang, mas kenapa masih disini?"
Adi diam mendengar ucapanku, sementara aku dan karyawan-karyawan lain kembali melakukan aktifitas kami
"Din, aku boleh pinjem uang?"
"Hah?, aku nggak salah denger?" jawabku sambil menoleh kearahnya
"Tolong Din, aku pulang pakai apa?"
Aku mendecak kesal
"Ya Tuhan mas, kamu ini lelaki, masa uang buat ongkos pulang ke rumah kamu aja kamu nggak ada?"
Adi diam, dan aku yakin ini tidak mudah untuknya berkata jujur padaku
"Sis, ambil uang lima lembar!"
"Iya buk"
Tak lama Siska telah kembali dengan membawa sejumlah uang yang tadi ku sebutkan lalu memberikannya padaku
"Nih mas, ambil aja. Nggak usah ngutang, dan aku harap mas nggak usah datang lagi kesini"
Adi menerima uang yang aku ulurkan, lalu aku segera menjauh darinya, kembali ke kursi dan pura-pura sibuk melihat laporan
Karena aku dan karyawan tak acuh padanya akhirnya Adi pergi tanpa pamit padaku
Sepeninggal Adi aku menutup buku yang sejak tadi aku buka, menarik nafas panjang lalu meletakkan kedua tanganku di kening, lalu aku menunduk dengan terus menghembus nafas panjang
"Mungkin ini teguran untuk kamu mas, dulu mau uang sebanyak apapun kamu tinggal ambil, sekarang kamu tahu kan bagaimana rasanya kembali jadi kere" batinku
Lalu aku berdiri dari kursi ketika pembeli banyak lagi
"Kirain tutup mbak, aku tadi sudah kesini, pas lihat tulisan di depan, baru tahu kalau istirahat" ucap salah seorang pembeli pada karyawan ku yang dibalasnya dengan senyuman
"Tumben bu di toko, sudah lama nggak lihat"
Aku tersenyum kearah pembeli yang menyapaku
"Iya buk, banyak kerjaan lain makanya jarang ke toko ini" jawabku
...----------------...
Adi yang menerima uang dari Dinda segera berjalan lesu ketika keluar dari toko
Dirinya masih sesekali menoleh kearah toko yang sempat menjadi tempatnya bekerja dulu, yang dulu biasanya didatanginya karena mengambil uang untuk dikorupsinya dan akan dipakainya untuk bersenang-senang dengan Yesa
Dan hari ini toko tersebut harus direlakan nya menjadi milik pak Endro dan teman-temannya karena kesalahan fatalnya
"Aku harus kemana?" gumamnya sambil terus berjalan
Diambilnya hp dan segera menghubungi mas Toro yang ternyata tidak ada di rumah karena dia bekerja, lalu dia menghubungi temannya yang lain, dan hasilnya sama, mereka semua mengaku sedang bekerja atau sedang tidak ada di rumah
"Kurang ajar, dulu ketika aku banyak uang, tiap ku telepon mereka selalu ada waktu untukku bahkan akan bermulut manis mengajakku ke rumah mereka, sekarang giliran aku jatuh miskin, jangankan mengajak mampir, kenal saja rasanya mereka sudah tidak sudi" geramnya sambil menendang kerikil
"Okelah, aku coba pulang ke rumah, siapa tahu ada anak-anak" gumamnya kembali dengan pasrah
Perjalanan menuju rumah mereka dulu lumayan jauh, tapi karena ingin menghemat uang yang tadi diberikan Dinda, Adi lebih memilih berjalan kaki.
Sepanjang jalan ketika berpapasan dengan tetangga atau orang yang mengenalnya tidak ada satupun yang menyapa Adi
Dari sini Adi semakin merasa jika uang memang benar-benar bisa menaikkan derajat seseorang
__ADS_1
"Kurang ajar mereka" geramnya
Ketika sampai di depan pagar yang tertutup, Adi melihat jika masih ada sebuah mobil truk yang terparkir
Adi segera menggerakkan kunci gembok yang menempel di pagar yang menimbulkan suara berisik pada pagar yang membuat para pekerja yang sedang menyusun bibit sawit menoleh
"Buka pagarnya!" teriak Adi lantang
Seorang pekerja segera berlari dan membukakan pagar
"Apa kabar mas Adi?" sapa mereka
Adi hanya tersenyum dan segera duduk di teras karena kecapaian berjalan
"Mbak Sri!" teriaknya
Mbak Sri yang sedang beres-beres di dalam segera berlari keluar dan tampak kaget ketika didapatinya Adi tengah duduk di kursi
"Ambilkan saya air dingin, saya haus!"
Mbak Sri mengangguk, lalu segera masuk dan tak lama telah keluar dengan membawa nampan berisi air putih dan juga cemilan
Adi yang haus dan juga lapar segera minum dan memakan cemilan sambil terus melihat kearah para pekerja yang menyusun bibit sawit kedalam truk
"Mau dibawa kemana?" tanya Adi mendekat
"Luar propinsi mas"
Adi ber O panjang dan mengangguk-anggukkan kepalanya
"Masih sering nganter bibit?"
"Iya mas, masih. Kemarin-kemarin sempat beberapa bulan off karena mbak Dinda nggak punya modal lagi"
Adi terdiam mendengar jawaban pekerja tersebut
"Para petani bibit memberi hutang pada mbak Dinda, mereka percaya mbak Dinda orang baik, jika tidak baik tidak mungkin hutang ratusan juta pada mereka mbak Dinda lunasi"
Jawaban menohok dari pekerja tersebut mampu membuat Adi terkesiap
"Jadi ini semua ngutang?"
"Iya mas"
Kembali Adi menganggukkan kepalanya
"Mas Adi kenapa kesini?"
Adi menoleh tak senang kepada pekerja yang bertanya seperti nada mengusir
"Kenapa memangnya?, nggak boleh?, inikan juga rumah saya" jawab Adi ketus
Pekerja tadi diam dan melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya mulutnya telah sangat gatal ingin men skakmat Adi, tapi dia tidak ingin terjadi keributan
"Lanjutkan pekerjaan kalian, yang benar, jangan sampai kalian saya pecat karena kerja nggak becus" lanjut Adi sambil berlalu dari mereka dan masuk kedalam rumah
Para pekerja yang berjumlah tiga orang tersebut mencibir kearah Adi ketika lelaki itu pergi meninggalkan mereka
"Huu, dasar nggak punya malu, masih menganggap dirinya bos" ejek mereka
Adi yang masuk kedalam rumah langsung berjalan menuju dapur dimana mbak Sri sedang mengepel lantai
"Sudah masak mbak?"
Mbak Sri menoleh dengan terlonjak kaget
__ADS_1
"Astaghfirullah bapak, saya kira tadi siapa" jawab mbak Sri sambil berkali-kali mengusap dadanya
"Halah gitu aja kaget" gerutu Adi sambil membuka tudung saji
"Ambilkan piring mbak, aku mau makan"
Dengan segera mbak Sri melepas pengepel di tangannya, lalu berjalan kearah wastafel, mencuci tangan kemudian mengambilkan Adi piring
Tanpa canggung Adi segera duduk menghadap meja makan, makan dengan lahap
Mbak Sri yang melihatnya makan dengan lahap tersenyum dalam hati
"Pasti di rumah istri mudanya tidak pernah makan enak" batinnya
"Bik, apa Dinda di rumah terus?"
"Maksudnya pak?"
"Apa Dinda sering pergi?"
"Tidak pak, ibu selalu pergi kalau kekantor, jam kantor pulang, ya ibu di rumah kembali"
Adi yang sedang mengunyah mengangguk-anggukkan kepalanya
"Pernah ada orang tidak ke rumah ini?"
"Tidak ada pak, paling yang pernah kesini itu teman ibu"
"Siapa?"
"Nggak tahu pak, nggak kenal"
Adi menghentikan makannya menatap mbak Sri penuh selidik
"Cowok cewek mbak?"
"Cowok, pak"
Adi segera minum lalu tampak tertegun
"Apa namanya Tomi?"
Mbak Sri diam seperti berfikir
"Kayanya iya, karena waktu mas itu menemani mbak Naya dan mas Arik bermain, mbak Naya manggilnya oom Tom"
Tangan Adi terkepal keras mendengar jawaban mbak Sri
"Apa kerjanya cowok itu kesini?"
"Nggak ada pak, mengajak main mbak Naya sama mas Arik saja"
"Dinda kemana?"
"Bu Dinda di kantor, bu Dinda nggak tahu jika ada temannya kesini"
"Kurang ajar pria itu, pintar dia, dia mendekati kedua anakku untuk meluluhkan hati Dinda" geramnya dalam hati
"Lain kali, jika cowok itu kesini jangan disuruh masuk mbak, kita nggak tahu apa tujuan dia, bisa jadikan dia berniat buruk pada Dinda dan kedua anakku"
"Iya pak, baiklah"
Lalu Adi kembali melanjutkan makannya dan segera menghabiskan nasi di piring, kemudian setelah menenggak air putih dia kembali lagi duduk di teras
Sambil menunggu para pekerja yang sedikit lagi selesai muat bibit sawit, Adi tampak tercenung
__ADS_1
"Tomi...., heeemmm" dengusnya kesal
"Tidak akan kubiarkan Dinda kembali lagi padamu" gumamnya dengan kesal