
Adi mengusap wajahnya yang terasa panas akibat siraman kopi dari Mila, kopi panas yang baru dibuatnya tadi
Sementara Lisa dan Nanda masih terus menendang-nendang pintu kamar
"Hentikan ulah kalian, kalau tidak saya akan lapor polisi!!!" teriak Adi
Kembali Mila menarik kasar pundak Adi
"Papa saya polisi, suami saya polisi, kakak saya juga polisi, sebelum kamu melaporkan kami, saya duluan yang melaporkan kamu!!"
Nyali Adi langsung menciut mendengar ancaman Mila
"Anjing kamu pelakor, cepat keluar!!!" teriak Lisa
Aku tak bisa melakukan apa-apa lagi saat semua sahabatku turun tangan. Tubuhku limbung, dengan cepat Putri memegang erat tangan Dinda agar sahabatnya tak ambruk
Tomi yang sejak tadi geram telah siap berlari ketika tangannya dicekal Julian
"Kalau kakak kesana makin jadi kesalahan kak, kita di sini saja, biar para mama muda itu saja yang beraksi"
"Tapi aku tak tega melihat Dinda"
"Nanti suami yuk Dinda bakal berpikir macam-macam jika melihat kakak ada di sana"
Tomi diam, menimbang perkataan Julian, dan akhirnya dia menuruti perkataan Julian walau hatinya sudah sangat terbakar emosi
"Udah bestie, kita pergi dari sini, pelakor itu nggak akan berani keluar" ajak Putri
"Mati dia sama kita kalau dia berani keluar" geram Nanda
Putri lalu membimbing tangan Dinda berjalan meninggalkan teras. Sementara sahabatnya yang lain masih saja gaduh di dalam rumah tersebut
Melihat istrinya berjalan menjauh, dengan cepat Adi mengejar dan menarik tangan Dinda
Dengan cepat aku menepis tangannya. Dan kembali Adi berusaha menarik tangan Dinda
"Tolong sayang dengerin aku dulu, aku bisa jelasin semuanya sama kamu"
Aku terus menepis tangannya
"Masih kamu ya!!! geram Mila yang berlari menyusul dan segera menarik kasar pundak Adi dan mendorongnya menjauh dari Dinda
"Jangan berani-beraninya kamu temui sahabat kami, kamu urus saja pelakor mu itu!!! teriak Lisa
Lalu mereka semua meninggalkan rumah tersebut, saking kesalnya Mila sampai menendang pot bunga yang menyebabkan pot tersebut terpelanting dan pecah
Semua sahabat Dinda memandang khawatir pada Dinda yang sejak tadi hanya diam
"Din, are you okay?" Putri yang membimbingnya berjalan menghentikan langkah mereka
Aku diam tak menjawab pertanyaan Putri, di kepalaku terlalu banyak pertanyaan yang butuh jawaban, dan jawaban itu tak satupun aku dapatkan
"Kita ada, kamu nggak sendiri" ucap Mila sambil merangkul Dinda diikuti dengan sahabatnya yang lain
Aku masih diam, tidak bereaksi. Padahal saat itu sahabat-sahabatku bahkan meneteskan air mata
Sakit hati yang kurasakan seakan menghentikan air mataku yang ingin sekali aku tumpahkan
"Din...? kembali Mila bersuara
Aku menarik nafas panjang, menatap kosong pada mereka
"Itu tadi Adi ya?, suami aku kan?"
Air mata sahabat Dinda makin deras mengalir demi mereka mendengar suara Dinda yang mirip orang linglung
__ADS_1
"Loh kok dia nggak pulang, aku kesini kan mau jemput dia, mengajaknya pulang"
Putri dengan cepat menarik tangan Dinda yang sudah akan memutar badannya
"Din, Din, sadar Din...!" teriak sahabatnya panik
Shella adalah orang yang sangat merasa bersalah. Segera dirangkulnya Dinda dan menangis tersedu
"Maafin aku yuk, maafin aku, andai aku tidak memberitahu ayuk" sesalnya
Tanganku bergerak mengelus hijabnya, air mataku langsung mengalir deras.
"Kak Adi dek, dia dek... dia..."
Shella menganggukkan kepalanya dengan perasaan hancur melihat saudari sepupunya sangat terguncang
Kembali Shella mendekap Dinda. Dan air mataku makin tak dapat aku bendung. Aku memejamkan mataku menahan luka yang sangat dalam aku rasakan
"Dek..."
Aku membuka mataku begitu kurasakan ada sebuah sentuhan di bahuku
Aku menoleh, Tomi...
Refleks aku memutar badanku dan memeluknya, dan menangis pilu di dekapannya.
Tomi menggantungkan kedua tangannya di awang-awang, bingung harus membalas mendekap Dinda atau memilih membiarkan tangannya terus menggantung
Mila dengan cepat menarik tangan Tomi meletakkannya di pinggang Dinda
"Mengapa, mengapa ini harus terjadi sama aku kak?"
Tomi menghembus nafas panjang mendengar suara Dinda yang menyayat hatinya.
"Sabar dek..."
Shella berdiri di sebelah Julian yang juga wajahnya menyiratkan kesedihan.
Julian meraih tangan Shella dan menggenggamnya erat. Shella yang masih saja terisak hanya menoleh sekilas kearah kekasihnya itu
"Sekarang tenang, ya....?" bujuk Tomi
Secara perlahan aku melepaskan pelukanku pada Tomi lalu menoleh kearah kelima sahabatku yang kesemuanya berwajah mendung
"Bestie..."
Kelima sahabat Dinda kembali merangkul Dinda, dan kembali mereka terisak
"Sudah, ini sudah malam, kita harus pulang. Cukup nangisnya, sekarang kita pergi dari sini" ajak Mila
Kembali aku menoleh kebelakang, kearah rumah dimana suamiku sekarang berada
Air mata kembali mengalir deras, hatiku benar-benar hancur dan sakit sekali rasanya
"Sudah... urusan Adi kita bahas nanti, yang penting sekarang kita pulang"
Aku mengangguk mendengar ucapan Lisa.
Dengan hati hancur aku berjalan dengan dibimbing Putri.
"Aku bawa mobil sendiri, aku bisa kok bawa mobil" ucapku ketika Putri membawaku terus, hampir melewati mobilku
"No, mobil kamu biar Mila yang bawa. Kamu naik mobil aku"
Aku menggeleng
__ADS_1
"Dek, adek masih shock, jika terjadi apa-apa sama adek, kami semua yang akan menyesal"
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban Tomi dan memberikan kunci mobilku pada Mila
"Kita ikut lu Mil" ucap Nanda dan Vita
Mila segera membuka pintu mobil Dinda, dan dengan segera Nanda dan Vita masuk.
"Nanti anak kami bawa kemari ya?"
Putri mengangguk
Tomi berkali-kali menarik nafas dalam melihat Dinda yang sangat shock.
Dan berkali-kali pula dia menoleh kearah rumah bercat putih yang kian jauh mereka tinggalkan
...----------------...
Sepeninggal Dinda dan teman-temannya, Adi terduduk lemas sambil mengusap kasar wajahnya.
Berkali-kali dia meremas rambutnya dan berkali-kali pula dia menghembuskan nafas panjang
Sementara Yesa yang duduk ketakutan di dalam kamar begitu mendengar tidak ada lagi suara gaduh, dengan takut-takut mulai turun dari atas ranjang
"Pa?, mereka sudah pergi kan?"
Tak ada sahutan. Adi masih sangat kalut dengan pikirannya.
Yesa kembali duduk di ranjang dan memasang telinganya lamat-lamat. Setelah dipastikannya tidak ada lagi suara-suara gaduh, dengan percaya diri dia membuka pintu kamar
Didapatinya Adi duduk di kursi sambil menunduk dalam. Bisa dilihatnya jika suaminya sangat kalut.
Dengan pelan Yesa duduk di sebelah Adi, mengusap pundaknya berkali-kali
"Yang sabar Pa, suatu hari juga Dinda pasti tahu semuanya, dan kebetulan hari itu tiba hari ini, ya mau gimana lagi?"
Adi menarik nafas panjang mendengar ucapan istri mudanya
"Tapi papa tak menyangka jika hari itu datangnya sangat cepat"
Yesa ikut menarik nafas panjang dan matanya menerawang ke depan, melihat rumahnya yang berantakan. Dia yakin ini pasti perbuatan perempuan-perempuan yang mengamuk tadi
Sementara di mobil yang dikemudikan Putri, Dinda duduk di bagian tengah, duduk di sebelah Nanda.
Sementara anaknya duduk di depan, di sebelah Mila yang mengemudi. Sedangkan Vita duduk di bagian belakang dengan anaknya
Berkali-kali Nanda mengusap punggung Dinda yang menempelkan kepalanya ke jendela mobil
Air mataku kembali mengalir deras, sakit di hatiku sudah tak terkira lagi bagaimana perihnya
Sepanjang perjalanan aku hanya diam tak berkomentar sedikitpun dengan nasehat panjang lebar dari ketiga sahabatku.
Hanya air mata yang terus mengalir yang aku tunjukkan pada ketiganya sebagai jawaban
Sedangkan di mobil lain, berkali-kali Tomi mengepalkan tangannya dengan geram
"Kamu mengkhianati janji yang dulu kamu ucapkan padaku Adi, dan aku akan menagih janji itu!"
Sedangkan Shella dan Julian yang menggunakan motor, berjalan paling depan diiringi tiga mobil lainnya di belakang.
Dan Shella sesekali menyusut air matanya, dia begitu menyesali perbuatannya yang gegabah mengadukan perbuatan Adi pada Dinda
"Sudah jangan ikutan nangis, adek itu sudah benar" ucap Julian ketika disadarinya jika Shella terisak
"Tapi gara-gara aku yuk Dinda jadi hancur"
__ADS_1
"Walau bukan dari adek, toh suatu hari nanti yuk Dinda bakal tahu juga. Malah lebih bagus yuk Dinda tahu sekarang, dari pada nanti-nanti dia baru tahu"
Shella tak menjawab perkataan Julian, dia masih saja menangis terisak penuh penyesalan