Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Aku makan dengan rakus ketika kami keluar dari hotel. Aku sengaja mengajak Tomi makan diluar, karena aku tidak selera makan di restoran hotel yang menunya sedikit tapi harganya selangit


Mending aku makan di luar, tepatnya di tempat terbuka. Karena memang banyak tempat warung-warung makan kecil bertebaran sepanjang jalan menuju daerahku


Tomi yang memang sudah hafal kebiasaanku, segera melarikan aku ketempat makan yang bisa buat aku duduk nyaman sesuka aku, duduk lesehan sambil selonjoran


Kami di ecoresto tulis ku di grup


Lalu aku menempelkan lenganku hingga bersentuhan dengan lengan Tomi kemudian aku mengambil gambar kami berdua, lalu kembali ku kirim ke grup


Tak lama hp ku mulai tuing tuing, dan aku mulai senyum-senyum sendiri membaca pesan yang masuk


"Apa sih sayang?"


Aku hanya melirik sekilas kearah Tomi kemudian kembali menahan senyumku


"Sahabat kamu?" tanya Tomi lagi yang kali ini ku jawab dengan anggukan sambil memamerkan isi chat grup ku padanya


Tomi ikut tersenyum ketika membacanya


"Separah itu pertanyaan mereka?" tanya Tomi heran yang ku jawab dengan terbahak


Untunglah ecoresto ini tempat makannya satu sama lain terpisah, semacam pondok atau gazebo begitu, jadi suara tawa kencang ku tidak terlalu dilihat oleh pengunjung yang lain


"Sayang suaranya ah...." protes Tomi sambil merengkuh bahuku dan melabuhkan kecupan di pelipis ku


Aku hanya mengangkat sebentar daguku, tapi masih dengan suara tawa yang ku tahan, sehingga membuat Tomi kembali mencium ku dengan gemas


"Memang kalau ada teman yang nikah kalian nanyanya tentang first night mereka?" tanya Tomi lagi


Aku kembali cekikikan menahan tawa


"Wah parah ya kalian...."


Aku langsung protes ketika Tomi mengatai kami parah, dan langsung membela sahabat-sahabatku


"Kami tu penasaran aja gitu kak, makanya kami nanya, yeeee"


"Ya masa nanyanya jurusan kesana?"


Kembali aku cekikikan


"Biasalah, mereka kan tahu kita duda sama janda, terlebih kakak yang sudah lama duda, makanya mereka penasaran" sambung ku dengan kembali menahan tawa


"Apa?" tanya Tomi menahan geregetan dengan langsung kembali memeluk bahuku dan menciumiku bertubi-tubi yang membuat pelayan yang datang, hendak naik ke gazebo kami menghentikan langkah mereka


Aku dan Tomi secepat kilat melepaskan rangkulan kami dan tertawa tak enak kearah dua orang pelayan cewek yang saling toleh


Untunglah mereka melihat jari tangan kami yang merah karena inai, jika tidak mereka pasti berpikiran yang bukan-bukan


Terlebih karena di tanganku bekas hiasan henna masih tampak jelas, jadi cukuplah alasan kami berbuat demikian tadi karena kami pengantin baru


Kedua pelayan tadi naik setelah kami persilahkan, dan tampak mereka berdua seperti kagok ketika meletakkan makanan di depan kami


"Kakak sih....." lirihku pada Tomi sambil menyikut tangannya yang dijawab Tomi dengan menaikkan alisnya


Setelah selesai semua menata pesanan kami, keduanya turun. Dan dapat kulihat jika keduanya tampak cekikikan ketika berjalan menjauh


"Mereka iri karena mereka masih jomblo" ucap Tomi ketika melihatku menatap kearah keduanya dengan tatapan tajam


"Sudah ayo makan, jangan dipikirin. Katanya tadi lapar" ucap Tomi sambil mengisi piringku dengan nasi putih


Lalu Tomi mendekatkan daging bebek bakar madu ke dekatku, tak lupa dia juga mendekatkan semua makanan kesukaanku yang aku heran kok dia masih ingat semuanya


"Desert nya kakak jauh kan dulu ya" ucap Tomi lagi yang ku balas dengan anggukan kepala


Aku mengangkat piring daging bebek bakar madu, lalu mencium aromanya dengan dalam


Dan Tomi yang terus memperhatikanku hanya tersenyum melihat kelakuanku


"Sudah ini, mau tidak jika kita beli bakso setan kesukaan kamu?"

__ADS_1


Aku menggeleng


"Ini sudah banyak, nggak muat di perut aku"


Tomi tersenyum sambil memberikan tissue karena mungkin dilihatnya jika bibirku belepotan


"Di lap pakai tissue, atau kakak yang lap pakai bibir kakak?" ucapnya karena tissue yang diberikannya aku abaikan


Aku langsung menggeram mendengar ucapannya, lalu dengan cepat aku ambil tissue di tangannya, dan Tomi hanya terkekeh melihatku merajuk


Sekitar satu jam barulah semua yang ada di atas meja habis tak tersisa olehku. Dan Tomi lagi-lagi tersenyum mendengar aku sendawa


"Oops, maaf....." ucapku menahan malu


Tomi terkekeh dan kembali merangkulku


"Sayang, abis ini kita kemana?"


Aku berfikir sejenak mendengar pertanyaan Tomi, lalu aku meraih hp yang aku letakkan di atas meja


"Jam tiga" gumamku


Tomi menganggukkan kepalanya, lalu aku merebahkan kepalaku dengan manja di bahu Tomi


"Gimana kalau kita siap-siap pulang ke rumah?"


Tomi diam, tapi tak lama dia mengangguk


"Sudah dua malam aku meninggalkan anak-anak, aku khawatir sama mereka"


Tomi yang memainkan rambutku membetulkan ucapanku


"Ya sudah, nanti kita pulang, ya?"


Aku mengangguk.


"Terus tiket bulan madunya?"


"Lah itu bulan madunya kemana?" tanyaku


"Pink beach"


"What??" pekikku


Tomi kembali menarik kepalaku, kali ini menempelkan ke dadanya.


"Itu hadiah dari pak Arsen dan pak Bagaskoro"


Aku kembali berusaha menarik kepalaku yang ternyata di tekan pelan oleh Tomi karena dia terus menciumi puncak kepalaku


"Tapi kak aku nggak cuti, besok aku harus ngantor, makanya aku pengen kita pulang nanti" ucapku dengan nada panik


"Cuti kamu sudah di acc satu minggu oleh kak Burlian"


"Hah,?, kapan??"


"Nggak tahu, kakak aja dikasih tahunya jum'at tadi, kakak kira kamu sudah tahu"


Aku menggeleng


"Kita bulan madunya ajak anak-anak saja, biar kamu nya nggak kepikiran mereka" usul Tomi sambil terus mengusap-usap kepalaku


"Yakin?" tanyaku tak percaya


Tomi menarik kepalaku, lalu menatap dalam kedua mataku


"Kakak menikahi kamu karena kakak itu sangat mencintai kamu, dan kakak tidak ingin dengan kita menikah, malah membuat kamu jauh dari kedua anak kita"


"Kita honey moon, anak-anak kita ajak, kan kamarnya beda" lanjut Tomi yang membuatku langsung mencubit tangannya


"Siangnya kita main sama mereka, malamnya baru waktunya kita yang bermain berdua" tambah Tomi lagi yang membuat wajahku seketika terasa panas

__ADS_1


Tomi terkekeh melihatku melengos karena menahan malu


"Maafkan aku ya sayang karena sejak sore kemarin tidak melepaskan kamu" lirih Tomi pelan di telingaku yang membuatku menoleh cepat dan mengecup bibirnya


...----------------...


Kami turun dari dalam mobil ketika kami sudah tiba di rumahku.


"Kok sepi?" gumamku ketika berjalan ke teras


Aku mencoba mengetuk, tapi tak ada sahutan. Dan Tomi yang juga telah turun dari mobil dan sekarang berdiri di belakangku tampak bertanya


"Anak-anak kayanya masih di rumah ibuk deh" gumamku sambil menempelkan hp


"Tuh kan benar" gumamku kembali setelah aku selesai ngomong dengan ibuku


"Terus?"


Aku mengangkat bahuku


"Kata ibuk besok saja mereka pulangnya, lagian ini juga sudah malam, mereka sudah tidur"


Lalu aku berjalan kearah yang tadi disebutkan oleh ibuku dimana beliau menyembunyikan kunci rumah


Setelah mendapatkan kunci tersebut, kami berdua langsung masuk


Aku langsung menyalakan lampu sehingga seluruh ruangan jadi terang benderang


"Sayang, kakak tidur dimana?"


Aku menghentikan langkahku mendengar pertanyaan Tomi


"Maksudnya?"


Tomi diam dan aku segera berdiri di depannya, meraih tangannya lalu menciumnya dengan sayang


"Ini rumah kita, bukan rumah ku. Dan kakak suami aku sekarang tentulah kakak akan tidur di kamarku"


Tomi tersenyum kemudian dia mendekap ku. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya dan sedikit menggerakkan wajahku di dadanya sehingga membuat Tomi kegelian dan terkekeh


"Sudah ah" ucapku karena tangan Tomi mulai nakal


Aku segera berjalan cepat meninggalkan Tomi yang mengejar ku naik tangga. Lalu kami sama-sama masuk ke kamarku


Ketika aku menyalakan lampu kamarku, hal pertama yang terlihat olehku adalah foto besar kami berdua yang terpasang di tembok kamar


Aku dan Tomi saling toleh lalu tersenyum penuh arti, secara refleks kami kembali berpelukan dengan haru


Hal kedua yang kami lakukan adalah melihat semua mahar dan seserahan yang tersusun rapi di atas ranjang


Aku sampai speechless dengan kotak mahar berisi kunci mobil mewah dan juga tiket honey moon yang tadi Tomi katakan


Juga aku membuka kotak mahar berisi surat rumah


"Setelah honeymoon kita pindah ke rumah kita" bisik Tomi


Aku diam tidak tahu harus menjawab apa, karena masih belum mempunyai keputusan


Lalu aku juga membuka kotak ketiga yang berisi buku tabungan atas namaku dengan nominal yang tak kira-kira


"Seluruh penghasilan kakak sebagai kontraktor selama ini kakak masukkan kesini" kembali Tomi berkata lirih yang membuat mataku langsung berkaca-kaca


"Sebenarnya ada dua, satu atas nama kakak, satunya nama kamu, tapi yang nama kamu, tidak pernah kakak senggol karena memang itu hak kamu"


"Hak ku?"


Tomi mengangguk


"Ingatkan dulu kita pernah mau menikah?, nah dulu kakak itu langsung membuatkan rekening atas nama kamu untuk uang jajan kamu ketika sudah menjadi istri kakak, tapi ternyata dulu Tuhan belum memberikan kakak kesempatan, tapi kakak terus berkeyakinan bahwa suatu saat kita pasti akan menikah, makanya tiap saat rekening kamu tetap kakak isi"


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk menjawab perkataan Tomi, karena aku sudah kehabisan kata-kata saking kaget dan terharunya aku

__ADS_1


Dengan cepat rekening tersebut aku lepaskan, dan beralih mendekapnya erat sambil terisak


__ADS_2