
"Saya akan telpon dulu istri saya pak siapa tahu dia bisa menyelesaikan masalah ini"
"Istri anda yang mana?, yang anda tinggalkan hanya demi perempuan tidak benar yang ada di dalam?"
Yesa yang mendengar langsung memasang wajah marah, dan wajah Adi kembali menegang
Sementara pak Endro sehabis mengucapkan kalimat tersebut langsung melengos sinis
"Mbak Dinda sudah angkat tangan, dia pun sekarang bangkrut karena membayar hutang anda yang ada dimana-mana"
"Dasar suami nggak punya otak, jika Dinda itu anak saya, telah lama anda saya cincang"
Kembali wajah Adi terkesiap mendengar ucapan pak Endro
Dan bapak bertubuh besar dalam rombongan ini menggelengkan kepalanya kearah pak Endro
Sedangkan Adi yang menelepon Dinda terlihat gelisah karena teleponnya tak juga diangkat oleh Dinda
Dengan wajah kecewa Adi meletakkan hpnya di atas meja dan menatap kelima tamunya dengan wajah sedih
"Kenapa?, istrimu tidak mau angkat?"
Adi diam tak menjawab, sedangkan kelima tamunya tersenyum sinis
"Masih menyimpan nomor kami kan mas Adi?, kami tunggu itikad baik dari mas"
Adi mengangguk pelan
"Ayo kita pulang, kami kasih waktu satu minggu mas Adi, apabila mas belum bisa membayarnya mas kasih tahu kami, tapi akan lebih baik lagi jika ketika mas menghubungi kami karena mas akan melunasinya"
Setelah berkata begitu, kelima tauke itu pergi meninggalkan rumah Adi. Karena tamunya sudah pergi Yesa segera keluar dari dalam
"Hutang apalagi ini pa?, pusing kepala mama kalau begini ceritanya, tiap yang datang nagih hutang, nagih hutang terus"
"Jika begini aku nggak sanggup lagi sama kamu pa, mending papa pulang saja ke rumah Dinda, papa nggak usah disini lagi"
"Hampir dua bulan disini papa juga tidak menghasilkan apa-apa, malah uang simpanan mama yang habis"
Adi menarik rambutnya dengan kalut mendengar keluhan Yesa, apa yang dikatakan Yesa benar, selama disini dia memang tidak bekerja, karena memang dia tidak tahu harus bekerja apa
Dulu baru-baru menikah dengan Dinda, dia bekerja di toko plastik, baru setelah Dinda menjadi ASN, mereka menggadaikan SK Dinda untuk dijadikan modal usaha
Sejak itulah dia yang dari kuli toko langsung menjadi bos. Awalnya hanya satu toko kecil dengan satu orang karyawan, hingga akhirnya melesat hingga sekarang mempunyai lima belas karyawan dan dua ruko besar, belum lagi dengan merambah bisnis lain yang makin menambah pundi-pundi uangnya
Dan sekarang semuanya seakan berbalik, dia dikejar hutang hingga nyaris satu milyar total hutangnya
Kembali Adi meraih hp di atas meja menghubungi Dinda
Dan aku yang saat ini berada di toko kedua ikut sibuk karena hari ini adalah hari minggu, dimana jika hari libur maka pembeli meningkat dari hari biasa
Aku bukan tak mendengar jika sejak tadi hp ku yang ada di laci meja berdering, tapi ketika aku lihat ternyata yang menghubungi adalah Adi, jadi membuatku malas untuk mengangkatnya
Aku tahu, bapak tauke bibit ikan pasti sudah menemuinya, itulah sebabnya dia menghubungiku
"Enak saja, giliran butuh nelpon aku, giliran senang pergi tempat istri muda, syukurin. Bentar lagi aku akan gugat kamu Adi, dan ku pastikan jika kamu tidak akan dapat apa-apa"
Dan Adi kembali meletakkan hpnya karena masih tak juga diangkat panggilannya oleh Dinda
"Kenapa? Dinda nggak mau angkat?, ya jelas nggak mau lah, apa tadi papa nggak dengar jika Dinda juga bangkrut karena hutang papa"
__ADS_1
"Sudah ya pa, dari pada papa bengong nggak ada kerja, bisanya cuma merokok berbungkus-bungkus, mending papa kesana, ke kebun warga, minta kerja sama mereka, jadi kuli angkut sayur kek, jadi kuli panen sayur kek, apa kek yang penting kerja. Aku sudah nggak punya duit lagi, duit aku habis buat biaya hidup kita sehari-hari"
Adi mengusap wajahnya dengan kasar mendengar omelan istrinya, pikirannya benar-benar kalut, Yesa bukannya menenangkan kepalanya malah menambah bebannya
Karena Adi masih bengong tak menjawab, dan Yesa kesal melihatnya yang kacau, segera Yesa berdiri meninggalkannya masuk kedalam kamar dan membanting keras pintu
Adi menarik nafas dalam ketika mendengar Yesa membanting pintu. Lalu kembali dicobanya menghubungi Dinda
"Angkat Din...." ucapnya kalut
Karena Dinda tak juga mengangkat panggilannya, Adi berpindah menelepon Naya, dia yakin saat ini anak perempuannya itu pasti sedang bersama dengan Dinda.
Dan Naya yang saat ini sibuk membantu di toko segera berlari kearah meja ketika hpnya berdering
Wajahnya berubah datar ketika dilihatnya jika yang menelepon adalah ayahnya
Naya lalu melihat kearah ibunya yang sedang sibuk mengambil barang untuk pembeli
Lalu Naya dengan menarik nafas panjang mengabaikan panggilan dari ayahnya lalu meletakkan kembali hpnya
Dan Adi yang di seberang hanya menatap bengong pada hpnya, karena baik Dinda maupun Naya kompak mengabaikan panggilannya
Tak putus asa, Adi segera mengulangi menghubungi nomor Naya
Aku melirik kearah Naya yang hanya menoleh gelisah pada hpnya
"Angkat aja nak"
Naya menoleh
"Siapa tahu penting"
"Tapi ini ayah buk"
"Angkatlah, siapa tahu ayahmu kangen"
Wajah Naya mengeras, kulihat wajah itu berubah masam
Dengan wajah yang masih masam kulihat Naya menempelkan hp ke telinganya
"Ada apa yah?"
Adi menarik nafas lega karena akhirnya Naya mengangkat panggilannya
"Ibuk ada nak?"
"Ada, kenapa?"
"Ibuk sedang apa?"
"Kami sibuk yah, kami di toko, toko ramai, jadi ayah nggak usah nelpon"
Setelah itu Naya langsung mematikan telepon dan meletakkan kembali hp ke meja
Baru saja dia hendak berjalan, hpnya kembali berdering. Dengan malas kulihat Naya kembali menatap hpnya
"Mau apa lagi sih yah?, sudahlah yah jangan ganggu kami lagi, kami sudah terbiasa tanpa ayah, ayah di rumah istri muda ayah saja, jangan pernah pikirkan kami lagi"
Adi terkesiap mendengar jawaban anak sulungnya itu
__ADS_1
"Nay...?" suara Adi tercekat
"Apa yah, ayah mau marah karena Naya melawan sama ayah?, Naya kecewa sama ayah, Naya nggak nyangka kalau ayah bakal mengkhianati kami"
Aku mendekat dan memegang pundaknya
Naya langsung membalikkan badannya dan langsung menubruk ku, dan langsung menangis terisak
Kuambil hp di tangannya, lalu menempelkan ke telingaku
"Mau apa lagi kamu Adi?, cukup kamu membuat kami menangis, sekarang jangan ganggu kami lagi"
Setelah berkata seperti itu aku mematikan hp Naya lalu mendekapnya erat
Kubawa Naya duduk di kursi, menghapus air matanya
"Jangan nangis nak, kan tadi Naya sendiri yang bilang jika Naya sudah terbiasa tanpa ayah, hem?"
Naya menghapus kasar wajahnya. Lalu aku mengusap kepalanya sambil tersenyum getir
"Ya sudah, Naya duduk disini saja dulu ya, ibuk masih banyak kerjaan, atau mau naik keatas sama adek?"
Naya mengangguk, Arik berada di lantai atas bersama dengan mbak Sri, lalu Naya berdiri dari kursi dan berlari kearah tangga
Aku mengusap wajahku sambil menarik nafas dalam ketika melihatnya naik, mataku rasanya panas, tapi aku berusaha untuk tegar dengan mendongakkan kepalaku terus
Kulihat Reni menatap sedih ke arahku, aku hanya tersenyum getir padanya
Untuk melupakan rasa sedih yang tiba-tiba hadir aku kembali menyibukkan diri dengan terus melayani pembeli
Jam istirahat, rolling ku tutup, lalu aku menyuruh seluruh karyawan untuk istirahat dan satu jam lagi baru beraktifitas kembali
Aku juga turut istirahat dengan menghenyakkan badanku di kursi khusus untukku dan Adi yang ada di toko ini
Memijit keningku dan menggerakkan kursi ke kanan ke kiri.
Hp Ku kembali berdering dan aku kembali menarik nafas panjang ketika lagi-lagi itu panggilan dari Adi
Dengan malas aku akhirnya mengangkat panggilannya
"Mau apa lagi kamu meneleponku?, kurang jelas apa yang telah kukatakan sama kamu tadi?"
"Din aku ditagih tauke bibit ikan, mereka memaksa aku bayar hutang, jika dalam seminggu aku tidak membayar maka mereka akan memenjarakan aku"
Aku memutar kursi membelakangi karyawan yang sedang makan dengan menarik nafas panjang
"Ya bayarlah sama kamu, kenapa malah ngadu sama aku?"
"Din, kamu tahu sendiri aku tidak ada uang saat ini, bagaimana aku bisa membayar semua hutangku pada mereka?"
"Itu bukan urusanku Adi, gara-gara kamu kelima tauke itu memarahiku bahkan yang namanya pak Endro nyaris menamparku karena perbuatan kamu"
Adi tercekat mendengar jawaban Dinda
"Aku habis-habisan Adi karena menutupi hutang kamu, uang panen ikan kemarin habis untuk aku bayarkan hutang kamu pada petani bibit sawit, bahkan karyawan kolam saja sampai rela belum aku bayar gaji mereka karena mereka kasihan sama aku"
"Dan sekarang ketika kolam mau diisi kembali, ternyata kamu berhutang pula pada para tauke bibit ikan"
"Padahal kamu tahu sendiri berapa banyak uang yang kamu minta sama aku yang kata kamu untuk ngisi kolam, tapi semua apa?, bulshit semua!!"
__ADS_1
"Sekarang jika kamu mau dipenjarakan oleh mereka, terserah, bukan urusanku"
Setelah berkata seperti itu aku langsung mematikan hp dan menutup wajahku