
“Aku yakin ibuk tidak lupa bagaimana lamanya aku menunggu hari dimana Dinda mau menjadi istriku. Dan sekarang semuanya hancur buk….” Kembali Tomi tergugu
Ibunya menarik nafas panjang, dipandangnya Tomi dengan perasaan campur aduk
“Ya sudah mau diapain lagi, toh semuanya sudah terjadi. Ibuk kurang apa meminta maaf sama istri kamu itu. Apa ibuk harus sujud-sujud di kaki dia agar mau memaafkan kamu dan mengurungkan niatnya menggugat kamu, gitu mau kamu?”
Tomi diam mendengar ucapan ibunya. Pikirannya makin kalut, tidak ada jalan keluar dari ibunya. Niatnya kesini ingin menenangkan diri ternyata salah. Disini ibunya malah semakin membuat kepalanya sakit.
“Kapan sidangnya?”
“Minggu depan” jawab Tomi pelan nyaris tak terdengar
“Ya sudah, kamu persiapkan diri kamu. Tenang saja, ibuk akan menemani kamu. Adik-adik kamu akan ibuk ajak juga. Kami semua akan mendukung kamu. Kamu tidak akan sendirian. Segeralah kamu cari pengacara, ibuk yakin istri kamu itu tidak hanya menggugat tapi ibuk yakin akan menggugat harta gono gini juga”
Tomi menarik nafas panjang. Saat ini yang ada di kepalanya bukan tentang mencari pengacara, melainkan bagaimana membuat Dinda mencabut gugatannya. Itu saja
“Masuklah ke kamar kamu. Istirahatlah, ibuk yakin kamu pasti sangat lelah” ucap ibu Tomi lagi sambil mengusap kepala anaknya. Kebetulan saat itu Tomi duduk di lantai, tepat di sebelah kaki ibunya. Sehingga dengan mudah Tomi menempelkan kepalanya di pangkuan ibunya
“Bantu aku buk. Aku tidak mau berpisah dengan Dinda” lirihnya dengan air mata yang kembali mengalir
Ibunya menarik nafas panjang
“Sudahlah Tom. Sudah ibu bilang, kamu itu lelaki, ribuan perempuan di luaran sana yang mau sama kamu. Kamu jangan patah arang hanya karena digugat Dinda. Kamu itu lelaki, jangan cengeng”
“Tapi cuma Dinda yang aku inginkan di dunia ini buk…..” jawab Tomi dengan suara yang masih tetap lemah
Ibunya tak berkata lagi, beliau hanya bisa menarik nafas panjang. Dibiarkannya anaknya terus menangis. Dia yakin, setelah meluapkan emosinya, dada anaknya akan lega. Sedih digugat orang yang dicintainya itu wajar, tapi beliau berkeyakinan jika anaknya akan baik-baik saja
***
Aku sama sekali tidak memberitahu seluruh sahabatku jika aku akan sidang cerai beberapa hari lagi. Bahkan sejak terakhir kali aku ke kantor Putri kemarin, sampai hari ini aku tidak menghubunginya. Dan Putri juga tidak pula menghubungiku. Mungkin dia sibuk, atau mungkin memang dia merasa tak enak hati padaku atas perbuatannya kemarin
Tak enak hati? Harusnya jika memang dia tak enak hati dan merasa bersalah, dia harusnya menghubungiku kan?. Ah, sudah lah. Aku yakin Putri tidak seperti itu. Aku yakin dia pasti sibuk. Tomi yang sejak malam itu puluhan kali menelepon dan mengirimiku pesan satupun pesannya tidak ada yang kubuka.
Begitu ada notifikasi pesan masuk dari Tomi, aku langsung memilih hapus pesan. Tanpa sedikitpun ada niat untuk membacanya. Aku tak ingin pesan Tomi semakin mengacaukan otakku. Aku tak mau hatiku kembali diracuni rasa benci padanya jika dia mengirimi ku pesan yang aneh-aneh. Sebagai jalan tengahnya seluruh pesan dari Tomi aku skip. Sebenarnya mudah saja untukku memblokir nomornya, tapi aku tak melakukan itu. Karena itu akan bersikap seperti kekanak-kanakan sekali. Selagi dia tidak membahayakan ku, biarlah nomornya tetap aku save. Siapa tahu suatu hari nanti, ketika dia menanyakan kabar Yusuf aku mudah memberitahunya
“Mbak Dinda,dipanggil bos….”
Aku menoleh kearah pintu ketika ada seorang pegawai ruang sebelah memanggil namaku. Aku segera menganggukkan kepalaku, kemudian aku langsung berdiri
“Pasti ini masalah sidang” gumamku ketika aku dijalan menuju ruangan beliau
Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, aku masuk. Dan kulihat beliau menganggukkan kepalanya begitu melihat aku masuk
“Ya pak?” tanyaku setelah aku duduk di depan meja beliau
Kulihat beliau menarik nafas panjang, menatap sejurus ke arahku
“Maaf jika bapak kembali ikut campur masalah pribadi kamu” jawab beliau yang semakin meyakinkan ku jika memang benar beliau mau menanyakan masalah sidang
Aku tersenyum kaku mendengar jawaban beliau
“Apa tidak bisa diperbaiki lagi Din?”
Aku diam, menarik nafas panjang kemudian menggeleng
“Tidak pak. Aku sudah mantap dengan keputusan ku. Dan aku yakin bapak sudah tahu jika lusa kami akan sidang. Memang rencananya aku akan minta izin sama bapak besok. Tapi berhubung bapak sudah memanggil aku kesini, jadi sekalian sekarang saja aku izinnya”
Kembali beliau tersenyum kaku mendengar jawabanku dan menganggukkan kepalanya
__ADS_1
“Bapak juga sangat menyesalkan sikap Tomi, Din. Tapi bapak harap kamu memaafkannya. Walau akhirnya jalan yang kamu pilih adalah jalan perpisahan, tapi bapak harap kamu akan tetap professional seperti biasanya, terlepas dari Tomi yang adik sepupu bapak”
Aku menganggukkan kepalaku
“Tentu pak. Aku bisa memisahkan mana kerja mana urusan pribadi. Jadi bapak jangan khawatir. Dan jika suatu hari nanti performa kerja aku menurun, bapak jangan sungkan untuk menegurku. Karena walau bagaimanapun juga aku adalah bawahan bapak”
Pak Burlian mengangguk, setelah sekian detik kami diam, aku berpamitan pada beliau untuk kembali ke ruanganku. Dan pak Burlian hanya menarik nafas panjang ketika aku akan keluar dari ruangan beliau
“Boleh lusa Berlian kami jemput?” tanya beliau ketika aku berdiri
Aku mengangguk dan mempersilahkannya. Terlebih ketika pak Burlian bilang jika kedua anak gadisnya kangen dengan Yusuf
Dan seperti biasa, teman satu ruangan akan bertanya jika aku habis dipanggil oleh bos. Dan seperti yang sudah-sudah, aku akan berbohong menjawab pertanyaan mereka
**
Rabu pagi, sesuai dengan undangan sidang yang ku terima kemarin, hari ini jadwal sidang perdanaku jam sebelas. Karena aku sudah izin dengan pak Burlian, jadi pagi ini sebelum berangkat sidang aku santai dulu di rumah, membantu ibuku di dapur menyiapkan makan siang
Jam setengah sepuluh barulah aku berangkat. Dengan meminta doa dari kedua orang tuaku aku berangkat sendiri. Tak disangka, ketika di tikungan akan keluar dari lorong rumah orang tuaku, aku di stop oleh Yesa
Melihat Yesa tentulah membuatku kaget bukan kepalang. Segera aku menurunkan kaca begitu Yesa mendekat. Diluar dugaan ku, begitu melihatku Yesa langsung menunduk dan merangkul leherku, kemudian dia langsung terisak
“Sebentar, biar aku keluar” ucapku sehingga Yesa melepas dekapannya pada leherku dan membuatku langsung keluar dari dalam mobil
Dan ketika aku telah keluar, kembali Yesa mendekap ku dan kembali menangis terisak sehingga membuatku yang bingung hanya bisa mengusap punggungnya
“Kamu kenapa? Ada masalah? Ucapku sambil terus mengelus punggungnya
Yesa menggeleng dan masih enggan melepas dekapannya, sampai sekian menit barulah dia melepas dekapannya dan menatap wajahku dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya
“Yesa?” ulang ku dengan nada khawatir
Aku langsung tersenyum mendengar jawabannya
“Oalah, jadi kamu mengkhawatirkan aku?” tanyaku
Yesa mengangguk dan wajahnya masih terlihat sedih ketika dia menganggukkan kepalanya
“Alhamdulillah aku sehat, seperti yang kamu lihat. Kenapa kamu nggak besuk aku?”
“Aku beberapa kali ke rumah sakit. Tapi hanya berani lihat kamu dari jauh. Tidak berani mendekat takut dengan keluarga kamu, terlebih sama anak kamu” lirihnya sambil mengusap kasar wajahnya yang kembali membuatku harus tersenyum simpul
“Terus kok sekarang berani?” tanyaku
Barulah Yesa tersenyum
“Karena anak kamu sekolah dan kamu sendirian. Kamu mau ke pengadilan kan?” lanjutnya yang membuatku kaget
“Aku tahu. Sudah hampir sebulan ini aku mengikuti kamu dari jauh. Ya itu tadi aku belum berani ketemu kamu langsung. Aku lihat kamu masih sangat kacau, jadi aku nggak ingin makin membuat kamu makin kacau dengan kehadiran aku”
“Aku nggak papa kok Yes. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kuatnya aku”
Dia mengangguk dan kembali wajahnya mendung
“Kamu yang tabah ya Din. Aku makin merasa berdosa melihat kamu kaya gini”
Aku menepuk bahunya
“Takdir. Ini semua takdir aku, bukan karena kamu”
__ADS_1
“Tapi ini juga karena andil aku yang dulu merebut suami kamu Din. Jika saja aku tidak merusak rumah tangga kamu, aku yakin sampai saat ini kamu masih bahagia”
Aku menggeleng
“Sudah ah, aku mau ke pengadilan. Kamu mau ikut?”
Mata Yesa berbinar, dan dengan cepat dia mengangguk
“Memang kamu mau ngajak orang kotor kaya aku?”
Aku memasang wajah jutek kearahnya, kemudian aku menarik tangannya memintanya masuk ke bagian pintu sebelah, duduk di dekatku
Setelah memasang safety belt Yesa kembali menoleh ke arahku. Dan aku mendecak melihatnya memandang ku seperti itu
“Makanya kalau nggak mau di cap orang kotor, tinggalkan pekerjaan kamu” ucapku yang langsung menghidupkan mesin mobil
Yesa tersenyum getir mendengar jawabanku dan aku tersenyum manis kearahnya
“Yang penting sekarang kamu sudah baik sama aku, itu saja Yes. Aku sudah senang karena kamu peduli sama aku. Terlepas dari kita yang dulu saling bermusuhan”
Secara kompak kami tertawa, dan aku kembali fokus menatap ke depan. Menjalankan mobil menuju pengadilan yang ternyata sudah banyak mobil terparkir disana. Dari sekian mobil yang terparkir aku melihat ada mobil Tomi, itu artinya bahwa dia juga sudah datang
Aku segera mengulurkan tanganku kearah Yesa yang ragu menyambut tanganku, setelah aku mendecak barulah dia mau aku gandeng
“Mulai hari ini kamu teman aku. Kamu mau kan berteman dengan aku?” ucapku tanpa menoleh kearahnya yang kembali matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaanku
Kami berjalan bersama menaiki tangga menuju pengadilan. Ketika kami berjalan ada banyak mata memandang kearah kami yang membuat Yesa menundukkan kepalanya
“Sudah nggak usah gee r, mereka juga nggak kenal sama kamu” lirihku yang membuatnya tersenyum kaku
Kami berjalan menuju ruang tunggu. Dan begitu sampai di barisan bangku kosong, aku dan Yesa duduk. Aku tidak menyadari jika saat aku dan Yesa duduk ada mata memandang marah dan heran kearah kami. Sampai sebuah tepukan di bahuku membuatku kaget dan menoleh ke belakang
“Jadi kamu lebih memilih pelacur ini menemani kamu kesini ketimbang kami?”
Yesa kembali menunduk dalam mendengar ucapan dingin Mila. Sedangkan aku hanya bisa menarik nafas panjang. Melihat kearah keempat sahabatku yang saat ini berdiri memandang tajam ke arahku
“Tolong Mil, kamu jangan merendahkan Yesa. Dia teman aku sekarang”
Keempat sahabatku tersenyum sinis mendengar jawabanku. Dan mereka menggeleng tak percaya mendengar jawabanku
“Kamu tetap disini Yes. Karena yang ngajak kamu itu aku. Jadi kalau kamu mau pulang, kamu pulang sama aku” ucapku cepat ketika kulihat Yesa telah akan pergi dari tempatnya
Kulihat dengan jelas bagaimana perubahan wajah keempat sahabatku
“Please, jangan buat kepala aku makin sakit. Aku hari ini mau sidang, dan terima kasih karena kalian mau datang walau aku tidak memberitahu kalian” lanjut ku dengan memaksakan sebuah senyuman
“Kamu pikir kami datang itu mau kasih support untuk kamu? Nggak Din. Kami datang untuk kak Tomi”
Mulutku ternganga mendengar jawaban Mila kembali. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku dengan tak percaya, tapi itu tak lama. Karena menit berikutnya aku tersenyum getir kearah mereka semua
“Oh, maaf karena aku salah sangka. Ku pikir kalian datang untuk aku”
Keempatnya diam, dan aku segera menggerakkan pelan kepalaku kearah mereka berempat, dan kembali memilih duduk di sebelah Yesa yang memandang sedih ke arahku
“Aku pergi saja Din. Sudah aku bilang, aku hanya buat masalah saja untuk kamu”
Aku menggeleng. Dan tetap bersikeras memintanya duduk bersamaku. Sementara keempat sahabatku segera berlalu dari belakangku. Dan melalui ekor mataku, kulihat mereka berjalan kearah Tomi dan keluarganya.
Aku tersenyum getir melihat mereka. Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak tumpah saat melihat mereka lebih memilih Tomi dibanding aku. Tapi dengan cepat aku menghembus nafas panjang berkali-kali dan memilih untuk kembali tenang
__ADS_1