
#Part kemarin adalah part terberat untuk aku dimana aku harus kembali mengingat kejadian di tahun 2009, tepatnya 10 Agustus 2009. Dimana jodoh orang yg ku jaga selama lima tahun lebih menelepon memakai nomor sahabatku, dan meminta maaf atas kekhilafannya.
Berat untukku kembali harus teringat di masa dimana aku menangis sejadi-jadinya akibat pengkhianatan orang yang sangat ku sayang#
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tomi tersenyum dan mengusap-usap kepalaku.
"Jadi kapan kamu siap orang tuaku menemui kembali orang tuamu?".
Aku mengangkat kepalaku lalu menatap pada Tomi dengan bingung, setelahnya aku menggeleng.
Tomi lalu menarik nafas panjang dan berusaha untuk tersenyum.
"Not now, mungkin lain kali" jawabku .
"Ya.... oke, nggak apa-apa. Yang penting kamu setuju jika orang tuaku melamar kamu kembali, itu saja" sahut Tomi pasrah.
"Dan jika orang tuaku tidak menyetujui bagaimana?" pancingku.
Tomi menggeleng cepat kemudian mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Kalau kali ini aku berjuang, Apakah kamu juga mau berjuang meyakinkan orang tuamu jika aku berubah dan tidak akan meninggalkan kamu lagi?" tanya Tomi.
Aku mengangkat bahuku
"Nggak tahu juga sih, tergantung Ayahku. Kalau kata ayahku iya, ya aku iya juga. Tapi kalau kata ayahku nggak, aku juga nggak" jawab ku yang kembali harus membuat Tomi menarik nafas panjang.
"Jadi semuanya tergantung sama orang tua kamu ya Din.?" .
Aku menganggukkan kepalaku walau sebenarnya di dalam hati aku sedang menahan tawa.
"Kan yang menjalani hidup kamu Din, kok harus tergantung sama orang tua kamu sih?".
Kembali aku harus menahan tawa agar Tomi tidak tahu jika aku menggodanya, dan juga agar Tomi berusaha keras bagaimana caranya untuk dia bisa mendapatkan dan meluluhkan hatiku kembali.
"Karena aku nggak mau salah untuk yang ketiga kalinya" jawab ku yang membuat wajah Tomi terkesiap.
"Oke jika itu keputusan kamu, itu artinya aku akan meyakinkan orang tua kamu bahwa memang aku adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping kamu".
__ADS_1
Aku tersenyum kecut mendengar jawaban pede Tomi.
Hingga akhirnya aku kembali merebahkan kepalaku di pundak Tomi dan mencoba memejamkan mataku.
"Aku pernah menjadi orang terbodoh sedunia kala itu Tom......" lirihku
Tomi menunduk melihat ke arahku yang berada di dadanya, dan tampak dia berdehem mendengar suara ku.
"Siang malam tak kenal waktu menangisi kamu yang bahagia bersama istri kamu, bahkan aku sampai lari dari rumah dan pergi ke daerah lain selama satu minggu"
"Beruntunglah Mila dan Putri menyusul ku... huffff....." aku menarik nafas panjang lalu menatap mata Tomi
"Kamu tahu tidak sih, bahkan polisi yang berjaga di pantai saat itu sampai masuk ke dalam laut karena aku terus berjalan ke tengah laut, tidak mendengarkan teriakannya, aku sangat ingat dimana Mila dan Putri berteriak histeris seperti orang gila sehingga polisi dan beberapa orang menyeret ku paksa ke bibir pantai"
Setelah berkata seperti itu aku tersenyum kecut dan kulihat wajah Tomi kembali mendung
"Bahkan saat itu teman satu sekolahku yang kuliah di sana, nyaris menampar wajahku saking dia kesal dengan kelakuan konyol ku".
Kembali aku menarik nafas panjang, lalu merebahkan kepalaku di sandaran sofa dan menatap kosong ke depan.
"Saat itu yang ada di dalam benakku adalah Mengapa mengapa Mengapa dan mengapa"
"Di sanalah teman kami yang kuliah di sana itu datang karena ditelepon oleh Putri. Karena mereka tahu bahwa aku akrab sama dia. Dan Mila sama Putri pikir, aku akan sadar jika sahabatku itu bisa menenangkan ku"
"Polisi sampai menggelengkan kepalanya melihat bagaimana kacaunya aku saat itu, Yahhhh mungkin benar kalau saat itu aku terkena doktrin Love Is Blind" lanjut ku sambil berusaha untuk tertawa.
Tomi mengusap wajahku dan dia tersenyum getir.
"Tapi berkat aku lari ke sana lah, makanya aku sadar. Perlahan namun pasti akhirnya aku bisa berdamai dengan keadaan dan berhenti total menangisi kepergian kamu dari hidupku"
Kemudian aku menarik nafas panjang lalu mengusap kasar wajahku.
"Bahkan saking konyolnya dulu, ada lagu yang berjudul Hati Yang Kau Sakiti, Aduh......, Setiap hari aku mendengarkan lagu itu dan itu menjadi lagu wajib untuk aku."
Sehabis mengatakan kalimat itu aku tertawa lepas, mentertawakan bagaimana bodoh dan konyolnya aku saat itu.
Dan Tomi yang melihat aku tertawa lepas ikut tersenyum dan kembali mengusap-usap rambutku.
"Aku bisa merasakan apa yang saat itu kamu rasakan Din" lirih Tomi
__ADS_1
Aku menoleh cepat kemudian menggeleng.
"Tidak Tom, kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan saat itu. Tapi aku bersyukur, setelah sahabatku memarahi aku habis-habisan, aku akhirnya sadar....".
"Apa saat itu yang dikatakan oleh sahabatmu sampai dia berhasil menghentikan kamu menangisi ku?" .
Aku memejamkan mataku sebentar kemudian menarik nafas panjang
"Sahabatku bilang "berhentilah menangisi lelaki pengecut yang saat ini bahagia bersama istrinya, jangan menjadi wanita bodoh yang setiap malam mengeluarkan air mata demi seorang lelaki yang saat ini asyik ngeloni istrinya"".
Aku kembali melihat bagaimana wajah Tomi terkesiap dan tampak merah kemudian dia melengos membuang wajahnya lalu mengusap kasar wajahnya berkali-kali dan menarik nafas panjang.
"Juga saat itu sahabatku bilang jika dia kembali dari kuliahnya dan dia masih mendengar kabar bahwa aku masih menangisi kamu maka dia tidak mau lagi menjadi sahabatku karena dia malu punya teman yang bodoh yang masih mengharapkan cinta suami orang"
Kemudian Tomi menoleh dan menatap wajahku tanpa berkata sepatah katapun.
"Benar yang dikatakan orang, bahwa wanita bisa kehilangan akalnya karena orang yang dicintainya, oleh karena itulah dia butuh tamparan ribuan kali agar dia sadar dan tahu diri. Alloh berikan dia tamparan berupa rasa sakit dari orang yang dia cintai, sehingga logikanya berjalan dan tidak lagi menggunakan perasaan"
Kulihat ada buliran bening mengalir di wajah Tomi saat aku berkata demikian
"Dan rasa sakit yang kamu rasakan saat itu, telah terbalaskan oleh rasa sakit yang sampai detik ini aku rasakan Din. Aku harus lama menunggu kamu, hingga akal dan logika aku tidak berjalan walau jutaan kali tamparan aku terima" jawab Tomi dengan suara tercekat.
Aku tersenyum getir mendengar jawaban Tomi, dan dengan lembut, aku mengusap wajahnya, menghapus air mata yang kian deras mengalir.
"Sudahlah Tom, karena itu juga sudah lewat. Mari sama-sama kita melupakan kejadian pahit yang pernah terjadi dalam hidup kita" ucapku pelan .
Tommy mengangguk setuju, kemudian dia menarik nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya kemudian ditariknya aku ke dalam dekapannya. Mengusap terus kepalaku sehingga mataku meredup
"Kayanya kamu harus pulang deh Tom, soalnya aku jadi ngantuk" lirihku.
"Kamu kalau mau tidur, tidur aja. Tapi aku nggak akan pulang, Aku akan nungguin kamu terus"
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban Tomi dan kembali Dia menunjukkan sifat keras kepalanya padaku.
"Kalau ada kamu itu artinya aku malah tidak bisa tidur Tomi...." jawabku kesal.
Tomi terkekeh dan malah terus mengusap-usap kepalaku yang membuatku semakin ngantuk.
Entah karena terlalu nyaman tidur di pangkuan Tomi atau memang aku ngantuk, akhirnya tanpa aku sadari aku terpejam dan Tomi terus mengusap rambutku sambil terus menatap wajahku dengan dalam.
__ADS_1
"Tuhan..... tolong jangan pernah membuat kami terpisah lagi......" bisik Tomi di atas wajah Dinda.