Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Penelepon


__ADS_3

Aku mengangkat kepalaku dengan cepat mendengar nada suara tak ramah dari pak Kusno, kemudian aku menarik sudut bibirku dengan tak suka


“Kepo” jawabku sambil memanyunkan bibirku


“Bukan kepo Din, hp kamu dari tadi nggak berhenti berdering” jawab beliau


“Hah?” jawabku dengan kaget. Lalu dengan cepat aku mengambil hp yang aku letakkan di sebelah komputerku yang masih menyala


“Ya ampun, mati aku” ucapku ketika aku lihat panggilan terabaikan dari suamiku


“Kok nggak ada yang angkat sih?” lanjutku sambil menoleh kearah yang lain dengan bibir masih manyun


“Kami angkat mbak, terus kami bilang kalau mbak keluar” jawab Nadia


Aku tak mempedulikan jawabannya lagi, dengan cepat aku mendial balik nomor suamiku. Dan dengan cepat langsung diangkat oleh suamiku


“Sayang ngapain kamu ketemuan dengan Yesa?”


Mulutku langsung ternganga mendengar suara suamiku


“Nggak ketemuan kok, nggak sengaja ketemu lebih tepatnya” belaku


“Whatever lah, tapi kakak mengkhawatirkan keselamatan kamu. Kamu tahulah bagaimana perempuan itu”


Aku menarik nafas panjang, belum saatnya aku menjelaskan semuanya pada suamiku, terlebih ini juga di handphone, rasanya nggak afdol aku menjelaskannya. Nantilah jika waktunya sudah tepat, aku bakal bilang kenapa Yesa menemuiku


“Sebentar doang kok kak, setelah itu dia pergi”


“Dia nggak ngancem kamu lagi kan?”


Aku terkekeh


“Nggak lah, tinggal sebut nama Mila langsung kabur dia” bohong ku


“Baguslah. Pokoknya jangan temuin atau jangan berkomunikasi lagi dengan wanita itu. Aku nggak mau dia bikin kamu stress, ingat sayang, kamu lagi hamil, nggak boleh stress, nggak boleh banyak pikiran, nggak boleh over thinking”


“Iya…. Iyaaa” jawabku dengan wajah masam karena over protective suamiku kambuh lagi


“Kakak tahu dari mana kalau aku ketemu dengan Yesa?” tanyaku. Dalam hati aku sudah menebak jika Tomi pasti tahu dari pak Burlian


“Yang makan disana tadi ada teman kakak” jawab Tomi


Aku menahan tawa. Ternyata circle pertemanan Tomi sama dengan pak Burlian


“Ya sudah, seperti biasa jam empat kakak jemput”


Aku menganggukkan kepalaku kemudian meletakkan hp dan berniat akan memulai pekerjaan ku ketika bu Halimah dan Nadia menarik kursi dan duduk di depanku

__ADS_1


“Serius kamu ketemu dengan mantan madu kamu?”


Aku menatap mereka berdua dengan mendecak kemudian memanyunkan bibirku


“Iya, nggak sengaja. Sebenarnya sih kami itu ketemunya malam tadi” jawabku lalu tanpa diminta aku langsung menceritakan bagaimana insiden malam tadi


“Aku juga kalau jadi Naya bakal melakukan hal seperti itu mbak” jawab Nadia


Aku terkekeh mendengar jawabannya


“Jangan nyari perkara deh Din. Jauh-jauh kamu dari parasit. Kamu itu terlalu baik jadi orang, bapak khawatir kamu dimanfaatkan” ucap pak Kusno


Aku tersenyum hangat kearah beliau atas perhatiannya padaku


“Sudah ghibahnya, balik kerja!” ucap beliau lagi yang membuat bu Halimah dan Nadia menarik kursi mereka dan membawanya ke meja mereka masing-masing. Lalu kami kembali fokus dengan pekerjaan kami masing-masing


Sore harinya, seperti biasa Tomi sudah menungguku di parkiran. Dan aku yang keluar dari kantor menelan ludahku ketika kulihat suamiku sedang mengobrol dengan pak Burlian


“Hadeeeeh, pasti bahas aku” gumamku sambil terus berjalan kearah mobil suamiku


Aku memasang senyum manisku kearah suamiku yang segera mengulurkan tangannya ke arahku. Dengan sayang kemudian suamiku mengusap kepalaku


“Kami pulang ya kak?” pamit Tomi pada pak Burlian yang menganggukan kepalanya


“Kak Bur tahu kamu tadi ketemu dengan Yesa?” tanya Tomi ketika kami sudah di perjalanan


“Oh, itu pasti kak Elmi, karena tadi dia juga ngirimin kakak pesan”


Aku tersenyum mendapati jawaban suamiku


“Circle pertemanan kalian kok sama sih kak?”


Tomi ikut terkekeh kemudian mengusap-usap perutku


“Mau makan apa?” tanya Tomi ketika kami melewati barisan penjual buah. Tomi sengaja memperlambat laju mobil agar memudahkan ku melihat buah yang kuinginkan


“Nggak ada, pengennya cepat sampai rumah dan rebahan” ucapku ketika tidak ada buah yang ingin kumakan


Tomi mengangguk, kemudian kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah. Begitu sampai rumah, sudah terdengar suara Yusuf. Aku langsung masuk kedalam rumah dan langsung mengambilnya dari gendongan ibu mertuaku


“Ingat perut kamu Din….” Protes ibu mertuaku ketika aku mengangkat badan besar Yusuf


Aku hanya mengangguk dan langsung duduk dengan memangku Yusuf yang langsung ngusel-ngusel, sepertinya dia ingin minum asi. Sehingga aku langsung memberinya asi


“Rumah kok sepi, anak-anak kemana buk?” tanyaku sambil celingukan


“Naya dan Arik les”

__ADS_1


“Les?” tanyaku dengan nada kaget


Ibu mertuaku mengangguk


“Kan kalau hari rabu memang mereka berdua les taekwondo”


Mulutku ternganga kemudian aku menoleh kearah suamiku yang tampak santai meliha ekspresi kagetku


“Kakak tahu?” tanyaku


Tomi mengangguk sambil tersenyum ke arahku


“Nggak apa-apa kok. Bagus untuk mereka” jawabnya santai


“Jadi kakak memang sudah tahu kalau Naya les taekwondo?” tanyaku lagi


“Iya tahu, malah kakak support mereka kok”


Aku hanya bisa menarik nafas panjang mendengar jawaban suamiku. Kemudian aku kembali fokus memberi Yusuf asi sampai mata anak kami tersebut meredup


“Biar kakak yang bawa” ucap suamiku ketika Yusuf selasai kuberi asi dan bersiap ku bawa ke kamar


Aku mengangguk, kemudian aku memberikan Yusuf pada Tomi yang segera mengangkatnya ke kamar. Kemudian aku merebahkan kepalaku di sofa, sementara ibu mertuaku tetap duduk di dekatku


Sambil santai kami berdua mengobrol ringan, sampai akhirnya obrolan kami terhenti ketika hp yang ada di dalam tas kerjaku berdering


Nomor baru


Aku menatap layar hp sekian detik karena yang masuk adalah nomor yang tidak aku kenal. Rupanya ibu mertuaku menangkap perubahan mimik wajahku. Kemudian Tomi yang muncul dari dalam segera duduk di sebelahku dan melihat ke layar handphone ku yang kembali berdering untuk kedua kalinya


“Angkat saja sayang, siapa tahu penting”


Aku menoleh kearah Tomi mendengar komentarnya, kemudian menuruti perintahnya


“Halo, ini siapa ya?” bukaku ketika panggilan tersebut aku angkat


“Buk ini aku…..” jawab suara di seberang


Aku langsung melirik kearah Tomi yang menatap ke arahku. Kemudian aku kembali menatap ke depan, berusaha menebak suara siapa yang saat ini meneleponku


“Buk, ibuk masih disana kan?” ulang suara di seberang


“Anda siapa?” ulangku


“Aku Adi buk…..” jawab suara diseberang


Seketika aku langsung menelan ludahku, tiba-tiba degup jantungku langsung berdetak kencang ketika aku mengetahui siapa yang meneleponku saat ini

__ADS_1


“Mau apa kamu???!” jawabku ketus


__ADS_2