Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Yesa Masih Saja Kesal


__ADS_3

Terdengar Adi mengumpat, dan Mila yang mendengar kembali memutar badannya


Kami berenam segera menghadang dan memegang tangannya


"Sudah Mil, sudah, cukup ya...." ucapku dengan terus menahan tubuhnya


"Untung perempuan lu!!!" teriak Adi lagi


Aku segera melepas peganganku pada Mila, berbalik menghadap Adi


"Jika Mila laki-laki, aku yakin saat ini kamu pasti sudah tidak bernyawa. Jadi, jika kamu masih ingin hidup, tutup mulut kamu!" tunjuk ku kearahnya


Lalu aku kembali memegang tangan Mila membawanya pergi dari halaman parkir pengadilan, membawanya masuk kedalam mobil


"Kita ke Vizta" ucapku pada Mila yang telah duduk di belakang kemudi


Nanda dan Lisa mengangguk, lalu aku masuk kedalam mobilku, meninggalkan Adi yang berwajah kesal menatap kepergian kami


Mila melajukan mobilnya dengan ngebut, seperti itulah dirinya jika emosinya tidak tersalurkan. Lisa dan Nanda yang berada di mobilnya hanya terus berdoa dalam hati


Aku dan Putri yang menyusul di belakang tetap menjalankan mobil kami dengan kecepatan normal


"Kasihan Nanda dan Lisa" ucap Vita sambil terkekeh yang ku balas dengan terkekeh pula


Lima belas menit kemudian mobil kami masuk ke halaman parkir tempat karaoke yang tadi telah kami sepakati


Aku dan Vita segera turun, menyusul Putri dan Rohaya yang juga telah turun. Bergegas kami berempat naik kelantai atas dimana ketiga sahabat kami telah masuk sejak tadi


Kulihat Lisa sedang bernyanyi, melihat kami masuk, Nanda melambaikan tangannya kearah kami, sedangkan Mila kulihat masih berwajah kesal


Begitu masuk aku langsung duduk di sebelahnya, memeluknya dari samping. Dan meletakkan kepalaku di pundaknya


"Udah dong....." bujuk ku pada Mila dengan wajah memelas


Mila mendecak dan menggerakkan pundaknya sehingga aku harus mengangkat kepalaku


Dengan cepat direbutnya mic ditangan Lisa, mengganti lagu lalu dia mulai berjingkrak kan bernyanyi dan kami ikut berjingkrak kan juga.


Jadilah siang itu kami di dalam ruang karaoke hingga sore, makan, ngerumpi, tertawa terbahak, bernyanyi, berjoget hingga saling pukul khas persahabatan jika sudah kumpul


Benar-benar momen yang tak kan terlupakan. Bagaimana kami selalu ada untuk saling support satu sama lain, dan saling mengerti. Itulah yang membuat persahabatan kami kekal hingga hari ini


...----------------...


Dan Yesa bersama Adi yang pulang ke rumah mereka di daerah kota sejuk sepanjang jalan hanya memasang wajah masam


Adi yang mengetahui jika suasana hati istrinya sedang buruk hanya diam, tak ingin mengusiknya, jika dia berani mengusiknya sama hal nya dengan membangunkan harimau tidur


Jadi selama di perjalanan keduanya lebih banyak saling diam, sibuk dengan pikiran mereka masing


Suasana perjalanan yang dingin membuat keduanya tertidur di dalam travel dan terjaga ketika mobil berhenti di atas jalan menuju rumah mereka


Supir travel yang memang telah menjadi langganan Adi sejak sidang perceraian, segera membangunkan Adi begitu mobil travel yang dikemudikannya sampai di rumah Adi


Adi yang terjaga segera membuka matanya, meregangkan sedikit ototnya lalu menggerakkan tubuh Yesa yang tertidur di sebelahnya

__ADS_1


Sama halnya dengan Adi, Yesa pun segera membuka matanya, melihat kanan kiri lalu segera membetulkan posisi duduknya kemudian setelah itu barulah dia membuka pintu mobil, turun dan Adi mengikut di belakangnya


Adi tersenyum dan melambaikan tangannya pada supir travel, barulah setelah itu travel kembali melaju


Yesa berjalan di depan, menuruni jalan yang bertebing menuju rumah mereka yang ada di bawah jalan besar


Hembusan angin khas daerah sana, daerah dingin sudah dihiraukannya, dia bergegas mengambil kunci dalam tas yang sejak tadi dijinjingnya, membuka pintu lalu segera masuk


"Karen masih di sana kan?, sebentar lagi aku jemput dia, ini aku baru sampe rumah"


Adi yang masuk melihat Yesa berjalan masuk menuju kamar sambil menelepon


Tak lama Yesa telah keluar, duduk di sofa dan wajahnya masih saja masam


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Adi yang juga duduk di sofa


Yesa membuang nafas dengan kesal mendengar pertanyaan Adi


"Kan papa sudah bilang, nggak usah ikut. Mama sih ngeyel"


Yesa melirik kearah suaminya dengan mata tajam


"Sudah papa bilang, Dinda itu dikelilingi para sahabatnya yang sangat solid, dan sekarang mama buktikan sendirikan"


Yesa mendecak kesal sembari memegang pipinya


"Kurang ajar perempuan itu" geramnya


"Ya itu yang namanya Mila, yang menghajar papa habis-habisan kemarin, tidak ada yang bisa mengalahkannya, entah apa yang ditakuti wanita itu di dunia ini"


"Halah dia itu sok karena seluruh keluarganya polisi, coba aja kalau keluarganya orang biasa, mama yakin dia nggak akan se arogan ini"


Kembali Yesa mendecak kesal


"Awas aja si Mila itu ketemu aku lagi, akan aku bejeg-bejeg dia"


"Sudahlah ma, dari pada kesal, lebih baik mama siapkan papa makan"


"Ah malas, makan aja sendiri, tinggal ambil dalam tudung saji kok ya mau minta disiapkan segala, nggak usah manja" sambil berkata begitu Yesa bangkit dari duduknya


"Mama mau kemana?" tanya Adi setelah dilihatnya Yesa berjalan keluar


"Jemput Karen"


Adi menarik nafas panjang lalu kembali merebahkan kepalanya ke sandaran sofa


"Ya Tuhan aku cuma dapat satu ruko itu saja?" gumamnya sambil kembali menarik nafas panjang


"Dan ruko itu juga sertifikatnya ada sama rombongan pak Endro, haduhhhh bagaimana ini?, bisa dipastikan mereka tahu jika sidang harta gono gini kami telah selesai, dan aku yakin besok atau lusa pasti mereka nelpon"


Kembali Adi menarik nafas panjang berkali-kali, niat awalnya yang hendak makan jadi diabaikannya karena pikirannya kembali kusut karena memikirkan nasibnya ke depan kelak.


Hidup dengan istrinya tanpa ada lagi harta benda, bahkan rumah yang sekarang mereka tempati pun sertifikatnya ada dengan pak Bara


Dan bisa dipastikan rumah serta mobil yang dibelinya untuk Yesa dan Karen akan disita juga dengan pak Bara

__ADS_1


"Ya Tuhan, bagaimana ini...?" desisnya kalut


...----------------...


Suasana malam yang dingin di kota sejuk


Yesa masih terus berwajah masam pada suaminya, padahal Adi telah berusaha menyapa bahkan mengajaknya ngomong baik-baik


Tapi Yesa masih saja tampak kesal terlebih ketika dia membahas masalah harta gono gini yang hanya sedikit didapat oleh Adi


"Ya mau bagaimana lagi ma, pengadilan telah memutuskan jika aku hanya dapat ruko itu saja"


"Ya masa cuma satu itu, sedang Dinda dapat banyak"


"Apa mama tidak dengar, apa alasan Dinda mendapatkan lebih banyak dari papa?, seluruh hutang papa Dinda yang bayar, dan itu dianggap hutang bersama, dan mama dengarkan berapa hutang papa, nyaris satu milyar Ma, jadi tolonglah jangan dipermasalahkan lagi harta itu, semuanya telah diputuskan pengadilan dan tidak bisa diganggu gugat"


"Ya masa papa nggak banding gitu?, kan dapat harta sebanyak itu papa yang banyak ngusahainnya bukan Dinda"


"Memang benar, tapi semua sumbernya itu dari Dinda semua, papa hanya menjalankan, sudahlah ma, tolong jangan menambah kalut pikiran papa, pusing kepala papa ini"


Adi bangkit dari posisinya yang rebahan, keluar dari dalam kamar lalu duduk di ruang tamu dengan kembali merokok


Dan Yesa yang ditinggal Adi hanya bisa menggerutu kesal


"Awas saja kamu, belum tahu siapa aku kamu ya, kere kamu, aku tinggal, lihat aja!"


Setelah itu Yesa lalu memiringkan posisi tidurnya, menepuk-nepuk pantat Karen yang tubuhnya bergerak


Sementara di lain tempat, aku yang kembali ke rumah disambut dengan pelukan hangat dari kedua anakku


Dan mbak Sri, karena aku telah pulang, beliau berpamitan


"Ibu bawa sesuatu untuk kalian" ucapku sambil memberikan bungkusan yang kubawa pada Naya yang langsung dibawanya masuk dan dikejar oleh Arik


Ketika mbak Sri akan mengambil motornya, aku juga memberikan bungkusan pada beliau


Aku segera masuk dan tersenyum melihat kedua anakku yang berebutan makan


"Buk, tadi di rumah ada teman ibu" ucap Naya sambil terus mengunyah


Aku yang akan naik ke lantai atas menghentikan langkahku lalu menoleh kearahnya


"Teman ibu?, siapa nak?"


"Oom Tomi, itu loh buk, yang pernah ketemu kita di eco resto tempo hari"


Deg!!!


Tomi kesini? mataku langsung berputar, bingung. Dan aku menarik nafas panjang


"Lama nak?"


"Lama, apa ibu nggak ketemu di jalan, oom Tomi nya baru aja pulang"


"Apa orang yang pakai motor besar tadi yang tadi nglakson aku ya?" batinku

__ADS_1


Segera aku meninggalkan kedua anakku yang terus makan, lalu aku segera naik ke kamar dan langsung mengeluarkan hp ku


"Tomi kamu dimana?"


__ADS_2