Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Terbongkarnya Rahasiaku


__ADS_3

"Kasih tahu nggak yaaa....?" ucap Mila menggantung seakan-akan menggodaku.


Aku makin melotot kan mataku pada mereka yang terus cekikikan.


Sementara Tomi yang melihat Mila dan Putri kian penasaran dan melirik ke arahku sambil tersenyum-senyum penuh arti.


"Jangan didengarkan mereka berdua Kak. Kakak kan tahu sendiri mulut mereka ember" ucapku cepat meyakinkan Tomi bahwa tidak pernah terjadi apa-apa di masa lampau.


"Ih ngomong kita ember, kita nggak ember ya Din, kita tuh tahu sebenarnya apa yang terjadi sama kamu huuu, iiih lihat tuh wajah Dinda mulai tuh merah-merah iiih malu dianya, maluuuu" ucap Putri dan Mila sambil terbahak yang semakin menyudutkan ku.


Aku menggelengkan kepalaku melihat kedua sahabatku yang bahagia di atas penderitaanku. Segera aku meraih gelas minuman dingin lalu menyeruputnya untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba melanda hatiku.


Sementara Tomi yang melihat Mila dan Putri ikut tersenyum-senyum dan aku yang melihatnya tersenyum melengos dan memasang wajah masam.


"Cie yang malu...." goda Putri dan Mila kembali yang melihatku menatap tajam ke arah mereka dengan wajah cemberut.


"Beneran nih Kak Tomi mau dengar apa yang terjadi sama Dinda dulu?" Mila semakin menggodaku.


"Apa sih kalian berdua?!" bentak ku pada Mila dan Putri yang dibalas mereka dengan makin terkekeh.


"Pokoknya Kakak nggak usah dengerin mereka berdua, kalau kakak dengerin omongan mereka berdua itu sama aja dengan halnya Kakak menduakan Tuhan, syirik!!" jawabku yang di balas Tomi dengan tersenyum.


Bukannya marah Mila sama Putri makin terbahak mendengar omonganku.


"Gila kalian berdua!!!" bentak ku kepada mereka sambil melotot kan mataku kembali.


"Eh Mil, Mil, kamu ingat nggak sih dulu gimana gaya nangisnya Dinda?" tanya Putri yang makin membuat wajahku cemberut.


Mila bukannya menjawab malah terbahak dan aku yang makin kesal pada kelakuan mereka berdua segera melemparkan garpu ke arah mereka


Dan Tomi yang melihatku kesal makin tersenyum lebar dan matanya kian dalam melihat padaku.


"Jadi benar nih kamu nangis waktu kakak tinggal menikah?" tanyanya.


Aku hanya bisa menarik nafas panjang melihat kearah Mila dan putri dan keduanya langsung berhenti tertawa melihatku yang melotot tajam kearah mereka.


"Ya ampun Din segitunya kamu marah sama kita, ya deh maaf..., kita kan cuma bercanda, kita nggak serius" ucap Putri cepat dan langsung menyentuh tanganku yang langsung ku tepis.


Sementara Mila dengan tetap cueknya dia langsung menyendok makanan ke dalam mulutnya.


"Aku nggak suka deh kalau kalian buka kartu aku depan kak Tomi, kan aku jadi malu....." jawabku sewot.


"Ya terserah kalau kamu malu, itukan urusan kamu. Yang pastinya kita sih happy" jawab Mila masih dengan cueknya yang membuatku langsung berdiri dan mencubit keras pipinya.

__ADS_1


"Awww... lepas, lepas. Kamu nggak tahu apa perawatan wajahku ini mahal.....!!" ucap Mila cepat sambil menepis tanganku yang masih mencubit keras pipinya.


"Bodo!!" jawabku gantian cuek.


Putri kian terkekeh melihatku membalas kekesalanku pada Mila.


"Eh kak Tomi, tahu nggak sih kalau Dinda itu nangisnya sampai 8 bulan waktu Kakak tinggal menikah kemarin, bayangin kak siang malam dia menangisi kakak" ucap Mila cepat yang membuat mataku langsung melotot.


Setelah berkata seperti itu Mila menoleh ke arahku dan tersenyum penuh kemenangan sambil menaikkan alisnya berkali-kali, dan Tomi langsung menoleh ke arahku, menatapku dengan dalam dan Putri sama seperti aku menatap ke arah Mila dengan mulut menganga.


"Ya ampun perempuan ini...." geram ku kesal ke arah Mila.


Dan Mila yang sudah tahu bahwa aku akan kembali mencubit pipinya, dengan cepat melindungi pipinya dengan kedua tangannya.


"Bener Dek apa yang dikatakan Mila barusan?" tanya Tomi pelan padaku.


Aku diam tidak menjawab melainkan cemberut.


"Bener kok Kak, kita nggak bohong. Kalau kakak nggak percaya tanya aja sama si rohaya, sama Vita, sama Lisa, sama Nanda. Mereka semua tahu kok" jawab Mila cepat yang makin membuat wajahku terasa panas.


"Ya Tuhan Milaaaaa....." geram ku kesal.


Putri sedikit pun tidak menolongku dia malah sibuk membekap mulutnya yang hampir meledak tertawa.


"Kan aku sudah bilang kakak itu nggak usah percaya omongan dua makhluk ember ini, kalau kakak percaya sama mereka sama saja kakak itu syirik" ucapku meyakinkan Tomi.


Tomi mengangguk ke arahku sambil tersenyum kemudian berkata


"Iya Kakak nggak percaya kok sama mereka. Kakak percayanya sama Alloh dan juga sama kamu"


Aku langsung melirik tajam ke arah Mila dan Putri kemudian aku menjulurkan lidahku kearah mereka berdua.


Mila dan putri yang mendengar jawaban Tomi langsung mencebikkan bibir mereka


"Sudah, sudah berantemnya sekarang waktunya kita makan, sudah itu kita pulang. Ya?" bujuk Tomi pada kami bertiga yang bertingkah seperti anak kecil.


----------------


Aku melambaikan tanganku ke arah Putri yang pertama kali kami antar, kemudian selanjutnya Tomi menjalankan mobilnya mengantarkan Mila ke rumahnya. Baru setelah itu kami berdua pulang.


Sepanjang jalan, kembali aku merasa gugup. Berkali-kali aku bergerak gelisah. Sementara Tomi yang tahu kegelisahanku bersikap biasa saja.


Hingga akhirnya kebisuan diantara kami berdua pecah ketika Tomi refleks menggenggam jari tanganku yang membuatku kaget.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu menangisi kakak siang dan malam?" lirih Tomi sambil mencium jariku.


Aku diam tidak menjawab pertanyaan Tomi, melainkan berusaha menarik tanganku dari genggamannya.


"Andai saja kakak tahu, pasti kakak tidak akan pernah membiarkan kamu menangis selama itu" sambung Tomi lagi sambil menoleh ke arahku dan menatapku dengan mata sendu.


"Mila sama Putri itu bohong" lirihku sambil berusaha untuk tenang.


Kembali aku melihat Tomi tersenyum kemudian dia menggeleng


"Mereka tidak bohong, yang bohong itu adalah kamu" ucap Tomi yang kembali menoleh ke arahku


Aku langsung menelan ludahku mendengar jawaban telak Tomi.


"Mengapa kamu tidak pernah berkata Din jika kamu sangat sakit?"


Aku langsung menoleh cepat kearah Tomi dan membentaknya


"Hentikan mobilnya!!!!"


Tomi yang kaget dengan bentakanku langsung menoleh ke arahku dan memandang ke arahku yang menatapnya dengan tajam


"Berhenti aku bilang!!" teriakku


Tomi mengangguk dengan cepat, tampak jelas jika dia panik, lalu dia menepikan mobilnya. Begitu mobil berhenti aku langsung menarik bahunya agar menghadap ke arahku


"Kamu tanya mengapa aku tidak pernah bilang jika aku sangat sakit akibat kamu tinggalkan, iya???!" teriakku


"Kamu mikir Tomi, aku sangat mencintai kamu, dan kita sudah bertunangan bahkan tinggal hitungan hari saja akan menikah, tiba-tiba ada perempuan datang padaku, memintaku untuk mengikhlaskan kamu untuknya, karena dia mengandung anak kamu, kamu tanya bagaimana perasaan aku??!, tega kamu!!!" lanjut ku sambil mendorong dadanya


Setelah itu aku menutup wajahku lalu terisak


Bayangan kesakitan sepuluh tahun yang lalu serasa berlompatan masuk merasuki hatiku kembali


Dan Tomi yang melihatku terisak segera merengkuhku kedalam dekapannya


"Maafkan aku Dinda yang tidak pernah memahami kesakitan mu" bisik Tomi


"Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu Din, sangat mencintaimu"


Aku tak menjawab omongannya, melainkan hanya menenggelamkan wajahku di dada Tomi dan mendekapnya dengan erat


"Izinkan aku mengobati luka hatimu akibat kelakuanku Din, izinkan aku menebus kesalahanku...." lirih Tomi lagi

__ADS_1


__ADS_2