
Aku segera masuk kedalam kamar dan mengurung diriku di sana
*Naya, kunci pintu kamar nak, jangan biarkan ayah kalian masuk ke kamar kalian
Iya buk*
Lalu aku menutup wajahku dengan kalut sambil terisak
Baju yang melekat di tubuhku masih baju dinas, belum aku ganti. Dan diluar pun sudah tampak gelap, dengan pasti telah terdengar suara Adzan berkumandang
Dengan menghapus kasar wajahku yang basah, aku bangkit dan masuk ke kamar mandi
Cukup lama aku di dalam sana dan telah keluar dengan tubuh yang lebih segar, lalu aku melaksanakan kewajibanku dan doaku hanya satu
"HasbunAllahu Wa Ni'mal Wakiil"
Aku serahkan semua urusanku pada Sang Penguasa Alam Semesta ini, biarlah Dia yang bekerja, karena aku sudah tak sanggup lagi
Setelah itu aku turun dan mendapati Adi masih duduk di tempatnya tadi. Aku tak memperdulikannya, aku segera masuk ke dapur dan menghangatkan sayur
Selesai dengan itu aku segera menghidangkannya dan kembali keluar dari dapur, berjalan kearah kamar kedua anakku
"Makan malamnya sudah siap sayang" ucapku ketika mengetuk pintu kamar mereka
Tak lama kedua anakku keluar dari kamar mereka dan kami berjalan melewati Adi tanpa bersuara
Ketika kedua anakku telah mulai makan, aku kembali lagi keruang depan, memanggil Adi
"Makanannya sudah siap, makanlah bareng anak-anak"
Adi menoleh padaku, tatapannya seakan tak percaya dan aku kembali lagi kebelakang tak mau terus melihat matanya
Ketika aku duduk, rupanya Adi muncul dan ikut duduk pula. Kedua anakku masih saja diam dan terus saja makan, sedangkan aku segera memberinya piring
Kulihat kembali Adi tertegun ketika aku memberinya piring. Dengan menarik nafas panjang, aku mengambil kembali piring yang masih dipegangnya
Lalu aku mulai mengisi piringnya dengan nasi dan lauk, baru setelah itu aku memberikannya pada Adi
Setelah itu barulah aku duduk kembali dan mulai makan dalam diam
Naya menolak piringnya karena sudah selesai, dengan cepat diminumnya air di gelas yang ada di hadapannya lalu menoleh kearah Arik
"Kakak duluan ya?"
Arik menggeleng, dan ikutan mendorong piringnya yang masih berisi nasi
"Nggak habis buk"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Keduanya lalu berdiri dari kursi mereka dan meninggalkan meja makan
Tinggallah aku dan Adi yang masih terus makan, dan aku kembali diam tak bersuara
Adi terus mencuri-curi pandang padaku, dan aku pura-pura tak melihatnya
"Buk, minum..."
__ADS_1
Aku tanpa suara mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih dan meletakkannya di depan Adi
Kembali aku makan dan tak menoleh sedikitpun pada Adi
"Mungkin ini adalah malam terakhir kita makan malam bersama" lirihnya
Aku masih diam saja dan seakan tak mendengar ucapannya dan makin mempercepat makanku agar aku bisa pergi dari hadapannya
Setelah isi piringku habis aku segera menenggak air di gelas hingga tandas dan segera membawa bekas piringku dan kedua anakku ke wastafel
Adi hanya melihatku tanpa ekspresi dan aku segera meninggalkannya sendiri
Aku langsung masuk ke kamar Naya yang sedang bercanda dengan Arik. Melihatku masuk keduanya langsung berebutan duduk di pangkuanku
Jadilah kami bercanda dan aku sesekali tertawa mendengar celotehan kedua anakku
Dan Adi yang kembali duduk di ruang tamu hanya memandang kearah kamar Naya dimana didengarnya tawa renyah Dinda dan kedua anaknya
Adi hanya bisa menarik nafas dalam dan merebahkan kepalanya ke sandaran kursi
Hpnya yang berdering tanda panggilan masuk dari Yesa tak digubrisnya, bahkan pesan yang masuk dari istri keduanya itupun tak dibukanya sama sekali
Asap rokok memenuhi ruangan dari rokok yang disulut Adi. Dia akan banyak sekali merokok ketika dia stress, dan itu sampai sekarang masih dilakukannya
Dan aku hanya menggelengkan kepalaku ketika melihatnya.
"Buk, kita harus bicara"
Aku yang berjalan di belakang kursi segera menoleh padanya
"Tentang hubungan kita"
Aku tersenyum getir sambil menggelengkan kepalaku
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi mas, kita tunggu saja sidang perceraian kita, setelah itu kita berdua bebas jalan masing-masing"
"Tolong buk...."
Aku membuang nafas panjang melihat wajah memelas nya lalu dengan mendecak aku duduk
"Maafkan aku buk..."
Aku bergeming mendengar ucapan maaf Adi, aku dengar suaranya bergetar saat dia mengucapkan kalimat itu
"Maafkan aku, aku khilaf buk..."
Aku masih tak menatap kearahnya, aku malah menatap kearah lain. Aku takut aku jadi kasihan mendengar penyesalannya
"Aku tidak menyangka jika akan berakibat seperti ini, jujur aku khilaf buk"
"Khilaf tidak mungkin dengan menikah di belakangku mas, tidak mungkin berencana menipuku, tidak mungkin menguras keuangan kita, tidak mungkin dengan membuatkan rumah dan membeli mobil untuk simpananmu"
"Ini semua sudah kamu rencanakan, aku saja yang bodoh tidak menyadarinya"
Kulihat Adi mengusap kasar wajahnya
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa kita perbaiki dalam hubungan kita, semuanya telah kandas"
"Aku juga makin hari semakin sadar jika memang hubungan kita adalah hubungan toxic, bukan hubungan yang sehat"
"Benar seperti yang pernah kamu bilang mas, hubungan kita memang sudah tidak sehat, hubungan kita hanya menyakiti diri kita masing-masing"
"Jadi memang lebih baik hubungan ini kita akhiri, agar mas bisa hidup tenang dengan keluarga baru mas, dan aku tenang dengan anak-anak kita"
Air mata Adi mengalir mendengar ucapan tenangku, tapi aku hanya tersenyum getir melihatnya menangis
"Aku sudah belajar ikhlas menerima takdir Tuhan dengan memutuskan jodoh kita berdua, aku ikhlas menerimanya, aku yakin ini semua ada hikmahnya untuk kita berdua"
"Maafkan aku buk..."
Kembali aku tersenyum getir
"Memaafkan itu mudah, yang sulit itu melupakan, aku telah memaafkan mu, memaafkan segala salah dan khilaf mu yang telah menyelingkuhi ku, melakukan kdrt padaku, tapi yang sulit itu adalah melupakan semua yang kau lakukan padaku"
Aku menarik nafas panjang
"Aku menyesal buk...."
"Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, gelas yang pecah tak kan bisa disatukan lagi, begitu juga dengan hubungan kita"
"Aku juga meminta maaf jika selama menjadi istrimu aku banyak salah, aku tidak menghargai mu, sering membangkang, tidak pernah menyenangkan hatimu, aku minta maaf"
Kulihat Adi semakin menangis dengan sesenggukan, tak urung aku juga ikut menangis melihatnya
"Aku tidak apa-apa kok mas, aku menyadari kekuranganku, jika aku sempurna tidak mungkin kamu berpaling dariku"
Adi menggeleng dan berpindah duduk di sebelahku. Dengan cepat dia memelukku dan kian menangis dalam
Aku juga menangis sesenggukan. Jujur aku merasakan sedih di hatiku, walau bagaimanapun lebih dua belas tahun kami bersama, kami selalu bersama dalam suka duka, memulai semuanya dari nol, membangun bersama dan sukses bersama, hingga akhirnya hancur pun bersama
"Sudahlah mas, tidak ada yang perlu kita tangisi, semuanya adalah yang terbaik untuk kita semua"
Tolak ku mendorong dadanya yang masih saja erat mendekap ku
"Tolong buk, biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya"
Aku menarik nafas panjang dan bergeming dengan air mata yang terus mengalir deras
"Yakinlah mas, semuanya akan baik-baik saja" lirihku sendu
"Tapi aku tak bisa pisah dari kamu buk..."
Aku kembali tersenyum getir dengan mengusap lengannya yang memelukku dari samping
"Bisa, bisa kok. Toh buktinya sudah berapa bulan kamu di rumah istri muda mu? cukup lamakan?"
Adi menggeleng kuat dan masih menangis
"Sudahlah mas, jika memang jodoh kita masih ada, dengan cara apapun Tuhan pasti akan menyatukan kita kembali, tapi jika memang jodoh kita telah habis, In Syaa Alloh ini adalah yang terbaik untuk kita"
Setelah itu aku kembali mendorong kuat dada Adi lalu aku berdiri dan segera naik ke kamar ku dan tak menoleh lagi kebelakang
__ADS_1