
Hakim ketua yang semula sudah berdiri kini duduk kembali, semuanya kembali duduk dan kami menjadi tontonan orang satu ruangan
“Maafkan aku Tom. Aku harus melakukan ini. Aku tahu kamu tidak terima, tapi aku harap seiring waktu kamu akan mengerti mengapa aku mengambil keputusan sulit ini” lirihku
“Tapi tidak dengan bercerai Dinda. Kamu tahu aku sangat mencintai kamu…..”
“Pak Marsudi tolong tarik Tomi” ucapku lagi sambil sesenggukan
Dengan kuat pak Marsudi menarik pundak Tomi hingga pelukannya padaku terlepas. Begitu dekapan Tomi lepas, aku segera berlari kencang meninggalkan ruang sidang dengan air mata yang berhamburan deras keluar dari mataku
“Dinda tunggu!!!!” Tomi ikut berlari pula mengejar ku
Hakim ketua menoleh kearah hakim anggota di sampingnya yang juga berwajah sama bingungnya. Lalu mereka mengangkat bahu
Nanda dan Yesa yang melihat Dinda berlari, segera berdiri dari tempat mereka dan ikut berlari keluar ruangan juga. Terlihat di luar Tomi berlari kencang mengejar Dinda yang saat ini juga tampak berlari cepat
Tomi terus berteriak memanggil namaku, dan aku tidak mempedulikan bagaimana dia terus meneriakkan namaku, yang aku pikirkan sekarang adalah aku harus berlari dari tempat ini dan aku harus menghindari Tomi
“Ojek!!!” teriakku ketika aku sampai di bawah
Sebuah motor segera masuk ke area gedung pengadilan dan aku segera naik ke boncengan
“Cepat pak!!!” teriakku yang membuat supir ojek tersebut segera melajukan motornya meninggalkan Tomi yang berlari di belakang kami
Nanda dan Yesa nyaris kehabisan nafas ketika mereka tiba di halaman kantor pengadilan. Keduanya sampai terbungkuk-bungkuk dan batuk-batuk. Yesa sampai terduduk di halaman dengan mengurut-urut dadanya
Di tangga tampak ketiga adik Tomi setengah berlari ketika mereka menuruni tangga. Begitu sampai di dekat Tomi ketiganya kembali mendekap erat sang kakak sehingga membuat Tomi kembali menangis sesenggukan
“Dinda benar-benar pergi dek. Dia benar-benar pergi…..” isak Tomi dalam dekapan adiknya
Ketiga adik Tomi hanya mampu mengusap kepala kakak mereka yang terduduk di halaman pengadilan, menangis seperti anak kecil
“Masuk kedalam mobil Yes, kita kejar Dinda!” ucap Nanda yang membuat Yesa bangkit dan segera masuk kedalam mobil bersama Nanda
“Kamu tahu kira-kira Dinda kemana?”
Yesa menggeleng. Nanda menarik nafas panjang mendapati jawaban Yesa. Dan meminta pada Yesa untuk menelepon Dinda
“Nggak diangkat Nda”
Kembali Nanda menarik nafas panjang dan terus menjalankan mobilnya dengan terus menoleh kanan kiri berharap jika akan berpapasan atau melihat Dinda di pinggir jalan
Di samping dia melihat mobil Mila, dia sanga faham jika mobil di sebelahnya adalah mobil Mila. Tampak kaca bagian kiri terbuka dan muncul wajah Rohaya
“Kita ketempat biasa Dinda kalau dia lagi sedih!!!” teriak Rohaya yang membuat Nanda menganggukkan kepalanya dan mengikuti mobil Mila dari belakang
Yesa hanya diam melihat Nanda menambah kecepatan mobil, dan dia kembali mengulangi menelepon Dinda. Dan aku yang sekarang berada di tepi sebuah danau hanya mampu menangis sesenggukan sendiri. Semilir angin siang menggerakkan anak rambutku yang berjuntai berantakan akibat aku menangis sejak tadi
“Dinda!!!!” teriak banyak suara yang membuatku membuang muka dan langsung membelakangi mereka semua
“Biar aku dan Yesa yang dekati Dinda” ucap Nanda ketika keempat sahabatnya yang lain siap bergerak maju
“Din…..” panggil Nanda pelan
Aku menoleh dengan wajah basah dan aku langsung mengulurkan tanganku sehingga membuat Nanda langsung memelukku. Di dalam pelukan Nanda aku kembali menangis kencang
“Apa, apa yang belum aku rasakan Nda? Sakit yang bagaimana yang belum aku rasakan, hah?. Tentang keluarga? Tentang persahabatan? Pengkhianatan, kekecewaan. Semua sudah aku rasakan. Kurang apalagi Nda??! isak Ku
__ADS_1
Nanda mengusap punggungku, sedangkan Yesa mengusap kasar wajahnya karena dia juga sudah menangis begitu Nanda mendekap ku
“Mental aku sudah dihajar habis-habisan. Semua sudah aku rasakan. Dikhianati suami, dikhianati sahabat, dijahatin mertua. Dan sekarang masih juga ditambah dengan Tomi yang memporak porandakan hati aku. aku capek Nda, aku capek…..!!”
“Iya aku tahu kamu capek Din. Karena itu kamu harus ikhlas, ya?”
Aku diam dan menenggelamkan wajahku di dada Nanda. Menangis kencang sejadi-jadinya
“Kamu nggak sendirian Din. Kami ada untuk kamu…..” lirih Putri
“Pergi kalian!!!. Aku nggak butuh kalian berempat. Kalian bukan sahabat aku lagi!!!” teriakku
Kemudian aku kembali menangis kencang yang membuat Nanda terus mengusap-usap kepalaku
**
Dua tahun berikutnya
Aku menggandeng tangan Yusuf dengan sayang begitu aku berjalan ke barisan bis yang akan mengantarkan Arik study tour hari ini. Arik yang sudah kelas lima SD hari ini akan berangkat ke Yogyakarta bersama rombongan sekolahnya karena mereka akan study tour sekalian liburan
“Hati-hati di jalan ya nak…..” ucap mas Adi sambil memeluk Arik ketika anak kedua kami tersebut akan naik kedalam salah satu bis yang akan membawanya
Arik mengangguk, segera dipeluknya ayahnya, kemudian bergantian memelukku dan mencium sayang pipi Yusuf
Aku dan mas Adi melambaikan tangan kearah Arik yang berjalan pasti menuju bis dimana bukan hanya kami saja yang mengantarkan anak kami kesini, tapi banyak orang tua wali muris yang juga mengantarkan anak-anak mereka
“Yusuf kalau sudah besar nanti jalan-jalan juga kaya kakak” ucap mas Adi sambil mengusap kepala Yusuf
Yusuf mendongakkan kepalanya kemudian mengangguk kearah mas Adi yang terus tersenyum sambil mengusap kepalanya
“Ayah…. Ibuk…!!!” teriak suara dari belakang yang sangat aku kenal
“Arik mana?” tanya nya begitu sampai di depan kami
Aku dan mas Adi kompak menunjuk sebuah bis yang sudah hampir tertutup pintunya. Naya kembali berlari kencang kearah bis tersebut dan melompat-lompat sambil melambaikan tangannya sehingga pintu bis kembali terbuka
Aku dan mas Adi saling toleh ketika melihat Naya naik kedalam bis tersebut
“Aku tadi membelikan cemilan buat Arik di jalan” ucap Yesa yang seperti faham dengan kekagetan kami
“Oh, kirain Naya mau ikut study tour juga” jawabku sambil terkekeh
Kemudian tampak Naya turun dari dalam bis tersebut, dan kembali dia melambaikan kedua tangannya di depan supir bis yang membuat supir bis tersebut mengangkat dua jempolnya kearah Naya. Kemudian Naya berlari kecil kearah kami
Begitu sampai dekat kami Naya langsung mengangkat tubuh Yusuf dan menciumi wajahnya dengan gemas
“Jadikan nak yang kamu bilang tadi?” tanya Yesa yang membuat Naya menurunkan Yusuf dan langsung menoleh ke arahku
“Ada apa?” tanyaku penasaran dengan langsung menoleh kearah Yesa dan Naya bergantian
“Boleh ya buk aku liburan seminggu di rumah mama?”
Aku langsung menoleh kembali kearah Yesa yang tersenyum penuh makna padaku. Kemudian aku menatap kearah mas Adi
“Ya buk? Please……!” sambung Naya lagi sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada ke arahku
“Nanti kamu merepotkan mama. Kasihan mama lagi hamil”jawabku
__ADS_1
Yesa tertawa
“Sekali-sekali sih Din, Naya ke rumah kami. Kan dia juga lagi libur sekolah” jawab Yesa yang membuat aku menarik nafas panjang
“Dia ini pemalas Yes, bukannya bantuin kamu di rumah dia nanti malah akan membuat kamu makin repot” tolak ku
Wajah Naya langsung manyun begitu aku bilang perangai buruknya pada Yesa
“Kan ada ayahnya, apa gunanya Mas Adi jika mas Adi tidak bisa bantu aku di rumah” jawab Yesa yang mampu membuatku tertawa
“Ya sudah, boleh kalau begitu. Kamu nggak keberatan kan mas jika Naya ikut ke rumah kalian?” tanyaku pada mas Adi yang sejak tadi berjongkok di depan Yusuf dan Karen
“Tentu nggak lah. Aku malah senang akhirnya anak kesayanganku mau ke rumah orang tuanya” jawab mas Adi sambil merangkul Naya
“Ya sudah kalau gitu kita langsung berangkat” ucap Yesa sambil mengelus perutnya yang buncit
Aku tidak sempat menjawab karena iring-iringan bis yang membawa siswa study tour mulai berjalan dan membunyikan klakson mereka yang membuat Karen dan Yusuf berjoget. Tak terkecuali Naya, dia juga ikut joget-joget mengikuti irama nada klakson bis yang bersahut-sahutan
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat kelakuannya, sedangkan Yesa malah mengambil hp nya dan mengabadikan momen ketiga anak kami yang sibuk berjoget sambil tertawa cekikan
“Ayo kita pulang ambil baju kamu” ucapku setelah mobil bis menjauh
Naya menggeleng sambil nyengir ke arahku
“Bajunya sudah ada dalam mobil, sudah aku siapkan semalam. Aku diam-diam memasukkannya ke dalam mobil agar ibuk nggak bisa nolak permintaan aku” ucapnya yang mampu membuatku mencubit pipinya dengan gemas
Naya berlari ke belakang Yesa, dengan berpegangan dengan pundak Yesa, Naya terus berusaha menghindari tanganku yang terus akan mencubitnya. Tawa berderai keluar dari mulut kami semua, sampai mas Adi mengangkat tubuh Yusuf menghindarinya agar tidak tertabrak oleh kami yang berlari
“Sudah ah, kasihan mama” ucapku yang menyerah karena kasihan melihat tubuh Yesa yang bergerak tak karuan akibat dijadikan tameng oleh Naya
Aku kemudian mendekap Yesa dan menitipkan Naya padanya. Berpesan padanya jika Naya membuatnya kesal dia jangan segan-segan untuk memarahi Naya karena Naya juga anaknya bukan anakku sendiri. Yesa menganggukkan kepalanya yang membuat wajah Naya kembali manyun
“Tenang saja sayang, tidak ada yang berani memarahi kamu selagi ada ayah” bela mas Adi yang membuat aku dan Yesa saling toleh kemudian sama-sama mencibir
Setelah mobil yang dikendarai mas Adi berjalan, aku dan Yusuf masuk juga kedalam mobil kami. Yusuf duduk di sebelahku dengan begitu banyak cemilan di dekatnya. Cemilan yang dibelikan oleh Yesa tadi
Sekarang aku sudah benar-benar berdamai dengan hatiku, aku benar-benar mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupku selama ini. Aku yakin ini semua sudah ditakdirkan Alloh untukku, suka atau tidak suka aku harus menerima ketetapan Sang Khalik. Karena aku yakin ini adalah yang terbaik untukku
Aku tidak mengetahui, jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengamati kami dari jauh. Sesekali senyum getir terukir di wajahnya ketika melihat kami tertawa bahagia. Bahkan ada kalanya air mata yang tak terasa mengalir di wajahnya, terlebih ketika melihat Yusuf
“Kita pulang buk?” tanya Yusuf tak jelas karena mulutnya penuh
Aku menggeleng
“Kita ketemuan sama aunty-aunty cantik. Mereka sudah sejak tadi menunggu kita” jawabku sambil terus melajukan mobil menuju ecoresto dimana keenam sahabatku sudah tadi menunggu kedatanganku
Dan ketika tiba di ecoresto, kembali Yusuf akan menjadi idola para sahabatku karena memang dia yang paling kecil disini. Dan lagi-lagi aku tidak menyadari jika kembali ada sepasang mata yang terus mengikuti kemanapun aku bergerak
“Kamu makin cantik dengan hijab yang sekarang menutupi kepala kamu Din” puji Mila sambil merangkulku
Aku tersenyum kearah mereka semua. Keenam sahabat yang baru hari ini kami bisa berkumpul kembali setelah dua tahun kami tidak ada komunikasi selain antara aku dengan Nanda dan Lisa
“Kan aku memang cantik dari dulu…..” selorohku yang membuat kami kembali saling rangkul
Tomi, yang duduk agak jauh dari tempat Dinda dan teman-temannya kembali hanya bisa tersenyum getir ketika dilihatnya mantan istrinya itu tertawa lepas
“Kamu memang berhak bahagia Din. Aku senang karena akhirnya kamu bisa tertawa seperti dulu lagi” lirihnya sambil mengusap kasar wajahnya
__ADS_1
Kemudian Tomi turun dari pondok tempatnya makan, berjalan keluar dari eco resto dengan hati hampa
...TAMAT...