Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Rencana Ku


__ADS_3

"Ohh sekarang kamu hitung-hitungan ya..." ucap Adi menahan kesal


Aku segera meninggalkannya naik ke kamar atas dan segera masuk ke kamar mandi


Pintu kamar ku kunci, jadi teriakan Adi yang memanggilku tak ku hiraukan.


Aku berganti baju dinas dan segera memakai make up. Make up flow less kesukaanku


Setelah selesai aku segera membuka pintu dan mendapati Adi yang berdiri tepat di depan kamar


"Kamu mau kemana?"


Aku menatap heran padanya


"Sorry ya, aku abdi negara, nggak bisa seenak aku libur" jawabku sambil mendorong dadanya dengan jari telunjukku


"Buk, tolonglah. Urusan kita belum selesai" kejarnya


Aku tak menghiraukannya, aku terus berjalan menuruni tangga


"Buk?!"


"Apalagi?, maaf Adi aku malas ribut lagi sama kamu. Apapun alasan kamu aku tidak bisa terima"


Kemudian aku mengeluarkan handphone menelpon orang toko dan gudang


"Jam istirahat nanti saya akan ke toko, tolong semuanya berkumpul jika saya datang!"


"Baik bu!"


Aku lalu menatap Adi


"Bilang sama mas Toro dan kawan-kawannya tak ada kata maaf untuk mereka. Karena aku benci orang pembohong!"


Adi diam dan menarik nafas panjang


Aku segera menekan remote mobil yang menimbulkan suara pada mobil tersebut


"Tumben bawa mobil buk"


"Terserah aku dong, mobil-mobil aku"


Adi kembali harus menelan pil pahit kenyataan dari mulut Dinda yang tak pernah berkata kasar padanya selama ini


Dengan santai aku memakai sepatu dan keluar dari dalam rumah. Di luar aku masih melihat mas Toro dan kedua temannya, yang begitu melihatku langsung berdiri dan seperti bersiap membuka mulut


"Saya mohon mas, tolong beri saya waktu"


Mas Toro dan kedua temannya hanya bisa menarik nafas dalam dan menatap kosong pada Dinda yang mulai memundurkan mobilnya ke halaman dan segera melajukan mobil meninggalkan rumah


"Semua gara-gara pak Adi" gerutu mereka


...----------------...


Aku segera memarkirkan mobil di sebelah mobil pak Burlian yang telah lebih dulu datang,


"Tumben" gumamku sambil segera turun dari mobil dan masuk kekantor


Suasana masih sepi, karena baru pukul 07.35, dan biasanya kantor akan ramai lima menit sebelum apel pagi


Aku segera masuk kedalam ruanganku, meletakkan tas dan menarik nafas panjang


Mataku langsung menerawang pada kejadian minggu tadi. Aku langsung menutup wajahku sambil kembali menghembus nafas panjang


"Ya Tuhan sakitnya menerima kenyataan ini" bisik hatiku


Handphoneku berdering


Pak Burlian


Dengan cepat aku mengangkat telpon beliau


"Keruangan saya sebentar Din"


"Baik pak"


Aku langsung berdiri dari kursi dan segera berjalan keruangan beliau. Setelah mengetuk pintu, aku lalu masuk


"Tomi?" gumamku tercekat ketika aku melihat ada Tomi di ruangan pak Burlian


Tomi tersenyum ke arahku yang ku balas dengan anggukan kepala


"Ya pak?"


"Silahkan duduk"


Aku duduk sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa ada Tomi disini


"Nanti tolong kamu bilang ke teman-teman, selesai apel kita rapat singkat di ruangan"

__ADS_1


"Baik pak"


Pak Burlian menatap sekilas kearah Tomi yang terus menatap kearah Dinda


"Kok kalian tidak tegur sapa?"


Aku tersenyum kaku


"Sudah tadi pak" jawabku


"Kapan?"


"Tadi waktu masuk"


"Sapa lewat hati?"


Brusssss wajahku terasa panas, sedangkan Tomi terdengar terkekeh


"Jika sudah selesai, boleh saya keluar pak?"


Pak Burlian mengulum senyum, dia tahu jika Dinda merasa tak nyaman


"Silahkan, terima kasih ya Din"


Aku kembali mengangguk dan segera keluar dari ruangan pak Burlian


Selesai dari ruangan pimpinan, aku segera bergabung dengan temanku yang mulai berdatangan


"Ada pesan dari bos, setelah apel kita rapat" ucapku ketika kami berjalan kearah lapangan


Saat apel, aku tidak melihat Tomi. Mungkin dia masih di ruangan pak Burlian, pikirku


Selesai apel kami masuk keruangan rapat, dan kali ini kembali aku kaget karena ternyata Tomi telah duduk di dalam


Dapat kulihat jika sebagian pegawai tampak saling berbisik begitu melihat Tomi


Terlebih ketika pak Burlian mengajaknya duduk di sebelahnya.


Rapat langsung dimulai ketika seluruh pegawai telah duduk.


Diakhir rapat secara langsung pak Burlian memperkenalkan Tomi Mahendra sebagai kepala tender yang akan bertugas mengawasi dan mengkoordinasi perbaikan jalan di beberapa desa yang ada di kecamatan kami


"Nanti, apabila pak Tomi kurang jelas bisa bertanya dengan pegawai di bagian pelayanan umum dan sarana prasarana" lanjut pak Burlian


Aku hanya memperhatikan Tomi tanpa banyak bereaksi.


Selesai rapat, karyawan laki-laki menyalami Tomi ada juga karyawan wanita yang ikut menyalaminya


"Pelayanan umum kan bagian kita Din" celetuk pak Kusno


"Iya pak" jawabku singkat


"Nanti jika pak Tomi minta berkas atau apapun itu, semua ada kan?"


"In Syaa Alloh ada pak" jawab kami


Pak Kusno memang pegawai senior, dan dia memang kepala di pelayanan umum


Selesai berembuk sebentar, kami langsung sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.


Handphoneku yang sejak tadi berdering aku abaikan, karena itu adalah panggilan dari Adi


Karena merasa terganggu dengan Adi yang terus menelpon, aku men silent mode hpku lalu memasukkannya kedalam tas


Adi yang berada di rumah tampak menahan marah karena panggilannya diabaikan oleh Dinda


Hingga jam istirahat tiba, dengan cepat aku keluar dari ruanganku


Tomi yang melihat Dinda keluar dari kantor dan pergi ke parkiran hanya menatap dengan khawatir


...----------------...


Melihatku datang, seluruh karyawan yang memang telah aku beritahu untuk berkumpul segera duduk rapih


"Tutup rolling!" ucapku pada pegawai cowok yang segera berlari kearah rolling dan menutup toko


"Nggak ada yang ketinggalan, kan?"


"Nggak buk!" jawab mereka kompak


Aku mengedarkan pandanganku pada seluruh karyawan yang duduk di lantai


"Waktu ibu nggak banyak, ibu cuma mau menyampaikan, jika mulai hari ini pak Adi tidak ada urusan lagi dengan dua toko milik ibu"


Seluruh karyawan yang berjumlah lima belas orang tersebut langsung saling toleh dan kembali menatap kearah Dinda


"Jadi, jika kalian ada "main" sama pak Adi, dan ketahuan sama ibu, ibu nggak bakal segan-segan memecat kalian!"


Semuanya langsung terdiam, dan suasana berubah hening

__ADS_1


"Jika pak Adi meminta uang atau barang, jangan kalian kasih. Jika tanpa sepengetahuan ibu kalian coba-coba memihak beliau, ibu pastikan kalian yang akan ganti rugi!"


"Kalian faham?!"


"Faham bu..."


"Oke, ada pertanyaan?"


"Jika beliau maksa bu?" tanya Siska


"Telpon ibu"


Siska dan Reni selaku kasir segera mengangguk


"Urusan sales sejak kasus kemarin sudah ibu tangani, dan ibu sangat mengharapkan kerja sama kalian semua, bisa??!"


"Bisa bu...."


"Terima kasih, ya. Ya sudah, silahkan yang dari toko kedua kembali lagi ke toko, kerja yang ikhlas dan layani pembeli bak raja, jika ada masalah atau kendala segera hubungi ibu"


"Baik bu"


Lalu tujuh karyawan di toko kedua berdiri dan menyalamiku lalu mereka segera kembali ke toko kedua tempat mereka kerja


"Dan kalian, ayo makan dulu semuanya. Setelah makan, baru tokonya dibuka lagi" ucapku


Segera seluruh karyawan memakan bekal mereka masing-masing. Sedangkan aku langsung mengecek keuangan


"Sekarang kamu tidak bisa bermain lagi Adi. Seluruh uang aku yang pegang sekarang"


Lalu aku segera menelpon Lisa


"Ya jeng?" sapa Lisa begitu telepon tersambung


"Kamu lagi istirahat juga kan?"


"He eh, kenapa?"


"Bisa kita ketemuan sebentar?"


"Wah mepet banget ini waktunya say"


"Iya sih, jam satu aku juga masuk kantor lagi" jawabku galau


"Ya udah, ada yang bisa aku bantu?


"Kamu kan pegawai bank tuh, bisa nggak aku minta tolong kamu blokir atm suami aku"


"Ohhhh kalau itu dengan senang hati say" jawab Lisa sambil terkekeh


"Syaratnya apa nih?"


"Kamu tinggal kirim aja nomor rekening ke aku, nanti aku langsung blokir atm dia"


"Uhhh makasih ya say..." jawabku senang


"He eh, buruan kirim, biar nanti langsung aku blokir"


"Iya nanti, buku tabungannya dalam tas, tas aku di kantor, aku sekarang lagi di toko"


"Ngapain kamu di toko?"


"Ya memutus akses Adi lah, biar dia nggak macem-macem lagi"


Kembali terdengar Lisa terkekeh


"Bagus say, jika dia sudah bokek mau apa dia?, melangkah aja kayanya nggak bakal sanggup"


Aku ikut terkekeh mendengar jawaban Lisa


"Ya sudah aku mau balik ke kantor, nanti begitu sampai kantor, kamu aku kabari ya..."


"Okey, ditunggu ya say..."


Aku lalu kembali menemui karyawanku


"Mulai besok, jam 12.00 tutup tokonya, yang mau shalat, silahkan shalat, yang mau makan silahkan makan, yang mau tidur juga boleh. Tapi begitu jam 13.00 tepat, toko harus kembali di buka, okey?"


Semua karyawan yang sedang makan menghentikan kunyahan mereka dan menatapku tak berkedip


"Hei, ada apa? ada yang salah sama ucapan ibu?" tanyaku heran karena mereka menatap ku semua


"Tapikan biasanya nggak seperti itu bu?" ucap Reni


"Itu kemarin, karena bos kalian pak Adi. Tapi sekarang yang pegang ibu, jadi kalian harus nurut aturan ibu!"


"Yeeaaayy..." teriak mereka


Mereka bertujuh langsung toss dan langsung tertawa bahagia

__ADS_1


Aku ikut tersenyum bahagia melihat tawa mereka


"Ah, semudah inikah membuat orang bahagia?" gumamku sambil tersenyum kecut karena sejujurnya hatiku masih sedih dan sakit


__ADS_2