
Aku lalu mengirim lokasi ku terkini pada Mas Julistiar, dan Adi kian mengamuk karena itu
"Kamu semakin hari semakin tak terkendali Adi, bisa-bisa nanti aku benar-benar mati di tanganmu"
Adi menatap tajam ke arahku
"Lepaskan aku, aku akan hajar wanita kurang ajar itu!!"
Aku diam dan memilih menarik nafas panjang melihatnya yang semakin tak kukenal
"Pengaruh apa yang telah istrimu berikan Adi sampai kamu berubah liar seperti ini?"
Adi hanya mendengus mendengar ucapanku
"Tak perlu kau tahu apa yang telah di berikan istriku padaku, yang pasti dia jauh lebih dari kamu"
Aku tersenyum sedih mendengar jawabannya
"Baiklah jika memang dia yang terbaik menurutmu, saat nanti mas Julistiar datang dan menangkap mu, aku akan segera mengurus perceraian kita"
Mata Adi kian berkilat marah
"Kau tak bisa menceraikan ku, karena semua kartumu ada padaku"
Aku tersenyum sinis menatapnya
"Kartu apa, hem?, aku tidak mempunyai cacat cela saat menjadi istrimu, kau tahu sendiri itu. Justru kau yang banyak menuntut"
Dari jauh kulihat jika mas Julistiar sudah datang, dan kulihat dia bersama dengan dua temannya
Melihat Julistiar datang, Tomi yang sejak tadi menahan emosinya menjadi sedikit tenang
Keduanya bersalaman, lalu Julistiar mengatakan jika Dinda yang memintanya datang
Tomi mengangguk dan mempersilahkan Julistiar turun kearah kolam
Adi kian kalap saat Julistiar berjalan mendekat, sumpah serapah sudah tak karuan dia lontarkan untuk Dinda
Julistiar yang mendekat memandang tajam kearahnya
"Adi, hanya lelaki pengecut yang menghina-hina istrinya, kau lupa jika dulu kau sangat mencintai Dinda. Come on bro, jangan bodoh, kamu akan masuk penjara jika memang kasus ini benar-benar dilaporkan oleh Dinda"
"Aku tak perduli, terserah aku mau masuk penjara atau tidak yang penting aku ingin hartaku yang dikuasai perempuan ini!"
"Harta apa Adi yang aku kuasai?, aku hanya menyelamatkan harta kita. Jika kamu yang mengelolanya, kamu lihat sendiri, berapa banyak hutang kita?"
Lagi-lagi Adi mendengus
"Lepaskan dia pak, biar saya dan dua teman saya yang akan mengurusnya"
Perlahan tiga orang pekerja kolam melepaskan cengkeraman mereka pada Adi dan Adi mulai agak tenang setelah dibawa ke pondok kolam oleh Julistiar
"Mas-mas dan bapak semua silahkan teruskan kerjanya, saya tidak ingin nanti pembeli kita sampai, tapi ikan belum siap"
Seluruh pekerja menuruti perkataanku, dan mereka kembali ke rutinitasnya
"Dinda, kamu sedang bekerja kan?, kembalilah kekantor, biar Adi mas yang tangani"
Aku menatap kearah mas Julistiar dan dia menganggukkan kepalanya ke arahku
"Semuanya serahkan sama mas, kamu tenang-tenanglah bekerja, jika Adi masih saja mengancam keselamatanmu, mas tidak akan segan-segan akan menjebloskan dia ke penjara"
"Aku mau pulang ke rumah istri mudaku"
Aku menatap sinis kearah Adi yang barusan berbicara
"Silahkan, dan jangan pernah berniat kembali lagi kesini"
Adi mendengus. Lalu aku berlalu dari hadapan mereka berjalan menuju mobil dimana Tomi dan yang lain menungguku
"Kamu nggak apa-apa kan dek?"
__ADS_1
Aku hanya memasang senyum kaku pada Tomi yang tampak khawatir melihatku
"Din?"
Pak Kusno menepuk pundakku, dan mataku langsung berkaca-kaca melihat kearah beliau
"Kamu wanita kuat" sambung pak Kusno
Aku menyusut mataku dan hanya mengangguk pelan
"Kita pulang saja kekantor, tinjau lokasinya kapan-kapan saja" ucap pak Arsen yang juga menatap iba ke arahku
"Tidak, sekarang saja pak, semuanya telah ditangani oleh mas Julistiar"
"Kamu yakin?" tanya pak Arsen
Aku mengangguk
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, tapi jika nanti ditengah jalan suami kamu atau anak buahmu menelepon lagi beritahu kami" sambung pak Bagaskoro
Aku kembali mengangguk dan segera masuk kedalam mobil ketika pintunya telah dibukakan oleh Tomi
Sepanjang jalan menuju lokasi kami lebih banyak diam, hanya sesekali saja terdengar obrolan ringan di bagian belakang
Dan Tomi terus melirik kearah Dinda yang duduk di sebelahnya
"Aku tahu saat ini kamu sedang tidak baik-baik saja dek...." batinnya
Handphoneku berbunyi tanda pesan masuk
Mila: kata laki gue, lu diancam?
Aku menarik nafas dalam membaca pesan dari Mila
Mila: Lu nggak papakan bestie?, khawatir gue
*Me: Alhamdulillah aku baik-baik aja, sudah ada mas Julistiar yang menangani
Me: Thanks ya bestie*
Lalu aku kembali menatap ke depan dan tidak mempedulikan sekitarku lagi dan juga handphoneku yang terus berbunyi. Aku yakin Mila terus mengirimiku pesan
...----------------...
Kami kembali kekantor ketika hampir jam kantor usai. Pak Kusno dan dua kepala tender sengaja turun duluan dan langsung masuk kedalam kantor
Sedangkan aku yang masih melepaskan seat belt dan hendak turun segera dicekal Tomi
"Bilang sama kakak kalau suami kamu sering melakukan kdrt sama kamu!"
Aku membalas tajam tatapannya
"Bilang Dek!"
"Bilang apa?, suamiku dulu tidak seperti ini, baru-baru ini saja dia begini"
Tomi menggeleng tak percaya, segera aku menarik tanganku dan turun dari mobil meninggalkan Tomi yang masih tampak gusar
"Awas kamu Adi" geramnya
Aku segera masuk kedalam ruanganku dan langsung duduk di dekat bu Halimah dan Nadia
"Ikut ngerumpi juga ah" candaku yang dibalas mereka dengan senyum
"Ngerumpi apaan, kok aku datang langsung diem?, hemmm pasti ngomongin aku, iya kan...?"
Keduanya tertawa bahkan bu Halimah sampai memukul bahuku
"Ge er..."
Aku terpingkal dan pak Kusno yang melihat Dinda tertawa lepas tersenyum haru
__ADS_1
"Perempuan pintar" batinnya
"Eh, Din besok kan kita libur tuh, mau nggak kamu ikut kita jalan-jalan?"
Aku tampak berfikir sejenak lalu menggeleng karena besok aku banyak kegiatan, kembali meninjau kolam dan juga ke toko
"Sibuk terus sih Din, kapan kamu nyenengin diri sendiri?" protes Nadia
"Nantilah, untuk sekarang belum bisa. Aku masih banyak kerjaan"
Mereka berdua hanya mengangkat alis masing-masing
Hingga akhirnya jam kantor usai dan seluruh karyawan mulai pulang tak terkecuali aku
"Dek..!"
"Ya Tuhan...." gumamku kesal dan aku menghentikan langkahku dan memutar badanku kebelakang
"Kakak antar"
Aku mendecak kesal
"Nggak usah Tom, kamu akan makin memperkeruh keadaan"
"Tapi kakak mengkhawatirkan mu"
Aku berjalan meninggalkan Tomi tanpa menjawab ucapannya
Aku segera masuk kedalam mobil dan segera ngebut meninggalkan kantor
Tomi hanya bisa terpaku menatap mobil Dinda yang menjauh
"Sabar..." ucap sebuah suara
Tomi menoleh kearah pak Burlian yang menepuk bahunya
"Dia masih sama seperti Dinda yang dulu kak, keras kepala dan pendendam"
Pak Burlian tersenyum
"Usahamu harus lebih keras kalau begitu" sambungnya
"Akan ku tunjukkan kalau aku jauh lebih baik dari suaminya"
Pak Burlian terkekeh
"Tomi, tomi, kamu kaya nggak ada perempuan lagi, jangan sampai kamu disebut pebinor oleh orang-orang"
Tomi ikut tersenyum basi mendengar seloroh kakak sepupunya
Sementara aku yang pulang segera ngebut menuju rumah, tangis yang sejak tadi pagi aku tahan ingin sekali aku tumpahkan di rumah
Ketika memasuki rumah, kulihat pintu rumah terbuka, dan keluarlah kedua anakku sambil berlarian
Aku segera mengusap kasar wajahku yang sudah sejak tadi meneteskan air mata, keluar dari mobil dan memeluk mereka
"Ibuk naik dulu ya nak" pamit ku
Keduanya mengangguk dan terus berkejaran di halaman
Aku segera naik ke kamarku, dan kembali memutar badanku ketika kulihat ada Adi di atas kasur
Adi yang melihat jika istrinya masuk segera duduk, niatnya ingin menarik tangan Dinda dan berbicara serius harus gagal lagi karena Dinda kembali turun kebawah
Aku segera masuk kedalam kamar Arik dan menelungkup kan wajahku kedalam bantal
Menangis sejadi-jadinya. Suara ketukan dari Adi tak aku hiraukan, aku terus menangis sesenggukan
Yang aku tangisi adalah rasa maluku pada Tomi dan juga bapak-bapak yang lain
Usahaku untuk menutupi aib rumah tanggaku akhirnya diketahui mereka. Terlebih karena mereka mendengar sendiri bagaimana tadi Adi memaki dan mengatai-ngatai ku
__ADS_1
"Jahat kamu Adi..." isak ku tertahan