
Aku menelan ludahku demi melihat Yesa yang berdiri. Dia duduk di pojokan dengan seorang lelaki paruh baya. Dan sekarang dia berdiri, mendorong kursi yang didudukinya dan berjalan ke arahku dengan mengembangkan senyum di wajahnya
“Dinda….” Kembali dia mengulangi menyebut namaku sambil mengulurkan tangannya. Aku yang sedang menggendong Yusuf dengan tangan kananku, terpaksa aku pindahkan ke sebelah tangan kiriku. Aku membalas mengulurkan tanganku kearah Yesa, jadilah kami bersalaman
“Apa kabar Din?. Ini anak kamu?” tanya nya dengan nada ramah dan terus mengembangkan senyum ke arahku. Seakan dia berusaha akrab padaku
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum segaris padanya. Kemudian aku menjawab pertanyaannya dengan mengatakan jika aku baik-baik saja dan sehat
“Ya ampun ganteng banget. Gendut lagi” sambung Yesa sambil menoel pipi Yusuf
“Sama siapa Din?” tanya Yesa lagi sambil menoleh kearah belakang. Tepat disaat kulihat Naya berjalan kearah kami
“Sama keluarga” jawabku pelan dengan tersenyum kaku kearah Naya yang semakin dekat kearah kami
“Dia siapa buk?” tanya Naya ketika dia berdiri di dekat kami
Diluar dugaan ku, Yesa mengulurkan tangannya sambil senyum tak henti terukir dibibir merahnya. Naya bergeming, matanya yang tajam terus memperhatikan Yesa dari atas hingga bawah
“Aku sepertinya pernah melihat tante…” lirih Naya sambil kembali menatap wajah Yesa. Tangan Yesa yang sejak tadi terulur diabaikannya. Dan itu semakin membuatku deg-degan
“Tante ini pelakor yang merebut ayahku….” ucap Naya lagi dengan nada menggeram
Tampak jelas sekali olehku, wajahnya yang memang sejak tadi tak ramah kian dingin. Senyum yang sejak tadi mengembang di wajah Yesa seketika langsung menguap. Aku langsung menarik tangan Naya memintanya menjauh dari Yesa yang tampak gelisah
“Sayang nggak boleh gitu. Ini tempat ramai, nggak sopan”
Naya menghentak tanganku. Kulihat dadanya turun naik. Aku yang bisa membaca gelagat amarah di wajah anak gadisku itu menoleh khawatir kearah Tomi, dan melambaikan tanganku kearahnya. Beruntunglah Tomi segera berdiri dan berjalan setengah berlari kearah kami
“Sayang, ayo kembali ketempat kita” ucap Tomi sambil memegang pelan tangan Naya yang terkepal
“Yesa, kamu kembalilah ke kursi kamu. Ini bukan waktu yang tepat untuk kita bicara. Maafkan kelakuan anakku. Dia masih belum bisa memahami semua ini” ucapku memaksa Yesa untuk pergi
Yesa mengangguk, tapi langkah terburu nya terbaca oleh Naya yang segera menarik tangannya dan langsung melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Yesa
PLAAKKKKK!!!
Aku sangat kaget dengan gerakan cepat tangan anak gadisku, kulihat Yesa memegangi wajahnya yang sangat kuyakini pasti panas akibat tamparan Naya barusan
“Pelakor kurang ajar, gara-gara kamu ayah aku pergi dari kami. Sini kamu!!!” teriak Naya kalap
“Yesa cepat pergi!!!’ bentak ku ketika Naya kembali berusaha menarik rambut Yesa.
Dengan cepat tangan Naya yang telah menarik rambut Yesa, ditarik paksa oleh Tomi
__ADS_1
“Lepasin aku pa. aku harus membuat perhitungan sama pelakor itu. Gara-gara dia ayah sama ibuk cerai. Gara-gara dia ibuk menangis tiap malam. Gara-gara dia ayah jahat sama kami. Lepasin aku pa!!” Naya terus berteriak
“Tolong…..” ucapku pada pengunjung lain yang ikut berdiri dan berusaha menenangkan Naya. Bahkan ibu mertuaku sampai berdiri dan berlari kearah kami. Dengan cepat Yusuf yang ada dalam gendonganku diambilnya dan dibawanya menjauh. Bertiga dengan Arik, beliau keluar dari café ini
Sementara Yesa yang bergegas kembali ke kursinya, dengan cepat menyambar hp dan tas kecil miliknya yang terletak di atas meja. Lalu bergegas mengajak lelaki paruh baya yang bersama dengannya saat ini untuk pergi
“Jangan pergi kamu pelakor. Urusan kita belum selesai!!!” kembali Naya berteriak dan kembali berontak
“AAAWWWWW….” Jerit seorang lelaki yang memegangi tangan Naya
Kembali aku harus kaget karena Naya rupanya menggigit lengan lelaki muda itu. Dengan cepat aku menangkap tangan Naya yang lepas dari cengkraman lelaki tadi. Sementara satu tangannya juga dengan cepat di pegangin oleh Tomi
“Lepasin aku, atau kalau tidak papa aku gigit juga!!!” geram Naya
“Naya. Malu nak. Kamu harus punya adab!!!” geram ku dengan menyentak tangannya
“Jangan ajarin aku adab sekarang buk. Bertahun-tahun aku memendam sakit hatiku sama wanita yang telah merebut kebahagiaan kami. Bertahun-tahun aku berharap agar bisa bertemu dengan pelakor itu. Dan sekarang, ketika pelakor itu ada di depanku, maka itu tidak akan aku sia-siakan”
“Lepasin pa!!!” teriak Naya sambil menggigit tangan Tomi.
Reflex Tomi melepas cekalan tangannya pada Naya. Dan Naya dengan cepat langsung berlari keluar, aku tak mau ketinggalan, aku segera berlari menyusul Naya yang berlari kearah parkiran sambil terus berteriak marah
“Jangan pergi kamu pelakor!!!!” teriaknya.
Kulihat Yesa yang berjalan tergesa masuk kesebuah mobil hitam. Naya yang terus berlari kearah mobil tersebut, sekarang harus aku tarik kencang karena mobil hitam tersebut mulai berjalan
Aku yang menyelamatkan Naya dari mobil tersebut sekarang mendekap tubuh anakku dengan degup jantung yang berdebar kencang.
“Jangan pergi kamu!!!!” teriak Naya yang segera melepas dekapanku dan berlari mengejar mobil tersebut
Aku kembali berlari kearah Naya yang sekarang tampak terengah-engah dengan mata merah menyala.
“Sayang, sudah ya….” Lirihku berusaha mengulurkan tanganku kearahnya
Naya melepis tanganku, dia yang terbungkuk dengan nafas ngos-ngosan masih menatap kosong ke depan.
“Kak…..” lirih sebuah suara
Naya menoleh, lalu menghembus nafas kasar kemudian mendekap Arik.
“Sedikit lagi tadi dek. Sedikit lagi kakak berhasil membalaskan sakit hati kita” ucapnya sambil mendekap adiknya
Aku hanya bisa menelan ludahku, aku benar-benar shock. Aku tidak pernah menyangka jika kejadian tiga tahun yang lalu itu akan berdampak begitu dalam buat psikis kedua anakku
__ADS_1
“Adi….. kamu harus bayar mahal untuk ini” geramku dalam hati sambil menghapus air mata yang terasa lolos dari mataku
Ibu mertuaku muncul, beliau menatap sedih kearah Naya yang masih memeluk adiknya. Aku yang masih shock hanya berdiri mematung ditempatku. Sampai akhirnya Tomi datang dan memeluk pundakku
“Kita biarkan saja dulu Naya meluapkan emosinya” ucap Tomi sambil mengusap-usap punggungku
Aku menoleh, dan air mata yang terus mengalir makin tak dapat aku hentikan.
“Aku ibu yang buruk kak. Aku tidak tahu jika kedua anakku ikut terguncang” isakku
“Sayang…..” lirihku kearah kedua anakku. Naya dan Arik menoleh, lalu keduanya menghambur kedalam dekapanku.
“Kita pulang….” Ucap Tomi setelah kami melepas pelukan kami
Ibu mertuaku duduk di depan sambil memangku Yusuf yang tertidur. Aku dan kedua anakku duduk di bagian tengah. Sepanjang perjalanan pulang aku dan Naya hanya bisa terisak. Sementara Arik hanya terdiam, begitu juga dengan Tomi, dia juga sejak tadi diam, mungkin dia sibuk dengan pikirannya.
Dan ketika sampai di rumah, aku yang berniat hendak mengambil Yusuf malah dijawab dengan gelengan kepala oleh ibu mertuaku. Beliau terus membawa Yusuf dan meletakkannya di kamar kami. Aku segera masuk ke kamar atas mengikuti Naya yang berlari lebih dulu menaiki tangga
“Sayang, dengari ibuk!” ucapku ketika Naya hendak menutup pintu. Aku masuk, tetapi Naya segera melemparkan tubuhnya keatas ranjang dengan langsung menelungkupkan wajahnya kedalam bantal
“Ibuk minta maaf nak karena tidak mengetahui kesakitan dan kesedihanmu selama ini” ucapku dengan suara bergetar
Naya diam tak menjawab ucapanku, dia terus saja menangis
“Maafin ibuk nak. Ibuk tahu, ibuk egois. Tapi sumpah nak, ibuk benar-benar tidak tahu jika kalian berdua juga mengalami sakit yang sama seperti yang ibuk rasakan. Ibuk fikir Naya anak kuat, terbukti dengan Naya yang jauh lebih legowo disbanding ibuk ketika ditinggal ayah” lanjutku
Naya membalik tubuhnya dan segera mendekapku
“Aku sakit buk. Aku sakit melihat ibuk menangis dalam diam. Aku sakit hati mendengar ibuk tiap malam menangis sendirian di kamar. Aku benci sama ayah, aku benci sama pelakor itu. Aku dendam sama mereka berdua. Aku bersumpah, jika aku bertemu dengan pelakor itu, aku akan membua perhitungan dengannya. Karena dia telah membuat ibuku menangis. Dan depresi”
Aku kian terisak dan mengusap punggungnya dengan sayang
“Waktu itu sudah kita lewati nak. Waktu itu sudah berlalu. Sekarang Tuhan telah memberikan kita kebahagiaan jauh lebih dari kebahagiaan yang pernah ayah kalian berikan sama kita. Dan wanita itu rebut” ucapku kembali
“Berdamailah dengan keadaan Nak. Ibuk tahu kamu sakit hati, tapi Tuhan telah membalaskan sakit hati kita. Ayahmu entah apa kabarnya sekarang, kita tidak tahu. Dan perempuan tadi juga kita tidak tahu sedang apa dia di café tadi. Tapi yang pastinya, ibuk yakin. Malah sangat yakin, jika kita jauh lebih bahagia dari mereka”
Naya mengusap kasar wajahnya, dan menganggukkan kepalanya ke arahku
“Padahal Naya sudah ikut les taewondo. Naya ingin sekali mempraktikkannya dengan perempuan tadi” ucapnya yang membuatku melongo
“Sejak kapan Naya ikut les taewondo?” tanyaku kaget
“Baru sih buk. Naya terinspirasi dari cerita pakde Burlian yang mengatakan jika tante Mila pemegang sabuk hitam”
__ADS_1
Aku kembali harus menelan ludahku.
“Mila nggak boleh tahu” batinku dengan tersenyum kaku kearah Naya