Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Sang Penyelamat


__ADS_3

"Tolong aku Din...."


"Nggak!!, pergi kamu dari sini. Kalau tidak aku akan suruh security kantor untuk usir kamu"


"Kasihani kami Din. Kami kesini numpang mobil sayur, itu pun mobil pick up, kamu tahu sendirilah bagaimana rasanya"


Aku menghembus nafas panjang mendengar dan melihat Yesa masih ngeyel


Sampai beberapa pegawai yang memarkirkan kendaraan mereka menoleh ke arah kami, dan terlihat memandang heran ke arahku


"Pergi tidak kamu dari sini, jika tidak aku akan panggil security. Aku nggak main-main kali ini"


Yesa nekad menarik tanganku dan menggenggamnya dengan kuat. Kulihat sekarang wajahnya basah


"Aku mohon Din..."


Dengan cepat aku menarik tanganku yang digenggamnya lalu dengan tanpa dosa aku mengelap tanganku di baju dinas dan memandang marah pada Yesa


"Aku tidak bisa nolong kamu. Orang tua Adi masih hidup, kamu titipkan saja anak kamu sama mereka. Kita tidak ada hubungan apa-apa Yesa, kamu bukan saudara aku, bukan pula keluarga aku. Ngapain aku harus nolong kamu"


Setelah berkata demikian aku langsung pergi meninggalkan Yesa dan anaknya yang berlari mengejar ku


"Pak security tolong usir orang ini!!!" teriakku ketika Yesa kembali menarik tanganku


Beberapa pegawai perempuan berlari ke arahku ketika mereka melihat bagaimana Yesa yang terus menarik tanganku. Dan security yang tadi aku teriaki juga ikut berlari dan dengan kuat dia menahan bahu Yesa


"Jangan ikut campur urusan kami!!" Yesa berteriak marah kearah security yang menahan pundaknya


Sementara para pegawai perempuan yang tadi menolongku memandang marah bercampur heran kearah Yesa


"Kamu siapa hah?, ngapain kamu berlaku kasar sama Dinda?" tanya bu Halimah yang baru datang dengan berlari terburu ke arahku


"Kamu nggak apa-apa Din?" tanya beliau beralih padaku


Aku menggeleng sementara anak Yesa mulai menangis melihat ibunya dipegangi security


Aku dan pegawai yang saat ini berhadap-hadapan dengan Yesa menoleh kearah mobil pak Burlian yang masuk ke area parkir


"Harap tenang semuanya, bos datang" ucap security sambil terus memegangi bahu Yesa yang terus berontak


"Ada apa ini?" tanya pak Burlian begitu beliau tiba di dekat kami. Dan beliau langsung memandang kearah Yesa dan juga anaknya yang terus saja menangis


"Anda siapa? Dan apa yang anda lakukan di kantor ini?"


Aku belum menjawab, aku masih menunggu Yesa yang menjawab duluan, karena dia yang ditanyai oleh pak Burlian


"Aku mau bertemu Dinda dan meminta bantuannya pak" jawab Yesa pelan dan kulihat wajahnya yang semula marah berubah tegang


Pak Burlian menoleh ke arahku begitu juga dengan pegawai yang lain


"Dia istri Adi pak, dan meminta bantuanku untuk merawat anaknya, tapi aku menolak"


"Ya kali Dinda mau merawat anak kamu, kamu pelakor itu kan??!" tanya bu Halimah dengan nada tinggi


Lalu mulailah pegawai lain ikut berkomentar begitu mendengar ucapan bu Halimah

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Dinda?" tanya pak Burlian lagi


Yesa mengangguk dan bahunya yang telah dilepaskan oleh security sejak tadi sekarang memegang bahu anaknya dan mengusap-usapnya


"Silahkan anda pergi dari sini, karena anda telah membuat keributan di kantor ini. Dan saya harap anda tidak datang lagi kesini ataupun mengganggu Dinda lagi. Perlu saya tegaskan pada anda, Dinda ini bukan hanya bawahan saya di kantor ini tapi dia juga adik ipar saya. Jika anda mengganggu keamanan dan ketentraman hidup adik saya dan keluarganya, anda akan saya laporkan ke kantor polisi"


Yesa hanya bisa menelan ludahnya dan memandang takut-takut ke arahku


"Bestie.....!!!!" teriak sebuah suara yang kembali membuat kami menoleh kearah gerbang


"Ya Tuhan....." ucapku kaget dan aku langsung menoleh kearah pak Burlian dimana aku melihat Mila berjalan ke arah kami


Dan Yesa yang juga menoleh kembali wajahnya menegang


"Pagi pak, pagi semuanya...." sapa Mila ketika sampai di dekat kami


Aku memasang senyum kaku dan langsung membalas dekapannya padaku


"Ngapain lu disini??!" suara Mila langsung berubah tak ramah ketika menoleh ke belakang dan melihat Yesa


"Dia sekedar mampir, dan sekarang juga dia mau pergi" jawabku cepat dan segera melotot kan mataku ke arah Yesa yang faham dengan kodeku


Mila memandang tak yakin padaku lalu dengan cepat menangkap tangan Yesa ketika perempuan itu mau pergi


"Gue tahu siapa lu. Lu pasti ngancem sahabat gue kan?"


Aku menggaruk kepalaku dan menoleh gelisah kearah pak Burlian yang sedang meminta seluruh pegawai untuk siap apel dan membubarkan diri


"Kalian ikut bapak ke ruangan!"


"Dan bapak juga bawa perempuan ini masuk!"


Security menganggukkan kepalanya mendengar perintah pak Burlian. Dan aku segera menarik tangan Mila dan mengajaknya masuk kedalam kantor, sementara pegawai lain berjalan keluar dari dalam kantor, berjalan menuju lapangan karena mau apel pagi


"Kami ada semua Din, kamu jangan khawatir" ucap bu Halimah yang membuat Mila langsung mencengkeram keras tanganku


"Sudah, ayo!!" ucapku sambil kembali menarik tangannya menuju ruangan pak Burlian


Yesa yang tiba terakhir dengan anak dan security sekarang duduk paling ujung, sementara aku dan Mila bersebelahan


Pak Burlian yang semula masuk lebih dulu dan duduk di sofa ruang kantornya menatap kami bertiga secara bergantian


"Kenapa kamu mau menitipkan anak kamu sama Dinda?"


Yesa menundukkan kepalanya ketika pak Burlian bertanya. Aku dan Mila melirik kearahnya menanti jawaban pasti dari dirinya


"Karena saya merasa jika saya tidak bisa menghidupi anak saya pak"


Aku langsung menarik nafas panjang mendengar jawaban lirihnya


"Jangan percaya pak. Saya itu sering lihat suami saya interogasi penjahat, dan rata-rata jawabannya memang model begini, bohong"


Aku melirik sebentar kearah Mila yang memandang tajam kearah Yesa


"Kamu kan tahu, kamu tidak ada hubungan dengan Dinda, terus kenapa kamu mau menitipkan anak kamu sama dia?" kembali pak Burlian bertanya

__ADS_1


"Ya karena saya pikir, Dinda masih istrinya Adi pak. Dan ini kan anaknya Adi, dan juga kan harta semuanya Dinda yang dapat jadi wajar dong kalau dia merawat anak Adi"


Seketika wajahku yang semula menatap sedih kearah Yesa dan anaknya sontak berubah marah


"Tuh, dengarkan kamu apa alasan betina satu ini??!" ucap Mila dingin padaku


"Maaf pak, saya yang menanganinya. Karena kalau bapak atau Dinda nggak bakal selesai masalah ini" putus Mila saat Pak Burlian akan bersuara


"Lu masih ingat gue kan?, gue yakin lu masih ingat bagaimana laki lu gue hajar di pengadilan kemarin. Apa lu juga mau merasakan tendangan gue?, kalo mau, ayo berdiri!!" ucap Mila yang menarik lengan baju Yesa


Yesa menggeleng kuat dan wajahnya tampak pucat


"Aku cuma pengen hidup anak aku terjamin, itu saja"


"Lu ada otak nggak sih?, mana ada wanita mau nerima anak pelakor. Lu kebanyakan nonton sinetron ikan terbang makanya lu mikir kalau sahabat gue bakal nerima anak lu...."


Aku segera menarik tangan Mila, memaksanya untuk duduk karena aku tak enak hati pada pak Burlian yang memandang ke arah Mila


"Lu kan tahu, jika semua harta laki lu yang dikasihnya sama lu itu dari sahabat gue ini, bukan punya manusia nggak berguna itu. Lu itu ketipu tahu nggak?. Makanya jadi perempuan jangan modal gatel doang, otak dipakai buat mikir"


Aku memejamkan mataku sebentar mendengar perkataan kasar Mila.


"Ya ampun perempuan ini!!!" batinku sambil memejamkan mataku karena malu


"Sekarang lu pergi, atau tulang lu gue patahkan. Sekali lagi lu ganggu sahabat gue, gue nggak bakal segan-segan ngebunuh lu. Dan buang mayat lu ke kolam buaya!!"


Secepat kilat Yesa berdiri dan langsung menyambar tangan anaknya demi mendengar ancaman Mila. Dan tanpa permisi lagi dia langsung berjalan terburu keluar dari dalam ruangan pak Burlian


Aku menarik nafas lega karena Yesa sudah pergi, begitu juga ketika melihat Mila duduk sambil tersenyum ke arahku


"Bereskan pak?" ucapnya bangga ke arah pak Burlian yang tersenyum


"Beres sih beres Mil, tapi kamu buat aku malu...." geram ku


"Malu?, heh, harusnya lu terima kasih ya sama gue, karena gue berhasil membuat nenek moyang parasit itu pergi"


"Sudah, kok sekarang malah kalian yang ribut?"


Kami langsung terdiam dan kompak menoleh kearah pak Burlian


"Terima kasih ya mbak dokter Mila karena sudah bantu kami mengusir perempuan tadi"


Mila hanya tersenyum segaris dan menganggukkan kepalanya kearah pak Burlian


"Bapak tolong save nomor saya. Nanti jika perempuan itu datang lagi menemui Dinda, bapak langsung telpon saya. Biar saya yang menghajar perempuan itu!!"


Pak Burlian tertawa lirih sambil mengeluarkan hp nya lalu memasukkan nomor hp Mila yang disebutkan oleh Mila


Setelah selesai itu barulah aku dan Mila berpamitan pada pak Burlian


"Kamu kok bisa ada disini sih?" tanyaku ketika kami berjalan di luar ruangan pak Burlian


"Gue tadi habis nganter suami gue, dan sekalian gue bawain lu vitamin" ucap Mila sambil merogoh tas nya dan memberikan sebuah bungkusan padaku


"Biar cepat mlendung" ucapnya ketika aku memandang bungkusan yang ada di tanganku

__ADS_1


__ADS_2