
Julistiar langsung duduk begitu mendengar jawaban istrinya, dengan cepat dia langsung turun dari ranjang
“Biar papa antar pakai motor”
Mila mengangguk, dan tanpa kompromi lagi keduanya langsung bergegas keluar dari dalam kamar dan setengah berlari menuruni tangga menuju lantai bawah
Bik jaga anak-anak. Saya ke rumah sakit sekarang sama bapak
Ketik Mila ketika mereka berjalan tergesa kearah pintu. Dengan cepat Julistiar membuka kunci pintu rumah mereka dan Mila meminta suaminy untuk segera ke garasi dan dia yang akan mengunci kembali pintu. Julistiar segera berlari kearah garasi dan telah keluar dengan motor dinas yang biasa dia pakai
Kemudian Mila langsung naik diboncengan ketika motor sudah keluar dari gerbang, dan Julistiar langsung mengegas motornya dengan kencang
Mila mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya karena suaminya menjalankan motor dengan ngebut. Angin dingin akibat deru motor yang kencang tak dihiraukan keduanya, yang ada di benak Julistiar saat ini adalah menyelamatkan nyawa Dinda
Suasana jalan yang sepi memudahkan bagi Julistiar untuk ngebut di jalan, sehingga dalam jarak sekian puluh menit saja, mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Mila segera turun dari motor ketika suaminya menurunkannya di depan pintu masuk rumah sakit. Dan tanpa ba bi bu lagi pad security yang menyambutk kedatangannya, Mila langsung berlari melesat masuk
Laju larinya terasa lama ketika dia sudah sangat ingin cepat sampai di ruang ICU. Sehingga Mila tidak mempedulikan jika dia harus naik tangga untuk sampai di ruangan tersebut. Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya Mila sampai juga di depan ruang ICU
Segera di dorongnya dengan kasar pintu ruang ICU. Dan empat perawat yang masih berada di dalam ruangan tersebut menoleh kaget dan bernafas lega ketika mengetahui jika yang datang adalah Mila. Dengan cepat Mila langsung menghambur kearah ranjang tempat Dinda terbaring
Mata Mila sudah panas ketika kakinya menginjak di dalam ruang ICU, terlebih ketika dilihatnya wajah sahabatnya yang pucat, memandang kearahnya dengan tatapan mata kosong
“Alhamdulilah ya Alloh……” isak Mila sambil memeluk tubuhku
Aku hanya bisa mengerjapkan mataku tanpa bisa membalas dekapannya. Tanganku terasa sangat ngilu untuk ku gerakkan, sehingga aku hanya bergeming dan membiarkan sahabatku menangis di ketika mendekap ku
“Alhamdulillah Din kamu sudah sadar, aku senang banget…..” kembali Mila berkata dengan wajah basah dan kembali memelukku.
Empat orang perawat kembali menoleh ketika pintu di dorong dari luar, yang tak lain adalah dokter senior yang masuk. Beliau masuk sama tergopohnya seperti Mila. Dan Mila segera melepas dekapannya padaku ketika dokter menghampiriku
“Bagaimana keadaannya? Sudah diperiksa?”
Mila menyingkir, mengusap kasar wajahnya. Sementara aku masih diam melihat kearahnya dan juga kearah dokter yang mulai memeriksa keadaanku. Seorang perawat mulai menjelaskan jika dia sudah melakukan pemeriksaan seadanya padaku, terutama memeriksa denyut jantungku dan juga memeriksa infus ku.
Sambil mendengarkan penjelasan perawat, dokter secara intensif memeriksa keadaanku. Dan memerintahkan pada para perawat untuk menyiapkan ruangan ct scan, karena dokter akan memeriksa bagian dalam tubuhku
“Mbak Dinda….. mbak Dinda tahukan sekarang ada dimana?” tanya dokter tersebut padaku yang kujawab dengan anggukan pelan
“Dimana?” tanya dokter itu lagi
“Rumah sakit…..” lirihku sambil melirik kearah Mila yang membekap mulutnya
Kemudian aku menggerakkan tanganku kearah Mila yang langsung disambut Mila dengan meraih tanganku
“Kamu kenapa nangis Mil?. Aku kan baik-baik saja…..” lirihku
__ADS_1
Mila bukannya menghentikan tangisnya, malah makin menangis tersedu-sedu. Yang membuatku tersenyum dan menarik tangannya dengan pelan sehingga membuatnya berjongkok dan kembali mendekapku
Di dalam dekapanku, tangis Mila kembali pecah. Suara tangisnya sampai aku dengar sangat jelas
“Kamu apaan sih, kok nangis kaya aku mau mati saja…..” protesku
“Ruangan ct scan sudah siap dokter” ucap sebuah suara yang membuat Mila menarik tubuhnya dan mengusap kasar wajahnya
“Ayo dokter, kita bawa mbak Dinda nya keluar” ucap dokter senior yang dijawab Mila dengan anggukan kepala
Selang infus di lepas dari nadiku oleh seorang perawat, kemudian secara kompak mereka mendorong ranjang tempat aku berbaring. Mila berada di sampingku, menggenggam erat tanganku yang membuatku terus tersenyum kearahnya. Aku merasa geli melihat sahabatku yang kembali menangis ketika melihatku, dan itu benar-benar membuatku geli karena aku melihatnya menangis
Setelah selesai serangkaian proses pemeriksaan ku di ruang ct scan ini, kembali aku di dorong keluar oleh empat orang perawat dan lagi-lagi Mila berada di sampingku
“Bagaimana keadaan Dinda, sayang?”
Aku menoleh kearah sumber suara ketika brankar yang aku tiduri berhenti. Terlihat olehku suami Mila berkata sambil menoleh ke arahku
“Kak…….” Lirihku yang dijawab suami Mila dengan mata terbelalak
Mila mengangguk, kemudian matanya kembali berkaca-kaca
“Kamu wanita tangguh Dinda. Syukurlah kamu sudah sadar….” Ucap kak Julistiar menyentuh tanganku
“Papa kalau mau pulang, pulang saja. Tapi aku tidak, mungkin aku jam Sembilan atau sepuluh baru pulang ke rumah. Atau kalau aku males, aku tinggal minta sama bibi untuk membawakan pakaianku ke rumah sakit ini”
Julistiar mengangguk mendengar ucapan istrinya, kemudian dia merangkul tubuh istrinya dan mengusap-usap punggungnya dengan sayang
“Selamat ya sayang untuk sadarnya Dinda. Aku tahu kamu sangat bahagia sampai kamu menangis. Dan aku bangga dengan rasa setia kawan yang kamu miliki”
Mila tersenyum kecut mendengar ucapan suaminya. Dan dia membalas dekapan suaminya sebentar, kemudian melepaskan dekapan tersebut dan berjalan cepat menyusul brankar yang membawa Dinda yang sudah berjalan jauh
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Mila ketika kami sudah sampai di dalam ruangan dan kembali selang infus ditusukkan ke urat nadiku
“Semuanya baik dokter. Dan hasil ct scan akan saya perlihat besok di ruangan saya. Yang paling penting saat ini adalah ajak terus pasien berkomunikasi untuk membantu daya ransang otaknya. Dan aku lihat, daya ransang otak mbak Dinda juga baik, terbukti dengan dia merespon baik semua yang kita tanyakan padanya. Dan dia menjawab semua ucapan kita”
Mila memandangku dengan dalam, yang membuatku juga memandang kearahnya dengan sendu. Kemudian dokter kembali memeriksa keadaanku sebelum akhirnya beliau meninggalkan ruangan kami, dengan tiga orang perawat mengekor di belakangnya
“Dokter, apa perlu saya ambilkan karpet juga untuk dokter istirahat?” tanya seorang perawat pada Mila yang dijawab Mila dengan gelengan kepala
“Saya sangat kangen dengan sahabat saya sus. Jadi saya tidak ingin tidur”
Kembali aku tersenyum mendengar jawaban Mila, dan membiarkannya menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahku. Perawat itu menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan pada Mila untuk istirahat dengan berjalan kearah sofa yang ada di dalam ruangan ini, kemudian dia berbaring di sana
“Memang ini jam berapa Mil?”
__ADS_1
Mila mengangkat bahunya sambil tersenyum kemudian dia merapihkan anak rambutku
“Kamu kan ada hp, bisa lihat jam disana”
Mila menurut dan merogoh saku celananya
“Hampir jam setengah empat”
“Waduh, sudah Mil. Kamu tidur saja, aku sudah nggak ngantuk lagi, tapi aku yakin kamu pasti ngantuk. Makanya kamu tidur aja. Kan kamu dengar sendiri tadi dokter bilang apa. Aku baik-baik saja. Jadi nggak ada yang perlu kamu khawatirkan”
Mila tersenyum lebar. Dan kembali dia mendekapku
“Aku sudah tidur tadi, dan melihat kamu sadar rasa ngantukku hilang. Aku sangat merindukan kamu Dinda. Keras kepala dan protesan kamu ini sudah lama ingin sekali aku dengar”
“Sudah lama?” tanyaku dengan nada penasaran
Mila melepas dekapannya padaku, kemudian dia menganggukkan kepalanya
“Nggak usah dipikirin. Yang penting sekarang kamu sudah sadar dan itu membuat aku sangat bahagia. Sahabat kita yang lain pasti juga bahagia mendengar jika kamu sudah sadar” lanjut Mila sambil mengarahkan kamera hp nya kearah wajah kami berdua
Aku memasang senyum termanisku kearah kamera hp Mila, lalu beberapa kali Mila mengambil gambar wajah kami. Kemudian dia mengubahnya ke mode video dan memintaku melambaikan tanganku
“Bestie, Dinda sudah sadar. Kalian kesini ya besok, kami tunggu”
Kemudian kami berdua sama-sama melambaikan tangan. Dan sekarang Mila kembali memasukkan hp kedalam saku celananya dan memandang ke arahku dengan masih mengembangkan senyum
“Mil, aku mau tanya, beneran aku sudah lama nggak sadar?”
Mila diam, dan itu makin membuat aku penasaran
“Mil….?” Tanyaku lagi
Mila menarik nafas panjang kemudian menggeleng
“Nggak usah mikir berat dulu, sekarang yang paling penting adalah kamu sudah sadar dan kamu harus istirahat agar kamu cepat sembuh”
Aku diam mendengar jawaban menggantung dari Mila dan hanya menurut saja ketika dia mengusap-usap kepalaku
“Tidur ya Din….. kamu harus tidur……” lirih Mila
Entah memang aku ngantuk atau memang karena pengaruh sayang yang disalurkan oleh perhatian Mila, sehingga mataku meredup dan tak lama aku terpejam
Mila menarik nafas panjang ketika dilihatnya sahabatnya itu kembali terpejam. Dan menatap kearah selang infus yang terus meneteskan obat yang memang berpangaruh membuat pasien mengantuk
“Maafkan aku Din jika aku harus membuat kamu tidur kembali. Tapi ini harus aku lakukan agar kondisi kamu jauh lebih fit dan siap menghadapi kenyataan”
__ADS_1