
"Dinda?" tanya Tommy ketika melihatku hanya diam.
Aku tergagap kemudian menggeleng dan mengusap wajahku
"Jangan kamu masukin hati lah Tom pertanyaan mereka. Mereka mungkin kangen sama ayahnya" jawabku mengelak.
Dan kulihat Tomi tersenyum kecut
"Ya bisa jadi, mungkin yang kamu katakan benar jika Naya sama Arik kangen sama ayah mereka".
Aku mengangguk setuju kemudian mengajak Tomi untuk segera berangkat.
Sebelum berangkat aku kembali naik ke atas untuk mengambil tasku.
Dan saat aku berada di dalam kamar terdengar suara ketukan di luar yang membuat ku mengernyitkan dahi.
"Aku boleh masuk Din?"
Mataku terbelalak, karena itu adalah suaranya Tomi.
Tanpa Aku menjawab, ternyata pintu kamarku sudah terbuka dan Tomi sudah masuk ke dalam kamarku.
"Ngapain kamu masuk ke sini?" tanya ku sedikit marah ke arah Tommi yang tidak sopan.
Tomi tidak menggubris ucapanku melainkan dia berjalan ke arah meja dan mengambil jam tangan miliknya yang membuatku kembali mengernyitkan dahiku.
"Loh, kok ada jam tangan kamu di atas mejaku?" tanyaku heran.
Tomi hanya tersenyum sambil memakai jam ke pergelangan tangannya
"Kemarin ketinggalan di kamar kamu ketika aku cuci muka di kamar mandi".
"Kamu cuci muka di kamar mandi aku?" tanyaku dengan mata terbelalak.
Tomi mengangguk sambil berjalan ke arahku
"Iya, aku sudah tiga kali ini masuk ke kamar kamu" jawabnya santai .
"What?!?" teriakku cukup kencang yang membuat Tomi terkekeh.
"Makanya kalau tidur itu bukan di sofa tapi tidur itu di kamar" jawab Tomi santai sambil menoel dagu ku.
"Jadi kamu yang mengangkat aku ke kamar?" tanyaku takut-takut.
Tomi mengangguk sambil tersenyum penuh arti, yang membuat ku langsung menatap tajam ke arahnya.
"Jangan-jangan kamu.....?" tanya ku menggantung.
Tommy makin merapatkan tubuhnya ke arahku yang membuatku menelan ludah dengan susah payah.
"Iya, saat kamu tidur, aku puas mencium bibir kamu dan itu rasanya sangat nikmat" jawab Tomi yang mampu membuat degup jantung kian berdebar kencang.
Aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku ketika Tomi kian merapatkan tubuhnya padaku.
"Seandainya saat itu aku tidak bisa mengendalikan diriku, mungkin......" lanjut Tomi menggantung ucapannya yang membuatku langsung mendorong kasar dadanya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu!!" bentak ku.
Diluar prediksiku Tomi bukannya marah tapi malah terkekeh
"Dinda.....Dinda. Kamu percaya jika aku melakukan itu sama kamu?, tentu tidak Din. Aku bukan orang seperti itu" jawabnya yang membuatku menatap kearahnya dengan tatapan tak percaya.
"Aku kan sudah pernah bilang, Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal bejat sama kamu Dinda".
Aku menarik nafas lega mendengar jawaban Tomi. Lalu aku menatap dalam pada wajahnya
"Terus ngapain kamu nyusul kesini?"
Tomi menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Cuma ingin melihat foto pernikahan kamu sama Adi" jawab Tomi detik berikutnya
Mulutku kembali ternganga mendengar jawabannya, kemudian aku melirik kearah bingkai besar foto pernikahanku sama Adi yang memang belum aku turunkan
"Mungkin karena itulah makanya kamu menolak ku ajak menikah" lanjut Tomi
Aku membuang nafas kasar sambil menggelengkan kepalaku
"Ada banyak alasan kenapa aku belum bisa memenuhi keinginan kedua anakku"
Tomi tersenyum getir mendengar jawabanku, lalu dia membuang nafas panjang
"Adi adalah orang yang beruntung yang bisa mengajak kamu menikah" lirihnya
"Benar, tapi dia sudah rugi karena telah membuang ku" jawabku
Aku tersenyum samar mendengar jawabannya
"Tomi.... kamu tahukan jika aku dulu lama menangisi kepergian kamu?"
Tomi mengangguk
"Itu artinya karena aku sangat mencintai kamu"
Tomi tersenyum getir
"Dan apakah masih ada cinta itu di hati kamu Din?"
Aku diam, kemudian tersenyum. Tak lama setelah itu aku mengangguk
Melihatku mengangguk, refleks Tomi langsung memelukku dan menciumi puncak kepalaku dengan dalam
"Akhirnya......." ucap Tomi lega yang membuatku terkekeh sambil mencubit dadanya
"Jika kamu mencintaiku, Terus kenapa kamu masih menolak ketika ku ajak menikah?".
"Tidak segampang itu Ferguso" jawabku sambil tertawa.
Kembali Tomi menarik nafas panjang, kemudian aku mengajaknya turun karena memang saat itu jam hampir menunjukkan pukul 08.00.
Saat menuruni tangga kembali dengan sayangnya Tomi membimbing tanganku. Lalu kami sama-sama keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil dan Tomi segera melajukan mobilnya dengan pelan menuju kantor.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor dan selesai apel semuanya berjalan seperti biasanya. Aku memulai pekerjaanku dan Tomi kembali ke tempat proyeknya. Dan dia berjanji jika pulang nanti dia akan menjemput ku kembali.
Ketika selesai istirahat dan aku sedang mengerjakan pekerjaan, tiba-tiba HP ku berdering dan itu kulihat panggilan dari Mila.
Secepat kilat aku langsung menjawab telepon dari Mila karena aku tidak ingin dia kembali marah jika aku lambat menjawab panggilannya.
"Iya Besti?" jawab ku dengan santai.
"Lu di mana sekarang?" terdengar nada panik dari suara Mila.
"Ya Aku di kantor lah, ini masih jam 02.00, jadi aku belum pulang, kenapa?" jawabku masih dengan santai.
"Ada sesuatu hal buruk terjadi pada Kak Tomi, kamu bisa ke rumah sakit sekarang nggak?" lanjut Mila yang membuat degup jantungku langsung berdegup kencang.
"Kak Tomi kenapa?" tanya ku dengan nada panik.
"Pokoknya lu ke sini sekarang, urgent!".
Aku langsung meletakkan HP setelah panggilan dari Mila putus. Tapi Itu hanya sedetik, karena setelahnya aku langsung menghubungi adiknya Tomi menanyakan tentang kabar Tomi dan betapa syok yang aku ketika menerima jawaban dari Aldi yang mengatakan jika saat ini mereka sudah di jalan menuju rumah sakit karena Tomi mendapat kecelakaan di tempat kerjanya.
Nafasku kian sesak dan aku langsung menangis yang membuat seisi teman satu ruanganku langsung berhamburan ke arahku dan mereka semua terlihat panik.
"Kenapa Din? Kenapa?" tanya Bu Halimah dan Nadia dengan panik. Aku tidak bisa menjawab melainkan terus menangis.
Pak Kusno berinisiatif mengambil hp-ku yang terletak di atas meja kemudian membuka HP ku. Dilihatnya jika yang menghubungiku itu panggilan dari Mila segera beliau kembali menghubungi nomor Mila.
Sementara aku menangis Pak Kusno sudah berbicara pada Mila. Dan kulihat wajah Pak Kusno juga tegang. Segera beliau keluar dari dalam ruangan yang aku tidak tahu beliau ke mana tapi tak lama beliau muncul bersama Pak Burlian.
"Ayo Din, bapak antar kamu ke rumah sakit" ucap pak Burlian yang membuatku langsung berdiri.
Yang biasanya aku berjalan pelan karena perutku masih sakit tapi mungkin karena panik aku langsung berjalan cepat dan mensejajari langkah Pak Burlian menuju mobilnya di parkiran.
Tomi kenapa?" tanya Pak Burlian ketika kami sudah berada di perjalanan.
"Temanku bilang Kak Tomi di rumah sakit, dan Aldi bilang jika kak Tomi kecelakaan di tempat proyeknya" jawabku terisak.
Pak Burlian tidak melanjutkan pertanyaannya melainkan segera melajukan mobil dengan ngebut.
Dan ketika kami sampai di rumah sakit segera aku turun dari dalam mobil tanpa permisi pada Pak Burlian. Segera Aku berlari masuk ke dalam ruang unit gawat darurat, di mana aku lihat ada keluarga Tomi di sana.
Ibunya Tomi langsung memelukku sambil berlinang air mata. Begitu juga dengan aku, Aku langsung memeluk erat beliau sambil kembali menangis.
"Ada yang bisa menjelaskan kronologi kenapa Tomi sampai dibawa ke sini?" tanya Pak Burlian.
Semuanya menunduk dan itu membuatku kian panik.
Sementara kami tengah panik di luar, pintu ruang UGD terbuka dan muncul Mila.
"Bagaimana Kak Tomi? tanyaku cepat. Mila menggeleng.
"Nggak, kamu pasti bohong kan Mil?" jawabku sambil menggeleng cepat
"Kami sudah berusaha Din....." jawab Mila yang semakin membuatku kalut.
"Nggak....." teriak ku yang langsung menerobos masuk ke dalam ruang UGD.
__ADS_1
"Dinda tunggu!!" cegah Mila padaku yang saat ini sudah masuk ke dalam ruang UGD.