Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Karma


__ADS_3

Tampak sangat jelas di mataku jika Tomi kelihatan cemburu


"Orang itu bilang tidak Adi sakit sudah berapa lama ?"


Aku mengangkat bahuku mendengar pertanyaan Tomi


"Terserah, mau baru kek, mau lama kek aku nggak peduli"


Tomi tersenyum mendengar jawabanku kemudian dia mengusap-usap kepalaku


"Ya sudah nggak usah bad mood lagi. Obrolannya dilanjutkan ya?" ucap Tomi sambil mengusap-usap kepalaku. Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan dari Tomi, kemudian Aku menoleh ke arah Vita dan juga ibu mertuaku yang masih menatap serius ke arahku


"You Fine kan Besti ??"


"Iya I'm fine, it's okay. Lu nggak usah khawatir, lu tahu lah gimana gue"


Vita kemudian tersenyum lalu mengulurkan tangannya mengusap-usap punggung tanganku


Kemudian aku tersenyum ke arah ibu mertuaku.


"Aku baik-baik saja kok Buk, tenang saja. Aku nggak akan pernah berpaling dari Tomi. Karena aku tahu Tomi sangat mencintai aku dan aku juga sangat mencintai Tomi"


Tomi kembali mengusap kepalaku mendengar aku berkata demikian kepada ibunya


Ibu mertuaku tampak menarik nafas lega kemudian dia juga ikut mengusap-usap punggung tanganku


"Ibu khawatir saja Din, karena kalian punya anak. Bisa saja anak kalian itu meminta kalian kembali, ya kan?"


Aku langsung tertawa mendengar ucapan ibu mertuaku


"Ya Allah ibuk, kedua anak aku itu sudah sangat dekat dengan papa mereka. Tanya sama Tomi, siapa dulu yang meminta Papa baru sama aku, mereka Buk. Mereka itu sangat menyayangi Tomi melebihi sama ayah mereka. Terlebih Naya, Ibu bisa lihat sendiri Bagaimana reaksi Naya semalam ketika Arik menyuruh aku memberikan rumah kepada Adi, ya kan?"


Ibu mertuaku menganggukkan kepala mendengar penjelasanku.


...----------------...


Pekerjaanku sedikit terganggu ketika hp-ku terus berdering pagi ini. Dan aku langsung menarik nafas panjang ketika nomor baru yang kemarin menghubungiku kemarin, kembali menghubungiku pagi ini


Aku hanya menghembuskan nafas panjang, kemudian meletakkan HP tanpa berniat sedikitpun untuk mengangkat panggilan tersebut


Tapi lagi-lagi hp-ku berdering dan memantik teman satu ruangan ku menoleh ke arahku


"Siapa Din?" tanya Pak Kusno


Aku menarik nafas panjang sebelum me reject panggilan yang masuk


"Dari lapas Pak" jawabku dengan nada malas


"Lapas ??" tanya Pak Kusno dengan wajah serius yang aku jawab dengan anggukan kepala


Dan kembali aku harus mengalihkan perhatianku yang tadi menatap ke arah Pak Kusno, sekarang kembali melirik ke arah hp karena benda tersebut kembali berdering

__ADS_1


"Angkatlah Din, Siapa tahu penting" usul bu Halimah


Dengan menahan rasa kesal dan menarik nafas panjang, akhirnya aku menuruti usul bu Halimah dan segera mengangkat panggilan tersebut


"Ibu Dinda ? ucap suara dari seberang ketika aku menerima panggilan tersebut


"Iya saya sendiri, Ada apa Pak?"


"Ini bu, kami hanya ingin menyampaikan permintaan dari tuan Adi yang ingin bertemu dengan ibu karena beliau sekarang sedang sakit"


"Sekali lagi saya katakan ya sama bapak, saya bukan istrinya. Jadi bapak Salah menelpon orang. Jika Bapak ingin Adi dibesuk oleh istrinya, maka saya akan mengirimkan nomor istri Adi ke Bapak. Jadi bapak bisa langsung hubungi istrinya, bukan menghubungi saya"


"Tapi Pak Adi bilang, istrinya itu adalah anda, bukan orang lain. Jadi mana ini yang benar??"


Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban dari orang tersebut. Dan seketika rahang ku langsung mengeras


"Begini ya Pak, di dekat Bapak ada Adi tidak? jika Bapak dekat sama Adi, Tolong berikan HP ini sama dia. Saya ingin ngomong langsung sama dia"


"Baiklah bu, jika itu keinginan ibu. Saya masuk dulu ke dalam ruangan"


Terdengar olehku suara krasak kresek krasak kresek seperti langkah kaki dan aku yakin orang yang tadi meneleponku sedang berjalan seperti yang dia bilang


"Ini, orang yang bernama Dinda ingin bicara sama kamu !! ucap orang di seberang dan aku sangat jelas mendengar ucapannya


"Halo..." terdengar suara lemah di seberang


"Halo ini siapa ??!" tanya ku dengan nada ketus


"Ayah?, Ayah mana? Ayah aku ada di rumah dan beliau sedang sehat-sehat saja. Ini siapa ? tanyaku masih dengan nada yang sangat ketus


"Ya Allah Buk, Masa sih Ibu lupa sama Ayah? ini Ayah Buk. Ayah lagi dirawat di rumah sakit dan Ayah ingin ibuk yang besuk"


"Maaf ya, saya tidak mengenal Anda. jadi untuk apa saya besuk anda?"


"Ya Allah Buk, Ayah mohon"


Jijik sekali rasanya aku mendengar suara Adi seperti itu


"Sudah ya, saya banyak kerja. Saya tidak ingin diganggu lagi. Dan sudah saya katakan sama anda, bahwa saya tidak mengenal Anda. Jadi jika anda ingin istri anda membesuk Anda, silakan Anda menyuruh sipir untuk menghubungi istri anda, bukan menghubungi saya. Saya sudah punya suami dan saya tidak mengenal Anda"


Selesai berkata seperti itu, aku langsung memutuskan panggilan dan langsung meletakkan HP dengan emosi


Dan ternyata teman satu ruanganku kembali menatap ke arahku


Dengan sedikit mendecak karena kesal, aku lalu menceritakan semuanya kepada mereka


"Terus Mbak mau ke sana ? tanya Nadia


"Ihh, sorry lah yaw amit-amit !" jawabku yang disambut oleh teman satu ruanganku dengan tertawa terbahak


"Lah itu istri mudanya ke mana Din, kok bisa-bisanya orang lapas hubungin kamu ?"

__ADS_1


Aku angkat bahu mendengar pertanyaan bu Halimah


"Nggak tahu Bu, Mungkin dia nggak mau lagi sama Adi. Karena kan Adi udah kere, nggak punya apa-apa lagi"


Kembali jawaban santai ku memantik tawa teman-temanku


"Karma untuk seorang peselingkuh ya kayak gitu mbak" jawab Redho


Aku mengangkat kedua jempolku ke arah Redho sambil tersenyum puas


"Exactly!!, Mbak setuju sama kamu"


Setelah itu aku kembali fokus melanjutkan pekerjaanku sampai jam istirahat.


Dan kembali seperti biasanya ketika jam istirahat, kembali ada seorang deliver yang mengantarkan makanan ke ruangan kami dan tentu saja makanan tersebut kiriman dari Tomi


Dan tiap kali menerima kiriman makan siang dari Tomi senyumku selalu terkembang


Dan disaat aku dan teman-temanku satu ruangan sedang asyik-asyiknya menikmati makan siang, kembali Hp Ku berdering dan lagi-lagi dari nomor orang lapas yang tadi meneleponku


"Astagfirullah, mau apa lagi orang ini!!" geram ku


Dengan wajah yang kembali kesal, aku menerima panggilan tersebut


"Mau apa lagi sih Pak, Kurang Apa penjelasan aku tadi? kan aku sudah mengirim nomor istrinya Adi ke bapak. Jadi Bapak silakan hubungi nomor tersebut saja, bukan menelepon aku"


"Tapi nomor tersebut bilang bahwa dia juga tidak mengenal Adi, bu"


Aku sontak langsung tertawa mendengar jawaban dari orang pihak Lapas


"Bilang sama Adi, itu karma untuk dia. Jadi silakan dinikmati saja sama dia. Jangan bawa-bawa aku. Dan aku sampaikan sama bapak, sekali lagi jika Bapak menelpon aku, aku akan laporkan Bapak ke kantor polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan"


"Dan asalkan Bapak tahu, Kapolda provinsi ini, itu adalah Papinya sahabat aku, dokter Mila Pelapolri. Saya yakin Bapak mengenal dokter tersebut"


"Dokter Mila Pelapolri?, oh iya, saya mengenal dokter tersebut bu. Iya bu, Baik saya akan sampaikan kepada Pak Adi apa yang tadi ibu sampaikan. Selamat siang Bu, maaf jika kami mengganggu waktu istirahat ibu"


Kemudian panggilan berakhir dan aku dengan senyum lega menatap ke arah teman-temanku yang menaikkan alis mereka berkali-kali melihat aku tersenyum


"Ternyata perlu juga ya kita itu menakut-nakuti orang" jawabku yang disambut oleh teman satu ruanganku dengan tertawa


"Seriusan Din kamu kenal sama Kapolda provinsi kita?" tanya Pak Kusno seperti tak percaya


"Ya ampun Pak, jadi bapak pikir aku tadi bohong? ya seriusan lah. Anaknya Kapolda kita itu sahabat aku ketika SMA. Dan sampai detik ini dia itu sahabat aku. Itu loh Pak orang yang menghajar Adi ketika kemarin jadi tahanan polsek, itu teman aku. Dia itu dokter Mila, dan dia itu memang beneran anaknya Kapolda"


"Kalau bapak masih ingat, itu waktu ijab qobul ada kan perempuan yang pakai baju seragam sama teman-temanku yang lain yang ketika selesai Ijab yang heboh bersuit-suit. Nah itu, itu anaknya Kapolda, dokter Mila" jawabku yang membuat Pak Kusno mengangguk-anggukkan kepalanya sambil ber O panjang


Kemudian aku melanjutkan makanku sambil terus bercerita dengan teman-temanku, intinya mensyukuri apa yang terjadi sama Adi sekarang.


Selepas kami makan siang, kembali hp-ku berdenting dan aku melihat bilah notifikasi jika itu pesan dari Yesa


Aku tidak membuka langsung pesan Yesa tapi aku membaca melalui bilah notifikasi saja

__ADS_1


Maaf Din, aku tidak mau menemui Adi. Silakan kamu saja yang menemui dia. Aku sudah tidak mau berurusan lagi sama Adi. Aku sekarang sedang berusaha mencari kerja untuk hidupku dan juga anakku. Karena sekarang kami tidak tinggal di rumah itu lagi


__ADS_2