Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Tak Ada Nominal Dalam Cinta


__ADS_3

Melihat Tomi yang keluar, pak Kusno dan bu Halimah langsung mendekatiku


"Kira-kira kamu tahu tidak kenapa pak Tomi dipanggil pak Burlian?"


Aku menggeleng mendengar pertanyaan pak Kusno


"Apa kira-kira beliau marah ya Din?"


Aku menggigit bibirku mendengar ucapan Bu Halimah


"Marah?, bisa jadi" batinku yang mulai gelisah


"Tapi bapak nggak yakin pak Bos marahi pak Tomi, kan mereka saudara" sambung pak Kusno


"Tapi bisa jadi pak, kan Tomi tiap hari ke kantor, bisa jadikan pak Bos risih" jawabku


Pak Kusno dan Bu Halimah langsung saling toleh


"Masa iya?, kan beliau tahu Din jika kalian dulu sempat tunangan"


"What tunangan??!" Nadia segera mendekat dengan wajah yang sangat penasaran dan ingin tahu


Aku mendecak karena pak Kusno keceplosan, sedangkan pak Kusno refleks mendekap mulutnya kemudian nyengir ke arahku dan memanyunkan bibirku


"Ya ampun pantesan aja pak Tomi begitu perhatian sama mbak Dinda...." sambung Nadia lagi sambil memukul bahuku


Lalu dia dan bu Halimah cekikikan ditambah dengan Redho yang juga ikut terkekeh


"Jadi beliau manggil sayang itu berarti beneran sayang Din sama kamu....." tambah bu Halimah lagi


Selagi teman-temanku cekikikan, Tomi muncul


"Yuk, pulang....." ucapnya seperti tak terganggu bagaimana pandangan bu Halimah dan Nadia yang meliriknya dengan tatapan penuh makna


Aku mengangguk lalu berdiri, dan seperti biasa Tomi akan memegangi tanganku, tapi kali ini tangannya aku tolak


"Nggak apa kali Din, biar lebih mesra" goda bu Halimah yang membuatku memasang wajah cemberut kearahnya


"Lah bapak ibu nggak pulang?"


Mereka semua seperti tersadar dan segera kembali ke meja mereka masing-masing lalu mengambil tas mereka


"Aku biar jalan sendiri saja kak...." ucapku ketika seluruh teman satu ruanganku sudah keluar semua dari dalam ruangan


Tomi menurut, dilepaskannya tanganku lalu dia berjalan bersama pak Kusno dan Redho di belakang kami


Ketika sampai di luar kantor, Tomi segera kembali mengambil tanganku dan kali ini aku tak ada pilihan lain selain menurut


Setelah aku duduk dan Tomi juga telah duduk di belakang kemudi, Tomi langsung menjalankan mobil dengan pelan


"Kita beli buah dulu ya dek untuk anak-anak...."


Aku menoleh lalu menggeleng


"Yang dibawa rombongan Mila kemarin masih banyak"


"Lah terus bawa apa untuk anak-anak?"


"Nggak usah"


"Ice crema aja ya dek, kakak yakin anak-anak nggak akan nolak"

__ADS_1


"Terserah....."


Tomi langsung menoleh mendengar jawaban singkat dariku


"Kamu baik-baik aja kan dek?"


"Apa sih...."


Tomi terkekeh


"Kakak tahu, kamu ingin tahu kan kenapa kak Burlian manggil kakak tadi, iya kan?"


Aku diam seakan tak peduli, padahal sebenarnya aku sudah setengah mati penasarannya


"Kak Burlian nanyain kakak, kapan kakak melamar kamu lagi..."


"What??!" pekikku


Tomi kembali menoleh dengan kaget


"Biasa aja kali dek" jawabnya santai dan segera menghentikan mobil karena sampai di pusat perbelanjaan


Tomi turun tanpa mengajakku karena dia melihat bagaimana aku masih shock


Selagi aku masih berfikir keras tentang ucapan Tomi tadi, Tomi telah kembali lagi membuka pintu mobil lalu meletakkan kantong kresek yang berisi banyak sekali ice cream


"Nggak usah terlalu dipikirin, kak Burlian kan nanyanya benar" ucap Tomi lagi sambil memundurkan mobil lalu kembali melajukan mobil menuju rumahku


"Menurut adek gimana?"


"Apanya?"


"Omongan kak Burlian...."


Kembali Tomi terkekeh dan sebelah tangannya mengambil tanganku, menggenggamnya erat


"Kamu masih mau kan dek jika kakak ngajak kamu nikah?"


Aku diam seolah tak mendengar dan terus menatap lurus ke depan


"Kalo kamu mau, kakak akan kembali meminta kamu sama orang tua kamu"


Aku menarik tanganku lalu berusaha membuang wajahku


Melihatku yang hanya diam Tomi menarik nafas panjang dan ikut diam juga


"Maaf kalau kakak terlalu memaksakan keinginan kakak, harusnya kakak tahu diri"


"Itu kita bahas nanti kak, yang paling penting yang harus kita bahas saat ini adalah tentang toko kedua itu"


Tomi langsung menggaruk kepalanya, sementara aku telah duduk menghadap kearahnya


"Pokoknya kamu harus jelasin semuanya" ucapku menoleh keluar ketika mobil masuk kedalam pagar rumah kami


Suara teriakan Naya dan Arik yang menyambut kepulanganku terdengar gaduh ketika Tomi membantu keluar dari mobil


Setelah aku berdiri di luar mobil, Tomi kembali memasukkan setengah tubuhnya kedalam mobil, mengambil kantong kresek yang berisi ice cream


"Siapa yang mau....?" tanya Tomi sambil mengangkat kantong kresek tersebut yang membuat Naya dan Arik beralih kearahnya dan langsung melompat-lompat


Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum melihat bagaimana kedua anakku berebutan melompat mengambil kantong kresek di tangan Tomi

__ADS_1


"Ayo!" kembali Tomi memegang satu tanganku dan membawaku masuk


Naya dan Arik yang telah dapat ice cream sekarang telah berlari kearah gazebo dimana mbak Sri duduk bersama anaknya


Aku langsung duduk di sofa dan merebahkan kepalaku, tas yang tadi aku bawa aku letakkan di atas meja


Tomi hanya tersenyum melihat ke arahku yang menatap kearahnya


Aku melepaskan sepatu yang ada di kakiku lalu berusaha menunduk untuk melepaskan kaus kaki


"Biar kakak saja" ucap Tomi cepat yang segera menangkap tanganku


Aku hanya bisa menelan ludahku ketika Tomi melepaskan kaus kakiku dan meletakkannya kedalam sepatu lalu tanpa canggung dia berjalan kedalam meletakkan sepatuku di rak


Tak lama Tomi telah muncul dengan membawa sebotol air minum, lalu menuangkan isinya kedalam gelas dan memberikannya padaku


Aku menerimanya dengan malas-malasan dan Tomi sepertinya mengerti mengapa aku bersikap demikian


"Oke kakak cerita..." ucapnya yang langsung duduk di sebelahku


Aku lalu menegakkan kepalaku dan menatapnya dengan serius


"Kakak lakukan ini karena saking cintanya kakak sama kamu Din...."


Aku hanya bisa menelan ludahku dan mengedipkan mataku mendengar ucapannya


"Tolong percayalah sama kakak, kakak nggak ada niat lain, sumpah. Itu murni karena kakak sangat mencintai kamu"


"Oke, tapi pasti ada alasan lain kan?" tanyaku yang masih tak yakin


"Ya karena kakak tahu bagaimana sedihnya kamu ketika merelakan toko itu jadi diambil oleh rombongan pak Endro cs, memang sih kakak nggak lihat ekspresi kamu, tapi kakak yakin kamu pasti sangat terpukul"


"Terlebih ketika tahu penusukan terjadi setelah kamu menyerahkan toko itu pada rombongan pak Endro"


Aku menarik nafas panjang


"Makanya kakak berinisiatif untuk beli toko itu, karena tak ingin toko yang kamu bangun dengan hasil jerih payah kamu jadi milik orang lain, itu yang utama"


"Dan alasan lainnya adalah, kakak nggak mau lihat tujuh karyawan yang telah lama kerja di toko itu jadi pengangguran, kasihan mereka. Mereka pasti banyak berharap dari pekerjaan itu, dan jika toko itu dibeli orang lain, apa mungkin mereka masih dipekerjakan?, iya kan?"


Aku kian lekat menatap pada mata Tomi


"Benarkah ini alasan sesungguhnya?" batinku


"Masih nggak percaya?"


Aku diam


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang penting itu kakak lakukan karena kakak masih sangat mencintai kamu dan juga untuk kebaikan semuanya, nggak ada maksud lain"


"Oke aku percaya, itu artinya sekarang aku berhutang sama kakak"


Tomi terkekeh


"Hutang apa?, nggak ada hutang-hutang, itu toko kamu, kakak mengembalikan hak kamu, itu saja"


Aku menggeleng


"Nggak kak, bukan sedikit kakak nebus toko itu, nyaris satu M" jawabku bingung


Kembali Tomi terkekeh

__ADS_1


"Nggak ada nominalnya untuk cinta Din, kamu harus tahu itu"


Aku kembali harus menelan ludahku dan kembali harus menatap Tomi tanpa berkedip


__ADS_2