Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Surprise Di Kantor


__ADS_3

Beberapa karyawan kolam membantuku berdiri, dan sebagian lagi menarik Adi hingga keluar dari area kolam dan menutup pintu pagar


Kudengar Adi masih berteriak dan memaki-maki, aku yang telah berdiri segera membersihkan seragamku dan mengucapkan terima kasih pada mereka


"Mbak kami antar sampai kantor, kami khawatirnya nanti mas Adi ngikuti mbak dari belakang dan berniat mencelakai mbak"


Aku menggeleng pada pemuda yang tadi berniat mengantarkan ku


"Nggak usah mas, aku bisa sendiri, jika nanti Adi macam-macam lagi sama aku, aku bisa nelpon teman aku, kebetulan suaminya polisi"


"Biarlah mbak, kami tetap akan mengantarkan mbak, mbak lihat saja tadi, ada kami saja mas Adi masih kasar sama mbak, apalagi jika mbak sendiri"


Aku diam mempertimbangkan omongannya.


"Oke, baiklah"


Segera seorang pemuda yang mengatakan akan mengantarku mengambil motornya yang terparkir di dekat pondok kolam


Yang lain mengantarkan ku sampai mobil


"Jika mas Adi melalukan kdrt lagi sama mbak, mbak langsung saja telpon kami, biar kami menghajarnya"


Aku mengangguk, lalu aku masuk mobil, sebelum menjalankan mobil aku mengklakson pada mereka


Diperjalanan menuju kantor tak urung air mataku mengalir. Seumur pernikahan kami yang akan menginjak dua belas tahun, sekalipun Adi tidak pernah kasar apalagi memukulku, tapi tadi, bukan hanya menampar tapi Adi juga mendorongku


Apa sebegitu berubahnya dia hingga dia berani menyakitiku??


Aku menarik nafas berkali-kali, membuang rasa sesak yang memenuhi dadaku


Saking banyaknya masalah, sampai hari ulang tahunku sendiri saja aku lupa, malah Tomi yang ingat, aku tersenyum kecut sambil menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir


Kulihat melalui spion, dua orang karyawan kolam masih terus mengikuti ku. Hingga akhirnya aku akan berbelok ke kantor, barulah aku menghentikan mobilku. Motor yang dikendarai karyawan kolam tadi berhenti tepat di sampingku


"Ya mbak?" tanya mereka


"Mbak sudah sampai, kalian boleh pulang, oh iya nanti sore kalian semua ke rumah ya, ada hal penting yang ingin mbak sampaikan"


"Siap mbak" jawab mereka


Aku lalu tersenyum pada mereka, kemudian melajukan mobilku masuk ke parkiran


Sampai di parkiran aku tak langsung turun, aku menelungkupkan wajahku di atas stir, menangis


Entah rasanya sakit saja hatiku dengan perlakuan kasar Adi. Sudah berselingkuh, arogan, dan sekarang dia juga kasar padaku


Tomi yang telah lebih dulu sampai kantor terus memperhatikan Dinda dari balik kaca


Sikap Tomi makin membuat dua rekannya dan pak Burlian penasaran


"Apa yang kamu lihat?"


Tomi segera menoleh pada pak Burlian yang telah berdiri di dekatnya dan ikut melihat keluar


"Oh, lihatin Dinda. Kenapa dia?"


Tomi menarik nafas panjang


"Hari ini Dinda ulang tahun" lirihnya


Pak Arsen dan pak Bagaskoro saling melempar senyum dan menaikkan alis mereka


"Aku sudah buat rencana kejutan untuknya, tapi sepertinya itu tak akan terjadi"


"Loh, kenapa?" tanya pak Burlian


"Apa kakak nggak lihat jika Dinda sedang menangis"


Kembali pak Burlian menajamkan matanya, ah benar, Dinda sedang menangis, dilihatnya jika perempuan itu tampak mengusap wajahnya dengan tissue kemudian menghembus kuat hidungnya


"Kamu apakan sampai dia nangis?"


Tomi kembali menoleh cepat kearah pak Burlian


"Kakak apaan sih, Dinda nangis bukan karena aku, tapi karena suaminya"


"Loh kok mas Tomi tahu?"

__ADS_1


Tomi kembali menarik nafas panjang dan menoleh kearah pak Baskoro


"Tadi aku mengikutinya, dan kulihat dia ditampar dan didorong oleh suaminya"


Wajah pak Burlian berubah marah


"Lelaki pengecut, banci. Bukan laki namanya jika mukul perempuan" geramnya


Tomi diam, di dalam dadanya pun saat ini masih bergemuruh emosi pada Adi


Setelah aku merasa agak tenang, aku segera keluar dari dalam mobil dan melihat kearah kamera ponsel, memastikan jika mataku tak sembab


Sebab akan banyak pertanyaan jika teman seruanganku mendapati mataku sembab


Sambil menarik nafas panjang aku segera keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam kantor


"Hei, dari mana?" bu Halimah mendekatiku dan duduk di depanku


"Kepo"


Bu Halimah bersungut dan meneyeng kepalaku yang ku balas dengan terkekeh


"Redho belum pulang buk?"


"Belum, sore mungkin"


Aku ber O panjang dan segera membuka laptop untuk menghindari tatapan bu Halimah yang sejak tadi menatap tajam ke arahku


"Pipi kamu kenapa Din, kok kaya merah lebam gini?" ucapnya menarik wajahku


Aku sedikit meringis ketika beliau menyentuh wajahku


"Itu, tadi kebentur pintu mobil" jawabku asal


Kulihat bu Halimah memundurkan kepalanya seolah tak percaya. Justru pertanyaan bu Halimah padaku, mengundang pak Kusno ikut menatap ke arahku


Sementara Tomi yang masih berada di ruang pak Burlian tampak menelepon


"Reservasi tempat biasa, dengan menu yang sama seperti dulu, iya kali ini untuk orang cukup banyak, sekitar dua belas sampai lima belas. Nanti jam empat sore kami kesana"


Pak Burlian dan dua kepala tender menatap kearah Tomi dengan wajah serius


Pak Burlian menaikkan alisnya dan sedikit tersenyum


"Mengapa tidak kamu adakan kejutan di kantor ini saja?, agar seluruh karyawan juga bisa merasakan kebahagian kalian berdua"


Tomi tersenyum


"Yang bahagia hari ini itu Dinda kak, bukan aku"


"Tapi yang kakak terawang justru kamu jauh lebih bahagia dari Dinda"


Tomi tergelak


"Benar yang dikatakan pak Burlian, kenapa tidak acaranya diadakan disini saja?"


Tomi diam dan tampak berfikir


"Sebentar saya telpon bu Halimah dulu, bertanya bagaimana pendapatnya, biasanya kan sesama perempuan itu mempunyai selera yang sama"


Lalu pak Burlian menelpon Bu Halimah yang tak lama berselang telah mengetuk pintu


"Ada apa ya pak, bapak memanggil saya?" tanya bu Halimah sopan ketika beliau masuk


"Duduk dulu bu, ada hal yang ingin saya tanyakan"


Dengan dada yang berdegup kencang, bu Halimah duduk dan menatap gelisah pada pimpinannya yang menatap serius kearahnya


"Dinda ada di ruangan?"


Bu Halimah langsung menghembus nafas lega demi mendengar pimpinannya menanyakan Dinda


"Ada pak, kenapa? mau saya panggil?"


Pak Burlian menggeleng


"Coba ibu lihat daftar seluruh karyawan yang ada di tembok itu, khusus nama Dinda"

__ADS_1


Bu Halimah menurut, dia segera menoleh kearah banner besar yang terpasang di tembok dan langsung menuju nama Dinda


"Kenapa dengan nama Dinda pak?" tanyanya bingung


"Hari ini Dinda ulang tahun" jawab Tomi cepat


Bu Halimah terkekeh


"Kalau itu sih kami sudah tahu pak, ini tadi saya sudah suruh Redho pergi keluar cari makanan dan kue tart special untuk Dinda"


Wajah Tomi langsung sumringah


"Rencananya kami satu ruangan mau memberikan kejutan untuk Dinda, malah tadi kami isengin dengan meminta uang pada dia, padahal sih kami berenam telah patungan untuk memberikan kejutan padanya"


Pak Burlian langsung menoleh kearah Tomi


"Bisa tidak makanan yang kamu pesan tadi bawa kekantor saja, kita berikan Dinda kejutan sama-sama?"


Tomi mengangguk cepat, dengan segera dia kembali menghubungi pihak rumah makan untuk segera membawa pesanannya kekantor, dan ditunggu dalam waktu satu jam


Bu Halimah memandang bingung pada pimpinannya dan juga Tomi secara bergantian


"Dinda itu teman saya waktu SMA" jawab Tomi cepat demi dilihatnya bu Halimah menatap curiga kearahnya


Bu Halimah yang pamit keluar telah diberitahu untuk merahasiakan kejutan untuk Dinda, dan beliau juga telah menelepon Redho untuk kembali kekantor segera.


...****************...


Jam istirahat biasanya seluruh karyawan sibuk ke kantin atau keluar dari ruangan masing-masing dan bergerombol duduk di bawah pohon dekat parkiran


Lah kok ini malah sepi, pada kemana mereka. Aku yang celingukan mencari mereka segera mendapat telepon dari pak Burlian yang mengatakan jika semua karyawan telah berkumpul di ruang rapat, akan ada acara rapat akhir bulan


Aku yang tak menaruh rasa curiga sedikitpun, langsung bergegas berjalan menuju ruang rapat


Ruangan rapat tertutup, dan dari balik kaca yang gelap dapat kulihat banyak karyawan yang berdiri


Segera aku mendorong pintu dan


"SURPRISEEEEE....." teriak mereka dengan meledakkan balon di atas kepalaku yang membuat remahan kertas minyak berhamburan di atas kepalaku dan juga berhamburan di lantai


Seluruh karyawan perempuan memeluk dan mencium pipiku kanan kiri


Aku yang merasa kaget sekaligus bahagia dengan kejutan mereka hanya terus tertawa dan membalas pelukan hangat mereka


Lalu karyawan laki-laki mulai menyalamiku dan memberikan ucapan selamat untukku


Tak terkecuali pak Burlian dan dua kepala tender, ketika Tomi mengulurkan tangan ke arahku, aku menyambutnya dengan agak ragu


"Selamat ulang tahun ya dek" lirihnya


Aku hanya mengangguk dan memaksakan senyum padanya


"Mbak, tiup dulu lilinnya" teriak Redho yang muncul dari luar dengan membawa kue tart


Aku tersenyum kearahnya


"Maaf ya mbak, kami sengaja meminta uang tadi sama mbak, tapi uangnya masih utuh kok, jangan khawatir" ucapnya yang membuatku memukul lengannya


Aku terkekeh, tapi tak urung aku meniup lilin di atas kue tart, dan diiringi dengan tepuk tangan dari seluruh yang ada di ruangan besar ini


"Ini juga Din, tiup juga" ucap pak Burlian, aku segera mendekat kearah beliau yang memegang kue lalu berniat meniup ketika aksiku yang telah siap meniup lilin dihentikan beliau


"Make a wish dulu" ucapnya


Aku memejamkan mataku, dan Tomi tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung mengambil foto Dinda


Selesai meniup lilin, dan aku memberikan suapan pertama pada bu Halimah yang dibalas beliau dengan mencium pipiku berkali-kali


"Ayo kita makan, pak Tomi telah menyediakan makanan untuk kita semua" ucap pak Burlian lantang


Aku segera menatap tajam pada Tomi yang juga menatap tajam ke arahku


Seluruh karyawan langsung menyerbu kemeja panjang yang tersusun banyak sekali makanan, bahkan ada dua buah nampan tumpeng


"Yang ini katanya khusus untuk yang ulang tahun" goda pak Burlian memberikanku sebuah nampan ukuran sedang


Aku tersenyum menerimanya, lalu mulai menggigit daging bebek kesukaanku

__ADS_1


"Awalnya kakak ingin merayakan ulang tahunmu di tempat kita dulu"


Aku menoleh dengan mata terbelalak kearah Tomi yang berdiri di sebelahku


__ADS_2