Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Adi Pergi


__ADS_3

Aku mengajak kedua anakku ke toko, mereka langsung antusias dan sibuk naik turun tangga. Bahkan Naya sesekali ikut membantu karyawan mengambilkan pesanan pembeli


Jam sembilan aku ke kolam, kedua anakku aku tinggalkan di toko. Pemborong ikan sudah menelpon, jika dia sudah sampai di kolam


Memang aku janjian dengannya, aku ingin meminta salinan nota penjualan ikan selama ini


Setelah aku sampai di kolam, seluruh pekerja sedang berjibaku mengumpulkan ikan dan mulai mengepak ikan dan sebagian yang lain mengangkutnya keatas menggunakan motor lalu ada anak buah pemborong yang telah menunggu di atas mobil pick up dan mereka langsung menyusun kantong ikan


Pemborong ikan melambaikan tangan ke arahku ketika dilihatnya aku berjalan di atas pematang menuju pondok


"Tumben mbak turun sendiri, biasanya mas Adi"


Aku tersenyum dan mengulurkan tangan menyalami beliau


"Mas Adi nya sibuk pak, makanya aku yang turun langsung" elak ku


Segera beliau mengeluarkan salinan nota dan memberikannya padaku


Kembali aku harus menarik nafas panjang ketika melihat nominal yang tertera dengan nominal uang yang aku terima dulu


"Ini cuma tiga tahun terakhir ya pak?, yang sebelum-sebelumnya nggak ada apa pak?"


"Wah, sudah saya bakar mbak, itu saja untung ketemu"


Aku tersenyum kaku mendengar jawabannya


Kembali aku melihat nota yang jumlahnya ada beberapa lembar tersebut.


"Ya Tuhan Adi, alangkah banyaknya uang yang kamu korupsi?" batinku sedih


Setelah mengatakan jika mulai sekarang semua aku yang handle aku segera pamitan, dan kembali lagi ke toko


Sore hari barulah kami pulang ke rumah. Sampai di rumah aku langsung dicegat dengan Adi yang telah menunggu kepulanganku


"Minta uang!"


Aku segera menyuruh Naya mengajak adiknya masuk


"Aku mau ke rumah istriku" lanjut Adi


Aku duduk di kursi dan menatap kearahnya


"Uang apalagi yang kamu minta Adi?, belum cukup selama ini kamu telah menyelewengkan uang?"


Wajah Adi kembali gusar. Ditariknya kursi dan segera duduk di depanku


"Kamu dengarkan jika aku dari kemarin ingin ke rumah istriku?, mengapa aku belum juga pergi, karena semua keuanganku kamu stop!"


"Karena memang harusnya dari dulu keuangan kamu aku stop, sudah terlalu banyak uang yang kamu habiskan dan kamu hamburkan Adi"


"Beri aku uang atau kamu akan aku bunuh!"


Aku menarik nafas panjang

__ADS_1


"Lagi-lagi kamu mengancam ku, tapi tak apa, toh mas Julistiar sudah tahu jika kamu mengancam ku, jadi jika terjadi sesuatu padaku, tidak ada tuduhan kepada orang lain selain padamu"


"Jangan pancing emosi aku Dinda, aku tidak betah lagi di rumah ini, aku ingin pergi ke rumah istri mudaku, dimana aku bisa mendapatkan ketenangan di sana"


Aku tersenyum mencibir


"Baiklah jika memang kamu pikir di sana kamu lebih tenang dan lebih bahagia, aku persilahkan kamu pergi"


"Tapi aku butuh uang!"


Aku menggelengkan kepalaku


"Kamu itu kepala rumah tangga harusnya kamu punya uang, bukan dengan meminta padaku"


"Kamu sadar jika kamu memiliki dua istri, itu artinya kamu harus siap dengan dua nafkah"


"Dinda..." geram Adi tertahan ketika dilihatnya Naya telah berdiri di depan pintu


"Berilah dia uang buk, biar dia pergi dari kehidupan kita. Naya malu punya ayah macam dia


"Bahkan anakmu saja tidak mengharapkan kamu lagi Adi" cibirku


Adi mendengus kesal, lalu aku membuka dompetku dan memberinya dua lembar uang merah


"Nah, saya yakin ini lebih dari cukup untuk ongkosmu ke rumah istri muda mu itu"


Mata Adi terbelalak ketika dilihatnya di meja Dinda hanya memberinya uang dua ratus ribu


"Saya di sana ada anak istri, tidak mungkin mereka tidak aku beri uang"


Adi kembali mendengus kesal dan mengambil uang yang ada di meja


Dan segera dia masuk kedalam rumah dan tak lama telah keluar dengan membawa koper


Aku hanya bisa menarik nafas panjang melihatnya


"Aku tidak tahu berapa lama aku di sana, karena...."


"Kau harus selamanya di sana" potongku cepat


"Rumah ini tertutup untukmu Adi, sekali kau mengecewakanku, seumur hidupmu tak kan ku percaya lagi"


"Baik jika itu maumu, aku akan selamanya di sana, dan asal kamu tahu, aku masih mempunyai hak atas segalanya yang ada di sini"


Aku mencibir


"Hutangmu pada pak Bara jangan kau lupakan Andi, ingat ini sudah berjalan sepuluh hari, kamu hanya punya waktu dua puluh hari lagi, setelah itu siap-siap kamu dituntut beliau"


Wajah Adi kembali berubah kesal


"Itu biar aku pikirkan nanti, sekarang aku mau pergi"


Habis berkata begitu Adi segera menelpon mas Toro yang tak lama setelahnya datang mengantarkannya ke agen travel

__ADS_1


Aku duduk terhenyak ketika Adi telah pergi. Ada sebuah luka dan sakit yang aku rasakan dalam dadaku


Rumah tangga yang nyaris dua belas tahun kami bina serasa tidak berarti lagi


Naya yang melihat ibunya duduk termenung segera mendekat dan memeluk ibunya dari samping


"Relakan ayah buk, seperti kata ibuk ayah bukan cuma milik kita lagi, kita harus rela berbagi cinta ayah sama orang lain"


Tessss...


Air mataku langsung jatuh mendengar ucapannya


Ku elus kepalanya sambil memaksakan sebuah senyuman


...----------------...


Adi yang dibawa mas Toro ke agen travel hanya menunggu sekitar satu jam, setelahnya mobil travel yang akan membawanya ke kota sejuk berangkat


Sebelumnya dia memang telah menelepon Yesa dan mengatakan jika akan tinggal bersamanya


Tentu saja hal itu disambut Yesa dengan senang hati, sejak pagi dia telah merapihkan rumah dan telah memasakkan makanan kesukaan suaminya


Karena dia tahu, suaminya akan betah tinggal bersamanya


Barulah ketika malam, sebuah travel berhenti di depan rumahnya dan dengan segera Yesa membuka pintu


Pelukan dan ciuman hangat dari Yesa mampu melenyapkan segala kekesalan dan kemarahan di dada Adi


Wajah sumringah Yesa yang menyambutnya dengan bahagia mampu membuat Adi merasa lebih dihargai dan dicintai


"Karen sudah tidur?"


Yesa mengangguk dan segera menarik koper Adi kedalam kamar mereka


Lalu setelahnya menghangatkan sayur dan menyiapkan makan untuk suaminya


Adi yang telah lama makan nasi warteg sejak perang dingin dengan Dinda begitu lahap menikmati makanan yang dihidangkan Yesa


Selesai makan keduanya masuk ke kamar, dan melepaskan rindu dendam mereka setelah beberapa bulan tak berjumpa


Kembali Adi bisa merasakan manisnya hidup berumah tangga, servis yang diberikan Yesa memang sangatlah memabukkan untuknya


Sementara di tempat lain, aku hanya bisa membolak balikkan badanku tanpa bisa memicingkan mataku


Seluruh pikiran melayang-layang di kepalaku, aku yakin saat ini Adi sedang bersenang-senang dengan istri barunya


Tarikan nafas berat sudah tak terhitung berapa kali keluar dari mulutku, aku benar-benar merasa dadaku sesak dan sangat sedih


Hingga air mata yang sejak tadi keluar tak mampu mengurangi rasa kecewaku


"Mengapa aku harus merasakan sakit ini lagi Tuhan?" lirihku sambil menggigit bibirku menahan tangis


Rumah tangga yang kuharapkan bisa utuh sampai tua ternyata harus porak poranda saat ini

__ADS_1


Semua yang telah sama-sama kami bina kini harus aku pertaruhkan


Aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan dengan suamiku yang poligami atau aku akan menyerah suatu hari nanti


__ADS_2