
"Are you serious??!" tanya Mila
Aku malah bengong mendengar pertanyaannya
Begitu juga dengan sahabatku yang lain, mereka berebutan bertanya tentang kebenaran ucapanku ini
"Lu nggak lagi nge prank kami kan Din?" tanya Lisa
"Ah, ini pasti lu mau balas dendam kan karena tadi siang gue ikutan rencana kak Tomi buat nge prank elu?"
Aku menggeleng mendengar ucapan Mila
"Nggak lucu Din jika kamu ganggu quality time aku bareng keluarga cuma ingin buat heboh-hebohan" Nanda menimpali
Cuma Putri yang tak bersuara, dia hanya tersenyum penuh arti padaku, dan entah mengapa kulihat wajahnya seperti murung
"Kamu nggak ikutan kaya yang lain Put?" tanyaku
Putri menggeleng
"Aku percaya omongan kamu. Karena dari awal aku memang sudah tahu bagaimana cintanya Kak Tomi sama kamu. Kamu nggak lupa kan Din bagaimana perlakuan kak Tomi, surprise-surprise nya dia sama kamu ketika kamu sidang cerai kemarin?"
Aku mengangguk, sementara sahabatku yang lain diam
"Jika yang lain meragukan ucapan kamu, maka tidak dengan aku. Aku sangat percaya melebihi siapapun, karena aku yakin kalian berdua memang masih saling mencintai"
Kami semua diam mendengar ucapan Putri
Memang harus kuakui, lawyer cantik inilah yang tahu bagaimana selama persidangan cerai kemarin Tomi selalu menungguku di kantornya
Dan Putri adalah orang yang selama ini bisa menjaga rahasiaku. Yang lain memang bisa semua menjaga rahasia kami, tapi tidak seperti Putri, mungkin karena profesinya atau mungkin juga memang karakternya
"Sumpah deh, gue kok nggak suka ya dengar Putri ngomong kaya gitu"
Aku langsung menahan senyum mendengar ucapan Mila
"Jadi beneran lu mau married sama kak Tomi?" ulang Lisa
Aku mengangguk
"Aaaahhhhh....." mereka semua langsung menjawab dengan nada baper
"Kok mendadak?" kejar mereka lagi
"Kalau masalah kenapa mendadak kalian nanya nya sama aku, jangan sama Dinda" jawab Mila cepat
Aku langsung memasang wajah kesal ketika teringat bagaimana dokter bar bar satu ini ikut nge prank aku hari ini
Tanpa ba bi bu, Mila langsung menceritakan semua kejadian di rumah sakit tadi, bahkan sampai dengan aku yang menangis sambil memeluk Tomi tak luput dari ceritanya
Para Sahabatku bukannya kasihan karena aku kena prank, malah mereka tertawa terbahak-bahak
"Sudah ah, yang penting kalian sudah tahu kan jika lima hari lagi aku akan nikah, nah yang jadi masalah itu adalah aku belum ada persiapan sama sekali, kalian ada yang bisa bantu?"
Kembali semuanya berebutan bicara yang membuatku kebingungan dan mengusap wajahku
__ADS_1
"Setuju kan Din?"
Aku diam mendengar pertanyaan Lisa, karena aku sendiri bingung harus setuju dari segi apa, karena saking rebutannya mereka ngomong
"Udah-udah. Besok jam dua belas kita kumpul di warung makan depan kantor Dinda" putus Mila yang membuat yang lain dan aku setuju tanpa menolak sedikitpun
"Ya udah, sana tidur. Jangan banyak pikiran, pokoknya kita semua akan terjun langsung bantuin kamu" ucap Putri yang membuatku tersenyum bahagia
----------------
Seperti biasa Tomi sudah menjemput ku sebelum kedua anakku berangkat sekolah. Dan ini adalah kedua kalinya Tomi mengantarkan Naya dan Arik sekolah
"Sudah siap semua kan?" tanya Tomi ketika aku keluar dari rumah saat dia pulang dari mengantarkan Naya dan Arik sekolah
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya
"Bisa cuti kan dek?"
Aku menoleh
"Maksudnya?"
"Ya kita kan mau nikah, mintalah cuti sama kak Burlian, atau kakak saja yang minta cuti kamu sama beliau?"
Aku menggeleng cepat
"Nggak ah, masa harus cuti, kemarin loh aku nyaris dua bulan cuti, masa ini harus cuti lagi, itu kantor pemerintahan kak, bukan kantor pribadinya pak Burlian"
Tomi tertawa mendengar jawabanku
Kan Acaranya Sabtu Minggu bertepatan dengan libur kantor jadi nggak usah cuti lah" jawab ku
"Ya kalau itu maunya adek sih terserah. Yang penting bagi Kakak kita secepatnya menikah dan sah menjadi suami istri"
Aku tertawa kecil mendengar ucapan Tomi.
Dan seperti biasanya juga begitu sampai di kantor, lagi-lagi Tomi mengantarkan ku sampai ke dalam ruangan.
Setelah aku duduk, baru Tomi keluar dari dalam ruangan.
Dan ketika selesai apel aku langsung melakukan aktivitasku seperti biasanya. Tidak berbicara sedikitpun masalah lamaran semalam kepada teman satu ruanganku. Aku ingin memberi kejutan kepada mereka semua.
Hingga akhirnya sebelum jam 12.00 siang hp-ku telah berdering, terlihat di layar panggilan dari Mila.
Segera aku mengangkat panggilan dari sahabatku satu itu. Dan betapa kagetnya aku setelah aku mengetahui jika semua sahabatku sudah berkumpul di warung makan depan kantorku tinggal aku saja yang belum datang.
Karena jam kantor istirahatnya kurang lima menit lagi, akhirnya aku meminta izin pada Pak Kusno untuk keluar istirahat terlebih dahulu.
Aku yang memang sudah mulai agak sembuh, segera berjalan cepat keluar dari kantor. Menyeberang jalan menuju tempat di mana tempat sahabat-sahabatku sudah menungguku.
"Eh bestie, kalian cium bau sesuatu nggak sih?" Rohaya langsung bersuara ketika aku sampai di depan mereka semua .
Kelima sahabatku yang lain saling toleh dan mulai mengendus-endus, bahkan Mila sampai mencium keteknya.
"Nggak ada bau apa-apa" jawab Mila.
__ADS_1
Yang lain mengangguk setuju membenarkan jawaban Mila.
"Ya ampun kalian ini, maksud gue yaaa nggak bau beneran juga kali guys. maksud gue itu bau bunga melati. Maklum calon pengantin baru datang" jelas Rohaya yang disambut O panjang dari sahabat-sahabatku yang lain.
Aku langsung memeluk Rohaya sambil tersenyum mendengar candaannya.
"Buruan duduk! nggak ada istilah cipika-cipiki peluk sana peluk sini, karena waktunya udah mepet" ucap Putri yang memang terkenal on time.
Aku terpaksa nyengir mendengar ucapan Putri. Aku yang semula berniat mau memeluk Vita terpaksa aku batalkan, dan hanya mengelus pelan tangan Vita saja.
Segera aku menarik kursi yang memang disediakan untukku. Dan begitu aku duduk, Putri langsung menjelaskan semua konsep yang sudah dia buat.
Sahabat-sahabatku yang lain ikut menambahkan ide mereka pada konsep yang telah dibuat Putri. Hingga akhirnya tepat satu jam meeting dadakan kami itu selesai.
"Gimana, Kamu setuju kan?" Tanya Putri
Aku tidak menjawab ucapan Putri, melainkan memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
'Please deh.., malah mewek..." ucap Mila kesal sambil merangkul bahuku dan mengusap-usapnya.
Melihat aku sudah menangis haru, kelima sahabatku yang lain segera berdiri lalu kami semua berangkulan.
"Jam 04.00 nanti gue akan jemput elu. Kita langsung foto prewed" ucap Lisa.
"Nggak usah pakai foto prewed kenapa sih? udah tua lagi...." tolak ku.
"Elu nggak usah membantah. Ini semua sudah kami rancang ya. Lu diem, turutin semua apa yang kita mau, ngerti?" ucap rohaya yang membuatku segera mengangguk cepat.
Vita dan Nanda langsung terbahak melihat aku mengangguk dengan ekspresi takut ke arah
Rohaya.
"Lu segera balik lagi ke kantor, meeting ini biar kami lanjutkan" ucap Putri
Kembali aku mengangguk cepat menuruti perintah ke enam sahabatku. Setelahnya aku berdiri dan langsung mencium cepat pipi mereka semua
"Ingat, jam 04.00 gue jemput!" teriak Lisa saat aku sudah di depan pintu warung yang ku jawab dengan mengangkat jempol tanganku.
Kembali Aku berjalan tergesa menuju kantor karena aku sudah terlambat sepuluh menit.
Sampai akhirnya jam 04.00 sore. Lisa benar-benar menjemput ku ke kantor dan langsung membawaku menuju ke tempat pemotretan yang aku sendiri tidak tahu di mana tempatnya.
Sepanjang jalan menuju tempat pemotretan prewed, aku sibuk bertanya pada Lisa bagaimana dengan Tomi, apa dia sudah diberitahu, dan Lisa menjawab semuanya sudah beres, sampai MUA juga sudah ada di lokasi.
Dan benar saja ketika sampai di tempat lokasi pemotretan, sudah ada Tomi yang langsung menyambut kedatanganku.
"Maaf kak, nanti sayang-sayangannya" ucap Lisa yang segera menepis tangan Tomi ketika Tomi hendak mengacak kepalaku.
Karena semuanya serba mendadak, begitu sampai aku langsung dibawa Lisa ke tempat mua yang telah siap me make up wajahku.
Hingga akhirnya, kurang dari jam lima pemotretan untuk prewed segera kami lakukan di out door.
Entah kapan Lisa menghubungi pihak Mua, Aku tak tahu. aku sampai berganti pakaian sampai tiga kali, dan itu membuatku sendiri sampai kebingungan dan geleng-geleng kepala.
Hingga akhirnya sebelum maghrib Kami sudah di jalan pulang.
__ADS_1
"Kalian segeralah pulang ke rumah. Hati-hati di jalan. Dan foto ini, langsung malam ini juga aku suruh mereka mencetaknya. Dan juga aku sudah meminta filenya karena akan aku bawa ke percetakan untuk segera dibuatkan undangan. Besok pagi aku akan antar undangannya sama kamu" ucap Lisa yang kembali membuatku tidak bisa berkata-kata.