Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Kejutan Lagi


__ADS_3

"Woy penganten baru....!!!!" teriak teman satu kantorku ketika melihatku turun dan berjalan masuk area kantor.


Aku mengembangkan senyum ke arah Mereka. Kemudian mendekat, lalu mengulurkan tanganku dan menyalami mereka dengan takzim.


"Wah masih bau melati....." kembali mereka menggodaku ketika aku ikut bergabung bersama mereka.


"Kuntilanak dong aku kalau bau melati?" jawabku yang disambut mereka dengan tawa terkekeh.


"Gimana Din bulan madunya, sukses?" tanya Mereka lagi.


"Alhamdulillah berjalan lancar bu, semuanya sukses. Dan iya, maaf ya... oleh-oleh yang aku beli untuk ibu-ibu semua, belum bisa aku bawa karena oleh-olehnya belum sampai rumah. Tapi aku janji, begitu sampai nanti akan aku bagikan satu-satu".


Mereka langsung mulai heboh mendengar kalimatku yang mengatakan jika aku akan membagikan oleh-oleh untuk mereka semua.


Kemudian Aku menoleh ke arah dalam kantor, ketika melihat bu Halimah berlari tergopoh ke arahku.


Langsung lah kami berdua berpelukan erat dan cipika cipiki.


"Ayo masuk ruangan kita dulu. Kamu bukannya masuk ruangan dulu, eh malah kamu mampir di sini" ucap bu Halimah sambil mencubit pelan tanganku.


Aku tersenyum mendengar ucapan beliau. Lalu aku berpamitan kepada teman-temanku yang lain, dan berjalan mengikuti bu Halimah yang menggandeng tanganku.


Begitu sampai di ruangan, ternyata sudah ada Redho. Yang tumben sekali sudah sampai di kantor. Biasanya dia adalah orang yang paling terakhir datang.


Belum lagi aku duduk di kursi yang sudah aku tinggalkan selama lebih dari satu minggu, aku langsung di berondong dengan permintaan oleh-oleh dari Redho.


"Maaf sekali ya Redho dan juga bu Halimah, oleh-olehnya sudah aku beli untuk kalian. Jangan salah tanggap, tapi yang jadi masalah di sini adalah, oleh-oleh tersebut masih di jalan belum sampai. Karena oleh-olehnya aku kirimkan lewat paket. Kalian kan tahu sendiri, naik pesawat nggak boleh bawa barang banyak, jadi khusus untuk oleh-oleh aku kirim lewat paket".


Keduanya langsung memandang tak yakin ke arahku.


"Ya ampun sumpah. Sejak kapan sih aku bohong sama kalian?, nggak pernah kan?" jawabku cepat untuk meyakinkan mereka sambil aku langsung mengecek sudah sampai di mana barang ku dikirim saat ini. Lalu aku menunjukkan ke arah mereka berdua buktinya yang membuat keduanya tersenyum sumringah.


Melihat mereka tersenyum aku langsung mencibir.


"Kebiasaan deh, Kirain nggak ketemu aku kangen. Eh malah sibuk nanya oleh-oleh" ucapku dengan nada merajuk.


Bukannya tersinggung dengan ucapanku, Redho dan Bu Halimah langsung tertawa terbahak yang membuat aku makin memanyunkan bibirku.


"Ini kenapa pagi-pagi sudah rame?" tanya Pak Kusno yang membuat Kami bertiga langsung menoleh.


Aku langsung mengembangkan senyumku lalu berjalan ke arah Pak Kusno. Kemudian mencium punggung tangan Beliau dengan takzim.


"Alhamdulillah pengantin baru sudah pulang. Ruangan ini sepi tau nggak Din, nggak ada kamu. Dan Kami semua sangat merindukan kamu".


Aku makin mengembangkan senyumku mendengar ucapan Pak Kusno, lalu menoleh ke arah Redho dan Bu Halimah yang juga tersenyum.


Kemudian tak lama menyusul masuk Nadia, yang juga sama seperti Ibu Halimah dan Redho langsung menodong ku dengan pertanyaan minta oleh-oleh.


Dan sama seperti yang ku katakan dengan bu Halimah tadi, aku menjelaskan juga kepada Nadia yang membuat gadis cantik itu menganggukkan kepalanya.


Hingga akhirnya kami semua keluar dari dalam ruangan, apel pagi. Kemudian melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Di jam istirahat, hp ku berdering dan kulihat itu panggilan video dari Tomi.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah suruh orang untuk kirim makanan untuk kamu dan teman-teman yang lain. Mungkin sebentar lagi dia akan datang, kamu jangan lupa makan ya?"


Aku menganggukkan kepalaku tepat di saat pintu ruangan kami diketuk oleh seorang deliver, yang mengantarkan makanan yang tadi dikatakan oleh Tomi .


Redho dan Nadia segera mengambil makanan yang diantarkan oleh deliver tersebut. Lalu segera meletakkannya di depanku.


"Sudah Sayang, ini makanannya sudah sampai. Terima kasih ya. Kamu juga jangan lupa makan. Jangan hanya ngurusin proyek" ucapku dengan nada manja ke arah Tomi yang mengangguk .


"Cieeee, sekarang sudah berani ya ngomong sayang. Dulu aja ngumpet-ngumpet" goda bu Halimah yang membuat ku langsung terkekeh.


Setelah itu aku langsung melambaikan tanganku ke arah Tomi karena aku mau makan siang.


Aku langsung meminta kepada Nadia dan Redho untuk membagikan kotak makan siang kami.


Dan lagi-lagi aku tersenyum karena isi kantong kresek tersebut semuanya adalah makanan kesukaanku, lengkap.


"Wah, melihat menu makan seperti ini, Bapak jadi keinget ketika kita mengantarkan rombongan pak Tomi melihat pembangunan jalan di desa A" ucapkan Kusno ketika membuka kantong kresek miliknya.


Bu Halimah, Redho dan Nadia langsung menghentikan kunyahan mereka mendengar ucapan Pak Kusno.


"Maksudnya pak?" tanya bu Halimah yang membuatku mendecak karena jiwa kepo Ibu satu itu mulai meronta-ronta.


Pak Kusno melirik ke arahku kemudian beliau tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama jika Dinda dan pak Tomi itu memiliki hubungan spesial. Tapi aku tidak memberitahu kalian. Karena aku tahu kalian semuanya bermulut ember" ucap pak Kusno santai yang langsung membuatku terbahak-bahak.


Ketiganya langsung bersungut-sungut mendengar ucapan santai Pak Kusno.


...----------------...


Aku yang sudah santai karena menunggu jadwal pulang segera tersenyum begitu membaca pesan yang dikirim Tomi


Why not?, kakak jangan pulang telat ya.


*Siap


Kita bawa apa kak ke rumah ibuk?


Bawa cinta dan bahagia saja*


Aku langsung terkekeh membacanya. Yang membuat teman satu ruanganku langsung menoleh curiga


"Baca pesan dari suami aku...." jawabku yang mengerti tatapan heran mereka.


Mereka ber O panjang, lalu kembali fokus menatap HP mereka masing-masing.


Hingga akhirnya jam kantor bubar, dan aku langsung keluar dari kantor dan langsung melajukan mobilku ke toko kue.


Sebenarnya ibu mertuaku itu sangat pintar masak kue. Segala jenis kue dia bisa. Tapi masa iya aku kesana dengan tangan kosong? kan nggak mungkin.


Jadi aku sengaja membeli cukup banyak aneka kue bahkan setelah itu aku juga mampir ke toko buah membeli beraneka macam buah.


Ketika aku sampai di rumah, kedua anakku sudah rapi.

__ADS_1


"Tumben sudah cantik dan ganteng. Biasanya kalau ibuk pulang kalian belum mandi" tanyaku heran sambil melepas sepatu, kemudian masuk ke dalam rumah.


"Papa tadi nelpon. Kalau malam ini Kita nginep di rumah eyang. Makanya kami berdua sudah rapi" jawab Naya.


Aku menganggukkan kepalaku sambil ber-O panjang ketika mendengar jawabannya.


Kemudian aku langsung meletakkan dua kantong kresek besar di atas meja. Meminta kepada Mbak Sri untuk mengambil miliknya, karena aku juga tadi membelikan kue dan buah untuk Mbak Sri. Setelah itu aku langsung naik ke kamarku dan bergegas mandi. Karena aku tak ingin, suamiku pulang aku belum siap.


Dan benar saja, baru juga aku selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, aku lihat Tomi sudah duduk di atas ranjang.


Aku segera berjalan ke arah Tomi dengan merentangkan kedua tanganku lalu memeluknya.


"Segarnya....." ucap Tomi sambil mencium aroma tubuhku yang masih mengenakan handuk.


"Sudah sana mandi, Nanti terlambat loh" ucapku yang segera melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku .


Tomi terkekeh, kemudian bangkit lalu mendaratkan sebuah ciuman mesra di keningku. Baru setelah itu dia melesat masuk ke kamar mandi.


Setengah jam berikutnya Kami sudah di perjalanan menuju rumah orang tuanya Tomi.


Dan kedua anakku yang untuk pertama kalinya kami bawa ke daerah Tomi, tampal antusias di sepanjang jalan.


Dan lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Tomi sudah masuk ke halaman rumah orang tuanya.


Mungkin karena memang sudah diberitahu jika kami akan datang, keluarga besar Tomi langsung keluar menyambut kami.


Ibunya Tomi langsung memelukku dengan erat, bergantian dengan memeluk kedua anakku barulah setelah itu dia memeluk Tomi.


Dan aku langsung menyerahkan buah tangan yang tadi aku beli kepada adik iparku, istri adik kedua Tomi. Dia tersenyum ketika aku memberikan kantong kresek besar kepadanya.


Dan memang antara aku dan dia sudah lama kenal. Dulu ketika aku berpacaran sama Tomi, dan dia berpacaran sama adiknya Tomi kami sudah saling kenal dan suka ngobrol bareng. Jadi tak heran jika sekarang kami akrab kembali.


Malamnya, ketika semua adik Tomi telah kembali ke rumah mereka masing-masing, dan kedua Anakku tidur di kamar depan, Aku dan Tomi lalu masuk ke kamar Tomi.


Memang aku dulu lama berpacaran dengan Tomi, bahkan kami juga sempat tunangan. Tapi sekalipun Aku tidak pernah masuk ke kamar nya.


Jadi aku sedikit ragu ketika akan masuk ke kamarnya yang membuat Tomi tertawa.


"Ayo Sayang masuk, ini itu kamar kita sekarang. Kok kamu malah ragu gitu sih?" tanya Tomi yang membuatku tersenyum kaku ke arahnya.


Tomi lalu membimbingku masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu dan menguncinya.


"What?" ucapku dengan nada kaget, ketika aku melihat betapa banyak fotoku terpajang di kamar Tomi .


Tomi segera memelukku dari belakang dan mencium bahuku berkali-kali


"Kaget ya? ya ini semua foto kenangan kita. Dari kita pacaran jaman SMA sampai kita bertunangan. Itu semuanya tidak pernah aku buang. Semuanya aku pajang bahkan ada juga di album di dalam lemari".


Aku tidak bisa menjawab apa-apa ucapan Tomi, karena jujur aku sangat syok.


Betapa aku tidak kaget, di dinding kamar Tomi itu terpajang fotoku dan foto Tomi waktu kami SMA. Saat aku ulang tahun, saat kami makan, saat kami jalan-jalan, saat kami berboncengan naik motor besarnya, semuanya terpajang dengan rapi dan itu benar-benar membuat aku speechless.


Dan yang lebih membuat aku speechless adalah ketika melihat foto kami tunangan dulu. Saat itu kami sama-sama memamerkan cincin di tangan kami dengan tersenyum manis ke arah kamera.

__ADS_1


"Selama ini aku hidup dengan mengingat kenangan bersamamu Dinda" lirih Tomi yang membuat mataku langsung berkaca-kaca.


__ADS_2