Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Definisi Luka Tak Berdarah


__ADS_3

Aku hanya terdiam melihat mereka mendekap ku. Bahkan usapan pelan mereka di punggungku hanya aku balas dengan menelan ludah dengan bingung


“Kamu ingat semuanya kan Din?” tanya Mila yang membuatku menoleh kearahnya, dan menatapnya dengan bingung


Kemudian aku memejamkan mataku dengan menarik nafas panjang


“Apa yang terjadi sama aku?. Aku hamil dan anaknya pak Burlian itu anak aku. seingat aku seperti itu. Dan Naya, iya aku ingat, Naya sekarang jauh lebih tinggi. Aku ingat dulu dia masih kecil waktu mas Adi pergi dari rumah dan memilih tinggal dengan selingkuhannya”


“Mas Adi selingkuh?” ucapku kemudian dengan nada bingung, kemudian aku kembali memandang heran kearah para sahabatku yang terus saja menatap ke arahku


“Beneran mas Adi selingkuh? Terus aku hamil anak siapa?”


Diam, semuanya masih diam dan hanya memperhatikanku dengan tatapan sendu.


“Tolong, adakah yang disini mau menjawab pertanyaanku?” mohonku dengan mengusap wajahku dengan kebingungan


“Mbak Dinda ingat siapa suami mbak?” tanya dokter


Aku diam, sedetik kemudian aku memejamkan mataku


“Mas Adi”


Di luar ruangan, Tomi yang sejak tadi ingin sekali masuk ketika melihat istrinya mulai mengingat masa sekarang kembali harus meneteskan air mata ketika mendengar bahwa Dinda masih mengingat jika Adi adalah suaminya


“Tapi kemudian kami bercerai. Iya dokter, kami bercerai tak lama setelah dia ketahuan selingkuh. Kamu kan Put yang jadi pengacara aku?” ucapku sambil menarik tangan Putri


Mila terduduk lemas sambil menatap sedih kearah sahabatnya yang sekarang tengah menuntut jawaban dan penjelasan dari Putri


Putri mengangguk pelan ketika aku bertanya padanya


“Setelah itu…, setelah itu….. tidak, tidak, tidak mungkin” ucapku lagi


“Keluarkan semua mbak Dinda. Semuanya”


Aku menggeleng mendengar ucapan dokter yang sejak tadi menatap serius ke arahku


“Aku ingin bertemu dengan kedua anak aku” lirihku. Kemudian aku menangis yang langsung membuat para sahabatku kembali mendekap ku


Mila langsung menempelkan hp di telinganya


“Naya, kesini sekarang nak. Ibuk kamu ingin kamu kesini”


Naya yang memang ada di rumah sakit ini bersama dengan adiknya, segera naik ke ruang terapi begitu di beritahu oleh Mila. Dan keduanya menghentikan langkah mereka ketika melihat Tomi berdiri di luar ruangan, tampak tengah terisak


Naya dan Arik saling toleh, kemudian Tomi yang sadar jika ada orang lain segera mengusap kasar wajahnya, dan ketika dia menoleh mendapati kedua anak sambungnya, dia berusaha untuk tersenyum getir. Naya hanya menatap datar pada wajah Tomi begitu juga dengan Arik. Lalu keduanya berlalu dari hadapan Tomi dan langsung mendorong pintu ruang terapi yang membuat yang ada di dalam ruangan tersebut menoleh cepat kearah pintu yang didorong


“Tomi……?” lirihku ketika aku melihat jika ada Tomi berdiri di luar pintu


Naya dan Arik berjalan cepat ke arahku dan langsung memelukku dengan erat. Aku mendekap keduanya, tapi pandanganku terus tertuju kearah Tomi yang berdiri diluar yang saat ini sedang menatap ke arahku


“Ibuk sudah baikan?” tanya Naya

__ADS_1


Aku memaksakan untuk tersenyum menjawab pertanyaannya, kemudian aku memegang kedua tangannya dan menatapnya dari atas hingga bawah


“Ibuk kok baru sadar ya nak kalau sekarang kamu makin tinggi dan besar”


Naya tersenyum getir kemudian melirik kearah Mila yang hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian aku berpindah kearah Arik, dan memeluknya


“Ibuk pasti melewatkan waktu yang lama. Hingga ibuk nggak sadar jika kamu juga sudah besar nak” lirihku ketika mendekapnya


“Nggak kok buk. Ibuk selalu sama aku dan kakak. Ibuk Cuma koma sebulan lebih. Waktu koma saja ibuk tidak sama kami” jawabnya yang membuatku menelan ludahku dengan susah payah


“Benar aku koma sebulan lebih?”


Mila menarik nafas panjang ketika aku menoleh kearahnya, kemudian dia mengangguk pelan


“Nay, Yusuf anak pak Burlian itu adik kamu bukan? Maksud ibuk dia anak ibuk juga bukan?”


Kembali kulihat Naya menoleh kearah Mila dan juga dokter terapi. Dan keduanya menganggukkan kepala mereka. Semua wajah para sahabatku tegang dan tidak ada dari mereka yang bersuara


“Iya buk. Yusuf anak ibuk. Anak ibuk sama om Tomi….”


Aku membekap mulutku kemudian aku mendorong tangan Naya yang hendak menyentuh tanganku. Aku terus menggelengkan kepalaku, berusaha untuk mengingat semuanya.


“Din, jangan dipaksa kalau kamu nggak sanggup” isak Lisa


Aku kembali menghembus nafas berat kemudian kembali menatap keluar ruangan dimana aku masih melihat ada Tomi berdiri di tempatnya semula


Kemudian aku meraba perutku, berkali-kali aku meraba perutku yang memang sudah rata


Naya mendekap ku. Dan tampak dia terisak ketika mendekapku


“Ikhlasin adik ya buk. Adik nggak mau sama-sama kita” lirihnya


Yang membuatku menarik tubuhnya dan memandangnya dengan tajam


“Mil? Kamu dokter. Jelasin semuanya sama aku!”


Diam. Tidak ada yang bersuara. Dan hal itu membuatku semakin merasakan kesakitan yang hebat mendera dadaku


“Aku hamil. Dan sekarang perut aku rata. Yusuf anak aku, tapi mengapa dia dengan pak Burlian?” kembali aku meraba perutku. Dan dibagian yang pernah aku lihat ada lukanya, tanganku berhenti


“Kamu dokter Mila. Mengapa kamu tidak menyelamatkan anakku?. Aku tahu kamu dokter hebat, mengapa dengan hanya menyelamatkan nyawa anakku saja kamu tidak bisa?” isakku


“Anakku kemana? Anakku kemana Mil? Put? Lisa? Kalian semua jangan diam. Kalian pasti tahu dimana anakku?. Ayo jawab aku!!” kembali aku bertanya dengan putus asa sambil terisak


Arik dan Naya mendekap ku. Keduanya kembali menangis


“Anakku tidak bersalah Mil. Mengapa kamu tidak mau menyelamatkannya?. Harusnya anak aku yang kamu selamatkan, bukan aku”


Terisak. Semua sahabatku terisak mendengar ucapanku. Tak terkecuali Mila dan dokter yang sejak tadi tidak pergi meninggalkan kami


“Sayang……” lirih sebuah suara serak yang membuatku mengangkat wajahku

__ADS_1


Tomi mendekat, kemudian dia segera memelukku dengan erat


“Kita harus ikhlas sayang ya…. Ini semua sudah takdir Tuhan. Dan kita harus siap menerimanya”


Aku mendorong tubuh Tomi, kemudian memandang tajam kearahnya


“Aku belum seutuhnya ingat bagaimana hubungan kita. Tapi yang aku ingat, kamu pernah meninggalkan aku. Dan sekarang kamu adalah suamiku, tapi seingatku…….” Aku menggeleng


“Mil, aku mau pulang. Aku mau lihat dimana makam anak aku”


Mila mengusap kasar wajahnya, kemudian menatap kearah dokter yang juga menatap kearahnya


“Saya yang bertanggung jawab dengan kesehatannya dokter” ucap Mila meyakinkan


Dokter tersebut tak ada pilihan lain selain menganggukkan kepala. Kemudian para sahabatku membantuku berdiri dan membawaku keluar dari ruangan terapis yang sejak delapan hari ini selalu menjadi tempatku jika siang hari


Aku di dalam mobil berlima dengan Putri yang menyetir dan Rohaya yang duduk di sebelahku berdua dengan Naya


Mobil Tomi di depan, kemudian mobil Putri. Baru setelahnya mengiring mobil Mila dan mobil Lisa. Sepanjang jalan aku lebih banyak diam, dan hanya membiarkan ketika Rohaya dan Naya menggenggam erat tanganku


Mobil masuk kearea pemakaman, dan ketika berhenti, kembali aku dibimbing oleh para sahabatku. Disebuah gundukan tanah merah yang berukuran sangat kecil Tomi berhenti, kemudian dia menoleh ke arahku


“Disini Balqis kita…..” lirihnya yang membuat mataku panas


Aku segera terduduk bersimpuh di gundukan tanah yang mulai mengering tersebut. Dadaku berdenyut hebat dan refleks aku memeluk gundukan tanah tersebut


“Maafin ibuk nak yang tidak melahirkan kamu dengan sempurna. Yang tidak sempat melihat bentuk kamu. Maafkan ibuk” isakku


Semua sahabatku tertunduk dan mengusap wajah mereka yang tampak basah. Tomi berjongkok dan merengkuh bahuku, diapun ikut menangis


“Semua ini gara-gara kamu. Jika saja kamu dan ibu kamu tidak menuduhku yang bukan-bukan, tentulah anak yang ada di dalam kandunganku tidak akan keguguran” ucapku dengan tatapan marah kearah Tomi


“Kamu dan ibu kamu sudah sangat jahat sama aku. Kamu tahu aku hamil, tapi kamu malah membiarkan aku ke dokter sendiri. Dan ketika mau pulang pagar kamu kunci. Bukannya kamu membelaku, tapi kamu ikut menyudutkanku seperti ibumu yang memfitnahku. Aku benci sama kamu Tomi. Kamu adalah orang yang harus bertanggung jawab atas gugurnya anak yang ku kandung. Kamu tidak pantas menjadi ayah dari anak-anakku. Kamu lelaki pengecut!!!!” teriak ku histeris


Tomi bukannya marah malah kembali mendekap ku dengan erat. Aku terus memukul dadanya agar dia melepaskan dekapannya padaku, tapi aku tak berhasil. Tomi tetap saja mendekap ku dengan erat.


“Kamu renggut anak yang seharusnya lahir Tomi. Kamu paksa dia untuk keluar sebelum waktunya. Kamu jahat Tomi, kamu jahat!!!!” aku kembali berteriak


Karena Tomi masih saja mendekap ku dengan eratnya, dengan nekad aku gigit dadanya dengan kencang yang membuatnya menjerit tertahan sehingga melepaskan dekapannya padaku


“Pergi kamu dari sini. Kembalilah kepangkuan ibumu. Bela ibumu, dan salahkan aku terus”


Setelah berkata demikian aku kembali bersimpuh di gundukan tanah janin ku yang telah terkubur entah berapa lama tersebut


“Maafkan ibu nak. Ibu jahat karena tidak bisa menjagamu. Ibu jahat karena tidak memberi kesempatan padamu untuk hidup. Ibu yang seharusnya ada disini, bukan kamu…..”


Naya yang sejak tadi terisak, membungkuk dan memelukku


“Ibuk jangan berkata begitu. Ini semua sudah takdir Tuhan, kita tidak bisa menolaknya buk. Ibuk yang tabah. Kami ada untuk ibuk, kami akan selalu mendukung ibuk”


Aku berbalik. Kemudian ku dekap Naya dan kembali menangis sejadi-jadinya

__ADS_1


__ADS_2