
Setelah itu Tomi dengan santainya keluar dari dalam kamar dengan hanya memakai handuk. Dan aku yang melihat kelakuannya hanya bisa menepuk keningku.
Lalu dengan cepat aku segera berganti baju dinas yang memang aku bawa dari rumah. Barulah setelah itu aku keluar dari dalam kamar dan segera membangunkan kedua anakku, karena mereka harus sekolah.
Tidak seperti biasanya, kedua anakku ketika aku bangunkan mereka langsung bangun dengan mudah. Mungkin karena bukan di tempat tidur mereka makanya mereka bangunnya cepat.
Aku pun menyiapkan baju seragam kedua anakku dan meminta keduanya untuk segera mandi.
Setelah menyiapkan seragam kedua anakku, aku lalu berjalan masuk ke dalam kamar kami lagi dan merapikan ranjang yang terlihat tampak berantakan bekas kami tempur
Tiba-tiba Tomi masuk dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
"Apalagi sih Kak, ini sudah siang. Sana ganti baju nanti kita terlambat" ucapku sambil berusaha melepaskan kedua tangan Tomi yang melingkar erat di pinggangku.
Tomi bukannya menuruti apa yang kukatakan, tapi dia malah membalik tubuhku sehingga aku berhadapan dengannya. Dan dengan lembutnya Tomi mengecup bibirku.
"Kalau sudah begini, baru kakak mau ganti baju" ucapnya sambil mengacak-acak rambutku. Dan aku tersenyum simpul melihat kelakuannya.
Setelah menyiapkan baju kerja Tomi, Aku kembali keluar dari kamar dan kembali masuk ke kamar kedua anakku. Dan Naya, Karena dia sudah sekolah menengah pertama, jadi dia sudah bisa berpakaian rapih sendiri tanpa perlu aku merapikannya. Jadi aku hanya mengganti pakaian Arik.
Setelah selesai itu semua, aku dengan cepat bergegas menuju dapur berencana ingin membuat sarapan.
"Sayang, sarapannya sudah ibuk masak. Jadi kalian silahkan sarapan langsung".
"Apa Buk?" jawabku dengan setengah kaget dan mulut sedikit ternganga.
Ibu mertuaku tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku. Kemudian beliau mengusap-usap kepalaku.
"Sarapannya sudah ibuk buat. Jadi kamu nggak perlu repot-repot lagi mau masak. Silakan panggil suami dan kedua anakmu" ucap ibu mertuaku dengan nada lembut.
"Ya ampun Ibuk, kenapa sarapannya ibuk yang buat? Harusnya kan aku yang buat" jawabku dengan nada malu.
Ibu mertuaku kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Bagaimana Ibuk tega membangunkan kamu. Sedangkan ibuk tahu kamu pasti capek".
Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar ucapan beliau. Karena sejujurnya aku sangat malu mendengar ucapannya.
"Ayo sana panggil kedua anak dan suamimu, silahkan sarapan. Ini sudah mau jam 07.00 loh. Nanti kalian semua terlambat untuk sekolah dan ke kantor".
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku. Kemudian meninggalkan ruang dapur dan kembali berjalan menuju kamar di mana Aku lihat Tomi sudah siap dan rapi.
"Sayang, ibuk buat aku malu deh" ucapku ketika aku masuk ke dalam kamar.
Tomi yang sedang melihat pantulan wajahnya di cermin, hanya melirik ke arahku.
"Emangnya ibuk melakukan apa sampai kamu malu?"
Aku dengan wajah yang masih merajuk duduk kembali di atas ranjang dan menatap terus ke arah Tomi yang masih melihat pantulan wajahnya di cermin.
__ADS_1
Tomi yang tidak mendapatkan jawabanku, segera membalik tubuhnya dan berdiri di depanku dengan menangkupkan kedua tangannya di wajahku.
"Kenapa istriku sayang?" tanya Tomi dengan nada manja.
"Ibuk sudah buat sarapan kak, kan aku jadi malu. Harusnya kan yang buat sarapan itu aku, bukannya ibuk. Aku kayak gimana gitu".
Tomi terkekeh mendengar jawabanku. Kemudian masih dengan Sayangnya, dia membelai wajahku dengan ibu jarinya.
"Apanya yang harus buat kamu malu sayang? Harusnya kamu itu bangga punya mertua yang baik dan pengertian kayak ibuk"
Aku mendecak mendengar jawaban Tomi dan wajah ku masih ku buat cemberut karena aku tidak setuju dengan ucapannya.
"Iya, Ibuk emang baik tapi kan aku malu Kak...."
"Sudahlah enggak usah malu-malu, biasanya juga malu-maluin" jawab Tomi dengan merengkuh bahuku lalu membawaku keluar dari kamar.
Ketika aku akan berjalan ke arah kamar kedua anakku, lamat-lamat aku mendengar suara obrolan Naya dan Arik di belakang.
Dan benar saja, ternyata mereka berdua sudah duduk di meja makan dan tampak mengobrol dengan ibu mertuaku
Melihat aku dan Tomi berjalan ke arah meja makan, ibu mertuaku segera mengambilkan piring lalu mengisinya dengan nasi. Dan kembali aku menerima piring yang disodorkan oleh ibu mertuaku dengan senyum kaku.
Tak panjang waktu yang kami habiskan untuk sarapan, karena setelah itu kami berempat langsung berpamitan kepada ibu mertuaku karena kami akan berangkat.
"Nanti pulang ke sini lagi kan?" tanya ibu mertuaku ketika aku mencium punggung tangan Beliau.
Aku menoleh ke arah Tomi yang tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ibu mertuaku menganggukkan kepalanya dan dapat Kulihat ada sedikit rasa kecewa dari pancaran matanya ketika mendengar jawaban Tomi.
"Ini kan hari Rabu Buk, artinya sekitar tiga hari lagi kami akan ke sini lagi" jawabku cepat agar ibu mertuaku tidak sedih.
Beliau menganggukkan kepalanya, kemudian dengan sayangnya beliau mencium pipi kedua anakku ketika kedua anakku berpamitan dengan beliau.
Kami segera melambaikan tangan kami ke arah beliau ketika mobil yang dikemudikan oleh Tomi akan melaju.
Pertama yang diantar oleh Tomi adalah Arik, baru setelah itu mengantar Naya. Dan yang paling terakhir diantar oleh Tomi adalah aku. Ketika aku mencium takzim punggung tangan Tomi, Tomi dengan sayangnya mencium puncak kepalaku.
"Nanti bubar kantor Kakak jemput, dan kita ke rumah baru kita" ucap Tomi sebelum aku membuka pintu mobil.
Aku menganggukkan kepalaku kemudian segera mengucapkan salam, lalu aku turun dari dalam mobil.
Dan benar saja, ketika kantor bubar Tomi sudah meneleponku dan mengatakan jika dia sudah berada di luar kantor.
"Kok kamu kelihatan seperti terburu Din?" ucap sebuah suara yang kukenal sebagai suara pak Burlian yang terpaksa menghentikan laju langkah cepat ku.
Aku hanya bisa tersenyum kecut ke arah beliau yang berjalan ke arahku.
"Ini Pak, Tomi sudah menunggu Aku di depan" jawabku
__ADS_1
Dan Pak Burlian tampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawabanku.
"Barengan saja kalau gitu. Bapak sejak kalian menikah, sampai hari ini belum pernah ketemu Tomi. Dan bapak kangen sama dia".
Aku hanya bisa kembali tersenyum kaku mendengar ucapan Pak Burlian.
Tak perlu menunggu jawabanku lebih lanjut, Pak Burlian segera mempersilahkan ku untuk berjalan. Dan aku dengan pelan berjalan di sebelah beliau.
Tomi segera membuka kaca jendela mobilnya ketika dilihatnya istrinya berjalan berdua dengan kakak sepupunya. Setelah itu Tomi langsung turun dari dalam mobil dan langsung menyambut kedatangan Kakak sepupunya dengan pelukan hangat.
"Lain ya yang pengantin baru. Pesan dari kakak saja satu pun nggak ada yang dibalas, boro-boro mau ngasih kabar. Dan ini, Ketika pulang bulan madu sama saja. Tidak ada kabar beritanya Oh.... hebat kamu ya Tom" ucap pak Burlian sambil menepuk-nepuk punggung Tomi
Tomi hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Kakak sepupunya tersebut.
"Aku sibuk Kak, Bukannya kenapa-napa. Bukannya aku nggak mau ngasih kabar sama Kakak, tapi kakak tahu sendiri lah sibuknya pengantin baru itu seperti apa" .
Blurrrrr
Seketika wajahku langsung terasa panas mendengar jawaban vulgar Tomi. Dan aku memberi kode dengan melotot kan mataku ke arahnya. Sedangkan Pak Burlian tampak tertawa terkekeh mendengar jawaban Tomi.
"Iyalah Kakak tahu....., karena kakak lebih berpengalaman daripada kamu" jawab Pak Burlian tak kalah vulgarnya.
Dan aku hanya bisa memalingkan wajahku mendengar dua orang lelaki dewasa yang sedang mengobrol ngalur ngidul tak karuan arah ini.
"Udah ya Kak kami pamitan. Ini rencananya kami mau melihat rumah Dinda yang aku jadikan mahar kemarin. Karena kami sama sekali belum melihat rumah tersebut" ucap Tomi berpamitan kepada Pak Burlian.
Pak Burlian menganggukkan kepalanya kemudian menepuk-nepuk pundak Tomi lagi. Kemudian mempersilahkan aku masuk ke dalam mobil baru setelah itu Tomi juga menyusul masuk
Aku menarik nafas lega ketika kami sudah keluar dari halaman kantor. Itu artinya aku bebas dari Pak Burlian yang pastinya akan terus menggoda Tomi.
Dan Tomi yang mengetahui jika wajahku tegang, segera menggenggam erat tanganku.
"Sayang jangan tegang, gitu dong".
Aku melirik ke arah Tomi kemudian aku mendecak.
"Aku malu Kak dengar omongan kalian tadi. Vulgar banget deh".
Tomi malah terkekeh mendengar jawabanku.
Lalu Tomi terus melajukan mobilnya menuju jalan yang agak jauh dari kantor. Dan berbelok ke sebuah Kompleks Perumahan. Dan berhenti di sebuah rumah putih yang tampak megah.
Aku hanya bisa melongo dengan mulut sedikit ternganga ketika melihat rumah tersebut.
"Ayo Sayang turun, ini rumah kamu" ucap Tomi menyadarkan kekagetan ku.
Masih dengan wajah sedikit tidak percaya, aku turun dari dalam mobil. Dan ada dua orang lelaki berpakaian rapi keluar dari dalam rumah tersebut ketika melihat kami berjalan di halaman.
"Selamat datang Pak Tomi" sapa salah seorang dari mereka berdua yang langsung mengulurkan tangannya dan menjabat hangat tangan Tomi.
__ADS_1
"Nah Ibu, ini kunci rumah Ibu. Rumah ini telah siap dihuni, perabotannya dan peralatannya semuanya telah kami susun dengan rapi. Ibu dan Bapak tinggal masuk saja" ucap lelaki tersebut sambil memberikan kunci rumah ke tanganku.
Dan kembali aku speechless dengan hanya bisa mengedip-ngedip kan kedua mataku.