
Aku lupa dengan bagaimana tadi kagok nya aku ketika Tomi dengan lugas menyebut makanan kesukaanku
Ketika bakso setan sampai di depanku, dengan cepat aku menyendok sedikit kuahnya, memejamkan mata sebentar sambil menikmati gurihnya kuah kaldu
Dan Tomi terus menatap serius dengan semua perbuatan Dinda. Semuanya tak berubah, tiap makan dia selalu begitu, batinnya
Aku langsung melahap semangkuk bakso tersebut tanpa ampun, aku tidak memperdulikan bagaimana pak Kusno dan dua orang tender menatapku ngeri karena merahnya kuah bakso yang sedang aku makan
"Makannya pelan-pelan" ucap Tomi yang membuatku mengangkat kepalaku dan mengelap mulut dan hidungku segera
Aku terkekeh karena pak Kusno menatap seperti ilfil ke arahku
"Sumpah pak, ini enak banget, mau nyicip?" aku menggodanya
Beliau menggidikkan bahunya seperti takut yang makin membuatku terkekeh
Habis semangkuk bakso, aku lalu berpindah ke bebek bakar. Kembali aku lahap memakannya.
Pak Kusno geleng-geleng kepala melihatku yang begitu rakus
"Tidak bapak sangka jika kamu makannya sangat banyak"
Kedua tender dan Tomi tersenyum mendengar ucapan pak Kusno
Aku tak memperdulikan gurauan beliau, aku terus saja menggigit daging bebek yang begitu nikmat menurutku
Lagi-lagi Tomi mengulurkan tissue karena mulut Dinda belepotan bekas saos kecap dan madu.
Tanpa melepaskan daging bebek yang masih di tangan kananku, aku mengambil pakai tangan kiri
"Sorry" ucapku tak jelas
Seporsi daging bebek habis hingga hanya menyisakan tulang. Dan aku tersenyum puas karena perutku sudah kenyang sekarang
Dengan santai aku minum es kopyor sedangkan empat lelaki yang bersamaku ngobrol sambil menghisap rokok
Aku melirik kearah Tomi, perasaan dulu dia tidak merokok, batinku
Satu setengah jam berikutnya kami telah berada kembali di dalam kantor
Aku dan pak Kusno masuk keruangan kami, sedangkan Tomi dan dua rekannya masuk keruangan pak Burlian
"Bagaimana?" tanya pak Burlian ketika tiga orang tersebut duduk
"Kita jadi obat nyamuk" jawab salah seorang tender
Kening pak Burlian berkerut tak mengerti
"Maksud pak Arsen?" tanya pak Burlian
"Ini si Tomi, kami lihat dia memperlakukan Dinda dengan sangat manis, kami jadi curiga" sambung kepala tender lainnya yang bernama Bagaskoro sambil terkekeh
Pak Burlian langsung menoleh kearah Tomi yang hanya tersenyum-senyum
"Benar itu Tom?"
Tomi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masih saja tersenyum
"Wajar jika dia memperlakukan Dinda istimewa, karena Dinda dulu adalah calon istrinya Tomi"
Pak Bagaskoro dan pak Arsen tampak terkejut dan langsung menatap kearah Tomi
"Benar pak Tomi?" tanya pak Bagaskoro
Tomi mengangguk pelan
"Wah pantas saja, semua makanan kesukaan Dinda pak Tomi faham"
__ADS_1
Keempatnya lalu terkekeh. Sedangkan aku yang masuk keruangan ku langsung menyerahkan bungkusan bakso yang tadi aku beli untuk kelima teman seruangan ku yang disambut mereka dengan antusias
Aku duduk merebahkan kepalaku di sandaran kursi sambil membaca isi grup sedangkan temanku yang lain makan bakso, dan pak Kusno sama sepertiku, fokus melihat hp
*Mila: Dinda kemana sih, kebiasaan cuma read doang
Lisa: Dinda lagi nyusun strategi untuk membuat lakinya mati😂😂
Putri: Eh Din, jika lu kehabisan ide, itu buk dokter bisa bantu kamu ngasih racun*
*Mila; Lah kok gue sih?
Rohaya; Kalau racun mah nggak usah sama Mila kali, gue juga bisaðŸ¤
Vita; Racun rumput ya Roh*
Selanjutnya adalah emoticon tertawa dari seluruh sahabatku. Dan obrolan panjang lainnya
Itu obrolan mereka siang tadi, yang baru aku baca sekarang
Me; Sorry guys, aku baru pulang dari desa A, lihat lokasi
Belum ada balasan dari sahabat-sahabat ku, tapi lima menit kemudian hp ku langsung kluntang klunting tak berhenti
*Nanda: proyek apa Din?
Putri: Wahhh lain cuy mainan sahabat kita sekarang😀
Vita: bagi-bagi dong kalau cair
Me; apaan sih kalian? itu proyek milik Tomi sama temannya
All; ??? 😱😱*
Aku menepuk keningku karena keceplosan
Semua temanku yang lain telah bergabung tinggal aku sendiri yang belum
Akhirnya aku keluar dari ruangan, tak ingin temanku yang lain mendengar obrolan kami yang biasanya tidak terkontrol
Segera semua sahabatku menuntut jawabanku. Dengan seadanya aku menjawab, karena aku tidak tahu menahu bisnis apa yang dijalankan Tomi
Seluruh sahabatku makin menggodaku ketika aku bercerita bagaimana kami tadi makan di tempat kami dulu
"Hadehh bau-baunya ada yang bakal CLBK ini" goda Rohaya yang langsung disambut cekikikan sahabatku yang lain
Aku memutar mata dengan malas mendengar candaan Rohaya
"Eh guys, maaf gue out duluan, ada nomor baru masuk" ucapku
"Halah Din kebiasaan deh, sok sibuk banget sih" gerutu Mila
"Maaf buk dokter, ini mungkin dari tauke pakan ikan, karena tadi gue udah janjian sama beliau"
"Napa Din?" tanya mereka kompak
Aku lihat mata serius mereka. Ya Rabb inilah yang aku suka dari mereka, pedulinya itu
"Kepo" elak ku
Kudengar mereka menggerutu yang ku balas dengan tertawa dan lambaian tangan
Selepas berakhirnya obrolan dengan para sahabatku, aku segera beralih mendial nomor baru yang tadi terabaikan
"Mbak Dinda, ini pak Bara, saya sudah di rumah mbak, hanya ada mas Adi, saya malas berurusan dengan dia"
Aku menarik nafas panjang mengetahui jika masih ada Adi di rumah kami
__ADS_1
"Iya pak, sebentar lagi saya pulang, saya izin dulu sama bos saya"
Lalu obrolan berakhir, sebenarnya setengah jam lagi jam kantor habis, tapi berhubung pak Bara sudah ada di rumah, mau tak mau aku harus izin pulang duluan
Dengan gugup aku mengetuk ruangan pak Burlian, dan mendorong pintunya
"Ya Din?"
Aku masuk dan langsung berjalan kearah pak Burlian. Pak Baskoro dan pak Arsen langsung melirik kearah Tomi yang menatap tak berkedip pada Dinda
"Mau minta izin pulang duluan pak" ucapku
Pak Burlian langsung melirik kearah Tomi yang mengangguk pelan
"Ada masalah apa?, kan jam kantor belum selesai?"
Aku menghembus nafas dalam mendengar jawaban pak Burlian
"Ada tamu dari jauh pak" bohongku
Kembali pak Burlian melirik kearah Tomi
"Oke, baiklah nggak papa"
Aku menarik nafas lega mendengar jawaban pak Burlian, segera aku menganggukkan kepalaku kearah mereka berempat lalu keluar dengan cepat
"Matanya bisa dikondisikan tidak?" goda pak Burlian yang melihat Tomi masih menoleh keluar
Pak Baskoro dan pak Arsen tergelak yang membuat Tomi tersadar dan tersenyum malu
...****************...
Wajah pak Bara sangat tidak bersahabat ketika aku sampai. Kulihat juga di lantai teras ada gelas kopi yang pecah, dan posisi meja sudah tidak seperti tadi pagi
Aku yakin barusan terjadi keributan antara beliau dengan Adi. Karena kulihat Adi tampak tegang dan gelisah
"Maaf pak, lama nunggunya" ucapku berbasa-basi
Beliau hanya tersenyum sekilas. Dapat kulihat jika nafasnya tampak tak teratur seolah menahan marah
"Langsung saja mbak, saya tidak mau berlama-lama disini, muak saya mendengar alasan dan kebohongan suami mbak" ucapnya
Aku langsung menoleh kearah Adi
"Ya bagaimana pak?" tanyaku
Kembali beliau mengeluarkan nota tagihan yang tadi pagi aku lihat
"Saya minta mbak berdua melunasi tagihan dalam waktu satu bulan paling lama, jika tidak masalah ini akan saya bawa keranah hukum"
Mataku terbelalak kaget mendengar ancaman beliau, sedangkan Adi, aku yakin dia telah lebih dulu mendengar ini sebelum aku
"Ini surat perjanjiannya, silahkan mbak tanda tangani, saya kasih tempo waktu sampai satu bulan, jika tidak maka masalah ini akan saya laporkan ke polisi dengan tuduhan penipuan dan penggelapan"
Aku membaca surat yang diberikan pak Bara, lalu berpindah menatap sinis kearah Adi
"Maaf pak Bara, yang berhutang kan suami saya, jadi dia yang harus membayarnya" jawabku santai
Wajah Adi makin menegang.
"Jika suami saya tidak bisa melunasinya, maka bapak langsung saja penjarakan dia" lanjut ku
Pak Bara mendengus kesal dan menatap tajam kearah Adi
"Menolong kamu sama dengan menolong anjing terjepit, setelah ditolong kamu menggigit" geram beliau
Aku lalu menyerahkan kertas tersebut ke tangan Adi untuk dia tanda tangani. Karena tak punya banyak pilihan, akhirnya Adi menanda tangani kertas tersebut dengan pasrah
__ADS_1
Aku dan pak Bara tersenyum penuh arti melihatnya menandatangani kertas tersebut