
"Kamu dan cinta aku itu jauh lebih berharga dari uang yang aku keluarkan untuk mengambil kembali toko itu" ucap Tomi kembali meyakinkanku
Aku menarik nafas panjang
"Entah lah Tom, aku masih sulit mempercayai perkataan kamu" lirihku yang membuat wajah Tomi terkesiap
Tomi akhirnya tersenyum kecut dan mengusap kepalaku
"Kakak tahu, pengkhianatan yang kakak lakukan dulu tentulah membuat trauma di hati kamu"
Aku diam dan kembali merebahkan kepalaku, sementara Tomi masih mengusap-usap kepalaku
Tangan Tomi beralih ketika hpnya berdering
"Iya buk, ini aku di rumahnya Dinda. Iya Dinda baik-baik saja, nanti aja buk tunggu Dinda nya santai, kayanya Dinda nya capek buk, kasihan"
Aku yang mendengar percakapan Tomi dan yang ku yakini adalah ibunya, hanya melihat saja pada Tomi yang kembali mengusap-usap kepalaku
Tomi menggeser duduknya ketika aku ingin rebahan. Dan tanpa canggung aku merebahkan kepalaku di pahanya
"Iya Tomi akan terus jaga Dinda, iya janji buk, Tomi janji nggak akan nyakitin Dinda lagi"
Aku masih diam dan hanya menatap wajahnya yang masih terus mengobrol dengan ibunya.
"Makanya ibuk doain aku biar Dinda percaya sama aku lagi, dan mau aku ajak nikah"
Refleks aku mencubit perutnya yang membuatnya kaget dan menjerit tertahan
"Sudah ya buk, ini Dinda nya mulai rese.….."
Aku memanyunkan bibirku sedangkan Tomi yang telah selesai berbicara dengan ibunya tampak tersenyum ke arahku
"Ibuk titip salam katanya....."
Aku mengangguk sambil menjawab salam beliau
"Kok tiduran di paha kakak?, katanya tadi nggak percaya sama kakak....."
Aku kembali mencubit perutnya dan memiringkan tubuhku hingga wajahku aku sembunyikan di perutnya, yang membuat Tomi terkekeh
"Aku ngantuk......" ucapku sambil mengambil tangannya dan meletakkannya di kepalaku
Dan Tomi faham dengan maksudku, dia mengusap-usap kembali rambutku dengan pelan hingga akhirnya aku benar-benar tertidur
Tomi menatap dalam wajah Dinda yang tampak pulas tidur pahanya. Sesekali dia tersenyum sambil tak menghentikan gerakan tangannya mengusap kepala wanita yang dicintainya itu
"Buk....?"
Tomi refleks menempelkan jari telunjuknya ketika Arik berlari masuk rumah.
"Ibuk tidur, Arik mau apa?"
Arik mendekat dan melongok kan wajahnya melihat kearah ibunya
__ADS_1
"Kenapa nggak bawa ibuk ke kamarnya aja om?"
Tomi menelan ludahnya mendengar pertanyaan Arik
"Kan kasihan ibuk tidurnya kaya gitu..."
Tomi kembali menundukkan wajahnya melihat kearah wajah Dinda
"Arik bisa bantu Om kan?"
Arik mengangguk, lalu dengan ragu Tomi mulai mengangkat sedikit kepala Dinda, meletakkan di tangan kirinya, lalu tangan kanannya digunakannya untuk mengangkat kaki Dinda
"Ayo om...." ucap Arik menunjukkan arah
Tomi agak kesusahan ketika menaiki tangga, butuh tenaga ekstra baginya agar tubuh Dinda tetap nyaman dan tak jatuh
Tomi menghentikan langkahnya ketika tubuh Dinda bergerak lalu kembali melanjutkan langkahnya ketika tubuh Dinda sudah tenang
Arik yang berjalan duluan sekarang telah membuka lebar pintu kamar ibunya sehingga memudahkan bagi Tomi untuk masuk ke dalam kamar pribadi Dinda dan meletakkan Dinda di atas ranjang
"Arik mau mandi ya Om..., nanti tutup aja pintu kamar ibuk...." ucap Arik yang langsung melesat keluar kamar ketika dilihatnya ibunya telah diatas ranjang
Tomi tidak menjawab karena saat itu dia sedangkan merapihkan rambut Dinda
"Selamat tidur ya sayang....." lirih Tomi sambil mengecup kening Dinda dengan dalam
Setelah itu dia berdiri berniat hendak keluar dari dalam kamar tersebut. Tapi pandangan mata Tomi terpaku kearah sebuah foto besar yang tergantung di kamar Dinda, yang memaksa langkahnya terhenti. Foto pernikahan Dinda dan Adi.
Tomi tersenyum kecut lalu menoleh kearah Dinda. Dengan menarik nafas panjang Tomi keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni tangga
"Kenapa nak.....?" tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi
"Om, handuk aku ketinggalan di kamar, om bisa ambilkan nggak?"
"Iya, tunggu ya....."
Lalu Tomi segera melesat masuk kedalam kamar Arik dan mengambil handuk dan mengetuk pintu kamar mandi tersebut yang tak lama berselang pintu kamar mandi tersebut terbuka dan muncul kepala Arik
Tanpa canggung Tomi masuk kedalam kamar mandi tersebut dan mengeringkan kepala dan tubuh Arik, lalu dengan sengaja diangkatnya tubuh anak kecil tersebut setelah sebelumnya dipakaikan handuk
Arik tertawa kegirangan ketika digendong oleh Tomi dan kembali tanpa canggung Tomi membawa Arik masuk kedalam kamarnya dan mengganti seluruh pakaiannya
Arik yang telah wangi keluar dari dalam rumahnya bersama dengan Tomi yang memanggil Naya agar segera mandi
Naya masuk sedangkan mbak Sri berpamitan pulang
Tomi kembali mengajak Arik masuk dan menyalakan televisi, mencari channel khusus anak. Dan menonton bersama Arik yang tak lama menyusul Naya yang juga telah rapi
"Boleh om hangatkan masakan bik Sri?"
Naya langsung mengangguk cepat, dan Tomi tersenyum melihat jawaban anak gadis kecil tersebut
Kembali Tomi tanpa canggung menghangatkan masakan mbak Sri bahkan secara khusus Tomi juga membuatkan sup untuk Dinda
__ADS_1
Berkali-kali Tomi menoleh kearah dalam rumah berharap jika Dinda akan terbangun, tapi hingga akan gelap Dinda belum juga bangun
Tomi yang sekarang bergabung dengan kedua anak Dinda terlihat gelisah dan menoleh terus kearah tangga
"Ibuk memang betah om kalau tidur siang, apalagi kalau ibuk capek" ucap Naya yang seperti faham yang melihat Tomi terus menoleh kearah tangga
Tomi tersenyum sekilas dan kembali fokus melihat layar tivi, hingga adzan maghrib berkumandang dan dia mengajak kedua anak Dinda untuk shalat berjamaah
Aku menggeliatkan dan mengerjap kan mataku berkali-kali, menguap lebar lalu duduk
"Loh, kapan aku pindah kesini?" gumamku ketika sadar
Lalu aku segera turun dan di pertengahan tangga aku dengar ada suara seperti orang shalat berjamaah
Dengan pelan aku berjalan kearah ruang tengah dimana biasanya aku dan kedua anakku shalat
Aku terpaku ketika kulihat Tomi dan kedua anakku tengah shalat berjamaah
"Ya Alloh Tomi......" batinku terharu
Aku tetap berdiri di tempatku sampai mereka salam, bahkan ketika mereka berdoa aku dengarkan semua doa yang diucapkan Tomi dalam bahasa arab
Dan pandangan Tomi langsung menatap ke arahku ketika kedua anakku mencium punggung tangannya
"Loh ibuk sudah bangun?" ucap Naya sambil melepas mukenanya
Aku tersenyum kearah Naya lalu kembali menatap kearah Tomi
"Mandilah, sudah itu shalat....." ucapnya yang kembali mengacak rambutku
Aku tidak menjawab melainkan terus lekat menatap matanya
"Om Tomi benar buk, sudah itu kita makan malam sama-sama, om Tomi sudah masak sup untuk ibuk" sambung Naya yang memeluk perutku
"Sayang jangan kencang-kencang meluk perut ibuk ya, kan luka di perut ibuk belum sembuh total" ucap Tomi yang membuat Naya refleks melepas dekapannya lalu mendongak melihat ke arahku
"Ibuk nggak apa-apa kok...."
Naya tersenyum lalu meninggalkan kami berdua
"Maaf ya kakak belum pulang, habisnya kasihan anak-anak kalau ditinggal"
Aku lagi-lagi tak menjawab, dan hanya bisa menatap mata Tomi dengan perasaan yang sangat sulit aku ungkapkan
Jam tujuh malam kami makan malam bersama-sama, dan lagi-lagi Tomi melakukan hal sederhana yang sangat menyentuh hatiku
Aku cuma duduk manis saja, semuanya dia yang menyediakan bahkan sampai dengan air minum Arik dan Naya pun Tomi yang mengambilkan
Selesai makan malam, Tomi mengajari kedua anakku belajar dan aku lagi-lagi hanya bisa melihat bagaimana telaten dan sabarnya dia dalam mengajari kedua anakku
Terutama Arik yang baru belajar mengeja
Jam sembilan malam ketika kedua anakku masuk ke kamar mereka, barulah Tomi duduk di sebelahku
__ADS_1
"Kakak pulang ya....." ucapnya sambil kembali mengacak rambutku
Aku mengangguk dan kembali menatapnya dengan perasaan campur aduk