
Tomi lalu membimbingku berjalan ke arah rumah megah berwarna putih dengan lantai terbuat dari marmer.
Dan aku hanya menurut saja ketika Tomi membawaku berjalan. Hingga akhirnya sampai di depan pintu, Tomi melepaskan tangannya yang sejak tadi membimbingku.
"Ayo, Nyonya Tomi Mahendra. Silahkan dibuka rumah barunya" ucap Tomi sambil tersenyum ke arahku.
Aku yang sejak tadi memang memegang kunci di tanganku, segera memasukkan kunci ke lubangnya .
Setelah memutar kunci sebanyak dua kali, aku memejamkan sebentar mataku ketika aku sudah menyentuh grendel pintu.
"Bismillahirrahmanirrahim" lirihku ketika aku mendorong pintu tersebut.
Pintu langsung aku dorong hingga daun pintu tersebut terbuka lebar. Dan kembali mulutku harus ternganga ketika aku melihat interior di dalamnya.
Aku segera menoleh ke arah Tomi yang sejak tadi terus menatap dalam padaku, sambil tersenyum.
"Kakak yakin , ini rumah untukku?" tanya ku dengan suara bergetar.
Tomi tidak menjawab pertanyaanku melainkan dia makin tersenyum lebar. Dan kembali Tomi menggenggam tanganku, mengajakku masuk ke dalam rumah.
Aku mendongak kan kepalaku ke arah lampu kristal yang tergantung. Kemudian Aku beralih ke arah tangga yang melengkung. Kemudian aku juga melihat di tembok, tersusun rapi foto pernikahan kami.
Aku hanya bisa ternganga dengan mata yang tiba-tiba terasa panas melihat ini semua. Aku benar-benar tidak menyangka jika Tomi menyiapkan sedemikian rupa rumah untukku.
Aku segera berbalik ke arah Tomi, dan langsung melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Mendekapnya dengan erat dan langsung menangis terisak.
Tomi hanya bisa mengelus-elus punggungku ketika aku memeluknya sambil terisak.
"Sayang jangan nangis ah, masak nangis" bisik Tomi di telingaku.
"Aku nggak tahu, aku harus ngomong apa melihat mahar yang kakak berikan sama aku. Karena jujur, ini adalah rumah impian aku" jawabku lirih.
Dan Tomi melepaskan dekapanku padanya, kemudian menggenggam kedua lenganku.
"Mungkin adek lupa dengan dreaming list yang pernah adek tulis dulu, ketika kita pacaran. Tapi tidak dengan kakak. Dan itu menjadi acuan kakak untuk membuatnya nyata ketika kita menikah".
"Dreaming list?"
"Iya, dreaming list" jawab Tomi pasti ke arahku.
"Dulu Adek pernah menulis, bahwa adek ingin bulan madu ke Pink Beach. Terus adek pengen punya rumah megah warna putih, berlantaikan marmer dan dua lantai. Sama satu lagi, Adek dulu ingin banget punya mobil mahal. Adik tidak menyebutkan Apa merek mobilnya, yang adik tulis dulu adalah mobil mahal"
"Adik dulu pernah menulis itu semua. Karena itulah, ketika kita menikah, dreaming list adek tersebut Kakak wujudkan"
Dan kembali aku ternganga, ketika mengetahui jika Tomi lebih mengingat apa yang aku tuliskan di masa lalu ketimbang diri aku sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku lupa Kak. Sumpah aku nggak ingat apa-apa".
"Iya jelas adek lupa, karena saat itu adek hanya iseng saja menulisnya"
"Dan kakak menganggap itu semua serius?"
"Iya, apapun yang pernah adek katakan di masa lalu, itu semuanya Kakak anggap serius. Kecuali satu" jawab Tomi menggantung ucapannya.
"Apa?" tanya ku penasaran.
"Adek mengharamkan diri adek untuk menikah dengan seorang duda".
Kembali mulutku ternganga. Tapi kali ini, karena aku kaget bercampur lucu. Yang tak lama berselang setelah itu aku langsung tertawa terkekeh dan kembali memeluk Tomi .
"Ahhhh...., kalau itu sih memang serius. Karena saat itu kan aku sangat marah kak...."
"Tapi kok kamu baik banget sih Kak....? Kan kalau kaya gini, Aku makin cinta sama kakak..."
Tomi terkekeh mendengar perkataanku, kemudian dengan cepat dia langsung mencium kedua pipiku dengan gemas.
"Ayo, sekarang kita naik ke atas. Kita lihat di lantai dua, ada apa di sana"
"Tapi ruang depan saja belum semuanya kita kelilingi. Dapurnya juga belum. Nanti setelah kita selesai di lantai satu, baru kita ke lantai atas".
Tomi lalu menunjukkan kepadaku dua buah kamar yang ada di lantai bawah ini. Semuanya sudah ada ranjang dan lemari pakaiannya.Lalu Tomi juga membawaku ke dapur, berkeliling melihat-lihat dapur yang akan aku jadikan tempatku masak.
Selanjutnya Tomi juga mengajakku keruang keluarga, dan Tomi mengatakan bahwa ini adalah tempat favoritnya. Karena di sini nanti akan dipakai oleh kami untuk ngobrol dan nonton bersama agar hubungan kami semakin erat dan harmonis.
Selesai semuanya di lantai bawah, Kemudian kami naik melalui tangga yang berkelok, menuju lantai atas.
"Dan ini kamar kita" ucap Tomi membuka sebuah kamar yang berukuran sangat luas.
Aku segera masuk ke dalam kamar yang dikatakan Tomi adalah kamar kami, dan aku langsung menghenyak kan tubuhku duduk di atas ranjang yang berukuran besar dan sangat empuk.
Dan lagi-lagi Tomi tersenyum ke arahku.
"Suka sama kamarnya?" tanya Tomi yang ku jawab dengan anggukan kepala.
Kalau suka, itu artinya Kakak boleh...." ucap Tomi tidak melanjutkan kalimatnya karena saat itu Tomi sudah melahap bibirku dengan rakus.
Aku yang mendapatkan serangan secara mendadak dari Tomi langsung terjengkang di atas kasur, dan itu membuat Tomi lebih leluasa ketika dia berada di atas.
"Sayang, kita ke sini kan mau melihat rumah bukan untuk bercinta" ucapku berusaha untuk melepaskan tangan Tomi yang sudah bergerilya nakal.
"Setiap ada kamu otakku selalu berpikir bagaimana caranya untuk bisa bercinta bersama kamu" jawab Tomi seperti lirik sebuah lagu sehingga membuat aku tertawa.
__ADS_1
Tapi tawaku itu hanya sebentar, karena Tomi sudah kembali beraksi dengan langsung melepaskan kancing baju dinasku.
Hingga dalam sekejap, aku dan Tomi sudah polos. Dan kami berdua sudah sama-sama bergerak bebas tak karuan di atas ranjang baru kami.
Suara lenguhan, ucapan tidak jelas dan rintihan memenuhi ruangan besar ini. Kami benar-benar melupakan tujuan utama kami ke rumah ini. Karena saat ini tujuan kami adalah mencapai puncak.
Sampai akhirnya, peluh sudah membanjir di tubuh kami, barulah permainan kami ini berakhir.
Mataku telah tampak sayu karena aku sangat kelelahan menghadapi keganasan Tomi sore ini. Tapi niatku untuk tidur terpaksa batal karena Tomi segera mengajakku untuk berkeliling kembali.
Jadi dengan sangat terpaksa aku kembali mengenakan pakaian dinasku dan Tomi tampak tersenyum sambil mengacak-acak kepalaku ketika melihatku cemberut ke arahnya.
"Dibilangin jangan main, karena aku akan capek nggak bisa ngapa-ngapain. Masih ngeyel"
Tanpa kusangka, Tomi langsung mengangkat tubuhku ketika aku berkata demikian.
"Biar nggak capek" ucap Tomi ketika aku akan protes meminta turun dari gendongannya.
Aku akhirnya menurut, dan segera mengalungkan kedua tanganku ke leher Tomi ketika Tomi membawa Aku berjalan dalam gendongannya.
"Nah, di lantai atas ini juga ada kamar mandinya. Dan ini satu lagi kamar tidur. Terus ruangan luas ini nanti kita pakai untuk tempat bermain anak-anak kita"
Dan ini balkon, ini bisa kita jadikan untuk tempat kita bersantai sambil kita mengobrol melihat anak-anak kita bermain. Dan juga bisa kita jadikan tempat untuk kita bertukar pikiran"
"Dan di belakang sana juga ada kolam renang. Tadi belum lihat kolam renang kan?" ucap Tomi yang membuat ku langsung melongok kan kepalaku ke arah bawah, di mana Aku lihat memang ada sebuah kolam renang, walaupun kecil tapi sangat Asri.
"Gimana, sudah selesai lihat rumahnya apa belum? mau di sini, apa mau pulang?" tanya Tomi yang membuatku nampak berpikir.
"Maunya tidur, karena aku capek" jawabku masih dengan nada manja.
"Kalau tidur, nggak boleh. Karena Kakak akan ngerjain kamu lagi kalau kamu tidur".
Aku segera mencubit dada Tomi, ketika mendengar jawabannya.
"Kalau begitu kita turun saja ke bawah. Kita lihat teras belakang, kan belum tadi. Tadi cuma lihat kolam renangnya saja"
Tomi mengangguk setuju mendengar ucapanku. Lalu dia berjalan lagi sambil terus menggendongku.
Ketika sampai diujung tangga, aku memaksa untuk turun. Karena aku takut nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Lalu kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan, ketika kami menuruni tangga. Dan langsung berjalan menuju teras belakang.
Dan kembali aku harus tersenyum lebar ketika melihat bagaimana asrinya teras belakang ini. Teras belakangnya benar-benar bagus sekali. Ada taman kecil dan sebuah kolam renang, di mana di pinggirnya juga terdapat tanaman merambat dan berjuntai, yang kesemuanya benar-benar sangat memanjakan mata.
"Kalau rumahnya seperti ini sih, aku mau segera pindah ke sini" ucapku cepat ke arah Tomo yang langsung menganggukkan kepalanya dan kembali mengusap-usap kepalaku.
__ADS_1