Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Hidup dan Mati


__ADS_3

Aku tersenyum kearah Mila lalu aku mendekapnya, kulihat wajah Mila basah tapi sedikitpun dia tak terpengaruh dengan dekapanku. Padahal aku sudah berkata padanya. Mila hanya terisak dan itu sangat jelas aku dengar


“Kamu kok nangis sih Mil. Kamu nggak mau aku nitipin anak aku ke kamu?” lirihku dengan suara pelan


Mila masih tak menjawab sehingga aku kembali mengusap punggungnya.


“Aku tidak akan pernah melupakan persahabatan kita Mil, kamu selalu ada untuk aku, dan kamu selalu berada di garda terdepan untuk membelaku. Tapi kali ini, aku tidak akan meminta belaan dari kamu, tapi aku meminta jauh yang lebih berat dari yang pernah kamu lakukan. Jaga dan lihat ketiga anakku, aku yakin aku tidak salah menitipkannya sama kamu”


Mila masih terisak dalam diam. Dan untuk seumur hidup, baru kali ini aku melihat dia menangis. Sahabat tangguh yang tidak pernah merasakan takut dengan apapun, yang selalu siap menghadapi bahaya, yang selalu menjadi pembela kami berlima ternyata bisa menangis juga. Dan itu sangat lucu menurutku


Kembali aku memeluk erat Mila, berusaha menenangkannya


“Mil, jangan nangis dong. Aku sedih kalau kamu nangis. Apa tugas dari aku sangat berat untuk kamu sampai kamu menangis ketika aku meminta bantuan?” ulang ku


Kembali aku tidak mendapati jawaban Mila. Malah sekarang Mila terduduk di lantai dengan wajah kacau dan air mata yang tak hentinya mengalir


“Mil, aku pergi ya…. Aku titip anak-anak. Aku sayang kamu Mil…” lirihku kembali sambil berjongkok mendekapnya


Kemudian aku berdiri, dan tidak menoleh lagi pada Mila yang masih saja terisak.


Mila yang masuk kedalam ruang operasi hanya bisa bergeming dengan wajah basah menyaksikan bagaimana Arik dan Naya sangat terguncang memeluk tubuh ibu mereka. Yusuf yang ada di dalam gendongan dokter, diberikannya pada perawat dan salah seorang dokter meminta pada Naya dan Arik untuk melepaskan dekapan mereka pada ibu mereka, karena kedua dokter tersebut kembali akan berusaha menyelamatkan nyawa ibu mereka yang sudah berada di ujung tanduk


“Bawa pergi anaknya dokter, serahkan sama kami. Kami akan berusaha semampu kami” ucap dokter OpGin kearah Mila yang berdiri di ujung kaki Dinda


Mila menggeleng, dia hanya mengulurkan tangannya kearah Naya dan Arik sehingga dua orang anak tersebut menghambur kedalam pelukannya


“Ibuk akan selamat kan aunty?” tanya Naya tak jelas


Mila diam tak menjawab pertanyaan Naya, dia hanya terus menatap wajah Dinda dan layar komputer secara bergantian. Dan jantungnya kian berdetak kencang ketika layar komputer yang menampilkan detak jantung Dinda kian menurun


Perawat yang menggendong Yusuf berusaha menenangkan anak kecil tersebut. Tapi tangis Yusuf kian kencang dan tak terkendali. Sehingga perawat yang menggendongnya menjadi bingung.


“Kamu bertahanlah Din…..” batin Mila frustasi ketika dilihatnya jika detak jantung Dinda kian turun drastis


Sampai akhirnya layar komputer benar-benar berubah menjadi garis lurus dan berbunyi tiittt panjang. Naya dan Arik yang berada di dalam dekapan Mila langsung menoleh kearah meja operasi ketika mereka mendengar suara tersebut, dan sontak keduanya langsung melepaskan dekapan mereka pada Mila dan menghambur ke meja operasi dan kembali berteriak histeris


“Ibuuukkkk…….” Teriak keduanya sambil mendekap tubuh ibu mereka


Mila langsung terduduk lemas di lantai, air matanya makin tak terbendung. Tangisnya yang semula hanya berupa isakan pelan telah berubah menjadi sebuah tangis lirih yang sarat dengan kesedihan. Yusuf makin menangis kencang. Dua orang dokter kembali berusaha dengan mengambil alat pacu jantung, dan meminta pada Arik dan Naya untuk menyingkir dari dada ibu mereka

__ADS_1


Naya dan Arik melepaskan dekapan mereka pada ibunya, dan mundur. Keduanya hanya bisa menangis sambil berpegangan tangan menyaksikan dokter yang meletakkan alat pacu jantung di dada ibu mereka. Tubuh ibu mereka terangkat ke atas ketika alat pacu jantung diletakkan ke dadanya, dan itu berlangsung hingga beberapa kali


Mila yang telah berdiri, segera mengambil Yusuf dan mendekapnya dalam pelukannya. Di ciumnya wajah balita tersebut dengan berurai air mata. Sementara dokter yang tadi berusaha menyelamatkan Dinda sekarang hanya menggeleng dan tangannya turun dengan lemas dengan alat pacu jantung yang masih ada di tangannya


“Maafkan kami, kami telah berusaha” lirih salah satu dokter


“Ibuuuuukkkkk…….” Kembali Naya dan Arik berteriak histeris dan kembali menubruk dada ibu mereka. Keduanya menangis meraung dengan terus memanggil ibu mereka


“Ibuk……, jangan tinggalkan kami buk…..” teriak Naya


Arik yang masih kecil juga turut menangis meraung-raung dengan terus mengguncang-guncang kan bahu ibunya, meminta ibunya untuk segera bangun


Dan Mila yang memang telah mengetahui jika sahabatnya itu akan pergi selamanya hanya bisa terduduk lemah di lantai dengan Yusuf yang masih ada di dalam dekapannya


“Dinda……, kenapa kamu pergi secepat ini Din?. Anak-anak kamu masih butuh kamu…..” lirihnya dengan suara pilu


Tangisnya kian tak terbendung lagi, dengan mendekap Yusuf di dadanya, Mila sampai tertunduk-tunduk menangis pilu. Perawat yang berdiri di dekatnya berusaha mengambil Yusuf dari dekapannya, tetapi Mila menolak dengan terus mempertahankan Yusuf di dalam dadanya. Tak peduli walau saat itu Yusuf sudah menangis sangat kencang


“Ibuk kamu sudah pergi nak, ibuk kamu sudah pergi……..” lirih Mila pilu sambil mendekap erat Yusuf


“Bagaimana dokter? Apa kita memberitahu keluarganya yang ada di luar?” tanya dokter OpGin pada dokter senior yang ikut membantunya menangani Dinda


“Sabar ya nak, maafkan dokter, karena dokter tidak bisa menyelamatkan ibu kalian” lirihnya


Naya yang masih di atas dada ibunya terus menangis pilu dengan tak hentinya memanggil nama ibunya


“Naya sama adik-adik tinggal sama siapa buk kalau ibuk pergi?. Ibuk nggak boleh pergi. Kami masih butuh ibuk…..” ratap Naya


Air mata Mila makin deras mengalir ketika dia mendengar ratapan Naya, sudut hatinya yang terkoyak makin terasa sakit. Sementara dokter OpGin hanya bisa menarik nafas panjang melihat seisi ruang operasi ini semuanya menangis. Kemudian dia mendekati Mila dan mengusap-usap punggung Mila


“Semuanya sudah ditakdirkan dokter, kita sudah berusaha semampu kita. Tapi Tuhan berkata lain, kita bisa apa?. Dokter yang tabah ya. Saya tahu ini sangat menyakitkan buat dokter, tapi saya yakin dokter kuat menerima cobaan ini”


Mila menggeleng, kemudian dia hanya bisa pasrah ketika rekannya sesama dokter itu menarik kepalanya. Di dada rekannya sesama dokter, kembali tangis Mila pecah. Dan dia kembali merelakan Yusuf untuk diambil oleh perawat yang kembali berusaha menenangkan tangisan balita tersebut yang masih tak juga berhenti


“Dia sahabat saya dokter. Sahabat baik saya. Saya rela melakukan apa saja untuk sahabat saya, tapi kali saya gagal menyelamatkan nyawanya. Saya gagal dokter…..” isak Mila


Dokter opGin menganggukkan kepalanya dengan terus mengusap punggung Mila yang berguncang.


“Apa yang harus saya katakan dengan kedua anaknya dokter. Mereka sangat berharap jika saya mampu menyelamatkan ibu mereka. Tapi saya telah mematahkan harapan kedua anak itu, saya jahat dokter, saya jahat……”

__ADS_1


Dokter opGin tidak menanggapi penyesalan Mila, dia terus saja mengusap punggung dokter tersebut, sementara Arik yang berada di dalam dekapan dokter senior, menoleh kearah ibunya yang matanya telah terpejam sejak tadi, dan kembali tangisnya pecah sehingga dia kembali memeluk erat pinggang dokter yang masih terus mendekapnya


“Adek sini…..” isak Naya kearah Arik


Arik melepaskan dekapannya dan kembali keduanya menunduk mendekap jasad ibu mereka. Kembali keduanya menangis pilu dan Mila yang menoleh kearah meja operasi, melihat kedua anak Dinda berpelukan tak kuasa menahan kesedihan dan kesakitan yang mendera hati mereka


Mila bangkit dan segera menarik kedua anak Dinda kedalam dekapannya. Hingga ketiga sekarang berpelukan dalam tangis pilu mereka


“Maafkan aunty, maafkan aunty ya nak karena aunty gagal menyelamatkan ibu kalian”


Naya dan Arik tidak menjawab, keduanya masih terus terisak. Dan perawat yang sejak tadi menenangkan Yusuf sekarang telah dibantu oleh dokter opGin untuk menenangkan Yusuf agar anak tersebut diam


Aku berjalan di jalan gelap yang tidak pernah aku lewati. Dan aku merasa asing dengan jalan ini, ada rasa ngeri ketika aku berjalan di jalan ini sendirian. Aku menghentikan langkahku, memutar badan ku melihat ke sekeliling ku, tapi memang aku tidak mendapati apa-apa kecuali kegelapan


“Ya Alloh, aku ada di mana ini?” lirihku bergidik ngeri


Kemudian aku kembali melanjutkan langkahku, walau dengan perasaan takut yang mendera dadaku. Dan kembali aku harus menghentikan langkahku ketika aku mendengar suara tangisan. Aku melirik ke kanan dan ke kiri, menebak-nebak di mana sumber suara tangisan itu


Tapi kembali aku tidak mendapati apa-apa kecuali kegelapan. Tapi suara tangisan itu semakin lama semakin jelas di telingaku. Bahkan tangisnya sangat kencang


“Yusuf….?” Ucapku tercekat ketika aku cukup lama terdiam dan berusaha menebak suara tangisan itu


“Iya itu suara Yusuf. Aku sangat yakin itu Yusuf. Ya Alloh dimana anakku itu?” kembali aku bergumam dan makin mempercepat langkahku


Tangisan Yusuf kian terdengar sangat kencang dan itu kian membuatku sangat mengkhawatirkannya. Aku berteriak memanggil namanya, berharap jika dia mendengar suaraku dan akan berhenti menangis. Tapi sepertinya Yusuf tidak mendengar panggilanku, buktinya dia semakin menangis kejer


“Ya Alloh, ada dimana aku. Kenapa aku sejak tadi tidak sampai-sampai pada anakku. Padahal suara tangisannya sangat dekat di telingaku” gumamku panik


Aku makin mempercepat langkahku dan terus melangkah hingga aku berkali-kali jatuh. Tapi aku tidak mempedulikan bagaimana aku yang telah jatuh bangun hanya untuk segera sampai pada anakku tersebut. Sampai akhirnya aku kembali terpaksa berhenti ketika aku melihat sebuah cahaya yang sangat terang tiba-tiba muncul di depanku


Aku menggunakan kedua tanganku untuk menutupi mataku yang terasa silau akibat sinar yang sangat terang tersebut, dan berusaha tenang dan tidak takut walau sebenarnya kakiku sampai bergetar saking ketakutannya aku


“Kamu siapa?” tanyaku pada sinar yang ada di depanku


“Kenapa kamu menghalangi langkahku?. Aku ingin pergi ketempat anakku. Anakku membutuhkanku” kembali aku berkata dengan suara bergetar


Sinar tersebut masih saja tak bersuara sehingga kembali aku bertanya tentang keberadaannya


“Kamu siapa?” tanyaku lagi

__ADS_1


“Malaikat…..”


__ADS_2