Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Masih Belum Sadar


__ADS_3

Setelah itu Mila dengan santai mengeluarkan hand sanitizer dalam tas yang diletakkannya di atas meja, menyemprotkan ke tangannya lalu tersenyum-senyum melihat suaminya dan temannya mengangkat tubuh Adi dan membawanya keluar


"Keterlaluan kamu ma" geram Julistiar


Mila hanya mencibir lalu mengekor di belakang suaminya yang membawa Adi keruangan lain


"Thanks ya pa...." ucap Mila santai sambil melenggang santai keluar dari dalam kantor polisi


Dan ketika diluar kantor kembali dia bertemu dengan dua orang petugas piket tadi, dan Mila menghentikan langkahnya


"Sebenarnya saya tadi tidak menelepon papa saya, saya hanya menggertak kalian saja"


Kedua anggota tersebut hanya bisa menelan ludah mereka


"Tapi bila sekali lagi kalian tidak bisa diajak kompromi, saya akan serius menelepon papa saya"


"Iya mbak, iya...." jawab dua anggota itu masih dengan nada setengah khawatir


"Oh iya, nih....." sambil berkata begitu Mila mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya


"Kasih ini ke suami saya di dalam, di sana sudah saya tulis aturan meminum obatnya, dan juga ada obat luka, sama ini kasih alkohol ini untuk mencegah kontaminasi luka"


Dua anggota itu hanya menurut dan mengambil bungkusan obat yang diulurkan Mila, setelah itu sekali lagi Mila mengucapkan terima kasih pada keduanya yang hanya bisa menatap kepergian Mila yang berjalan melenggang santai masuk kedalam mobil kemudian segera mengegas mobil meninggalkan halaman polsek


"Ini maksudnya apa?" tanya Ikbal pada rekannya Arif


Arif mengangkat bahunya


"Pak Julistiar kan bilang jika istrinya itu pemegang sabuk hitam taekwondo, jangan-jangan..." ucapnya menggantung dengan wajah menyiratkan khawatir


Segera keduanya memutar badan mereka berjalan cepat masuk kedalam kantor


Dan langkah cepat mereka terhenti ketika mendengar suara seperti orang mengerang kesakitan


"Ya Tuhan.... dia kenapa?" tanya Arif


Julistiar dan beberapa petugas lain yang meletakkan tubuh Adi hanya menoleh sekilas kearah dua petugas yang piket tersebut


Dan tatapan marah dari wajah Julistiar mampu membuat Arif tersenyum kecut


"Jangan banyak omong cepat cari obat! bentak Julistiar


"Eh, obat?, eh anu pak...ini...." jawab Ikbal gugup sambil menyerahkan bungkusan obat yang tadi diberikan Mila


Julistiar dengan cepat mengambil obat yang diberikan Ikbal lalu mengeluarkan semua isinya


Dilihatnya satu persatu obat yang telah ditulisi oleh istrinya tersebut, lalu dia mengambil botol alkohol


"Cari kapas!" ucapnya pada rekannya yang segera berjalan keluar dan tak lama telah kembali dengan membawa sebungkus kapas

__ADS_1


Adi tampak meringis kesakitan ketika kapas yang telah dibasahi oleh alkohol ditempelkan Julistiar ke wajahnya yang babak belur


"Mas sih cari gara-gara sama Mila, tahu Dinda itu sahabatnya Mila mas malah berani-beraninya mencelakai Dinda, ya ini akibatnya" gerutu Julistiar kesal bercampur kasihan


Adi kembali meringis


"Nih obatnya, nanti kalian olesi obat ini kelukanya, saya mau pulang" ucap Julistiar lagi sambil memberikan kantong obat kearah Ikbal, setelah berkata begitu dia segera keluar dari dalam ruangan tersebut dan langsung keluar dari kantor, berjalan kearah mobilnya lalu segera melajukan mobil menuju rumahnya


Sementara di jalan raya, Mila yang sedang berada di perjalanan menuju klinik tempatnya praktik harus merogoh tasnya demi mengambil hpnya yang berdering tanda video call


Segera dipasangnya bluetooth ke telinganya dan meletakkan hp ke stick holder yang ada di depannya


"Ya bestie?"


"Lu dimana Mil?"


"Jalan mau ke klinik, kenapa?"


"Lah lu nggak di rumah sakit nungguin Dinda?"


"Malam nanti aku dinasnya, sekarang aku praktik dulu, lah kalian dimana?"


"Ini kita lagi di rumah Rohaya, mau siap-siap ke rumah sakit untuk besuk Dinda" jawab Vita


"Lu Lis?"


"Jadi lu nggak bisa ikut gabung kita Mil?"


"Ya kalian aja lah, disana ada kak Tomi"


"Yaaa nggak seru Mil kalo nggak ada lu"


"Heh, kalian itu mau besuk Dinda sakit, bukannya mau kongkow buat ngerumpi ya" jawab Mila kesal


Kelima sahabatnya terkekeh


"Ya udah dulu bestie aku udah sampai di klinik nih, nanti kalo kalian sudah di rumah sakit kasih tahu aku ya bagaimana keadaan Dinda"


"Oke...." sahut sahabat-sahabatnya sambil melambaikan tangan


Setelah Lisa sampai di rumah Rohaya, langsunglah mereka berlima masuk kedalam mobil dan Lisa langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit


Dan ketika tiba di rumah sakit dan berjalan kearah ruang icu, mereka lihat jika ada Tomi yang tertidur dengan posisi duduk dengan kepala menyandar ke tembok


Kelimanya berjalan pelan agar tidak mengganggu Tomi yang tampak sangat letih


"Kita masuknya gantian" bisik Rohaya dan yang lain menganggukkan kepala menyetujui


Ketika ada dokter yang akan masuk memeriksa keadaan Dinda, Rohaya segera meminta izin untuk ikut masuk bersama beliau

__ADS_1


Saat Rohaya masuk, keempat sahabatnya yang lain mengintip melalui kaca jendela, dan Rohaya langsung terisak begitu melihat keadaan Dinda yang masih belum juga sadar


Dan ketika dokter selesai memeriksa keadaan Dinda, Rohaya langsung mendekap tubuh Dinda dan kian menangis terisak-isak, sahabatnya yang melihat dari luar ikutan terisak dan saling berpegangan tangan


"Kapan pasien bisa sadar dokter?"


Dokter tersenyum kearah Rohaya yang sedang mengusap kasar hidungnya


"Berdoa saja mbak, karena lukanya cukup parah, luka tusukan mengenai ginjalnya sehingga ginjalnya robek, dan kemarin denyut jantung pasien sempat terhenti untuk beberapa menit sampai akhirnya bisa selamat lagi berkat Tuhan dan usaha keras dokter Mila"


Rohaya menutup mulutnya dengan kaget lalu kembali mendekap Dinda dan kali ini dia menangis kencang


"Kamu kuat Din, kamu harus kuat, pikirkan kedua anak kamu, kamu jangan menyerah" ucap Rohaya disela-sela tangisnya


Setelah cukup tenang, Rohaya mengusap kasar wajahnya lalu mengecup kening Dinda dengan dalam


"Kami selalu mendukung mu Din" lirih Rohaya


Sementara di luar, suara gesekan sepatu di lantai dan suara isak tangis dari sahabat Dinda yang mengintip dari luar membangunkan Tomi yang terlelap


"Oh... kalian?" ucap Tomi sambil mengusap wajahnya


Vita dan sahabatnya menoleh kearah Tomi dan memaksakan senyum di wajah mereka


Tomi lalu meregangkan ototnya, dan matanya yang merah dengan raut wajahnya yang lelah tak mengurangi sedikitpun ketampanan dari wajah dude keren tersebut


"Kok nggak masuk?"


"Gantian kak sama Rohaya"


Tomi menganggukkan kepalanya


"Kakak tinggal sebentar ya, mau cuci muka"


Nanda dan sahabatnya menganggukkan kepala mereka dan kembali mengintip


Setelah berada di dalam selama lima belas menit, Rohaya keluar dan berganti masuk dengan Lisa dan Vita, begitu seterusnya setelah lima belas menit selanjutnya masuk lah Putri dan Nanda


Dan Tomi yang belum sama sekali melihat Dinda dari dekat akhirnya mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya masuk


Dan ketika Tomi masuk, emosinya tak dapat dia kendalikan. Wajah Dinda yang sepucat kertas dengan mata yang tertutup mampu membuatnya menitikkan air mata


Dengan hangat digenggamnya jari Dinda lalu dibawanya kewajahnya, diciuminya jari Dinda sambil terisak-isak


"Dinda kamu sadarlah sayang, kakak ada disini untuk kamu, tidak akan kakak biarkan hal buruk terjadi lagi sama kamu"


Hanya hembusan nafas dari Dinda yang terdengar sebagai jawaban dari ucapan Tomi


"Kakak disini Din, tidak akan kakak tinggalkan kamu sendirian, kakak akan selalu menunggui kamu sampai kamu sadar" lirih Tomi masih dengan terus menggenggam jari Dinda

__ADS_1


__ADS_2