Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Adi Sakit


__ADS_3

Aku langsung menoleh cepat kearah Arik. Kemudian melirik kearah Tomi


"Nggak boleh, enak aja. Ayah sudah punya rumah sendiri dengan istrinya dek. Jadi rumah itu nggak boleh dikasih sama ayah" jawab Naya cepat


Aku terkesiap mendengar jawaban marah Naya


Kuakui, anak gadis ku itu masih marah dengan ayahnya. Apakah mungkin karena dia patah hati karena dikhianati oleh ayahnya dengan menipunya?, entahlah. Aku sendiri tidak tahu


"Nayaa....." ucapku sambil menggeleng kearahnya


Naya langsung memasang wajah cemberut, dan seketika aku langsung merasa suasana sudah tidak kondusif lagi untuk kami membicarakan masalah rumah tersebut


"Maaf mbak...." ucap adiknya Tomi yang tadi membuka masalah membahas rumah ku itu


"Nggak apa-apa, tolong dimaklumi Naya, ya....."


Semuanya tersenyum. Dan Naya masih memasang wajah masam


"Anak papa, ikut papa keluar yuk. Kita duduk di teras saja" ajak Tomi yang segera beranjak dari duduknya dan langsung mengajak Naya keluar


Aku hanya memperhatikan bagaimana Tomi dan Naya keluar dari dalam rumah. Begitu juga dengan yang lain


Lalu suasana jadi agak sedikit canggung sampai akhirnya adik ipar ku berpamitan semua


Naya mencium punggung tangan om dan tantenya seperti biasa, tapi wajahnya masih menyiratkan jika dia marah. Dan Tomi hanya memberi kode dengan jempol tangannya saja ke arahku, memintaku untuk menyerahkan semuanya padanya


Aku menyiapkan kamar tidur untuk kedua anakku, dan membawa Arik untuk tidur duluan.


Selesai itu aku menyusul suami dan anakku yang masih mengobrol diluar


"Jangan dimarahin" lirih ibu mertuaku ketika melihatku berjalan kearah teras


"Iya buk" aku hanya menjawab singkat lalu aku segera keluar, dan duduk di depan Naya


"Pokoknya aku nggak mau rumah itu dikasih sama ayah!!!" suara Naya menyiratkan suara orang yang memendam kesal dan marah


"Yang mau ngasih rumah itu sama ayah siapa?" tanyaku


Naya melirik ke arahku dengan ekor matanya


"Papa...."


Aku langsung melotot kan mataku kearah Tomi, dan dengan cepat aku menggeleng


"Nggak bisa kak, rumah itu rumah aku!!!"


Kulihat Tomi menarik nafas panjang. Lalu menatap ke arahku dan Naya bergantian


"Naya sayang, Naya tahu kan ayah Naya sekarang dipenjara, dan rumah ayah Naya dengan istri mudanya itu bukan milik mereka lagi, rumah itu sudah menjadi milik pak Bara, karena ayah Naya nggak bisa bayar hutang"


Aku bergeming begitu juga dengan Naya

__ADS_1


"Kan kasihan nak jika ayah Naya sama istrinya harus ngontrak, sedangkan rumah ibuk kosong?"


"Nggak mau, itu rumah kami. Bukan rumah Ayah!!!"


Aku mengangguk setuju mendengar jawaban anakku


"Tapi sayang?"


"Nggak!. Kalo papa ingin menyerahkan rumah itu sama ayah dan mengajak kami ke rumah baru, Lebih baik aku tetap tinggal di rumah lama kami. Dan nggak ikut pindah ke rumah baru !!"


Selesai berkata begitu, Naya langsung bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah dengan menghentak hentakkan kakinya


Dan aku langsung menoleh ke arah suamiku, dan menatapnya dengan tajam


"Atas izin siapa kakak mau menyerahkan rumah itu sama Adi??"


Tomi menelan ludahnya karena melihat kemarahan di mata istrinya


"Pokoknya aku nggak mau. Sampai kapanpun rumah itu akan tetap jadi milik aku. Kalau kakak mengajak aku pindah ke rumah yang kemarin kita lihat, Oke aku mau. Tapi tidak dengan menyerahkan rumah aku sama Adi"


"Sayang, maksud aku bukan begitu. Bukan Kita menyerahkan rumah itu untuk jadi milik Adi, bukan. Kita hanya memberi tumpangan kepada Adi biar dia tidak mengontrak. Kan kasihan sama dia. Dia loh nggak ada kerjaan lagi. Kamu mikir nggak sih sayang, begitu dia keluar dari penjara Siapa yang mau memperkerjakan dia? sulit seorang residivis itu mendapatkan pekerjaan"


"Bodo!! bukan urusan aku. Terserah dia mau jadi gelandangan kek, mau jadi begajulan kek, mau ngontrak kek, mau hidup kek, mau mati kek bukan urusan aku. Aku nggak mau ada urusan lagi sama Adi. Selesai ketok palu kemarin, urusan aku sama dia tidak ada lagi. Tamat!!!"


Tomi hanyalah menarik nafas panjang melihat istrinya yang sekarang marah padanya.


Dan aku yang kesal terhadap Tomi segera meninggalkan Tomi masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke tempat tidur


Aku berusaha bersikap biasa saja pagi ini ketika sarapan bersama ibu mertuaku dan juga suamiku. Begitu juga dengan kedua anakku, terutama Naya.


Di sela sarapan kami, ibu mertuaku bertanya apakah kami jadi pindah rumah hari ini. Aku tidak menjawab hanya mengerlingkan mataku ke arah Naya. Tapi berbeda dengan Tomi, dia menggelengkan kepalanya


"Mungkin belum Buk, karena kami harus ada yang dibicarakan dulu"


Ibu mertuaku menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Tomi kemudian dia tersenyum ke arahku


Selesai membereskan pekerjaan rumah, karena tidak ada lagi kegiatan, aku duduk santai bersama ibu mertuaku mengobrol ringan bersamanya


Aku melambaikan tanganku ke arah Vita yang tampak sedang membuka pagar menuju rumah mertuaku


"Ah seru sekali sih ngobrolnya, aku ganggu nggak nih ? ucap Vita ketika dia berjalan ke arah teras


Aku langsung mengulurkan tanganku menyambut kedatangan Vita dan kami langsung cipika cipiki


Bertiga dengan ibu mertuaku Kami mengobrol. Ternyata seru juga mengajak ibu mertuaku gabung dalam obrolan kami


Sedang seru-serunya kami bercerita, tiba-tiba Tomi keluar dengan membawa hp-ku lalu memberikan ke tanganku


"Ada telepon Sayang, dari nomor baru"


Aku tertegun menatap layar hp-ku karena memang di sana tertera nomor baru

__ADS_1


Mungkin karena aku lambat mengangkat, akhirnya panggilan tersebut terabaikan


Tapi tak lama hp-ku kembali berdering dan dari nomor yang sama. Dan aku segera mengangkat panggilan tersebut kali ini


"Maaf ini siapa ya ?" tanyaku ketika menerima panggilan tersebut


Sambil mengucapkan kalimat tersebut, aku menatap ke arah Tomi yang berdiri di sampingku


"Ini benar dengan ibu Dinda ?" tanya suara di seberang


Masih dengan menatap ke arah Suamiku, aku mengangguk dan membenarkan pertanyaan orang tersebut


"Ini Bu, kami hanya ingin memberitahu Ibu. Bahwa tahanan dengan nama Adi, saat ini sedang sakit parah. Dan sudah kami bawa ke rumah sakit. Tapi ternyata beliau selalu memanggil nama ibu dan meminta kepada kami untuk menghubungi ibu"


Seketika wajahku langsung berubah marah ketika aku mendengar perkataan orang yang meneleponku saat ini


"Maaf ya Pak, saya tidak kenal dengan orang yang anda sebutkan tadi. Mungkin anda salah sambung" jawabku cepat


"Kami tidak mungkin salah orang Bu. Karena beliaulah yang menyebutkan nomor ibu dan Beliau berkata bahwa ibu adalah istrinya"


Amarahku kian meluap sehingga dadaku langsung turun naik mendengar kembali perkataan orang tersebut


"Maaf ya Bapak yang terhormat. Saya tekankan sekali lagi kepada anda, bahwa saya tidak mengenal tahanan yang bernama Adi dan saya bukanlah istrinya"


"Tapi Bu?"


"Nggak ada tapi-tapian. Bapak salah orang. Bapak tanyakan lagi sama orang yang saat ini yang kata bapak sedang sakit, Bapak tanyakan sama dia siapa istri dia. Dan pastinya katakan pada dia, saya bukan istrinya. Ingat ya pak saya bukan istrinya. Suami saya bernama Tomi Mahendra. bukan Adi!!"


Selesai berkata begitu, aku langsung memutuskan obrolan dan langsung menatap lurus ke depan dengan menahan amarah di dadaku


Vita dan ibu mertuaku yang sejak tadi duduk di sebelahku, langsung bertanya padaku siapa yang menelpon.


Terutama Tomi, dia sangat ingin tahu terlebih karena dia melihat bagaimana wajahku saat ini


"Sayang kamu kenapa marah? bilang sama kakak, tadi siapa yang menelpon kamu? dan kenapa tadi seperti kamu nyebut-nyebut nama Adi?"


Aku memejamkan sebentar mataku. Dan menarik nafas panjang berusaha untuk menekan amarahku agar jangan sampai emosiku terlihat oleh ibu mertuaku


Tomi segera duduk di sebelahku, bergantian dengan Vita yang berpindah duduk di sebelah ibu mertuaku


Sekali lagi aku menarik nafas panjang dan berusaha untuk menarik nafas teratur


Dan Tomi langsung mengusap-usap punggungku, sementara sebelah tangannya menggenggam erat tanganku


"Sayang ??" panggil Tomi dengan menatap dalam mataku


"Yang nelpon tadi, aku nggak tahu siapa. Tadi dia bilang bahwa sekarang Adi sedang sakit parah dan dibawa ke rumah sakit. Orang tersebut meminta aku untuk datang menemui Adi, karena dia bilang bahwa Adi terus memanggil namaku dan mengatakan pada orang tersebut jika aku adalah istrinya"


Seketika aku lihat ada raut marah di wajah Tomi ketika aku mengatakan kalimat tersebut


"Terus orang itu bilang apa lagi ??"

__ADS_1


"Orang itu bilang bahwa dia tidak mungkin salah orang karena orang tersebut dapat nomor aku dari Adi langsung"


__ADS_2