
Yesa yang berdiri di pinggir jalan hanya bisa memendam kekesalannya karena akhirnya dia tidak bisa berbicara lebih leluasa dengan Dinda.
Tangannya terkepal keras, sementara kakinya menendang botol minuman yang ada di trotoar jalan.
"Arrgghh... ini semua gara-gara Adi sialan itu, coba saja kalau dia tidak dipenjara. Jika saja dia lebih pintar sedikit, kan aku nggak pusing seperti ini" sekali lagi Yesa menggerutu sendiri.
Dan kekesalan di wajah Yesa makin bertambah ketika mobil polisi yang membawa Adi kembali ke penjara melewatinya.
Adi yang tangannya terborgol hanya bisa menoleh dan menatap sedih ke arah Yesa yang berjalan dan menatapnya dengan tatapan marah.
"Sialan kamu Adi!!!" teriak Yesa.
Dan kembali Yesa berhenti dan menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Kemudian karena dia tidak bisa menemukan cara agar bisa menemui Dinda akhirnya Yesa mengeluarkan HP nya dan menghubungi pak Bara.
"Gimana Pak, kita bisa ketemuan kan?, aku baru keluar dari pengadilan negeri ini" ucap Yesa ketika teleponnya tersambung pada pak Bara.
"Oh begitu ya Pak, Okelah kalau begitu. Iya Bapak tunggu saja" jawab Yesa setelah mendengar jawaban dari Pak Bara.
Setelah itu Yesa langsung menghentikan sebuah ojek yang melintas dan langsung menyebutkan nama sebuah tempat yang tadi disebutkan oleh Pak Bara.
Dan Yesa dengan canggung masuk ke sebuah tempat yang ternyata adalah sebuah kafe.
Yesa celingukan seperti orang hilang di dalam ruang Cafe tersebut karena memang pada saat itu Cafe tersebut lagi banyak pengunjungnya.
Lalu Yesa mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan Cafe. Dan akhirnya dia melihat pak Bara duduk di sudut ruangan Cafe dan sedang tampak serius melihat ke HP yang ada di tangannya.
Yesa berjalan cepat ke arah Pak Bara dan langsung duduk begitu sampai di meja pria tersebut.
"Eh Kapan kamu sampai?" tanya Pak Bara dengan kaget dan langsung meletakkan HP yang sejak tadi ditatapnya.
Yesa tidak langsung menjawab melainkan segera meraih minuman dingin yang ada di hadapan Pak Bara dan langsung menenggaknya.
"Sorry pak aku haus banget" ucap Yesa santai sambil meletakkan gelas yang sudah habis isinya.
Pak Bara lalu melambaikan tangannya dan seorang pelayan langsung berjalan ke arah beliau.
"Saya pesan dua makanan dan dua minuman lagi ya, dan segera antarkan ke sini!" ucap pak Bara dan pelayan tersebut langsung mengangguk.
Yesa segera mengibas-ngibas kan tangannya ke depan dadanya karena memang saat itu cuaca cukup panas.
"Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Bara.
Yesa menarik nafas panjang lalu menatap lekat ke arah wajah Pak Bara.
"Bapak kok tidak bilang sih sama saya kalau toko itu sudah menjadi milik Dinda kembali?" tanya Yesa dengan wajah cemberut.
__ADS_1
Pak Bara terkekeh dan menatap wajah Yesa dengan pandangan aneh.
Melihat Pak Bara menatapnya dengan pandangan aneh membuat Yesa menjadi jengah dan gelisah.
"Saya tidak tahu jika toko itu sudah kembali menjadi milik Dinda tapi yang saya tahu, hukuman suami kamu itu akan berat".
Yesa menarik nafas panjang mendengar ucapan pak Bara.
"Benar pak, saya tahu jika hukuman suami saya akan berat karena memang suami saya terbukti bersalah. Karena itulah saya semakin pusing" keluh Yesa
Dan kembali Pak Bara tersenyum sinis mendengar keluhan Yesa.
Ketika makanan sampai dan dihidangkan oleh pelayan, dengan cepat Yesa langsung melahap makanan tersebut.
Dan Pak Bara yang melihat Yesa makan dengan lahap hanya tersenyum tipis.
"Makanlah dengan pelan kamu makan seperti orang kelaparan saja" ucap pak Bara sambil memberikan tisu kepada Yesa.
Melihat Pak Bara memberikan tisu kepadanya insting nakal Yesa langsung berontak.
"Sepertinya lelaki tua bangka ini bisa aku manfaatkan" batin Yesa sambil memandang dalam ke arah Pak Bara.
Pak Bara tersenyum menyeringai melihat Yesa yang menatap dalam ke arahnya.
"Perempuan ini pikir saya tidak bisa membaca matanya" batin Pak Bara .
"Kenapa kamu tidak bekerja saja toh kamu masih muda" usul Pak Bara.
Yesa meletakkan sendok ke atas piring lalu mengelap mulutnya dengan tissue
"Zaman sekarang siapa sih Pak yang mau mempekerjakan seorang perempuan yang punya anak kecil?, tidak ada Pak. Bahkan untuk pekerjaan rendahan sebagai pembantu rumah tangga saja butuh yang single".
Pak Bara mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keluhan Yesa.
"Oh ya pak, saya belum ada uang untuk menebus surat rumah dan juga mobil yang Bapak bawa" sambung Yesa yang kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Pak Bara tersenyum penuh arti mendengar ucapan Yesa.
"Oh tidak apa-apa tidak masalah untuk saya" jawab pak Bara santai sambil tertawa kecil.
Yesa menarik nafas lega mendengar jawaban Pak Bara.
"Tapi itu artinya rumah tersebut akan saya jual" lanjut pak Bara yang mampu membuat mata Yesa melotot kaget.
"Di jual Pak?"tanya Yesa kaget
__ADS_1
Pak Bara menganggukkan kepalanya
"Iya, dijual. Toh surat-suratnya semua ada sama saya. Dan kamu juga tidak bisa mengembalikan uang saya yang sudah di korupsi sama suami kamu, jadi rumah dan mobil itu sekarang sah menjadi milik saya"
"Jika rumah tersebut saya jual tidak masalah kan?, karena rumah tersebut sudah menjadi milik saya" jawab pak Bara santai.
Kembali mulut Yesa ternganga dan dia langsung bergerak gelisah.
"Aduh, tolong lah pak kasih saya kesempatan untuk tinggal di rumah itu. Biarlah surat rumah sama mobil itu ada di tangan Bapak. Tapi saya mohon Pak, tolong biarkan saya bersama anak saya tinggal di rumah itu. Kami mau tinggal di mana Pak, kami tidak punya tempat tinggal lagi" mohon Yesa dengan wajah sedih.
"Yaaaa itu sih bisa diatur, asal......" jawab pak Bara menggantung ucapannya.
"Asal apa Pak?" tanya Yesa cepat.
Pak Bara lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudian menatap Yesa dengan tatapan dalam.
"Ya....kamu tahu sendiri lah, toh kita sudah kenal lama" jawab pak Bara yang mampu membuat Yesa menelan ludahnya.
Yesa tersenyum kaku mendengar jawaban Pak Bara, lalu dengan cepat dia meraih gelas minuman dingin dan terburu-buru menyeruputnya.
Dan Pak Bara yang melihat Yesa gelisah hanya tersenyum sinis.
"Kemarin kamu dibilang ditelepon bahwa kamu akan melakukan apapun dan menuruti semua yang saya minta kok sekarang giliran saya bilang, kamu malah seperti orang bingung" .
"Saya hanya kaget saja Pak" jawab Yesa mengelak.
Pak Bara tergelak mendengar jawaban Yesa.
Lalu tak lama Pak Bara melihat jam di pergelangan tangannya kemudian dia juga langsung memakan makanan yang sejak tadi belum disentuhnya sama sekali.
"Ayo cepatlah makan setelah ini saya akan mengantarkan kamu pulang" ucap pak Bara.
Yesa tidak menjawab melainkan hanya mengangguk dengan perasaan khawatir.
Dan kembali Pak Bara menatap Yesa dengan tatapan penuh maksud.
Hingga akhirnya satu jam berikutnya mereka berdua telah berada dalam satu mobil dan sekarang sedang di perjalanan menuju rumah Yesa.
Berkali-kali Yesa bergerak gelisah dan Pak Bara yang melihat kegelisahan Yesa hanya mengerling dan tersenyum sinis.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya pak Bara yang membuat Yesa tergagap dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Rileks saja......, toh kamu sudah profesional dalam pekerjaan itu" sindir Pak Bara telak.
Yesa tidak bisa menjawab ucapan Pak Bara dia hanya menelan ludahnya saja dan kian gugup.
__ADS_1
"Sialan lelaki tua bangka satu ini. Niat aku ingin morotin dia, eh malah dia yang ingin memanfaatkan aku" geram Yesa dalam hati.