
Mobil yang dikendarai Adi masuk sebuah rumah baru, rumah model minimalis bercat putih
Shella dan Julian terus mengikutinya dari belakang, dan mereka berhenti tak jauh dari rumah tersebut
Yuk aku sudah sampai di depan rumah mereka
Terkirim, centang dua dan biru
Share lock dek
Shella segera membagi lokasinya sekarang, dan aku segera mengikuti map yang dibagikan Shella
Melihat mobil Indah bergerak, Putri segera menghidupkan mobilnya, dan dengan pelan dia mulai menjalankan mobil, begitu juga dengan Tomi, dia segera mengikuti dari belakang
"Dinda kemana sih?, kok aku curiga ya..." ucap Nanda
Yang lain hanya diam dan saling menarik nafas dalam
Handphone Vita berdering
Rohaya
"Ya Roh?"
"Gimana?"
"Ini kita masih ngikutin"
"Kalian dimana?"
"Kota sejuk"
"Jam segini kalian di sana?, gilaaa"
"Ya mau gimana lagi, demi sahabat"
"Iya juga sih"
"Dinda gimana?"
"Nggak tahu Roh, ini kita masih ngikutinnya"
"Kalian hati-hati ya, terus kabari gue, biar gue nggak khawatir."
"Iya siap"
"Kalian berlima?"
"Berenam"
"Loh satunya siapa, kan gue pulang"
"Kak Tomi"
"Ohh... jadi Tomi ikutan nyusul"
"Iya, udah ya Roh ini kita masih terus ngikuti Dinda, doain ya semoga nggak terjadi apa-apa sama kami semua"
"Aamiin, Pasti bestie. Dah ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Vita menarik nafas panjang dan menoleh kearah Mila yang juga berwajah gelisah
Shella segera menoleh kebelakang begitu dilihatnya mobil Dinda mendekat.
Aku segera turun dari dalam mobil berjalan mendekati Shella
Shella segera mengulurkan tangannya, menyalamiku dan aku memeluknya sebentar
Julian ikut menyalami Dinda sambil tersenyum kaku
"Mana dek?"
"Rumah putih itu yuk, itu mobil yang tadi dipakai Kak Adi"
Mataku melihat kearah yang ditunjuk Shella. Benar, di depan rumah bagus tersebut, terparkir sebuah mobil hitam yang juga tampak baru dan mengkilat
Sementara Putri dan Tomi yang sejak tadi mengikuti Dinda, memarkirkan mobil mereka agak jauh di belakang mobil Dinda
Putri dan temannya yang lain masih di dalam mobil, memperhatikan terus dengan seksama dari dalam.
Sedangkan Tomi telah keluar dan berjalan ke samping mobil Putri.
Melihat ada Tomi di luar, Mila dan Lisa segera keluar
__ADS_1
"Gimana sekarang kak?"
"Kalian tahu apa yang terjadi sama Dinda?"
Keduanya menggeleng. Tomi menarik nafas panjang
Dapat dilihatnya jika Dinda sedang bersama seorang gadis dan seorang lelaki yang duduk di atas motor, dan mereka tampak mengobrol
"Udah deh dek, ayuk mau masuk!"
"Nanti yuk!" cegah Shella sambil menarik cepat tangan Dinda
"Kita pastiin dulu, jangan gegabah"
"Gegabah gimana?, tadi kalian berdua beneran lihat kan kalau itu mas Adi"
"Iya sih yuk, tapi aku khawatir ayuk bakal kalap nanti"
Aku mendengus kesal, jelas aku bakal kalap lah. Suami yang ngomongnya pergi keluar kota, ternyata malah pergi ke rumah istri muda
"Ayuk mau kesana sekarang, kalian disini aja!"
"Tapi yuk?" Shella tak dapat mencegah Dinda yang telah berjalan
Tomi kian khawatir melihat Shella berusaha menarik tangan Dinda dan melihat Dinda meninggalkan Shella yang kebingungan
"Kita kesana!" tarik Lisa spontan pada tangan Mila
Aku berjalan pasti di halaman rumah baru tersebut, menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu
Di dalam kudengar tidak ada suara apa-apa, sepi.
"Bismillah..." lirihku
Shella yang melihat Dinda sudah di depan pintu, makin bergerak bak cacing kepanasan karena khawatir
"Gimana sekarang kak?" ucapnya panik kepada Julian
Julian diam, dia telah berdiri pada posisi siaga.
Aku mulai mengetuk pintu, tak ada yang bersuara dari dalam, kembali aku mengetuk dan kali ini agak keras
Yesa yang saat itu meletakkan anaknya di kamar berharap jika Adi yang akan membukakan pintu
Sedangkan Adi yang kebelakang, meletakkan buah tangan yang tadi mereka beli di tempat wisata berpikir jika Yesa lah yang akan membuka pintu
Aku menarik nafas dalam, lalu menoleh kearah jalan. Kembali aku menarik nafas panjang dan mengetuk pintu
"Papa.... tolong bukain dong pintunya, Mama masih ngelonin dedek nihh..." teriak Yesa
Suara teriakan Yesa membuat anak bayinya bergerak dan merengek
"Iya ma, sebentar..."
Aku jelas sekali mendengar jika itu suara suamiku, dan dadaku makin terasa sakit ketika kudengar tadi dia menyebut kata "Ma"
Adi berjalan kearah pintu, sementara suara ketukan masih terdengar
"Iya sebentar, sabar..." jawab Adi sambil membuka kunci
Mendengar suara membuka kunci, aku mundur selangkah.
Perlahan Adi membuka pintu, dan matanya langsung terbelalak
Dadaku makin bergemuruh ketika benar suamiku yang membukakan pintu
Mulut Adi ternganga, dia bergeming melihat Dinda yang memandang tak percaya padanya
Kakiku serasa tak bertulang ketika dengan mata kepalaku sendiri aku melihat suamiku berdiri di dalam rumah orang lain
"Siapa Pa...?" Yesa berteriak
Adi menoleh kedalam lalu kembali menoleh kearah Dinda yang masih terlihat sangat shock
Sementara di jalan, melihat Mila dan Lisa berlari kecil kearah Shella, Putri dan temannya yang lain segera turun dari mobil, dan dengan tergesa mereka ikut berlari kecil
Tomi yang melihat sahabat-sahabat Dinda berlari, ikut berjalan cepat
"Apa yang terjadi?" Lisa langsung bertanya pada Shella begitu dia sampai di dekat Shella
Shella yang bergerak panik melihat sahabat-sahabat ayuknya berlari menjadi sedikit tenang
"Itu, kak Adi di rumah itu sama perempuan"
Mata kelima sahabat Dinda langsung terbelalak mendengar jawaban Shella
__ADS_1
"Nanti kita disini aja dulu, kita lihat dari jauh dulu, jika terjadi apa-apa sama yuk Dinda baru kita kesana"
Kelimanya menurut. Tomi yang mendengar jika Dinda sedang menemui suaminya di rumah perempuan lain langsung menggeleng gelisah
"Bajingan kamu Adi..." desisnya
Mereka terus memandang Dinda dari kejauhan, melihat dengan jelas bagaimana gelisah nya Dinda berdiri di depan pintu
Dan mereka semua langsung kaget begitu beneran Adi yang membukakan pintu
"Astaghfirullah..." ucap mereka kaget
Tomi langsung mengepalkan tangannya.
Merasa suaminya tak menjawab, Yesa segera bangkit dan membenarkan bajunya, berjalan keluar dari dalam kamar
"Siapa Pa...?"
Suara Yesa langsung melemah begitu dia melihat Dinda berdiri di depan suaminya
Aku langsung menatap tajam kearah perempuan yang tadi menyebut suamiku dengan panggilan "Pa"
"Harusnya saya yang bertanya kamu siapa?" ucapku bergetar menahan air mata
"Jadi kamu disini Yah, iya?, ngantar bibitnya disini?"
Adi tetap bungkam bingung mau menjawab apa atas pertanyaan Dinsa. Dia bingung harus memulai jawaban dari mana
Semua kebohongannya selama dua tahun ini terbongkar sudah, istrinya sendiri yang membongkar dan menggerebeknya
"Jawab pertanyaan aku, dia siapaaaa...???!! teriakku
Teriakan Dinda membuat sahabat-sahabatnya kian panik.
Adi berusaha memegang tangan Dinda yang menunjuk tajam pada Yesa yang berdiri mematung
Dengan cepat aku menepis tangan suamiku
"Hebat kamu mas, selama ini kamu bilang ngantar bibit, kalau ini bukan ngantar bibit tapi kamu menyemai bibit!!!!" kembali aku berteriak
Mendengar suara gaduh, anak Yesa dan Adi terjaga dan menangis. Makin hancur hatiku saat aku mendengar tangisan bayi.
"Tega kamu mas..." lirihku dengan suara tercekat, sementara air mata langsung mengalir di pipiku
Suara tangisan bayi kian kencang yang memaksa Yesa segera masuk dan dengan gugup mengunci pintu kamar
"Aku bisa jelasin semuanya buk, aku bisa jelasin" kembali Adi berusaha menangkap tangan Dinda yang berusaha menepis tangannya
"Nggak ada yang bisa dijelasin, semuanya telah terbukti"
Kelima sahabat Dinda yang melihat kian geram
"Huhh kesuwen!!!" geram Mila yang langsung berlari kearah teras
Adi terus berusaha menarik tangan Dinda, tanpa dia sadari sebuah tamparan melayang di wajahnya
PLAAAAKKKK.....
Refleks Adi dan Dinda menoleh, Mila yang tadi menampar wajah Adi sekarang dengan kasar mendorong pundak Adi agar menjauhi Dinda
"Jangan sentuh sahabat saya!!!"
Wajah Adi memerah marah melihat sahabat istrinya ikut campur
"Kamu siapa?, apa hak kamu, hah?"
"Saya sahabatnya Dinda dan saya berhak menampar kamu karena kamu telah berlaku kurang ajar pada sahabat saya!"
Shella dan sahabat Dinda yang lain segera turut berlari dan dengan cepat mereka telah mengerubungi Adi
Dengan geram Lisa masuk, menggedor-gedor pintu kamar di mana ada suara tangisan bayi
"Keluar kamu pelakor!!, cepat keluar!!"
Adi segera masuk menarik kasar pundak Lisa. Melihat itu sahabat Dinda yang lain tak tinggal diam, mereka ikut masuk dan menarik Adi
Sementara Putri begitu sampai di teras segera mendekap erat Dinda yang terlihat sangat shock dan terpukul
"Keluar kamu pelakor, keluar!!!!"
Lisa bersama Nanda yang terpancing emosinya menendang-nendang pintu kamar
Yesa yang ada di dalam kamar makin tak berani bergerak, dia sangat ketakutan
Melihat ada air kopi di atas meja, dengan cepat Mila mengambilnya dan menyiramnya ke wajah Adi
__ADS_1
"Matilah cepat kamu Adi" ucapnya sambil kembali mendorong tubuh Adi