Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Hebohnya


__ADS_3

Pak Burlian langsung berjalan ke arahku yang sejak tadi duduk bersandar dengan bantal. Aku tersenyum kearah beliau dan istrinya


“Selamat ya Din…..” ucap beliau ketika aku mengulurkan tanganku dan mencium punggung tangan beliau. Begitu juga dengan istrinya, beliau memelukku dengan hangat


“Sama aku kak?” tanya Tomi karena pak Burlian tidak mengambil tangannya melainkan segera mengambil anak kami yang digendong adik kedua Tomi


Pak Burlian hanya mengangkat sebentar wajahnya kearah Tomi kemudian dia kembali sibuk menciumi anak kami yang membuat Tomi langsung memasang wajah manyun, dan adik-adiknya malah terkekeh karena kakaknya digoda oleh kakak sepupu mereka


“Belum ada nama kan?, kakak saja yang beri nama kalau begitu” kembali pak Burlian berbicara sambil terus menciumi wajah gembul anak kami


“No nggak bisa, enak aja” jawab Tomi cepat


“Loh kenapa?. Kami berdua ini punya satu kesamaan” sambung pak Burlian lagi, yang lagi-lagi membuat adik-adik Tomi makin tertawa geli


“Bener itu kak, kak Tomi sama mbak Dinda belum nyiapin nama, makanya aku setuju kalo kakak yang ngasih nama” jawab Aldi yang membuat Tomi mendelikkan matanya kearah adik bungsunya itu


“Bagaimana Din?” tanya pak Burlian ke arahku


Aku tersenyum dan menoleh ke arah Tomi yang menggelengkan kepalanya ke arahku


“Maaf pak, kami sudah menyiapkan nama, Tomi hanya bercanda saja tadi” jawabku yang membuat Tomi menarik nafas panjang


“Lahhh terus siapa namanya?” kejar adik-adik Tomi


“Adalah…..” jawab Tomi


“Sulaiman, iya kan sayang?”


“Hah?!” jawab Tomi kaget yang membuat yang lain makin curiga


“Ahhh, nggak beres ini” jawab pak Burlian sambil duduk di lantai, duduk di sebelah ibuku dan ibunya Tomi sambil terus menggendong anak kami


Istri pak Burlian mengambil alih anak kami, dan membawanya agak menjauh karena suasana ruanganku agak berisik. Istri pak Burlian, yang kami kenal dengan kakak ipar pertama, bergabung dengan iparanku yang lain. Yang segera berebutan menciumi pipi gembul anak kami


“Maaf ya bapak ibu semua, waktunya pasien di periks” ucap dokter Opgin yang membantu prose persalinan ku semalam


Adik-adik Tomi, yang sejak tadi berdiri di dekat Tomi yang duduk di sebelahku minggir, tapi Tomi segera berdiri dan berpindah tempat, membiarkan dokter memeriksa keadaanku


“Aku boleh pulang sore ini dokter?” tanyaku


Dokter tersebut tersenyum, dengan terus memeriksa keadaanku. Kemudian beliau menggeleng


“Kata dokter Mila tadi, setidaknya mbak harus disini sampai besok”


“Mila?, dia kan dokter umum dok. Bukan dokter kandungan” protesku


“Emangnya kenapa kalau aku dokter umum?, nggak suka kamu aku tahan disini?”

__ADS_1


Aku langsung menelan ludahku dengan nyengir ketika Mila masuk dengan memasang wajah marah ke arahku. Dokter yang memeriksaku ikut tersenyum, dan melepas stetoskop dari telinganya


“Kondisinya baik kok dokter. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Tensi darahnya juga bagus, detak jantung, semuanya bagus” jawab dokter itu kearah Mila yang duduk di ranjang, tepat di sebelahku


“Lu beneran mau pulang?” tanyanya tak yakin ke arahku yang menganggukkan kepala


“Tapi kan lu baru subuh tadi lahiran” protesnya dengan nada suara tak suka


“Ya walaupun subuh tadi, tapi kan aku sehat Mil. Naya sama Arik loh dari semalam aku tinggal. Aku khawatir sama mereka” ucapku


Mila mendecak dan menoleh kearah Tomi


“Kakak setuju Dinda pulang?” tanyanya


Tomi mengangguk cepat yang membuat Mila terpaksa menarik nafas panjang


“Ya udah deh, orang suaminya yang mau, aku bisa apa” jawab Mila pasrah


Aku langsung menempelkan kepalaku di pundaknya, dan Mila langsung mengusap pelipisku dengan sayang


“Kalau ada apa-apa, cepat kasih tahu gue, gue nggak mau lu kenapa-napa”


Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya


“Sesayang itu dokter Mila sama istri kamu Tom, nggak curiga kamu?” ucap pak Burlian yang membuat Mila langsung mendorong kepalaku dan turun dari ranjang


“Nggak segitunya kali Mil….” Sungutku


“Ya kali pak bos kamu nuduhnya kaya gitu, aku kan jadi geli” jawabnya sambil menggedikkan bahu


“Dia ini sahabat terbaik aku pak, selalu ada disaat aku susah mau pun senang. Dia adalah sahabat pertama yang menjadi garda terdepan untuk melindungiku, bukan aku saja sih. Sama lima sahabatku yang lain Mila juga begini. Dia ini care nya tingkat dewa. Nggak peduli jam berapa pun kalau menyangkut sahabatnya, nyawa rela dia pertaruhkan” ucapku sambil menatap Mila sambil tersenyum


“Nggak usah terlalu memuji kaya gitu kenapa sih, biasa aja” jawab Mila sambil membalas tersenyum ke arahku


“Saya bercanda dokter, saya tahu kok kalau dokter itu super care sama Dinda. Saya sudah melihat sendiri ketika di kantor tempo hari”


Aku dan Mila sontak saling toleh, dan tertawa tertahan


“Terus, bolehnya pulang jam berapa ini?” tanyaku setelah kami diam


Mila melihat jam di hp nya, kemudian menoleh kearah dokter Opgin yang masih ada di ruangan ini


“Setengah jam lagi boleh, kalau mau prepare silahkan” jawab dokter tersebut setelah selesai melihat jam di hp nya


Diluar dugaan, semua yang ada di ruangan ini langsung berdiri dan langsung berkemas. Aku dan Mila salin toleh dan langsung tersenyum


“Loh, ternyata kalian semua mau pulang toh?” tanya Tomi yang melihat adik-adiknya langsung berkemas dengan mengambil tas yang semalam kami bawa, mengambil semua barang-barang kami dan memasukkannya dalam tas, sedangkan ibuku mengambil anak kami dalam gendongan iparku, bersama ibu mertuaku, ibuku keluar lebih dulu karena orang dalam ruangan ini tampak sibuk

__ADS_1


“Aku ambil kursi roda dulu” ucap Mila yang langsung keluar dan tak lama telah muncul kembali dengan mendorong kursi roda


Aku yang duduk sejak tadi mulai menurunkan kakiku, dengan dibantu oleh Tomi aku mulai berdiri. Tapi tubuhku tiba-tiba limbung karena aku merasa pusing mendadak


“Tuh kan….. ngeyel” ucap Mila cepat dengan langsung memegang bahuku


Aku yang limbung, berusaha memejamkan mataku sesaat dengan menggelengkan kepalaku berkali-kali


“Bagaimana sayang? Masih pusing?”


Aku membuka mataku, dan menggeleng kearah Tomi yang tampak khawatir. Kemudian aku langsung duduk di kursi roda, dimana aku masih saja dibantu oleh Mila yang terus menatapku dengan wajah khawatir


Saat Tomi akan menjalankan kursi roda, Mila dengan cepat menghentikan kursi roda dengan mengangkat tangannya


“Periksa lagi, nggak yakin gue” ucapnya dengan segera keluar kembali dari dalam ruanganku. Seluruh keluarga ku yang sudah siap keluar dan sudah berdiri semua terpaksa duduk kembali dan melihat Mila yang kembali masuk dengan membawa peralatan medis di tangannya


Aku hanya menurut saja ketika dia memeriksa tensi darahku, dokter yang mengurusi persalinanku membiarkan Mila yang mengambil alih tugasnya, dan dengan segera diketahui jika darahku masih rendah, mungkin karena itulah aku pusing tadi


“Resep obatnya sudah dok?” tanya Mila pada rekan kerjanya yang menganggukkan kepala. Kemudian Mila menatap wajahku dengan dalam, sepertinya dia masih tak yakin jika aku baik-baik saja


“I’m okay” ucapku sambil menarik tangannya dan meletakkannya di keningku


Mila mendecak karena ulahku. Kemudian dia menoleh kearah Tomi


“Cepat kasih tahu kak ya kalau Dinda tiba-tiba drop”


Tomi mengangguk dan meyakinkan Mila agar dia tak mengkhawatirkan ku. Barulah setelah itu Tomi langsung mendorong kursi roda dan Mila ikut mengantarkan ku sampai depan mobil.


Sebelum aku naik mobil dengan dibantu Tomi, Mila memelukku dengan hangat


“Aku akan secepatnya datang ke rumah kamu kalau aku free di rumah sakit dan klinik” janjinya yang ku jawab dengan anggukan kepala


Setelah yakin jika aku sudah duduk nyaman, Tomi mulai melajukan mobilnya dengan tenang menuju rumah. perjalanan yang kmi tempuh setengah jam berakhir selamat di depan rumah


Naya dan Arik langsung berlari begitu mendengar suara klakson. Dengan cepat keduanya membuka pintu bagian depan, tempatku duduk dan keduanya berebutan memelukku. Kembali aku dapati keduanya menangis ketika mendekapku. Tak urung tangis haru mereka membuat aku ikut menangis juga


“Selamat datang di rumah, adek……” ucap keduanya ketika ibuku turun dengan menggendong anak kami


Dan kembali keduanya berebutan untuk mencium adik mereka. Aku hanya tersenyum saja melihat kelakuan mereka berdua


“Ayo masuk, sudah sore. Nggak baik mau maghrib diluar” ucap ibu mertuaku


Tomi kembali membimbingku berjalan masuk. Dan kembali aku harus menghentikan langkahku ketika terdengar teriakan dari dalam rumah


Suara gradak gruduk dari kelima sahabatku menyambutku dengan antusias ketika aku berjalan di teras.


“Loh, kok ada kalian lagi sih?” tanyaku kaget

__ADS_1


__ADS_2