
Tepat tengah hari disaat toko sedang ramai-ramainya, lima orang lelaki paruh baya yang tak kukenal masuk ke toko
"Benar ini tokonya Adi?" tanya salah satu dari mereka pada karyawanku yang baru saja meletakkan karung beras di lantai
"Benar pak, ada apa ya?"
Aku yang duduk di dalam menoleh pada mereka dan menerka-nerka kemungkinan mereka adalah tauke bibit ikan yang tadi telah janjian padaku
"Yang punya ada?" tanya yang lain
Aku berdiri dan menganggukkan kepalaku pada mereka
"Itu sepertinya istri Adi" ucap salah satu dari mereka yang segera masuk diikuti yang lain
"Dinda?" tanya mereka
Aku mengangguk dan menerima uluran tangan mereka, kelimanya saling toleh dan tampak tersenyum menyeringai
"Istri begini cantiknya malah nyari yang nggak beres" gumam seorang yang berbadan gempal dan berkumis tebal sambil menarik kursi lalu duduk
Yang lain langsung melototkan mata mereka. Sedangkan aku hanya tersenyum kaku
"Maaf bapak-bapak karena tempatnya kurang nyaman"
Mereka berlima mengedarkan pandangan ke seluruh toko dan sebagian dari mereka mulai menghisap rokok
"Kami nggak bisa berlama-lama mbak, kami semua kesini selain ingin bersilaturahmi, kami juga ingin menagih hutang mas Adi pada kami semua" ucap mereka dan langsung menyodorkan kertas nota tagihan padaku
Aku mulai menyandarkan tubuhku begitu aku menerima nota dari mereka.
Sekuat tenaga aku menahan air mataku jangan sampai jatuh, tapi tak bisa
Air mataku langsung mengalir deras begitu aku melihat lembar demi lembar nota yang kelima bapak tauke ini berikan padaku
"Ya Tuhan, kenapa bisa sebanyak ini?" keluhku
Kelimanya diam
"Kenapa bapak-bapak mendiamkan ini semua?, seakan-akan bapak semua memang ingin kami bangkrut" lirihku sedih
"Bukan begitu mbak, kami melakukan ini semua karena kami masih memikirkan hubungan baik kami sama mas Adi, jika bukan karena itu, telah lama kami tidak mau memberinya bibit lagi" jawab salah satu dari mereka
"Pokoknya kami nggak mau tahu mbak, mbak harus lunasi semua hutang mas Adi pada kami" bentak seorang bapak yang berkumis tipis
Aku langsung terkesiap mendengar suara beratnya yang membentak ku. Karyawan dan pembeli menoleh kearah kami dan membuatku melengos sebentar menahan malu
"Heh bro nggak gitu, kita kan tadi udah sepakat nggak ada marah-marahnya" jawab yang lain menyabarkan temannya yang tadi membentak ku
"Dia yang mulai bro, dipikirnya kita tidak rugi apa?"
__ADS_1
"Lu diem bro, jika lu nggak bisa diem, lu di mobil aja!"
Lelaki berkumis tipis itu memasang wajah kesal dan menghembuskan asap rokok ke udara dengan kesal pula
"Mbak bisa lihat kan bagaimana lamanya mas Adi menunggak pada kami, bahkan disini ada juga yang dibayar separuh bahkan ada yang dibayar hanya tiga puluh persen, sisanya katanya nunggu panen, dan sekarang sudah berkali-kali panen tapi belum juga mas Adi melunasi"
Aku menarik nafas dalam
"Apakah bapak-bapak semua sudah sering menagih sama suami saya?"
"Sudah bosan mbak, bahkan jika tidak mikir saja, rasanya mas Adi itu pengen kami karungi" jawab bapak berkumis tadi emosi
Yang lain kembali menoleh dan menggelengkan kepala kearah bapak tadi, memberi kode untuk diam
"Saya yakin jika bapak semua sudah tahu jika suami saya bertingkah" jawabku pelan
Kelimanya tersenyum mencibir
"Seperti yang saya katakan tadi, mas Adi itu bodoh meninggalkan istri sempurna demi wanita yang tidak sempurna"
Aku tersenyum samar mendengar jawaban bapak yang berbadan gempal yang sepertinya ketua diantara mereka berlima
"Bapak semua bisa temui mas Adi untuk masalah ini, jika bapak semua menagih sama saya, saya tidak tahu menahu pak, ini saja uang panen habis saya bayarkan pada petani bibit sawit, untuk pekerja kolam dan juga pekerja pembibitan, itu saja masih kurang saking banyaknya hutang Mas Adi"
"Dan bulan kemarin pak Bara juga menagih, jika bapak mau menemui mas Adi, saya akan berikan alamatnya pada bapak semua"
"Nggak mungkin anda tidak tahu, anda itu istrinya, kemana uangnya selama ini jika tidak mas Adi setorkan sama mbak, hah?"
"Mbak jangan mau jual air mata sama kami, kami tidak akan kasihan sama mbak, yang kami mau adalah uang kami kembali" tunjuknya tepat ke wajahku
Seluruh karyawan terdiam dan memandang kearah Dinda dengan tatapan kasihan. Begitupun dengan para pembeli, mereka menatap pula pada Dinda yang menangis sambil ditunjuk-tunjuk dengan penuh emosional
"Astaghfirullah Endro, sudah kami bilang kamu diam!!" bentak bapak bertubuh gempal sambil menarik kasar tangan temannya yang tadi dipanggilnya Endro
"Come on bro, kita tahulah bagaimana liciknya Adi, mulutnya begitu manis makanya dia bisa menipu kita berlima, dan sekarang istrinya mau ikut-ikut juga menipu kita?" balas bapak berkumis tipis yang bernama Endro masih emosi
"Alfian, kamu bawa Endro ke mobil, nggak selesai urusan ini jika dia masih disini!"
"Nggak bisa bro, lu terlalu baik jadi orang, nggak kaya gue" jawab pak Endro masih ngeyel
Aku menatap wajah marah pak Endro dengan degup jantung yang berdebar kencang
"Masalah ini selesaikan sama saya!"
Mataku dan mata kelima bapak tauke ini langsung menoleh kearah depan.
Tomi...
Aku berdiri dan tangisku makin pecah ketika kulihat Tomi berjalan dengan cepat kearah kami
__ADS_1
Tomi menatap sekilas pada Dinda lalu membuang mukanya karena tak tahan melihat air mata Dinda yang mengalir deras
"Saya Tomi, saya kakaknya Dinda" ucap Tomi mengulurkan tangannya
Kelima tauke itu menjabat tangan Tomi, tapi kekesalan di wajah pak Endro masih belum berkurang
"Kita jangan bicara disini, kita bicara di restoran dekat pertigaan di sana, silahkan bapak duluan kesana, kurang lebih setengah jam lagi saya akan menyusul"
Kelimanya saling toleh dan bapak yang bertubuh gempal yang tadi memarahi pak Endro menganggukkan kepalanya
"Baiklah, kami tunggu, tapi jangan lama"
"Saya janji paling lama setengah jam, karena saya mau berbicara dulu dengan adik saya"
Kelimanya menurut dan meninggalkan toko
"Maafkan pak Endro mbak Dinda" ucap bapak tadi yang hanya ku balas dengan anggukan kepala karena aku masih terisak
Baru setelah itu bapak tadi menyusul keempat temannya yang sudah berjalan lebih dulu
Aku langsung menatap Tomi dan kembali menangis tertahan. Tomi dengan sigap memegang bahuku dan membawaku naik kelantai atas
Seluruh karyawan yang melihat Dinda menangis sesenggukan hanya bisa menarik nafas dalam, bahkan Siska ikut menitikkan air matanya
"Semua gara-gara pak Adi" geram yang lain
Tomi terus menggenggam erat tanganku saat kami menaiki tangga. Hinga sampai di atas aku refleks memeluknya dan menangis kencang di pelukannya
"Apa salahku Tom sampai aku diuji begini beratnya?"
Tomi diam dan hanya mengusap-usap kepala Dinda yang menangis kencang di pelukannya
"Suamiku berselingkuh, meninggalkan banyak hutang dan sekarang dia pergi ke rumah istri mudanya, dan aku yang harus membayar segala hutangnya" isak ku
"Iya, kamu yang sabar ya...."
Aku terus saja menangis sejadi-jadinya
"Dan sekarang aku malah dimaki-maki karena kesalahan yang tak pernah aku lakukan"
"Apa aku tidak becus jadi istri sampai suamiku berselingkuh? apa aku terlalu masa bodoh hingga semua kejahatan suamiku tak ku ketahui?"
Tomi tak menjawab, dia terus saja mengusap-usap kepala Dinda
"Apa cinta yang kuberi pada pasanganku kurang hingga aku harus kembali merasakan sakitnya ditinggal orang yang ku sayang?"
"Dulu kamu meninggalkan ku, sekarang aku harus kembali ditinggal Adi"
Tomi menelan ludahnya dengan perasaan bersalah mendengar kata yang barusan diucapkan Dinda
__ADS_1