Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah

Ketika Cemburuku Kau Anggap Salah
Surat Gugatan


__ADS_3

Bestie, berkas pengajuan gugatan ke pengadilan sudah ready, kapan bisa ketempat ku?


Aku menarik nafas panjang ketika membaca pesan whatsapp dari Putri


Kulihat jam istirahat kantor setengah jam lagi


Setengah jam lagi aku tempat kamu


Lalu aku kembali mengumpulkan berkas yang akan Redho bawa ke kabupaten siang ini


"Kenapa Din?"


Aku mengangkat kepalaku dan melihat kearah pak Kusno


"Nggak apa-apa pak"


Kulihat pak Kusno meletakkan penanya dan menatap serius ke wajahku


"Semuanya baik-baik saja kok pak" jawabku meyakinkan beliau


Pak Kusno tersenyum sekilas lalu menarik nafas dalam, dan aku memasang senyum getir pada beliau


Aku yakin pak Kusno bisa membaca perubahanku dalam beberapa bulan ini. Karena hampir setiap hari beliau secara diam-diam memperhatikanku


Bahkan sesekali ketika teman satu ruangan kami pergi ke kantin beliau menanyakan bagaimana Adi


Karena beliau pernah menyaksikan bagaimana kasarnya Adi padaku, makanya aku tidak bisa menutupi pada beliau jika hubunganku dengan Adi sedang tal baik-baik saja


"Do, ini berkasnya sudah mbak siapkan, nanti jika kamu butuh, bisa kamu ambil di meja mbak"


"Lah mbak mau kemana?"


"Mbak ada urusan sebentar, mbak istirahat duluan ya"


"Tapi mbak, sebentar lagi juga kita kan istirahat, tinggal sepuluh menit lagi loh"


"Biarkan Dinda pergi, jika nanti pak Bos marah sama dia, biar bapak yang menjelaskan"


Aku menatap sendu kearah pak Kusno


Dan pak Kusno menganggukkan kepalanya padaku


Secepatnya aku keluar dari ruangan dan langsung menuju parkiran, aku tidak melihat jika pak Burlian melihatku dari balik kaca dari ruangannya


Segera aku memundurkan mobil dan langsung melajukan mobil menuju kantor Putri


Dua puluh menit berikutnya aku sudah sampai. Kedatanganku langsung disambut dua karyawan Putri yang minggu lalu bertemu aku


"Sudah ditunggu ibu di ruangan" ucap mereka ketika aku bertanya apakah Putri ada klien


Segera aku mengetuk pintu, dan langsung mendorong pintu kaca itu. Melihatku masuk Putri langsung berdiri dan menyambut ku dengan pelukan hangat


"Katanya setengah jam lagi?" ucapnya sambil melirik jam di pergelangan tangannya


"Halah cuma beda beberapa menit aja"


Putri tertawa dan membawaku ke sofa


"Gimana?, siap?"


Aku mengangguk pasti


"Kalo gitu kamu baca dulu draft nya, jika sudah fix, besok akan aku antar ke pengadilan agama"

__ADS_1


"Aku ikut?"


"Nggak usah, kamu fokus aja kerja, ini biar jadi tugas aku, kan aku lawyernya?" sambung Putri sambil tertawa


Aku mengangguk dan menatap haru padanya


"Pokoknya akan aku usahakan yang terbaik untuk kamu, jika Adi macam-macam, tenang aja, aku pasang badan untuk bela hak kamu, pokoknya nggak akan aku kasih kesempatan untuk Adi menang di kasus ini"


Sekali lagi aku menatap haru pada Putri


"Semua bukti telah aku kumpulkan, bahkan bukti Adi di rumah istri sirinya juga sudah aku kumpulkan"


"Loh, kapan kamu kesana?"


"Adalah pokoknya, kamu nggak usah banyak pikiran, pokoknya tahu kamu nyiapin hati dan juga fisik untuk ngadepin sidang"


Aku menarik nafas panjang sambil menganggukkan kepalaku


"Anak-anakmu sudah tahu jika kamu mau gugat cerai Adi?"


Aku menggeleng


"Tapi aku yakin Naya setuju, karena Naya sama terpukulnya seperti aku saat dia mengetahui jika ayahnya selingkuh dan menikah lagi"


Kulihat Putri menarik nafas panjang mendengar ku berkata begitu


"Perceraian memang selalu menyisakan luka dan trauma untuk anak-anak Din, tapi aku yakin kamu adalah ibu yang bijak yang bisa kasih pengertian ke Naya"


Mataku berkaca-kaca


"Kurasa ini yang terbaik Put, kamu tahu sendiri bagaimana stress aku akhir-akhir ini"


Putri mengusap bahuku sambil mengangguk


"Semua ini pasti bisa kamu lewati Din, yakin saja ada pelangi setelah hujan"


"By the way gimana kemarin?"


"Apanya?"


"Kata Vita......" Putri menggantung kalimatnya dan mengerling nakal ke arahku


Aku langsung mendecak kesal, sedangkan Putri terkekeh


"Kurang tuh anak" sungutku yang makin membuat Putri terkekeh


"Kita itu perhatian sama kamu Din, makanya si Vita sengaja nyuruh kak Tomi kerumahnya"


Aku menghembus nafas kesal sambil menggelengkan kepalaku


"Tapi nggak segitunya juga Put, kan aku jadi malu"


Putri kembali terkekeh dan aku dengan kesal memukul pahanya


"Sudah ah, aku balik lagi kekantor, lama-lama disini bukannya aku lega malah tambah stress aku" ucapku sambil merangkul dan cipika cipiki pada Putri


Setelahnya Putri mengantarkan ku sampai mobil, diiringi lambaian tangannya aku kembali memundurkan mobil dan melajukan mobil menembus jalan raya kembali menuju kantor tempatku bekerja


...----------------...


Suara ketukan di pintu siang ini membuat Adi yang menghembuskan asap rokok ke udara terpaksa bangkit


"Iya, ada apa?" tanya Adi ketika membuka pintu dan mendapati seorang pemuda berseragam coklat khaki

__ADS_1


"Ini ada surat untuk anda di kantor desa"


"Surat?, surat apa ya?" Adi membalik amplop coklat yang ada di tangannya


"Pengadilan agama...." desisnya


Pemuda yang mengantarkan surat itu mengangguk lalu berpamitan


Adi tak menjawab salam pemuda tadi karena dia shock ketika membaca asal surat yang ditujukan padanya


Yesa keluar sambil menggendong Karen dan menatap heran pada Adi yang termangu di sofa


"Kenapa pa?"


Adi tak menjawab melainkan hanya menghembus nafas panjang


Yesa mendekat dan ikut duduk di sofa, Karen dipangkunya lalu dia meraih kertas yang ada di depan Adi


"Surat dari pengadilan?"


Adi tak menjawab


"Ya sudahlah pa, nggak usah dipikirin, toh emang ini yang kita mau dari awal kan?"


Adi menarik rambutnya dengan frustasi


"Apa papa nggak mau pisah dengan Dinda?"


Adi menoleh sambil mendecak


"Terlalu banyak yang membebani pikiranku ma, tolonglah jangan banyak bicara dulu"


Yesa langsung cemberut mendapati jawaban Adi


Hanya helaan nafas panjang Adi yang didengar jelas oleh Yesa


"Minggu depan ini pa, ya sudahlah papa tinggal datang aja, gampang kan?"


Adi bergeming tak memperdulikan Yesa. Pikirannya benar-benar kacau, disaat dia tidak memiliki apa-apa lagi dan sibuk ditagih hutang malah Dinda menggugatnya


"Aku harus pulang, aku harus bicara sama Dinda, dia tidak bisa menggugat ku seperti ini" gumam Adi tak jelas


Yesa yang mendengar ucapan Adi langsung menoleh dan menatap dengan tajam


"Papa mau pulang?, mau ngapain kesana?"


"Kemarin mama yang nyuruh papa pulang ketempat Dinda, sekarang giliran papa mau pulang, malah nggak boleh"


Yesa mendecak kesal


"Papa ini mikir nggak sih kalau Dinda itu sudah menggugat papa, itu artinya dia sudah tidak mau lagi sama papa, sadar dong pa"


Adi memandang tajam pada Yesa yang wajahnya ditekuk


"Aku harus bicara baik-baik sama Dinda aku yakin dia bakal dengerin aku, aku yakin Dinda hanya khilaf, dia tidak benar-benar ingin bercerai denganku"


Yesa menggeleng tak percaya mendengar ucapan Adi


"Dari papa sibuk mengemis cinta sama Dinda, mending papa kesana bicarakan masalah harta gono gini"


Adi menoleh kearah Yesa dan memandang lama pada istri mudanya itu


Sedangkan Yesa mengangguk pasti kearah Adi

__ADS_1


"Mama yakin Dinda tidak bakal luluh lagi sama papa, jadi kenapa nggak papa bicara masalah harta gono gini saja, jadikan kita tidak susah-susah lagi mikir untuk bayar hutang"


Adi bergeming dan hanya menatap pada Yesa


__ADS_2